NovelToon NovelToon
Kembali Sebelum Penghianatan

Kembali Sebelum Penghianatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Reinkarnasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nurizatul Hasana

Lisa Yang adalah wanita lembut yang percaya pada cinta. Ia menikah dengan pria yang ia cintai sepenuh hati, Arvin Pratama.
Namun pernikahan yang ia kira akan menjadi kebahagiaan justru berubah menjadi neraka.
Suaminya berubah menjadi pria dingin dan kejam. Lebih menyakitkan lagi, sahabatnya sendiri sejak kecil—Clara—ternyata adalah selingkuhan suaminya.
Selama bertahun-tahun Lisa dipermalukan, dimanfaatkan, dan diperlakukan seperti pembantu di rumahnya sendiri.
Pada akhirnya pengkhianatan itu mencapai puncaknya.
Lisa dibunuh oleh suaminya sendiri bersama sahabatnya demi merebut seluruh warisannya.
Saat napas terakhirnya hilang, Lisa bersumpah dalam hatinya.
"Jika aku diberi kesempatan hidup lagi... aku akan menghancurkan kalian berdua."
Namun keajaiban terjadi.
Lisa membuka mata dan menyadari dirinya kembali ke masa tiga tahun sebelum pernikahannya.
Kali ini Lisa tidak akan menjadi wanita bodoh yang sama.
Ia akan membalas semua pengkhianatan.
Dan dalam rencananya, ia mulai mendekati se

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 Topeng Yang Kembali Dipakai

Suara Arvin masih terdengar dari seberang telepon, hangat dan lembut seperti yang Lisa ingat di awal hubungan mereka dulu.

Sebuah suara yang dulu mampu membuat hatinya berdebar tanpa alasan.

Namun sekarang…

Setiap kata yang keluar dari pria itu justru terasa seperti racun yang perlahan merayap di dalam tubuhnya.

“Lisa, kamu lagi sibuk?” tanya Arvin dengan nada santai, seolah-olah tidak pernah ada apa pun yang terjadi di antara mereka.

Lisa berdiri diam di samping tempat tidurnya, ponsel masih menempel di telinganya, sementara pandangannya kosong menatap ke depan. Ia tidak langsung menjawab. Bukan karena tidak tahu harus berkata apa, tetapi karena ia sedang menahan sesuatu yang jauh lebih besar.

Amarah.

Kebencian.

Dan keinginan untuk langsung menghancurkan semuanya.

Namun Lisa bukan lagi wanita yang akan bertindak gegabah seperti dulu.

Ia menutup matanya perlahan, menarik napas panjang, lalu menghembuskannya dengan pelan, berusaha menenangkan dirinya sebelum akhirnya membuka kembali matanya dengan tatapan yang sudah berubah.

Tenang.

Dingin.

Terkendali.

“Tidak,” jawab Lisa akhirnya dengan suara lembut yang terdengar sangat natural, seolah tidak ada apa pun yang salah. “Aku lagi di rumah. Kenapa?”

Di ujung sana, Arvin terdengar sedikit tersenyum.

“Aku cuma kepikiran kamu,” katanya ringan. “Sudah lama kita tidak ketemu, kan?”

Lisa hampir tertawa.

Kalimat itu.

Kalimat yang sama.

Persis seperti di kehidupan sebelumnya.

Saat itu, ia benar-benar percaya bahwa Arvin merindukannya. Bahwa pria itu tulus ingin bertemu dengannya.

Namun sekarang Lisa tahu…

Semua itu hanyalah bagian dari rencana.

Lisa melangkah perlahan menuju jendela, menatap keluar tanpa benar-benar melihat apa pun.

“Begitu ya,” jawabnya pelan. “Kamu kangen?”

Nada suaranya dibuat sedikit lebih lembut, sedikit lebih hangat, cukup untuk membuat Arvin percaya bahwa ia masih memiliki tempat di hati Lisa.

Dan benar saja…

“Ya, tentu saja,” jawab Arvin tanpa ragu. “Aku selalu memikirkan kamu.”

Lisa memejamkan mata sesaat.

Pembohong.

Namun alih-alih menunjukkan emosinya, Lisa justru tersenyum tipis.

Senyuman yang tidak bisa dilihat oleh Arvin.

“Kalau begitu… kita ketemu saja,” lanjutnya dengan suara yang tetap lembut dan tenang. “Kapan kamu free?”

Beberapa detik hening.

Seolah Arvin tidak menyangka Lisa akan merespons secepat itu.

Di kehidupan sebelumnya, Lisa memang selalu menjadi pihak yang lebih antusias.

Namun kali ini berbeda.

Kali ini Lisa yang mengendalikan permainan.

“Aku bisa hari ini,” jawab Arvin cepat, suaranya terdengar lebih bersemangat. “Gimana kalau kita makan malam?”

Lisa menatap pantulan dirinya di kaca jendela.

Wanita yang berdiri di sana terlihat anggun, tenang, dan… berbahaya.

“Hari ini?” Lisa berpura-pura berpikir sejenak. “Baiklah.”

Senyum kecil muncul di bibirnya.

“Aku tunggu.”

Setelah itu, panggilan berakhir.

Lisa menurunkan ponselnya perlahan.

Ruangan kembali sunyi.

Namun suasana di dalam dirinya sama sekali tidak tenang.

Ia berdiri diam beberapa saat, lalu tiba-tiba tertawa kecil.

Tawa yang sangat pelan, tetapi penuh dengan ironi.

“Lucu sekali…”

Lisa berjalan menuju meja rias, duduk perlahan, lalu menatap dirinya sendiri di cermin.

“Dulu aku benar-benar jatuh cinta pada pria seperti itu.”

Ia mengangkat tangannya, menyentuh wajahnya sendiri dengan pelan.

“Betapa bodohnya aku.”

Namun tidak ada lagi penyesalan di matanya.

Yang ada hanya kesadaran.

Dan tekad.

Lisa mengambil ponselnya lagi, kali ini membuka daftar kontak.

Matanya langsung berhenti pada satu nama.

Clara Wijaya

Nama itu membuat tangannya sedikit menegang.

Sahabatnya.

Atau lebih tepatnya…

Pengkhianat yang menyamar sebagai sahabat.

Di kehidupan sebelumnya, Clara selalu berada di sampingnya, mendengarkan semua ceritanya tentang Arvin, memberikan saran, bahkan berpura-pura mendukung hubungan mereka.

Padahal di belakang…

Ia adalah wanita yang sama yang berbagi tempat tidur dengan pria itu.

Lisa menatap nama itu lama.

Lalu perlahan… ia tersenyum.

Senyuman yang sangat tipis, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia sudah membuat keputusan.

Dengan satu gerakan ringan, Lisa menekan tombol panggil.

Telepon berdering beberapa kali sebelum akhirnya diangkat.

“Lisa?” suara Clara terdengar ceria seperti biasa. “Wah, tumben banget kamu yang telepon duluan. Aku lagi mikirin kamu, lho!”

Lisa hampir ingin memuji kemampuan akting wanita itu.

Bahkan sekarang, mengetahui semuanya, suara itu masih terdengar sangat tulus.

Sangat meyakinkan.

Namun Lisa tidak lagi tertipu.

“Aku juga,” jawab Lisa dengan nada yang sama hangatnya. “Makanya aku telepon kamu.”

“Serius? Ada apa? Kamu kangen aku ya?” Clara tertawa kecil.

Lisa memutar-mutar ujung rambutnya dengan santai.

“Iya, bisa dibilang begitu,” jawabnya ringan. “Kita sudah lama tidak hangout bareng, kan?”

Clara terdengar senang.

“Iya! Aku juga ngerasa gitu. Kita harus ketemu!”

Lisa tersenyum.

“Tepat sekali. Kebetulan aku juga ada rencana ketemu seseorang malam ini.”

Ia berhenti sebentar, sengaja memberi jeda.

Lalu melanjutkan dengan nada seolah-olah itu hal biasa.

“Arvin ngajak aku makan malam.”

Beberapa detik hening.

Lisa bisa membayangkan ekspresi Clara di sana.

Terkejut.

Tidak senang.

Dan mungkin… sedikit panik.

Namun Clara cepat menutupinya.

“Oh ya?” suaranya terdengar tetap santai. “Bagus dong. Kalian memang cocok.”

Lisa menatap dirinya di cermin.

“Makanya aku mau kamu ikut,” lanjut Lisa dengan santai. “Sekalian kita bertiga kumpul. Sudah lama juga kan kita tidak bareng-bareng?”

Kalimat itu seperti jebakan yang dibungkus dengan kehangatan.

Lisa tahu betul…

Clara tidak akan menolak.

Dan benar saja.

“Wah, ide bagus!” jawab Clara cepat. “Aku ikut!”

Lisa tersenyum lebih lebar.

“Bagus. Aku kirim lokasi nanti.”

Setelah panggilan berakhir, Lisa meletakkan ponselnya dengan perlahan di atas meja.

Matanya kembali menatap pantulan dirinya.

Namun kali ini…

Ada sesuatu yang berbeda.

Jika sebelumnya ia hanya terlihat tenang…

Sekarang ia terlihat seperti seseorang yang sedang merencanakan sesuatu yang jauh lebih besar.

Lisa berdiri perlahan.

Langkahnya ringan, tetapi penuh kepastian.

Ia berjalan menuju lemari pakaiannya, membuka pintunya, dan menatap deretan gaun yang tergantung rapi di dalam.

Tangannya berhenti pada satu gaun berwarna hitam elegan.

Gaun yang sederhana, tetapi mampu membuat siapa pun terlihat anggun dan berkelas.

Lisa mengambil gaun itu dengan perlahan.

“Malam ini…”

Ia menatap gaun itu sejenak sebelum tersenyum tipis.

“Malam ini akan menjadi awal dari semuanya.”

Ia tahu satu hal dengan sangat jelas.

Ia tidak perlu terburu-buru.

Balas dendam yang terbaik bukanlah yang cepat…

Tetapi yang menyakitkan.

Dan malam ini…

Ia akan mulai dengan sesuatu yang sederhana.

Membuat dua orang itu…

Merasa tidak nyaman.

Lisa menutup lemari, lalu berjalan kembali ke tengah kamar.

Cahaya matahari sore mulai masuk melalui jendela, menyinari wajahnya yang kini terlihat jauh lebih hidup dibandingkan sebelumnya.

Namun di balik kehidupan itu…

Tersembunyi sesuatu yang gelap.

Sesuatu yang hanya dimiliki oleh seseorang yang pernah mati.

Lisa mengangkat dagunya sedikit.

Tatapannya tajam.

Penuh perhitungan.

“Arvin… Clara…”

Ia menyebut dua nama itu dengan pelan.

Nada suaranya hampir seperti bisikan.

“Tunggu saja.”

Senyuman tipis kembali muncul di bibirnya.

Senyuman yang indah…

Namun juga berbahaya.

“Aku akan mengembalikan semuanya… satu per satu.” 🔥

1
Su Darno
blm ada ending nya msh penasaran thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!