NovelToon NovelToon
Midnight Blue In Paris

Midnight Blue In Paris

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Teen School/College / Bad Boy
Popularitas:469
Nilai: 5
Nama Author: Ike Diva

​Felysha Anindhita hidup dalam keteraturan, sampai sebuah botol parfum hancur di gang gelap Paris dan mengubah segalanya. Di sana, ia bertemu Mahesa Praditya—pria misterius yang menyeretnya ke dalam pelarian berbahaya melintasi negara.

​Dikejar oleh masa lalu yang mengancam nyawa, Felysha terpaksa meninggalkan dunianya yang rapi demi pipa drainase yang kotor dan kabut dingin Isle of Skye. Di samping Mahesa, ia mulai menyadari satu hal: hidup yang indah tidak harus selalu memiliki garis yang lurus.

​Saat persembunyian berakhir, akankah Felysha kembali pada hidupnya yang kaku, atau memilih menetap bersama pria yang telah menjadi poros dunianya?

​"Terkadang, kita harus kehilangan arah untuk benar-benar menemukan jalan pulang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10

Suara jarum jam dinding di ruang tamu terasa jauh lebih keras saat Felysha Anindhita mengikat tali sepatu bot kulitnya. Ia duduk di lantai beralaskan karpet tebal di dekat pintu depan, kepalanya sesekali menoleh ke arah intercom yang terpasang di dinding, seolah-olah benda mati itu bisa tiba-tiba mengeluarkan suara Andre atau Julian. Napasnya terdengar sedikit memburu, menciptakan uap tipis yang langsung menghilang di udara apartemen yang suhunya sudah mulai turun.

Ia berdiri perlahan, merapikan mantel wol hitam yang ia kenakan di atas sweter turtleneck. Tangannya bergerak masuk ke dalam saku mantel, memastikan kunci apartemen dan ponselnya sudah tersimpan di sana. Ponsel itu sudah ia ubah ke mode pesawat. Felysha tahu risiko yang ia ambil—jika Julian mencarinya sekarang dan ia tidak bisa dihubungi, kekacauan akan terjadi di Jakarta. Namun, rasa sesak yang ia rasakan sepanjang malam tadi di Bab 9 sudah tidak bisa ia bendung lagi. Ia butuh merasakan aspal Paris di bawah kakinya tanpa ada laporan Andre di belakangnya.

Felysha meraba gagang pintu apartemennya. Logam dingin itu membuat ujung jemarinya sedikit kaku. Ia memutar kunci dengan sangat pelan, memastikan setiap bunyi klik tidak bergema terlalu kencang ke koridor luar. Saat pintu terbuka sedikit, ia mengintip ke arah lorong. Sepi. Lampu lorong yang menggunakan sensor gerak perlahan menyala satu per satu saat ia melangkah keluar. Ia memilih menggunakan tangga darurat alih-alih lift, karena bunyi denting lift di lantai lima akan sangat mudah terdengar oleh penjaga gedung di bawah.

Langkah kakinya di tangga semen yang dingin terdengar berirama. Klok, klok, klok. Ia memegang pegangan tangga besi yang sedikit berdebu, menuruni anak tangga demi anak tangga dengan jantung yang berdegup kencang di balik tulang rusuknya. Setiap kali ia mendengar bunyi dari balik pintu unit penghuni lain, ia akan berhenti sejenak, menahan napas sampai suasana kembali sunyi. Saat ia sampai di lantai dasar, ia tidak melalui lobi utama. Ia keluar melalui pintu samping yang biasa digunakan untuk membuang sampah—sebuah jalur yang Andre jarang perhatikan.

Begitu pintu besi berat itu tertutup di belakangnya, udara malam Paris yang tajam langsung menghantam wajah Felysha. Ia menyipitkan mata, menghirup udara dingin sedalam mungkin. Rasanya berbeda dengan udara di dalam apartemennya yang terlalu wangi parfum ruangan. Di sini, udara berbau aspal basah, sisa uap dari saluran pembuangan, dan dingin yang murni. Ia menarik kerah mantelnya hingga menutupi dagu, lalu mulai berjalan menyusuri trotoar batu di daerah Passy.

Jalanan di Arondisemen ke-16 ini sangat tenang. Lampu-lampu jalan yang berbentuk klasik memberikan cahaya kuning temaram yang memantul di permukaan jalanan yang lembap. Felysha berjalan menunduk, memperhatikan bayangannya sendiri yang memanjang dan memendek setiap kali ia melewati tiang lampu. Ia merasa sangat kecil di antara bangunan-bangunan tinggi bergaya Haussmann yang menjulang di kiri dan kanannya. Namun, dalam kekecilan itu, ia merasakan sebuah kemenangan yang aneh. Ia sedang bebas.

Ia terus berjalan menuju arah sungai Seine. Semakin dekat ke sungai, angin terasa semakin kencang, menerbangkan beberapa helai rambutnya yang keluar dari balik syal. Felysha sampai di tepi sungai, di mana Menara Eiffel berdiri dengan megahnya di seberang air. Menara itu kini sedang dalam periode tenang, lampunya berkelap-kelip dengan lembut, tidak berisik seperti saat pertunjukan cahaya di awal jam. Ia bersandar pada pagar batu pembatas sungai yang permukaannya terasa kasar dan dingin di bawah telapak tangannya.

Ia menatap air sungai Seine yang berwarna gelap pekat, memantulkan lampu-lampu jembatan Pont d'Iéna. Suara air yang tenang menghantam fondasi jembatan memberikan rasa damai yang sudah lama ia cari. Felysha merogoh saku mantelnya, bukan untuk mengambil ponsel, melainkan untuk menggenggam botol air mineral kecil yang ia bawa. Ia meminumnya sedikit, merasakan air dingin itu mengalir di tenggorokannya. Di sekelilingnya, Paris terasa seperti milik orang-orang yang tidak memiliki rahasia.

Ia melihat sepasang kekasih sedang berjalan santai beberapa puluh meter dari posisinya. Mereka tertawa pelan, pria itu merangkul bahu si wanita, dan mereka sesekali berhenti untuk melihat ke arah sungai. Felysha memperhatikan mereka tanpa berkedip. Ia merasa iri, bukan karena kemesraan mereka, tapi karena kenyataan bahwa mereka bisa berada di sana tanpa ada yang mengawasi lewat sinyal GPS atau laporan supir pribadi.

Felysha melanjutkan langkahnya. Ia menyeberangi jembatan, merasakan getaran pelan saat sebuah mobil melintas cepat di sampingnya. Ia terus berjalan sampai memasuki jalanan yang lebih sempit menuju arah Trocadéro. Di sebuah sudut jalan, ia melihat sebuah kedai kopi kecil yang masih buka—atau mungkin baru saja akan tutup. Ia melihat seorang pria sedang merapikan kursi-kursi di luar. Ia berhenti sejenak, memperhatikan gerakan pria itu yang sangat santai, seolah waktu tidak menjadi beban baginya.

Felysha merasa energinya perlahan-lahan kembali. Berjalan di malam hari seperti ini membuatnya menyadari bahwa ia masih punya kaki untuk melangkah ke mana pun ia mau. Ia melewati sebuah toko buku tua yang rak-raknya meluap sampai ke trotoar. Meskipun sudah tutup, ia bisa melihat tumpukan buku di balik jendela kaca yang berembun. Ia menempelkan telapak tangannya pada kaca itu, membayangkan aroma kertas tua di dalamnya. Ia teringat ayahnya yang dulu sering membawakannya buku sketsa baru setiap kali ia mendapat nilai bagus di sekolah.

"Papa, aku di Paris," bisiknya pelan. Suaranya hilang ditelan suara angin yang berdesir melewati pepohonan di pinggir jalan.

Rasa rindu yang tiba-tiba datang membuatnya sedikit sesak. Namun kali ini, sesaknya bukan karena Julian, melainkan karena kerinduan yang murni. Ia berjalan lagi, kali ini lebih cepat, menyusuri jalanan yang lebih ramai di dekat Champs-Élysées. Meskipun sudah lewat tengah malam, masih ada beberapa bus yang melintas dan orang-orang yang keluar dari bioskop atau restoran. Ia melihat sekelompok pemuda sedang tertawa keras sambil membawa tas ransel mereka.

Felysha berhenti di depan sebuah jendela butik mewah. Di sana, sebuah gaun malam berwarna biru tua dipajang di manekin yang sangat elegan. Ia memperhatikan setiap lipatan kainnya, cara jahitan kelimannya yang sangat rapi, dan bagaimana payet-payet kecil berkilau terkena lampu sorot. Ia mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dari saku mantelnya, lalu dengan cepat mensketsa detail lipatan bahu gaun itu. Jemarinya bergerak lincah di atas kertas, meskipun udaranya sangat dingin.

Ia tersenyum sendiri. Inilah yang ia rindukan—menjadi seorang pengamat, seorang seniman yang menyerap keindahan kota untuk karyanya sendiri, bukan untuk memenuhi selera orang lain. Namun, saat ia meraba sakunya untuk memasukkan kembali buku catatan itu, tangannya menyentuh ponselnya.

Mode pesawat.

Ketakutan itu tiba-tiba kembali seperti hantaman air es. Ia melihat jam tangan analognya. Sudah hampir pukul satu pagi. Ia sudah keluar selama dua jam. Felysha segera membalikkan badan, mulai berjalan terburu-buru kembali ke arah apartemennya. Perasaan tenang yang tadi ia rasakan mendadak menguap, digantikan oleh kecemasan yang mencekik. Bagaimana kalau Andre baru saja memeriksanya? Bagaimana kalau Julian menelepon?

Langkahnya semakin cepat, nyaris menjadi lari kecil saat ia menyeberangi jembatan kembali ke arah Passy. Napasnya mulai memburu, dadanya terasa panas karena udara dingin yang ia hirup terlalu cepat. Setiap kali ia melihat lampu mobil dari kejauhan, ia akan bersembunyi di balik pilar bangunan atau pohon besar, takut itu adalah mobil Andre. Ia merasa seperti kriminal yang sedang melarikan diri, padahal ia hanya sedang berjalan di trotoar umum.

Saat ia sampai di pintu samping gedung apartemennya, tangannya gemetar hebat saat mencoba memasukkan kunci cadangan ke dalam lubang pintu. Klik. Pintu itu terbuka. Ia segera masuk, menutupnya perlahan, dan bersandar pada permukaan pintu besi yang dingin. Ia menunggu di sana selama dua menit, mendengarkan apakah ada suara orang di koridor tangga. Sepi.

Ia menaiki tangga darurat dengan sisa tenaganya. Kakinya terasa pegal luar biasa, namun ia tidak peduli. Sesampainya di lantai lima, ia mengintip dari balik pintu tangga darurat ke arah lorong apartemennya. Tidak ada Andre. Tidak ada penjaga gedung. Felysha berlari kecil menuju pintunya, memutar kunci secepat mungkin, dan masuk ke dalam.

Ia mengunci pintu dari dalam, lalu menjatuhkan diri ke lantai marmer ruang tamu. Ia masih mengenakan mantelnya, dadanya kembang-kempis berusaha menormalkan napas. Ia mengeluarkan ponselnya, mematikan mode pesawat, dan menunggu dengan jantung yang berdegup sangat kencang.

Satu detik. Tiga detik. Sepuluh detik.

Ponsel itu tidak bergetar. Tidak ada panggilan tak terjawab. Tidak ada pesan baru dari Julian sejak dua jam yang lalu.

Felysha memejamkan mata, membiarkan tubuhnya rileks di atas lantai yang dingin. Ia baru saja melakukan hal paling berani dalam hidupnya. Ia menatap ke langit-langit apartemen yang tinggi, lalu tertawa kecil tanpa suara. Ia merasa menang. Meskipun besok ia harus kembali ke rutinitas yang menyesakkan, malam ini ia sudah membuktikan bahwa Paris masih menyimpan sedikit ruang untuk kebebasannya sendiri. Namun, saat ia mulai merangkak berdiri untuk melepas mantelnya, ia menyadari satu hal: ia tidak sadar bahwa di bawah lampu jalanan tadi, sepasang mata sudah memperhatikannya sejak ia berdiri di tepi sungai Seine.

1
TriAileen
ne beda crta pa gmn Thor. kok seigt q bab 1 ny bukan ne y awl q baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!