NovelToon NovelToon
Ixevons

Ixevons

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat / Action
Popularitas:328
Nilai: 5
Nama Author: Riahe

"Sebutkan namaku saat waktunya tiba, Riezky..."
Dua puluh tahun lalu, Kerajaan Ixevon runtuh dalam satu malam. Raja Thomas gugur setelah menyegel iblis Malakor, dan Ratu Rebecca tewas demi menyelamatkan putra tunggal mereka.
Kini, Riezky Ixevon tumbuh di desa nelayan terpencil. Ia tak tahu siapa dirinya, hanya pemuda yang berjuang menjinakkan kutukan Petir Biru dan Api Merah di tubuhnya. Satu-satunya dunianya adalah Lyra, seorang janda nelayan yang merawatnya dengan kasih sayang sejak bayi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riahe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BISIKAN DARI DINDING BATU

Matahari sudah lama tenggelam di balik kanopi raksasa hutan, menyisakan kegelapan yang terasa lebih berat karena awan mendung mulai menggulung di atas sana. Udara menjadi dingin dan lembap, jenis dingin yang bisa merambat masuk ke sela-sela jubah penjelajah yang paling tebal sekalipun.

"Paman, kalau kita terus jalan dalam gelap begini, aku takut kau bukan menggambar peta, tapi malah menggambar nisanmu sendiri karena masuk ke jurang," ujar Riezky sambil menatap jalan setapak yang nyaris tak terlihat.

Valerius berhenti sejenak, membetulkan letak tas kulitnya yang berat. Ia menunjuk ke arah sebuah celah di tebing batu yang ditumbuhi lumut tebal. "Di sana. Goa itu cukup kering untuk kita bermalam. Aku butuh cahaya stabil untuk memeriksa garis koordinat yang tadi kita lewati."

Mereka masuk ke dalam goa yang tidak terlalu dalam namun cukup luas untuk berlindung. Riezky dengan cekatan mengumpulkan beberapa dahan kering yang tersisa di mulut goa. Tanpa perlu batu pemantik, ia hanya menjentikkan jarinya tepat di atas tumpukan kayu itu.

Cesh!

Percikan api merah kecil melompat, dan dalam sekejap, api unggun sudah berkobar hangat. Valerius langsung duduk bersandar, mengeluarkan tumpukan perkamen dan kacamata kecil yang bertengger di hidungnya. Ia mulai sibuk menggoreskan pena bulunya dengan sangat serius.

Riezky, yang energinya seolah tidak ada habisnya, mulai merasa bosan.

Ia berjalan mondar-mandir, memperhatikan bayangannya sendiri yang menari-nari di dinding goa.

"Paman, kau tahu tidak? Kalau nanti aku sudah jago kontrol api ini, aku mau buka kedai makan di dermaga. Namanya 'Sate Kilat Riezky'. Tidak perlu arang, tidak perlu kipas. Aku cuma perlu melotot sedikit ke dagingnya, langsung matang sempurna. Ibu pasti senang karena tidak perlu beli kayu bakar lagi."

Valerius hanya bergumam tanpa menoleh. "Hmm... ide bagus. Tapi pastikan kau tidak melotot terlalu lama, atau kau hanya akan menyajikan arang kepada pelangganmu."

"Dan satu lagi, Paman," Riezky lanjut ngoceh sambil mencoba menyentuh langit-langit goa. "Aku penasaran, siapa sebenarnya nama penyihir yang mau kita temui ini? Dari tadi kau cuma bilang 'penyihir tengah hutan'.

Masa namanya 'Penyihir Tengah Hutan'? Tidak keren sekali. Apa dia tidak punya nama asli? Atau namanya terlalu panjang sampai kau malas menyebutnya?"

Valerius menghentikan coretannya sejenak. Ia mendongak, menatap api unggun dengan pandangan menerawang, seolah mencoba menggali memori yang sudah lama tidak ia sebut.

"Hmm... siapa ya namanya..." gumam Valerius pelan. "Dulu, waktu aku masih muda dan sering lewat jalur ini, orang-orang tua di desa paling ujung menyebutnya dengan satu nama yang aneh. Mungkin... Eldrin. Ya, kurasa namanya Eldrin si Penenun Akar. Tapi itu juga kalau dia belum mengganti namanya menjadi 'Kakek Tua Pemarah' karena terlalu lama tinggal sendirian."

"Eldrin?" Riezky mengulang nama itu sambil mencoba mencocokkan dengan bayangannya. "Namanya terdengar seperti orang yang hobi makan lumut. Tapi ya sudahlah, yang penting dia bisa bikin tanganku tidak berasap setiap kali aku kesal."

Riezky kemudian berhenti di depan sebuah dinding goa yang terasa lebih rata dari bagian lainnya. Ia mengelus permukaan batu yang dingin itu, sementara Valerius kembali tenggelam dalam petanya.

"Eh, Paman, kalau dipikir-pikir, baju penjelajah ini jauh lebih enak dipakai daripada baju nelayan kemarin. Tidak gatal. Tapi kalau kena keringat baunya jadi aneh ya? Kau sudah berapa hari tidak ganti baju, Paman? Aku merasa baumu mulai menyaingi bau ikan busuk di dermaga."

Valerius menghela napas panjang, meletakkan petanya dengan wajah pasrah.

"Riez, kau ini bicara terus sejak kita masuk tadi. Apa lidahmu tidak lelah? Tadi kau bilang kau takut aku mati kelelahan, tapi sepertinya aku akan mati karena ocehanmu duluan."

Riezky tertawa lebar, suara tawanya memantul di dinding goa. "Itu namanya teknik bertahan hidup, Paman! Biar kita tidak gila di tengah hutan yang sepi ini."

Namun, saat tawanya mereda, Riezky merasakan sesuatu yang aneh. Telapak tangannya yang masih menempel di dinding batu tiba-tiba terasa... hangat. Bukan hangat karena api unggun, tapi hangat yang berasal dari dalam batu itu sendiri.

"Paman..." suara Riezky mendadak berubah serius. "Apa petamu bilang kalau batu di goa ini bisa bernapas? Karena tanganku... seperti sedang memegang jantung yang berdetak."

Valerius langsung mendongak, matanya menyipit melihat Riezky yang mematung di depan dinding goa.

Dari sudut goa yang paling pekat, sebuah bayangan melesat lincah. Makhluk itu mendarat di atas sebongkah batu besar, tepat di atas kepala mereka. Bentuknya sangat janggal; tubuhnya ramping dan berotot seperti kucing hutan, namun di lehernya tumbuh surai lebat layaknya singa. Yang membuat Riezky terbelalak adalah sepasang sayap pendek berbulu yang melipat di punggungnya—sebuah perpaduan antara predator darat dan penguasa langit.

"Makhluk apa itu? Kucing-singa-burung?" celoteh Riezky, matanya tetap waspada. "Paman, apa ini salah satu makhluk yang belum sempat kau masukkan ke dalam petamu?"

Valerius tertegun. Ia memegang erat gulungan perkamennya, matanya menyipit mencoba mengenali sosok yang mulai melangkah keluar dari balik pilar stalaktit di belakang makhluk aneh tersebut.

Seorang kakek tua muncul. Ia mengenakan jubah yang terbuat dari jalinan akar pohon dan lumut kering yang masih tampak hidup. Rambut dan janggutnya putih panjang, menjuntai hingga ke pinggang, sementara di tangannya ia memegang tongkat kayu hitam yang ujungnya berpendar hijau redup. Kehadirannya begitu kuat hingga suhu di dalam goa terasa menjadi sangat stabil dan tenang.

"Paman, kenapa dia menatapku begitu?" bisik Riezky, mencoba tetap terlihat santai meski keringat dingin mulai muncul di tengkuknya. "Apa wajahku mirip dengan seseorang yang berhutang padanya?"

Eldrin tidak membalas candaan itu. Ia mengangkat tongkat kayunya, lalu ujungnya yang berpendar hijau nyaris menyentuh dada Riezky.

"Kau bukan sekadar anomali, Bocah," suara Eldrin merendah, menjadi sangat berat dan bergema di dinding goa. "Darahmu bergejolak karena ia mengenali sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan. Sesuatu yang seharusnya sudah terkubur bersama sejarah yang dilupakan."

Eldrin memejamkan matanya sejenak, menghirup udara di sekitar Riezky yang masih terasa hangat.

"Kau adalah kekuatan yang hilang," ucap Eldrin pelan namun tajam. "Sebuah pilar yang seharusnya menopang langit, namun sekarang berjalan di atas tanah dengan kaki nelayan."

Valerius yang sedang memegang pena bulunya seketika membeku. Ia menatap Riezky, lalu menatap Eldrin bergantian. "Kekuatan yang hilang? Apa maksudmu, pak tua? Aku sudah memetakan pulau ini selama bertahun-tahun, tapi aku tidak pernah mendengar istilah itu."

Eldrin membuka matanya, menatap Valerius dengan pandangan meremehkan.

"Peta-petamu hanya mencatat kulit bumi, Penjelajah. Kau tidak mencatat apa yang tersembunyi di dalam nadinya. Anak ini... dia bukan hanya bisa mengeluarkan api atau petir. Dia adalah wadah dari sesuatu yang seharusnya sudah tidak ada lagi di dunia ini."

Riezky mundur satu langkah, tangannya secara refleks memegang kail emas di balik bajunya.

"Kekuatan yang hilang? Dengar ya, Kek. Aku cuma ingin tahu cara agar jariku tidak menyetrum orang setiap kali aku bersalaman. Aku tidak mau jadi pilar langit atau apalah itu."

Eldrin mendengus pendek. "Takdir tidak peduli pada apa yang kau inginkan, Bocah. Kau membawa api yang bisa menghangatkan dunia, atau membakarnya menjadi abu.

Dan saat ini..." Eldrin melirik ke arah luar goa di mana badai masih mengamuk, "...pemilik asli dari kegelapan di luar sana sudah mulai mencium aroma kehadiranmu."

Makhluk kucing-singa itu tiba-tiba menggeram rendah ke arah kegelapan hutan, seolah membenarkan ucapan tuannya.

"Jadi," Eldrin menancapkan tongkatnya ke tanah, membuat getaran halus yang memadamkan api unggun mereka dalam sekejap, menyisakan kegelapan total kecuali pendaran mata mereka.

"Apakah kau akan terus mengoceh seperti burung beo, atau kau mau belajar bagaimana caranya agar kekuatanmu tidak membunuhmu sebelum matahari terbit?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!