NovelToon NovelToon
JANJI TANPA CINTA

JANJI TANPA CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / CEO / Percintaan Konglomerat / Romantis / Diam-Diam Cinta / Balas Dendam
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Malolo

Nara Setianingrum, guru SMA berusia 25 tahun yang cantik, anggun, dan teguh berprinsip, menghadapi murid bermasalah bernama Karin Setiawan. Karin adalah adik dari Danu Setiawan, seorang CEO muda berusia 28 tahun yang berpengaruh di dunia bisnis. Karena dimanjakan, Karin tumbuh sombong, seenaknya, dan sering membuat kekacauan di sekolah bersama gengnya: bolos, membully, hingga berkelahi. Banyak guru tak sanggup menghadapi Karin, karena masalah selalu diselesaikan dengan uang atau campur tangan Danu yang dingin dan berkuasa. Namun, Nara berbeda—ia menolak kompromi dan sogokan. Merasa dipermalukan, Karin melapor pada kakaknya. Danu pun bersekongkol menjebak Nara agar malu, namun rencana itu justru terbongkar oleh orang tua Danu. Mereka memaksa Danu menikahi Nara. Dari pernikahan penuh intrik ini, lahirlah perjalanan emosional: keteguhan hati Nara, usaha Danu menemukan cinta sejati, dan akhirnya kesadaran Karin yang berbalik menyayangi kakak iparnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21: Kekacauan di Ruang Bimbel

Matahari pagi menyusup malu-malu ke dalam kamar utama Mansion Setiawan. Nara terbangun dengan perasaan yang tidak biasa. Di atas meja nakas, cangkir cokelat semalam sudah kosong, namun aromanya seolah masih tertinggal, bercampur dengan kalimat Danu yang terus terngiang seperti kaset rusak: "Aku ingin menjadi pria yang layak duduk di rumah hijau itu."

Nara menghela napas panjang, menekan dadanya yang berdegup tidak keruan. Ia tidak boleh goyah. Luka malam itu, penghinaan yang ia terima, dan kontrak dingin yang mereka sepakati adalah pengingat bahwa Danu tetaplah seorang predator yang kini hanya sedang berganti kulit.

"Jangan tertipu, Nara. Dia hanya sedang merasa bersalah," bisiknya pada pantulan dirinya di cermin.

Di meja makan, sarapan berlangsung lebih tenang. Danu tidak banyak bicara, namun matanya terus mengikuti gerak-gerik Nara. Saat Nara berpamitan untuk pergi mengajar, Danu berdiri dari kursinya.

"Hati-hati, Nara. Andra akan menjagamu dari jarak jauh. Jika ada apa-apa, tekan tombol darurat di ponselmu," ucap Danu. Suaranya rendah, penuh proteksi yang belum pernah Nara rasakan sebelumnya.

Nara hanya mengangguk kaku. Ia ingin menolak, tapi ia tahu Danu tidak akan menerima bantahan. Ia segera melangkah keluar, mencari udara segar di luar kungkungan mansion yang kini terasa semakin menyesakkan karena kehadiran rasa yang mulai tumbuh.

Di belahan kota yang lain, di dalam apartemen penthouse yang mewah, Vanya sedang melemparkan gelas kristal ke arah dinding. Pecahannya berserakan, sama seperti hatinya yang hancur karena penolakan Danu kemarin.

"Guru miskin itu... dia pikir dia sudah menang?" desis Vanya. Matanya merah, bengkak karena tangis yang berubah menjadi racun dendam.

Ia mengambil ponselnya, menghubungi seseorang yang biasa membereskan 'masalah kotor' untuknya. "Aku ingin kamu membuat keributan di tempat bimbingan belajar itu. Jangan sakiti dia secara fisik... hancurkan saja jiwanya. Buat dia merasa seperti sampah di depan murid-muridnya. Aku ingin seluruh dunia tahu bahwa dia hanyalah wanita murahan yang menjual diri pada keluarga Setiawan."

Vanya tersenyum miring. Ia tahu titik lemah Nara: Harga diri. Jika harga diri itu hancur di depan publik, Nara tidak akan pernah berani menunjukkan wajahnya lagi di hadapan Danu.

Pukul empat sore. Nara sedang menjelaskan soal soal pelajaran di depan kelas yang berisi sepuluh murid SMA. Kapur tulis di tangannya menari-nari, memberikan pemahaman pada otak-otak muda yang haus akan ilmu. Di sini, Nara adalah ratu. Di sini, ia adalah sosok yang dihormati.

Tiba-tiba, suara gaduh terdengar dari lantai bawah. Suara teriakan, makian, dan bunyi benda-benda yang digulingkan.

"Di mana dia?! Di mana guru pelakor itu?!" teriak seorang wanita dari luar kelas.

Nara membeku. Kapur tulis di tangannya patah. Pintu kelas ditendang terbuka. Tiga orang wanita paruh baya dengan dandanan mencolok, diikuti oleh dua orang pria berbadan besar dan seorang pria yang memegang kamera ponsel, merangsek masuk.

"Oh, ini dia? Guru yang kelihatannya suci tapi aslinya penghancur hubungan orang?!" teriak salah satu wanita itu sambil menunjuk wajah Nara.

Murid-murid Nara terperanjat. Mereka saling berbisik, wajah mereka penuh ketakutan dan kebingungan.

"Ibu... ada apa ini?" tanya Dimas, salah satu murid kesayangan Nara.

"Keluar kalian semua! Ibu guru kalian ini bukan orang baik! Dia ini menjual diri pada CEO kaya untuk membiayai pengobatan ayahnya yang sekarat! Dia merebut tunangan orang lain demi masuk ke mansion mewah!" teriak pria yang memegang kamera, seolah sedang melakukan siaran langsung di media sosial.

Nara merasa dunianya berputar. Darahnya berdesir hebat. "Tolong... keluar dari sini. Ini tempat belajar. Jangan bawa fitnah kalian ke sini!"

"Fitnah?! Lihat ini!" Wanita itu melemparkan tumpukan foto ke atas meja Nara. Foto-foto saat Nara pertama kali dibawa ke mansion dalam keadaan kacau, foto saat ia keluar dari mobil mewah Danu. Foto-foto itu diambil dari sudut yang sangat provokatif.

"Kamu pikir dengan jadi guru kamu bisa menutupi kebusukanmu, hah?! Dasar wanita murahan! Kamu tidak layak mengajar anak-anak kami!"

Satu per satu murid Nara mulai berdiri. Mata mereka yang tadinya penuh kekaguman, kini berubah menjadi keraguan dan penghinaan. Nara merasa jantungnya seperti diremas. Inilah ketakutan terbesarnya: Kehilangan kepercayaan dari murid-muridnya.

Kekacauan semakin menjadi. Para preman bayaran itu mulai melempar buku-buku Nara, mencoret-coret papan tulis dengan kata-kata kasar. Nara mencoba melindungi murid-muridnya, namun ia justru didorong hingga terjatuh ke sudut ruangan.

"Pergi! Jangan sakiti mereka!" teriak Nara parau. Air matanya mulai mengalir, bukan karena takut disakiti, tapi karena melihat tempat sucinya dikotori oleh kebencian.

Di luar, Andra yang mengawasi dari kejauhan segera menyadari situasi yang tidak terkendali. Ia

segera menghubungi Danu. "Tuan, ada serangan di bimbel. Mereka mencoba menghancurkan reputasi Nyonya Nara. Situasi sangat buruk."

Di kantor pusat, Danu yang baru saja akan memulai rapat, langsung berdiri. Wajahnya berubah menjadi sangat kelam, memancarkan aura membunuh yang belum pernah dilihat oleh stafnya.

"Batalkan semua rapat. Siapkan mobil. Sekarang!"

Di bimbel, suasana semakin mencekam. Orang-orang bayaran Vanya mulai memprovokasi warga sekitar. Kerumunan mulai berkumpul di depan ruko. Mereka mulai melempari kaca ruko dengan batu, ikut-ikutan menghujat Nara tanpa tahu kebenarannya.

"Pelakor! Guru cabul! Keluar!"

Nara meringkuk di lantai kelas, melindungi kepalanya. Ia mendengar suara tawa dari orang-orang yang menyerangnya. Ia merasa martabatnya sudah habis, terkoyak-koyak hingga tak tersisa.

Tiba-tiba, suara klakson mobil yang sangat keras membelah kerumunan. Sebuah konvoi mobil hitam mewah berhenti tepat di depan ruko. Pintu mobil terbuka, dan Danu melangkah keluar dengan langkah lebar yang mematikan.

Ia tidak menunggu pengawalnya. Danu menerobos kerumunan itu seperti badai. Siapa pun yang mencoba menghalangi jalannya langsung terpental oleh tatapan matanya yang tajam.

Danu sampai di lantai dua. Ia melihat Nara di lantai, dikelilingi oleh tumpukan buku yang berantakan dan makian yang masih meluncur.

"BERHENTI!" suara Danu menggelegar, memenuhi seluruh ruangan.

Semua orang terdiam. Pria yang memegang kamera ponsel gemetar, mengenali siapa yang baru saja datang.

Danu berjalan mendekat, setiap langkahnya terasa seperti dentuman kematian bagi mereka yang ada di sana. Ia melepaskan jas mahalnya, lalu dengan lembut menyampirkannya ke bahu Nara yang gemetar.

Ia berlutut di depan Nara, mengabaikan semua mata yang menatapnya. "Maafkan aku... aku terlambat," bisiknya tepat di telinga Nara.

Danu kemudian berdiri, membalikkan badannya menghadap para penyerang. Ia mengambil ponsel pria yang sedang siaran langsung itu, lalu menatap tepat ke arah kamera.

"Siapa pun yang memesan drama murah ini, dengarkan baik-baik," ucap Danu dengan suara dingin yang menusuk tulang. "Wanita di belakangku ini adalah Nara Setianingrum. Istri sahku. Dia bukan pencari harta, karena akulah yang memohon padanya untuk berada di sisiku. Dia bukan pelakor, karena dialah satu-satunya alasan mengapa aku masih memiliki nurani."

Danu menoleh ke arah murid-murid Nara yang masih ketakutan. "Dan untuk kalian... jika kalian meragukan guru sehebat dia hanya karena fitnah orang-orang sampah ini, maka kalianlah yang merugi. Karena ilmu yang dia berikan jauh lebih mahal daripada seluruh aset Setiawan Group."

Danu beralih pada para preman dan wanita bayaran itu. "Andra, bawa mereka semua. Aku ingin tahu siapa yang membayar mereka. Dan pastikan mereka tidak melihat matahari dari luar penjara untuk waktu yang sangat lama."

Satu per satu penyerang itu diseret keluar oleh tim keamanan Danu yang bersenjata lengkap. Kerumunan di luar dibubarkan dalam sekejap. Bimbel itu kini sunyi, namun suasananya hancur berantakan.

Nara masih terduduk di lantai, mencengkeram jas Danu yang kini menutupi tubuhnya. Ia menatap papan tulis yang penuh coretan kasar. Dunianya, tempat pelariannya, kini telah ternoda.

Danu kembali berlutut di depan Nara. Ia mencoba menyentuh tangan Nara, namun ia teringat

kontrak mereka. Ia mengurungkan niatnya.

"Ayo pulang, Nara. Tempat ini sudah tidak aman," ajak Danu lembut.

Nara menggeleng pelan, air matanya menetes di atas kain jas mahal Danu. "Mereka... mereka tidak akan pernah menatap saya dengan cara yang sama lagi, Pak Danu. Bapak bilang Bapak ingin menjaga saya, tapi lihat... kehadiran Bapak justru menghancurkan satu-satunya tempat di mana saya merasa menjadi manusia."

Danu merasa dadanya sesak. Ia menyadari kebenaran pahit itu. Dunia kemewahannya adalah racun bagi kesederhanaan Nara.

"Aku akan memperbaikinya, Nara. Aku bersumpah," ucap Danu tulus.

"Bagaimana Bapak memperbaikinya?" Nara mendongak, matanya merah karena luka yang sangat dalam. "Bapak bisa membeli gedung ini, Bapak bisa memenjarakan orang-orang itu, tapi Bapak tidak bisa menghapus ingatan murid-murid saya tentang hari ini. Bapak tidak bisa membeli kembali martabat saya yang sudah dibuang di jalanan."

Danu tidak menjawab. Ia hanya berdiri, lalu tanpa memedulikan penolakan Nara, ia menggendong wanita itu dengan hati-hati. Ia membawa Nara keluar dari reruntuhan bimbel itu, melewati koridor yang penuh dengan buku-buku yang terinjak-injak.

Di dalam mobil, Nara hanya diam menatap jendela. Jas Danu masih menyelimutinya, namun ia merasa kedinginan yang luar biasa. Danu duduk di sampingnya, mengepalkan tinjunya hingga buku jarinya memutih.

"Aku tahu siapa yang melakukannya," ucap Danu tiba-tiba. "Vanya. Dia akan membayar setiap tetes air mata yang jatuh hari ini, Nara. Aku tidak akan membiarkannya lolos."

Nara tidak menoleh. "Memenjarakan Vanya tidak akan membuat saya kembali menjadi guru yang dihormati, Pak Danu. Kita berdua adalah magnet bagi kesialan ini. Pernikahan ini... adalah kesalahan yang terus memakan korban."

"Jangan katakan itu," sela Danu. Ia memberanikan diri menggenggam tangan Nara. Kali ini, Nara tidak menolak. Ia terlalu lelah untuk melawan.

"Aku akan membangun kembali bimbel itu. Bukan atas nama Setiawan, tapi atas namamu. Aku akan memastikan seluruh kota tahu siapa kamu sebenarnya. Berikan aku satu kesempatan lagi, Nara. Jangan menyerah sekarang."

Nara menoleh, menatap Danu yang tampak sangat rapuh meskipun baru saja menunjukkan kekuasaannya yang luar biasa. Di mata Danu, Nara tidak lagi melihat monster yang ingin menguasainya. Ia melihat seorang pria yang sedang memohon untuk diberikan jalan masuk ke dalam hatinya yang terluka.

Malam itu, saat mereka sampai di mansion, Danu tidak langsung pergi ke ruang kerjanya. Ia menuntun Nara masuk ke dalam kamar, memastikan wanita itu tenang, lalu ia duduk di lantai di depan pintu kamar menjaga Nara sepanjang malam.

Di sisi lain kota, Vanya sedang merayakan "kemenangannya" dengan segelas wine, tidak menyadari bahwa ia baru saja membangunkan naga yang akan menghancurkan seluruh dunianya.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!