NovelToon NovelToon
Huang Shen: Penguasa Seratus Alam

Huang Shen: Penguasa Seratus Alam

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Action / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Di Alam Bawah Sembilan Langit, hanya satu hukum yang berlaku, yaitu yang kuat berkuasa, sedangkan yang lemah akan mati.

Seorang pemuda enam belas tahun membuktikannya setiap hari. Yatim piatu sejak Sekte Iblis membantai desanya empat tahun lalu, hidupnya kini hanya memungut ampas pil di selokan dan tidur di kolong jembatan. Setiap hari direndahkan, dipukuli, dianggap sampah oleh para kultivator.

Sampai suatu malam, ketika sekarat di selokan setelah dipukuli hampir mati, sebuah warisan kuno terbangun di dadanya.

Gerbang Iblis dalam Darah. Peninggalan dari 66.000 tahun lalu yang memberinya kemampuan mengerikan untuk menyerap darah musuh demi memulihkan luka dan menaikkan level kultivasi.

Dari pemulung jadi pemburu. Dari korban jadi ancaman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Suara di Dalam Gerbang

Ruangan itu gelap.

Satu-satunya cahaya adalah selimut biru yang Mu Qingxue ambilkan dari lemari, kini membalut tubuh bocah itu yang meringkuk di atas tikar. Napasnya teratur. Wajahnya tenang dengan cara yang hanya dimiliki orang yang tidur tanpa beban, mulutnya sedikit terbuka, rambut awut-awutannya menyebar di bantal.

Baru beberapa tarikan nafas, Gerbang di dada Huang Shen menyala.

Dorongan itu datang seperti logika yang dipaksakan masuk ke dalam tulang: ini ancaman, ini mata-mata, ini harus diselesaikan. Tangannya terangkat perlahan, Qi merah mengalir ke telapaknya, dan jarak antara tangannya dengan leher bocah itu hanya tinggal satu langkah kecil.

Lalu bocah itu bergerak dalam tidurnya hanya untuk berganti posisi, memeluk selimutnya lebih erat, dengan satu sudut bibirnya terangkat seperti sedang bermimpi sesuatu yang menyenangkan.

Tentu saja Huang Shen melihat senyuman itu.

Tangan yang sudah terangkat itu tidak jadi turun.

Alih-alih dia malah berdiri di sana beberapa detik, cukup lama untuk Gerbang mendorong dua kali lagi, lalu menarik kembali tangannya. Menutup jari-jarinya, memadamkan aliran Qi yang belum terpakai, dan membalikkan badan.

Pintu ruangan pun menutup tanpa suara.

Adapun Mu Qingxue masih duduk di lantai di tempat yang sama. Bahunya tidak lagi berguncang, tapi matanya masih merah di tepinya. Tatkala dia melihat Huang Shen keluar dan menutup pintu di belakangnya, sesuatu di wajahnya berubah tapi tidak cukup untuk disebut ekspresi.

Huang Shen berdiri di hadapannya sebentar, lalu tangannya turun, menawarkan diri.

Mu Qingxue menatap tangan itu sebentar, lalu meraihnya. Telapak tangannya dingin. Huang Shen menariknya berdiri dengan satu gerakan, lalu melepaskan genggaman itu segera setelah dia sudah tegak di atas kedua kakinya.

Tidak ada yang berbicara. Mereka berjalan ke kamar bersama-sama, dan lampu minyak dipadamkan.

Akan tetapi tepat tengah malam, tubuh Huang Shen terbakar seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas Inti Emasnya dari dalam, memaksanya berputar ke arah yang tidak seharusnya. Kesadarannya pun terseret sebelum sempat bertahan.

Kegelapan tanpa lantai, tanpa langit. Udara yang terasa padat seperti dinding di setiap arah.

Dan Gerbang maha besar berdiri di tengahnya, setinggi yang tidak bisa diukur oleh mata biasa. Ukiran naga dan iblis di permukaannya bergerak, saling melilit, cahaya merah mengalir di celah-celahnya tidak stabil, menyala lebih terang lalu meredup lalu menyala lagi.

“Kau tidak melakukannya.”

Suara itu datang dari semua tempat sekaligus, termasuk dari dalam tulang Huang Shen sendiri.

“Tidak,” jawab Huang Shen.

“Ruh iblis itu sudah melihat Gerbang. Sudah melihat wajahmu. Sudah melihat wanita itu dan semua yang ada di rumah ini.” Suara itu mengalun tanpa nada marah. Dingin adalah kata yang salah karena dingin masih memiliki suhu. Sementara ini lebih cocok disebut ketiadaan. “Kau membiarkan semua itu terjadi karena satu senyuman dalam tidurnya.”

“Aku memang tidak berniat membunuh anak kecil,” desis Huang Shen.

“Anak itu adalah wadah. Ruh yang menempel di dalamnya sudah cukup tua untuk mempunyai kesadaran sendiri. Dan Sekte Iblis Hitam sangatlah sabar, Tuanku. Mereka tidak perlu bertindak sekarang. Mereka hanya perlu menunggu sampai ruh itu cukup kuat, lalu tangan bocah itu akan melakukan apa yang perlu dilakukan.”

“Kepada siapa?”

Suara itu tidak menjawab. Tapi pertanyaan itu sendiri sudah menjadi jawabannya.

Maka gelombang pertama datang.

Panas menyengat dari Gerbang menghantam seluruh tubuhnya sekaligus, seperti seseorang menuangkan logam cair ke dalam rongga dadanya. Huang Shen tidak berteriak. Tapi tubuhnya kejang satu kali, tulang-tulangnya mendadak tidak mau bekerja sama, dan dia berlutut di atas udara yang terasa seperti batu.

“Kau lemah,” tutur suara itu, mengamati. “Bukan karena levelmu tidak cukup. Tapi karena kau masih menyimpan sesuatu yang tidak berguna di balik mata merahmu itu.”

“I-itu bukan kelemahanku,” erang Huang Shen di antara giginya yang mengatup.

Gelombang kedua lebih dalam dari yang pertama.

Kali ini sampai ke bagian tubuh yang tidak punya nama. Bukan tulang ataupun otot. Huang Shen membiarkan semuanya datang tanpa mundur. Matanya tetap terbuka, menatap Gerbang yang berdiri di hadapannya dengan cahaya yang tidak stabil itu.

“Jika kau berubah pikiran malam ini,” suara itu melanjutkan, “Gerbang akan memaafkan keterlambatan ini.”

“Tidak ada yang perlu dimaafkan,” tandas Huang Shen. “Karena aku tidak salah.”

Gerbang Iblis dalam Darah itu pun berhenti bergetar.

Keheningan turun, berbeda dari keheningan di dunia nyata. Di sini keheningan terasa seperti sesuatu yang menahan napas.

“Menarik,” gumam suara itu layaknya pengamatan yang panjang dalam satu kata. “Tidur dulu, Tuanku. Kita akan bertemu lagi.”

Huang Shen terbangun dengan punggung yang basah kuyup.

Di sisinya, Mu Qingxue sudah terjaga. Entah kapan dia bangun atau apakah dia tidak tidur sama sekali, yang jelas tangannya sudah memegang kain putih yang sekarang menyeka pelipis Huang Shen dengan gerakan yang tidak perlu dipikirkan lagi.

Huang Shen melihat ke arahnya.

Sementara Mu Qingxue tidak bertanya apa yang terjadi di dalam Gerbang Iblis itu. Huang Shen pun tidak menjelaskan. Adapun ada hal-hal yang sudah terlalu sering terjadi antara dua orang untuk memerlukan penjelasan, dan ada hal-hal yang belum pernah terjadi sebelumnya tapi terasa seperti sudah lama seharusnya ada.

Kain itu menyeka sisa keringat di lehernya. Huang Shen tidak menolak atau menjauh.

Manakala kain itu selesai, Mu Qingxue tidak kembali ke sisinya sendiri. Dia duduk di tempat itu, punggung bersandar ke kepala ranjang, lutut dirapatkan. Lampunya sudah padam lagi. Dan mereka duduk dalam kegelapan yang tersisa dari malam.

Huang Shen tidak menyuruhnya pergi, sampai Fajar masuk dari celah jendela seperti sesuatu yang tidak ingin mengusik.

Mu Qingxue masih duduk di tempat yang sama, tapi kepalanya sudah condong ke samping, matanya setengah terbuka dengan cara orang yang bertarung melawan tidur dan sudah mulai kalah. Di bawah matanya ada warna yang tidak datang dari kelelahan semalam saja.

Huang Shen menatap langit-langit.

Tidak ada yang bicara. Tapi ada sesuatu yang berbeda dari semua pagi sebelumnya dalam tiga tahun terakhir, sesuatu yang tidak punya bentuk tapi terasa seperti pergeseran kecil di dalam tanah jauh sebelum ada yang menyadari ada gempa.

Kendati demikian, tidak ada yang diucapkan untuk memberinya nama.

Suara itu datang dari luar kamar.

Riang. Tidak tahu malu. Persis seperti setiap pagi.

“Nyonya Mu! Selamat pagi! Apa menu sarapan kita hari ini?!”

1
black_rose
Thor mau nanya levelnya kok gk ditampil?
DanaBrekker: Memang di novel ini sengaja aku buat bertahap penjelasan kultivasinya, mengikuti perjalanan Huang Shen 😄

Tapi kalau mau lihat urutan lengkapnya bisa lihat di bawah ini ;

1. Pemurnian Qi
2. Pembentukan Dasar
3. Inti Emas
4. Jiwa Baru
5. Pembentuk Jiwa
6. Transformasi Jiwa
7. Manusia Abadi
8. Emas Keabadian
9. Keabadian Agung
10. Dewa Purba
11. Puncak Keabadian

Huang Shen saat ini di Inti Emas level 8. Terima kasih atas pertanyaannya. 👍
total 1 replies
Tonton Sitohang
lanjutkan updet terus mase. mantap jiwa
DanaBrekker: Terima kasih atas dukungannya 👍
total 1 replies
Kecoa Laut
apakah ini tipe cerita yang mc-nya langsung op?
DanaBrekker: tipe Xianxia gelap dan tokoh utamanya memang op sejak awal, kelanjutannya belum tentu 😄
total 1 replies
Bg Gofar
manteb gan
DanaBrekker: Terima kasih 👍
total 1 replies
MuhFaza
menariknya novel ini sejauh yang aku baca ada sisi gelap dari fantasi timur, malah lebih mirip genre horor menurutku
Kecoa Laut: horor dengan bumbu ehem2 lebih tepatnya 🤭
total 2 replies
YunArdiYasha
coba baca karya bru. semangat
DanaBrekker: Terima kasih semoga menghibur 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!