NovelToon NovelToon
My Little Wife

My Little Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Ziva terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Kirana, di pelaminan setelah sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa sang kakak. Ia harus menikah dengan Baskara, pria yang dianggapnya sebagai penyebab kematian Kirana.
Tanpa cinta dan penuh benci, Ziva mengajukan syarat kejam: pernikahan ini hanya formalitas, tanpa sentuhan, dan harus berakhir dalam satu tahun. Di balik senyum palsu di depan tamu undangan, Ziva bersumpah akan membuat hidup "sang pembunuh" itu seperti neraka. Namun, sanggupkah ia menjaga dinding kebenciannya saat takdir terus mengikat mereka dalam duka yang sama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

Malam telah larut ketika motor ojek online yang ditumpangi Ziva berhenti di depan pagar rumah. Suasana jalanan sudah mulai sepi, hanya menyisakan suara jangkrik dan embusan angin malam yang menusuk hingga ke balik blazer pink-nya yang kini tampak sedikit kusut. Ziva mengembuskan napas panjang, bahunya terasa kaku setelah seharian berkutat dengan angka-angka di laporan finansial.

"Lembur di hari pertama... bener-bener ya ini kantor," gumam Ziva sambil merogoh tasnya untuk mencari kunci.

Ia sempat melirik ponselnya. Ada belasan panggilan tak terjawab dari Baskara sejak jam lima sore tadi. Ziva sengaja tidak mengangkatnya karena ia terlalu sibuk mengejar deadline input data yang mendadak diberikan manajernya. Ia sudah membayangkan akan kena semprot atau interogasi panjang lebar dari "Om-om posesif" itu begitu masuk ke rumah.

Ziva memutar kunci, membuka pintu dengan perlahan, bersiap untuk memberikan alasan paling logis tentang keterlambatannya. Namun, pemandangan di dalam rumah justru membuatnya mematung di ambang pintu.

Ruang tengah yang biasanya sunyi kini terang benderang. Wangi masakan rumahan yang lezat—aroma rendang dan opor ayam kesukaannya—menyeruak masuk ke indra penciumannya. Di tengah ruangan, bukan hanya Baskara yang berdiri menunggu, melainkan sebuah formasi lengkap yang membuat jantung Ziva berdegup kencang.

Ayah dan Bundanya berdiri di sana, di samping Mama dan Papa Baskara. Mereka semua mengenakan pakaian yang rapi, wajah-wajah mereka dihiasi senyum lebar yang sangat tulus. Baskara sendiri berdiri di tengah, sudah mengganti seragam dinasnya dengan kemeja flanel santai, memegang sebuah buket bunga kecil yang cantik.

"Surprise!" seru Bunda dan Mama Baskara hampir bersamaan.

Ziva mengerjap-ngerjapkan matanya, ia menatap mereka satu per satu dengan ekspresi linglung. Tas kerjanya hampir saja terlepas dari genggamannya.

"Loh... ini ada acara apaan ya kok pada ngumpul semua? Ada yang ulang tahun?" tanya Ziva bingung. Suaranya terdengar serak karena kelelahan, namun rasa penasarannya jauh lebih besar.

Ayah melangkah maju, menepuk bahu Ziva dengan bangga. "Nggak ada yang ulang tahun, Sayang. Kita semua di sini mau merayakan hari pertama putri Ayah resmi jadi wanita karier. Baskara yang kasih tahu kita kalau kamu diterima di firma besar itu."

Ziva menoleh ke arah Baskara. Pria itu hanya memberikan anggukan kecil dengan tatapan yang—untuk pertama kalinya—terlihat sangat damai, tanpa ada sisa-sisa otoritas kepolisian di sana.

"Masuk dulu, Nak. Kamu pasti capek banget, mukanya pucat gitu," Mama Baskara menghampiri Ziva, mengambil tas kerjanya dan menuntunnya menuju meja makan yang sudah penuh dengan hidangan pesta kecil-kecilan.

"Ayo duduk, Zivanya Aurora," ucap Papa Baskara dengan nada jenaka, menekankan nama lengkap Ziva yang baru saja ia pakai untuk mendaftar kerja secara mandiri. "Kami bangga sekali dengar kamu bisa tembus seleksi di perusahaan itu tanpa bantuan siapa pun. Benar-benar mandiri seperti mendiang Kirana dulu."

Mendengar nama Kirana disebut, suasana sempat menghening sejenak, namun kali ini tidak ada aura kesedihan yang mencekam. Seolah-olah kehadiran keluarga besar di sini adalah cara mereka untuk merangkul masa depan Ziva, tanpa melupakan masa lalu.

Ziva duduk di kursi utama, diapit oleh Bunda dan Mama Baskara. Ia merasa sangat kecil, namun di saat yang sama, ia merasa sangat disayangi. Baskara berjalan mendekat, ia menyerahkan buket bunga itu ke tangan Ziva.

"Selamat, Ziva. Kamu berhasil," bisik Baskara rendah, hanya bisa didengar oleh Ziva.

Ziva menerima bunga itu dengan pipi yang mulai merona. "Makasih, Kak. Dan... maaf ya tadi gue nggak angkat telepon. Gue bener-bener nggak pegang HP pas lagi input data."

"Nggak apa-apa. Aku sempat khawatir kamu diculik bos kamu, makanya aku suruh Papa sama Ayah cepetan datang biar aku nggak panik sendirian," goda Baskara yang langsung disambut tawa oleh Ayah dan Papa.

"Oalah, pantesan Baskara tadi telepon Ayah suaranya gemeteran, katanya Ziva belum pulang jam tujuh," timpal Ayah sambil tertawa lepas.

Malam itu, meja makan mereka penuh dengan canda tawa. Bunda terus-terusan menyuapi Ziva dengan rendang, sementara Mama Baskara bercerita betapa senangnya dia melihat Ziva mulai aktif lagi. Ziva bercerita tentang kejadian lucu di kantor, tentang Boba pemberian Baskara yang bikin heboh satu divisi, dan tentang bagaimana ia merasa bangga bisa bekerja dengan namanya sendiri.

Di tengah hiruk pikuk obrolan keluarga, Ziva sesekali melirik Baskara. Pria itu lebih banyak diam, namun ia terus memastikan gelas minum Ziva selalu penuh dan piringnya tidak pernah kosong. Tidak ada lagi paksaan, tidak ada lagi sabotase. Yang ada hanyalah dukungan yang tenang.

Ziva menyadari bahwa ini adalah momen pertama kalinya ia merasa benar-benar memiliki "rumah" setelah kecelakaan itu. Bukan hanya sebuah bangunan, tapi sebuah sistem pendukung yang utuh. Ia melihat ke sekeliling meja, menatap wajah-wajah yang sangat ia cintai, dan akhirnya ia tersenyum lebar.

"Terima kasih semuanya," ucap Ziva tulus. "Hari ini berat, tapi melihat kalian di sini... semuanya jadi sepadan."

***

Malam semakin larut di kediaman Baskara dan Ziva. Setelah keriuhan pesta kecil bersama keluarga besar tadi, rumah itu kembali ke ritme tenangnya. Ziva baru saja menyelesaikan ritual perawatan wajah malamnya—langkah terakhir adalah melepas masker lembaran (sheet mask) yang tadi sempat membuatnya terlihat seperti hantu putih di depan cermin.

"Hah... segarnya. Besok ke kantor harus makin glowing," gumam Ziva sambil menepuk-nepuk sisa esens masker di pipinya.

Ia mengenakan piyama satin tipis berwarna biru dongker yang nyaman. Kamar tidurnya hanya diterangi oleh lampu tidur temaram yang memberikan kesan hangat. Ziva sudah bersiap untuk menarik selimut, membayangkan tidur nyenyak setelah hari pertama kerja yang melelahkan.

Namun, saat kakinya baru saja hendak naik ke atas ranjang, sebuah suara asing merusak keheningan.

Kriet... kriet... sruk... sruk...

Ziva mematung. Matanya melebar, telinganya menajam. Suara itu berasal dari bawah kolong tempat tidurnya, tepat di dekat sudut nakas kayu.

"Suara apaan tuh?" bisiknya pada diri sendiri. Jantungnya mulai berdegup kencang. "Nggak mungkin hantu kan? Masa hantu suaranya kayak lagi ngerobek kardus?"

Ziva memberanikan diri untuk melongok ke bawah. Dan saat itulah, ia melihatnya. Sepasang mata kecil yang berkilat terkena cahaya lampu tidur, kumis yang bergetar, dan tubuh berbulu abu-abu yang bergerak lincah.

"TIKUS!!!"

Ziva menjerit sekuat tenaga. Ia langsung melompat ke atas ranjang, berdiri tegak di tengah kasur seolah-olah kasur itu adalah pulau penyelamat di tengah lautan hiu.

"Hush! Hush! Pergi nggak! Pergi lo dari sini!" teriak Ziva sambil melemparkan bantal guling ke arah bawah.

Alih-alih takut dan lari keluar kamar, tikus itu—yang ukurannya lumayan besar—justru malah melompat naik ke atas karpet bulu di samping ranjang. Hewan itu mendongak, seolah-olah sedang menantang Ziva.

"Mamaaa! Pergi!!! Lo mau ngapain deket-deket gue!" suara Ziva mulai pecah, ia hampir menangis karena fobianya terhadap hewan pengerat itu benar-benar di luar kendali.

Tanpa pikir panjang, Ziva berteriak sekencang mungkin, memanggil satu-satunya "perisai" yang ia miliki di rumah ini.

"KAK BASKARA!!! TOLONGIN GUE ADA TIKUS!!! KAAAK!!!"

Hanya butuh waktu kurang dari sepuluh detik sampai pintu kamar Ziva terbuka dengan bantingan keras. Baskara muncul dengan napas terengah-engah, masih mengenakan kaus oblong putih dan celana pendek hitam. Wajahnya tampak sangat tegang, matanya menyapu seluruh ruangan seolah mencari penyusup atau bahaya besar.

"Ada apa?! Siapa yang masuk?!" tanya Baskara dengan suara baritonnya yang menggelegar, tangannya sudah mengepal siap untuk bertarung.

"Itu! Di bawah! Tikusnya gede banget, Kak! Tolongin!" Ziva menunjuk ke arah karpet dengan jari yang gemetar hebat. Ia masih berdiri di atas kasur, memegang bantal lain sebagai senjata cadangan.

Baskara tertegun. Ia menatap ke arah yang ditunjuk Ziva, lalu melihat seekor tikus kecil yang kini sedang diam mematung di sudut ruangan. Baskara mengembuskan napas panjang, bahunya yang tadi tegang langsung merosot.

"Ziva... aku pikir ada perampok atau apa. Ternyata cuma tikus?" tanya Baskara, mencoba menormalkan detak jantungnya yang tadi sempat terpacu karena panik mendengar jeritan istrinya.

"Cuma?! Lo bilang cuma?! Itu monster bagi gue, Kak! Buruan tangkep atau usir!" rengek Ziva. Ia tidak peduli lagi dengan gengsinya. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

Baskara menggelengkan kepala pelan, namun ia tetap melangkah maju. Dengan cekatan, ia mengambil sebuah kardus bekas yang ada di sudut kamar dan menggunakan sapu lidi yang ada di balik pintu. Hanya dalam hitungan detik, dengan gerakan taktis ala kepolisian, Baskara berhasil menggiring tikus itu keluar kamar dan membuangnya jauh-jauh ke halaman belakang.

Baskara kembali ke kamar Ziva, menutup pintu dengan rapat. "Sudah. Tikusnya sudah aku deportasi ke luar pagar. Aman."

Ziva masih belum mau turun dari kasur. Ia duduk meringkuk di tengah tempat tidur, memeluk lututnya. Wajahnya masih pucat pasi. "Beneran udah nggak ada? Gimana kalau dia punya temen? Gimana kalau keluarganya nyariin terus masuk lagi lewat plafon?"

Baskara melihat ketakutan yang nyata di mata Ziva. Ia tahu Ziva tidak sedang berpura-pura. "Aku sudah cek, nggak ada lubang lain. Kamu tenang saja."

Baskara hendak berbalik untuk kembali ke kamarnya sendiri, namun suara lirih Ziva menghentikannya.

"Kak... tunggu."

Baskara menoleh. "Apa lagi?"

Ziva menggigit bibir bawahnya, menatap lantai dengan ragu. "Temenin gue tidur... gue... gue takut kalau dia balik lagi pas gue tidur."

Baskara terdiam cukup lama. Permintaan itu sangat tidak terduga, mengingat hubungan mereka yang biasanya penuh dengan jarak dan perdebatan.

"Gue nggak mau sendirian, Kak. Sumpah, gue nggak bisa tidur kalau bayangin kumis tikus itu," tambah Ziva dengan nada memelas.

Baskara menghela napas, ia akhirnya mengangguk. "Ya sudah. Aku ambil bantal dan selimut di kamarku dulu."

"Eh! Tapi lo jangan deket-deket gue ya!" seru Ziva saat Baskara melangkah keluar. "Gue kasih batas! Lo tidur di sofa kamar ini aja, atau di lantai pake kasur lipat. Pokoknya jangan lewat batas!"

Baskara hanya mendengus geli dari luar kamar. "Iya, Zivanya Aurora. Aku bukan tikus yang bakal nyelusup ke selimut kamu."

Beberapa menit kemudian, Baskara kembali membawa perlengkapan tidurnya. Ia menggelar kasur lipat tipis di lantai di samping ranjang Ziva. Ziva sendiri mulai sibuk menata bantal-bantal di atas kasurnya, membuat sebuah barisan panjang sebagai pembatas tak kasat mata antara ranjang dan lantai.

"Itu apa?" tanya Baskara sambil menunjuk deretan bantal Ziva.

"Ini barikade. Jangan pernah coba-coba lewat sini," ancam Ziva, meskipun suaranya masih sedikit gemetar.

Baskara merebahkan tubuhnya di lantai. "Tidur, Ziva. Besok kamu harus kerja lagi. Aku di sini, nggak ada tikus yang bakal berani lewat depan polisi."

Suasana kamar menjadi hening. Hanya suara detak jam yang menemani mereka. Ziva akhirnya berbaring, namun kepalanya terus melongok ke bawah untuk memastikan Baskara masih ada di sana.

"Kak?"

"Hm."

"Makasih ya... buat tadi."

"Tidurlah."

Ziva memejamkan matanya. Anehnya, rasa takut terhadap tikus itu perlahan menguap, digantikan oleh rasa aman yang ganjil. Meskipun ia memasang barikade bantal yang tinggi, keberadaan Baskara di lantai samping ranjangnya memberikan ketenangan yang selama ini ia cari. Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Ziva tertidur tanpa mimpi buruk tentang masa lalu, melainkan dengan perasaan dilindungi oleh sosok pria yang—meskipun kaku—ternyata selalu ada saat ia menjerit ketakutan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!