seorang muda mudi yang lama berteman dan memulai dengan saling ada ikatan cinta Siska namanya paras cantik dan menawan mendapatkan masalah dari keluarganya dia adalah seorang tepandang namun ia harus menikah untuk mewarisi perusahaan keluarganya bertemulah Andi dan menjalin asmara dengan berbagai masalah namun di ujung mereka resmi menjalani pernikahan dengan bahagia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 24
Malam semakin larut di jantung Borneo, namun api unggun kecil di depan pondok Andi masih menyisakan bara merah yang menari-nari. Suara helikopter tadi sudah lama hilang, digantikan oleh simfoni jangkrik dan sesekali suara uwa-uwa dari kejauhan.
Mahesa menyesap kopi jahenya, matanya menatap pendar kunang-kunang di tepi sungai. "Kau tahu, Sis? Tadi saat si direktur muda itu menanyakan laboratorium, aku sempat melihat wajah lamaku di matanya. Wajah yang menganggap segalanya bisa dipecahkan dengan angka dan beton."
Siska tersenyum tipis, menyandarkan kepalanya di bahu Andi. "Kita semua pernah punya wajah itu, Ma. Tapi hutan punya cara yang kasar sekaligus lembut untuk mencuci muka kita sampai bersih. Aku tidak menyesal menyerahkan dokumen itu pada Siti. Melihat matanya yang berbinar saat membela Si Mbah Jagat... itu lebih berharga dari valuasi jutaan dolar mana pun."
Andi terkekeh, tangannya masih kasar oleh bekas serutan kayu kursi ulin tadi. "Dia sudah jadi diplomat kecil. 'Ikan-ikannya takut,' katanya. Argumen paling logis yang pernah kudengar selama sepuluh tahun terakhir."
"Besok," potong Mahesa tiba-tiba, suaranya lebih rendah, "Dedi bilang dia menemukan jejak baru di dekat hulu. Bukan macan dahan, tapi sesuatu yang lebih besar. Dia yakin itu tanda bahwa ekosistem ini sudah benar-benar pulih. Tanah ini sudah mulai percaya lagi pada manusia."
Andi mengangguk pelan. "Itu karena kita tidak lagi meminta apa-apa darinya. Kita hanya tamu yang tahu diri."
Mereka terdiam cukup lama, menikmati keheningan yang tidak pernah mereka temukan di Jakarta. Keheningan yang tidak kosong, melainkan penuh dengan napas hutan yang lembap dan hidup.
"Ndi," panggil Siska pelan.
"Ya?"
"Kursi ulin itu... kalau nanti anak-anak sudah besar, dan kita sudah terlalu tua untuk berjalan ke hulu, berjanjilah untuk membuatkan satu lagi untukku di bawah Si Mbah Jagat. Aku ingin melihat matahari terbenam dari sana setiap hari."
Andi mengeratkan rangkulannya, mencium rambut Siska yang kini beraroma kayu cendana dan hujan. "Satu saja? Aku akan buatkan sebuah teras kecil. Supaya kita bertiga bisa duduk di sana, melihat bagaimana Siti dan Dedi meneruskan semua ini."
Mahesa mengangkat gelas kopinya ke udara, sebuah penghormatan sunyi bagi malam dan pepohonan di sekitar mereka. "Untuk para penjaga yang tidak punya nama di koran, tapi punya akar di bumi."
Api unggun itu perlahan padam, menyisakan asap tipis yang naik ke arah kanopi, menyatu dengan kabut pagi yang mulai turun. Di dalam pondok kayu yang sederhana, tiga orang yang pernah dianggap "penguasa dunia" itu kini tidur dengan sangat lelap, tanpa alarm, tanpa kecemasan, hanya ditemani detak jantung hutan yang abadi.
Besok adalah hari yang panjang. Bunga bangkai akan mekar, dan mereka harus berada di sana untuk menyaksikannya.
Pagi menyapa dengan kabut tebal yang menyelimuti permukaan sungai, membuat jembatan ulin Andi seolah mengambang di atas awan putih. Belum lagi matahari sepenuhnya menyentuh tajuk Ratu Kanopi, suara ketukan pelan di pintu pondok sudah terdengar.
Itu Dedi. Anak itu mengenakan sepatu bot karet yang sudah banyak tambalan, dengan parang kecil tersampir di pinggangnya—bukan untuk merusak, tapi untuk membuka jalan dari rimbunnya belukar yang tumbuh cepat setelah hujan semalam.
"Pak Mahesa! Bu Siska! Bang Andi! Mataharinya sudah mau bangun!" seru Dedi dengan bisikan kencang yang khas.
Mahesa adalah yang pertama keluar, meregangkan otot-ototnya yang sudah tidak semuda dulu namun terasa jauh lebih bugar. Di belakangnya, Siska menyusul dengan tas rotan berisi air minum dan beberapa potong ubi rebus. Andi keluar terakhir, mengunci pintu pondok—sebuah kebiasaan lama yang sebenarnya tidak perlu lagi dilakukan di sini, karena satu-satunya pencuri di tempat ini mungkin hanyalah monyet ekor panjang yang mengincar pisang di dapur.
Perjalanan menuju hulu bukan sekadar jalan santai. Mereka harus melewati tanjakan licin dan menyeberangi anak sungai yang airnya setinggi lutut.
"Lihat ini," Dedi berhenti mendadak di dekat sebuah pohon meranti tumbang yang sudah ditumbuhi lumut tebal. Ia menunjuk ke tanah yang lembap. "Ini bukan jejak kaki rusa, Pak Mahesa."
Mahesa berlutut, mengeluarkan kaca pembesar kecil dari sakunya—satu-satunya alat teknologi yang masih ia bawa ke mana-mana. Ia menatap bekas tapak lebar dengan guratan kuku yang dalam. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang.
"Ini kucing besar," gumam Mahesa. "Bukan macan dahan. Ini lebih besar, Ndi. Jauh lebih besar."
Andi mendekat, memperhatikan arah jejak itu menuju. "Dia menuju ke arah lembah bunga bangkai. Sepertinya dia juga tahu ada sesuatu yang istimewa di sana hari ini."
Siska merasakan bulu kuduknya berdiri, tapi bukan karena takut. Itu adalah perasaan takzim. "Artinya hutan ini sudah cukup luas dan cukup kaya untuk memberi makan predator puncak kembali. Arlan benar-benar sudah pulang, Ma."
Mereka melanjutkan perjalanan dengan lebih tenang, lebih waspada, dan lebih hormat. Setiap langkah diatur agar tidak mematahkan ranting kering secara kasar. Hutan terasa sangat hidup; suara burung enggang mengepakkan sayap di atas kepala mereka terdengar seperti suara helikopter organik yang menjaga wilayah tersebut.
Saat mereka sampai di celah lembah yang tersembunyi, aroma itu mulai tercium—tajam, aneh, namun bagi mereka, itu adalah aroma kesuksesan alam. Di sana, di antara akar-akar raksasa yang menonjol, sebuah kuncup raksasa berwarna merah hati yang gelap sedang membuka kelopaknya secara perlahan.
Amorphophallus titanum.
Siti sudah ada di sana, duduk diam di atas sebuah batu besar, menjaga jarak yang aman agar tidak mengganggu proses mekarnya bunga itu. Ia meletakkan jari telunjuk di bibirnya, mengisyaratkan mereka untuk tidak bersuara.
Mereka berempat bergabung dengan Siti, duduk melingkar di atas tanah yang basah. Tidak ada kamera yang menjepret, tidak ada siaran langsung di media sosial, dan tidak ada pidato peresmian. Hanya ada desau angin dan suara hutan yang menyaksikan keajaiban yang hanya terjadi beberapa tahun sekali itu.
"Dia cantik ya, Bu?" bisik Siti pelan.
Siska mengangguk, matanya berkaca-kaca melihat keindahan yang begitu purba dan jujur. "Dia sangat cantik, Siti. Dia menunggu waktu yang tepat, di tempat yang tepat, tanpa perlu mempedulikan apakah ada orang yang melihatnya atau tidak."
Andi menggenggam tangan Siska, sementara Mahesa sibuk mencatat sesuatu di buku kecilnya—bukan tentang koordinat GPS, tapi tentang warna langit saat bunga itu mekar sempurna.
Di saat itulah, dari balik rimbunnya pakis di seberang lembah, sepasang mata kuning keemasan menatap mereka sejenak. Sosok besar berbulu gelap dengan loreng yang samar bergerak tanpa suara, lalu menghilang kembali ke dalam kegelapan rimba.
Mereka semua melihatnya. Tidak ada yang berteriak. Tidak ada yang lari. Mereka hanya saling berpandangan dan tersenyum. Sang pemilik rumah telah kembali, dan mereka merasa terhormat telah diizinkan bertamu.