Wu Xuan mahasiswa elite jurusan bisnis, hukum dan manajemen tanpa sadar memasuki dunia novel kultivasi yang baru saja dibacanya, bukan sebagai mc, bukan juga villain, tapi menjadi karakter pendukung yang akan mati pada arc awal. Dengan bantuan sistem, Wu Xuan berusaha mengubah cerita.
Ia masuk ke tubuh patriark tua, namun karena sistem membantunya menerobos, tubuh tuanya berubah menjadi muda dan tampan.
Dia melamar wanita (Villain) yang harusnya menjadi menantunya, karena pembatalan pertunangan sepihak yang dilakukan oleh anaknya.
Demi menghindari masalah di masa depan, ini adalah jalan yang harus di ambil oleh Wu Xuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retakan di Takhta Utara 2
Di ketinggian langit Selatan, angin sore menderu kencang menampar jubah hitam sang Archduke yang baru saja menerima pesan keputusasaan dari ujung dunia yang membeku.
Wu Xuan duduk dengan tenang di atas hamparan awan, jari-jarinya yang jenjang memutar plat giok komunikasi yang masih memancarkan sisa-sisa suara bergetar dari Xu Mei. Nyonya Duchess Utara itu sedang berada di ambang kehancuran politik. Suaminya menghilang, faksi adik iparnya bersiap memberontak, dan rantai komando yang ia miliki selama puluhan tahun sedang dirusak dari dalam.
Di dalam kepalanya, otak analitis Wu Xuan berputar cepat layaknya mesin komputer kuantum tingkat dewa, menghitung untung rugi dari setiap tetes air mata yang dikeluarkan oleh wanita tersebut.
'Ah, dunia politik... selalu sama di semesta mana pun,' gumam Wu Xuan dengan humor yang gelap dan kering. 'Ketika Singa jantan pergi meninggalkan kawanannya, para Hyena mulai berani menggonggong pada sang Ratu. Tapi sayang sekali bagi para Hyena Utara, Ratu mereka baru saja dilirik seekor Naga.'
Wu Xuan menyalurkan secercah Qi murni ke dalam plat giok tersebut, lalu membalas pesan itu dengan satu kalimat yang singkat, absolut, dan luar biasa mendominasi:
"Aku mengerti. Kau tunggu saja di sana."
Tidak ada janji-janji manis. Tidak ada kepanikan. Hanya titah seorang tiran yang akan segera datang menyelesaikan masalah.
Wu Xuan memasukkan plat giok itu kembali ke dalam jubahnya. Ia tidak terbang menuju formasi teleportasi publik di ibukota Selatan, dan ia tidak berniat menuju menara perbatasan tempat ia pertama kali turun untuk menyembelih Beast Tide. Dia langsung berteleportasi menuju kediaman istana utama Duke Bei Han.
"Waktunya menjemput dividen investasiku," gumam Wu Xuan.
Tangan kanannya yang dibalut aura keemasan dari Ranah Primordial Suci Puncak mengaktifkan formasi ruang hampa di altar teleportasi. Tidak perlu gerakan besar, cukup satu ayunan jari, jalinan ruang dan waktu wilayah belantara robek layaknya kertas basah.
Wu Xuan melangkah masuk ke dalam kegelapan formasi teleportasi, meninggalkan langit Selatan.
Sementara itu, di dalam Istana Es Utara, suasana di ruang kerja pribadi Nyonya Utama terasa sekaku mayat.
Xu Mei berdiri bersandar di tepi meja giok raksasanya. Wajahnya pucat pasi, kedua tangannya saling memeluk tubuhnya sendiri yang terbalut gaun ungu tebal. Pemanas spiritual di sudut ruangan sama sekali tidak bisa menghangatkan hatinya yang sedang menggigil. Beban memimpin seluruh wilayah yang sedang di ambang perang saudara tanpa dukungan siapapun membuat mentalnya nyaris retak.
Tiba-tiba, fluktuasi spasial yang sangat aneh namun familiar terasa di tengah ruangannya. Udara membeku seketika, dan sebuah retakan dimensi berwarna keemasan terbuka tanpa suara.
Dari balik retakan itu, sepatu bot hitam berhias sulaman perak melangkah keluar. Wu Xuan muncul sepenuhnya di dalam ruang kerja tersebut, jubah sutra hitamnya memancarkan wibawa dan keanggunan yang tidak pada tempatnya di istana yang dingin ini.
Begitu mata Xu Mei menangkap sosok pria itu, seluruh logika, wibawa, dan harga dirinya sebagai Nyonya Utama Utara menguap tanpa sisa.
Ditambah lagi, tanpa disadari oleh mereka berdua, Tubuh Spiritual Pesona Surgawi yang baru saja Wu Xuan salin dari Yan Melin kini memancarkan feromon pasif tingkat dewa. Pesona itu menembus pertahanan mental Xu Mei, mengaduk-aduk insting kewanitaannya, dan membuat pria di depannya terlihat jutaan kali lipat lebih memabukkan.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Xu Mei melangkah maju. Langkahnya pasif, seperti ditarik oleh gravitasi yang tak terlihat. Ia setengah berlari pada beberapa langkah terakhir, dan langsung mendekap ke dada Wu Xuan.
GREP!
Wanita itu memeluk Wu Xuan dengan sangat erat, menenggelamkan wajahnya di dada bidang pria tersebut. Tangannya mencengkeram jubah Wu Xuan seolah pria itu adalah satu-satunya pelampung di tengah lautan badai. Ia sama sekali tidak menghalau pelukan itu; tubuhnya secara naluriah memang sangat menginginkannya.
Namun, saat ia menempelkan tubuhnya pada Wu Xuan, kesadaran spiritual Xu Mei menangkap sesuatu yang membuat matanya membelalak lebar di balik pelukan itu.
Aura pria ini!
Beberapa hari yang lalu di Tambang Kristal Merah, Wu Xuan memancarkan aura Ranah Primordial Suci tahap menengah yang solid. Tetapi sekarang... tekanan murni yang berdenyut di bawah kulit Wu Xuan terasa seperti palung samudra tak berdasar. Ini adalah aura absolut dari Ranah Primordial Suci Puncak!
"K-Kau... ditahap Puncak?!" bisik Xu Mei tak percaya, napasnya tersengal. "Hanya dalam beberapa hari... bagaimana mungkin?"
Di dalam kepalanya, Wu Xuan menyeringai geli. 'Tentu saja mungkin, Sayangku. Jika kau punya cheat engine sistem dan istri yang tubuhnya bisa digunakan sebagai oven penyulingan dan membantuku memaksimalkan tribulasi dari petir surgawi, kau juga bisa naik level seperti orang gila. Tapi tentu saja, aku tidak akan mengatakan bagian itu padamu.'
Di luar, Wu Xuan hanya tersenyum tipis. Ia melepaskan pelukan Xu Mei secara perlahan, menangkup kedua pipi wanita itu dengan telapak tangannya yang hangat.
"Ada masalah apa, Adik Xu Mei?" tanya Wu Xuan, suaranya mengalun seperti melodi bariton yang sangat menenangkan, namun matanya memindai setiap inci wajah cantik itu. "Wajahmu tampak sangat lelah. Lingkaran di bawah matamu ini hampir terlihat, dan merusak mahakarya dewa."
Mendengar panggilan 'Adik' dari bibir tiran tersebut, hati Xu Mei bergetar.
Insting kewanitaan Xu Mei memberontak. Ia tahu dia masih berstatus istri duke utara, seorang Duchess. Ia tidak seharusnya berada sedekat ini dengan penguasa lain. Namun, pesona surgawi Wu Xuan dan rasa haus akan perlindungan membuatnya menolak untuk menjauh. Ia justru ingin memeluk Wu Xuan lebih lama lagi, membiarkan aroma laut dan cendana dari tubuh pria itu menenggelamkan semua masalahnya.
"Kakak Xuan... aku..." Xu Mei tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Bahunya merosot, kelelahan mentalnya benar-benar mencapai titik nadir.
Melihat wanita kuat itu nyaris rubuh, Wu Xuan tidak membuang waktu dengan kata-kata kosong. Ia menyelipkan satu tangannya di belakang lutut Xu Mei, dan tangan lainnya di punggung, mengangkat Nyonya Utara itu dalam gendongan bridal style yang luar biasa maskulin.
"Ah...!" Xu Mei terkesiap, secara refleks mengalungkan lengannya di leher Wu Xuan, wajahnya merona merah padam hingga ke telinga. "Ka—Kakak Xuan, apa yang Anda lakukan? Jika ada pelayan yang masuk dan melihat—"
"Tidak ada yang berani masuk saat aku mengunci ruang ini," potong Wu Xuan tenang.
Ia menggendong Xu Mei menuju kursi kerja kebesarannya di balik meja giok, lalu duduk di kursi tersebut dengan Xu Mei yang kini berada di pangkuannya.
"Tutup matamu," titah Wu Xuan lembut.
Sambil memangku Xu Mei, tangan kanan Wu Xuan mulai bergerak mengusap punggung dan pelipis wanita itu. Akar Spiritual Kayu Surgawi di dalam dantiannya diaktifkan. Energi kehidupan murni berwarna hijau zamrud mengalir dari ujung jari Wu Xuan, menembus kulit dan pakaian Xu Mei, memberikan penyembuhan yang sangat masif dan menenangkan.
Rasa lelah yang menumpuk di meridian Xu Mei selama ini langsung menguap layaknya es yang disiram air mendidih. Otot-ototnya yang tegang kembali rileks. Pusing di kepalanya hilang seketika, digantikan oleh kehangatan yang membuat seluruh tubuhnya melunak.
Di tengah penyembuhan romantis itu, Wu Xuan memeluk Xu Mei erat dari belakang. Dagunya bersandar dengan santai di bahu Nyonya Utara tersebut.
"Sekarang, ceritakan padaku," bisik Wu Xuan, bibirnya nyaris menyentuh telinga Xu Mei. "Siapa yang berani membuat wanitaku yang cantik ini menangis di wilayahnya sendiri?"
Panggilan 'wanitaku' itu meledakkan kembang api di dalam dada Xu Mei. Logika pernikahannya telah sepenuhnya takluk oleh hubungan terlarang yang memabukkan ini. Ia menyandarkan punggungnya sepenuhnya pada dada bidang Wu Xuan, menikmati perlindungan mutlak tersebut.
"Faksi Dewan Tetua," jawab Xu Mei dengan suara yang kini jauh lebih tenang, meski masih menyisakan kepahitan. "Hampir empat puluh persen dari mereka menuntut agar Bei Ming—adik kandung suamiku—dinaikkan menjadi Patriark Utara untuk menggantikan kekosongan takhta. Mereka tidak mau diatur olehku karena aku hanya 'orang luar' yang masuk ke klan Bei melalui pernikahan. Dan Bei Ming... dia sudah mulai menggerakkan pasukan pribadinya untuk memblokade pusat kota. Jika aku melawannya secara langsung... perang saudara akan pecah."
Wu Xuan mendengarkan dengan saksama, matanya yang keemasan menyipit mematikan.
'Politik nepotisme darah. Bodoh dan sangat mudah ditebak,' batin Wu Xuan menyeringai dingin. 'Jika ini di perusahaan bumi, dewan direksi yang mencoba melakukan akuisisi paksa (hostile takeover) saat ayahku yang sebagai CEO menghilang? Pasti akan langsung kuhabisi baik karier dan aset keluarganya. Tapi beruntungnya dunia ini... aku hanya perlu memenggal kepalanya.'
"Jika Bei Ming ingin menggantikan tempatmu..." Wu Xuan mempererat pelukannya di pinggang ramping Xu Mei, jari-jarinya memberikan usapan sugestif yang membuat napas wanita itu sedikit tersengal. "...maka kita lenyapkan saja dia beserta seluruh faksi anjing penjilatnya."
Xu Mei menoleh sedikit, menatap profil samping wajah Wu Xuan dengan keraguan. "Melakukan pembunuhan pada darah Bei asli itu tidak masalah? Tapi Kakak Xuan... jika terlalu banyak tetua dan bangsawan Utara yang mati, rantai pemerintahan dan komando kita akan hancur. Wilayah Utara akan jatuh ke dalam kekacauan administratif yang panjang."
Wu Xuan tertawa bariton. Tawanya bergetar di dada, menjalar ke punggung Xu Mei.
"Kekacauan? Adik Mei, kau terlalu lembut dalam berhitung," ucap sang Tiran dengan nada pragmatis absolut. "Di dunia kultivasi, kekuatan adalah birokrasi yang sesungguhnya. Biarkan sepuluh bangsawan mati, dan seratus bangsawan kelas bawah akan merangkak memohon untuk mengisi kursi kosong mereka. Administrasi bisa dibangun ulang dalam sebulan. Tapi parasit di dalam rumahmu? Mereka akan terus menggerogoti pondasimu jika tidak kau bakar sampai ke akarnya."
Wu Xuan menatap mata Xu Mei. "Aku akan mengatur semuanya. Aku akan membuat kudeta Bei Ming itu terlihat seperti kesialan, dan kau yang akan menjadi pahlawan yang menumpasnya."
Mendengar rencana kejam namun luar biasa efektif itu, rasa aman yang mutlak menyelimuti hati Xu Mei. Pria ini tidak hanya melindunginya secara fisik, tetapi juga menyediakan jalan keluar politik yang sempurna. Ia benar-benar telah menyerahkan segalanya pada sang Archduke.
"Tapi..." Wu Xuan tiba-tiba memiringkan kepalanya, senyumnya berubah menjadi godaan mematikan. "Aku adalah pengusaha yang rasional, Adik Mei. Aku tidak memberikan perlindungan secara gratis. Kau harus memberiku sesuatu sebagai uang muka."
Xu Mei mengerjap pelan, wajahnya merona merah hingga ke leher. Mata birunya menatap polos. "A-Apa? Yang kakak Xuan inginkan... apakah kekayaanku..."
"Aku tidak butuh hartamu," potong Wu Xuan.
Tanpa memberi wanita itu kesempatan untuk berpikir, Wu Xuan memutar tubuh Xu Mei di pangkuannya. Dengan dominasi penuh, ia menundukkan kepala dan langsung mencium bibir merah dan lembut Xu Mei.
Ciuman itu tidak agresif, namun luar biasa menuntut, mengeksplorasi, dan mengklaim. Tubuh Pesona Surgawi milik Wu Xuan beresonansi, membuat rasa manis dari ciuman itu berlipat ganda, mengunci logika Xu Mei di dalam sangkar gairah.
Mata Xu Mei membelalak sejenak sebelum perlahan terpejam. Ia yang tadinya kaku, kini mulai melingkarkan lengannya di leher Wu Xuan, membalas ciuman terlarang itu dengan kehausan seorang wanita yang telah diabaikan terlalu lama. Napas mereka saling beradu. Tangan Wu Xuan mulai turun, mengelus lekuk tubuh Xu Mei dari balik gaun ungu tebalnya, membuat sang Nyonya Utama mendesah tertahan di dalam ciuman mereka.
Mereka sedang berada di puncak eskalasi, siap untuk mengubah ruang kerja itu menjadi tempat penyatuan dosa, dan tiba-tiba...
TOK! TOK! TOK! BANG!
Ketukan keras yang tidak sabar menghantam pintu giok ruang kerja, diikuti oleh suara panik dari luar.
"Nyanya Duchess!! Mohon buka pintunya! Ini darurat militer!"
Mendengar teriakan itu, mata Xu Mei terbuka lebar. Kesadarannya ditarik paksa kembali ke realitas politik. Ia tersentak, berusaha melepaskan diri dari pelukan Wu Xuan dengan napas terengah-engah dan dada naik turun.
Di dalam kepalanya, Wu Xuan meronta-ronta dengan kutukan yang luar biasa kreatif.
'Sialan! Benar benar sialan!' umpat Wu Xuan dalam hati, wajahnya menahan kekesalan yang mendalam. 'Siapa pun idiot yang baru saja mengetuk pintu ini, aku bersumpah akan mengirimnya untuk menjadi pupuk di Tambang Kristal Merah!! Aku belum pernah sesal ini!'
Namun, sebagai seorang ahli strategi yang memegang citra elegan, Wu Xuan tidak membiarkan emosinya merusak rencananya. Ia melepaskan pinggang Xu Mei, mengecup ujung hidung wanita itu dengan cepat.
"Simpan sisanya untuk nanti," bisik Wu Xuan sambil mengedipkan sebelah matanya.
Ia berdiri dari kursi, membelah ruang di belakangnya, dan melangkah masuk ke dalam retakan dimensi tersebut, bersembunyi dari pandangan siapapun. Ruang tertutup rapat tanpa jejak.
Xu Mei yang ditinggalkan sendirian di kursinya merasa sedikit kesal, hampa, sekaligus malu. Ia menepuk pipinya sendiri yang masih panas membara. Menggunakan sedikit Qi elemen es, ia menurunkan suhu tubuhnya dan merapikan gaun serta rambutnya yang sedikit berantakan akibat pelukan tadi. Setelah memastikan tidak ada lipstik yang luntur dan wibawanya sebagai penguasa kembali utuh, ia menatap lurus ke arah pintu.
"Masuk!" titah Xu Mei dengan suara yang kembali sedingin badai salju utara.
Pintu giok didorong terbuka. Dua orang pria berzirah biru masuk dengan tergesa-gesa. Mereka adalah dua jenderal Ranah Kuno tahap awal—tepatnya, dua jenderal yang tempo hari menemani Xu Mei dan Wu Xuan ke Tambang Kristal Merah, dan yang telah menerima hadiah Core Darah dari Wu Xuan.
Kedua jenderal itu langsung berlutut dengan satu kaki.
"Ampun atas kelancangan kami, Duchess!" lapor jenderal pertama dengan nada terdesak. "Faksi Bei Ming sudah tidak bisa menahan diri! Pasukan pribadi Tuan Bei Ming dan tiga klan bangsawan pendukungnya sedang berbaris menuju gerbang dalam Istana Es! Mereka menuntut Anda turun dari takhta hari ini juga! Apa yang harus kita lakukan? Haruskah kami mengerahkan Pasukan Salju Hitam untuk membantai mereka?!"
Xu Mei menggigit bibir bawahnya. Tangannya meremas sandaran kursi. Ia dihadapkan pada skenario terburuk. Membantai keluarga suaminya sendiri dengan pasukan elit akan menciptakan stigma tirani yang tak bisa dihapus, namun membiarkan mereka masuk sama saja dengan bunuh diri. Ia dilanda kebingungan dan dilema yang mencekik.
Namun, sebelum Xu Mei bisa membuka mulutnya, hukum alam di dalam ruangan itu mendadak menjadi sangat berat.
Gravitasi di sekitar kedua jenderal itu melonjak jutaan kali lipat. Udara membeku, bukan karena es, melainkan karena tekanan spiritual absolut yang tiba-tiba turun dari langit-langit ruangan.
SREKK.
Ruang dimensi di samping meja kerja Xu Mei robek terbuka.
Wu Xuan melangkah keluar dengan santai.
Melihat pria yang tiba-tiba muncul dari ruang dimensi, kedua jenderal itu secara refleks mencabut setengah senjata mereka. Namun, begitu mata mereka menangkap wajah sang Archduke dari Selatan, dan—yang lebih mengerikan—merasakan aura yang memancar darinya, tubuh mereka membeku total. Senjata mereka terlepas jatuh ke lantai dengan suara berdentang keras.
Mata kedua jenderal veteran itu membelalak seolah melihat iblis yang memakan matahari.
"T-Tidak mungkin..." gumam jenderal kedua dengan bibir bergetar. "Tekanan ini... ini bukan lagi tahap menengah! Yang Mulia Archduke... Anda telah menembus Ranah Primordial Suci Puncak?!"
Hanya butuh beberapa hari! Di Tambang Kristal Merah, pria ini sudah menjadi monster yang lebih mengerikan. Kini, ia telah menjadi bencana berjalan yang kemampuannya tidak bisa lagi diukur oleh nalar!
Mengingat Core Darah yang menyelamatkan kultivasi mereka dan menyadari kekuatan mutlak yang berdiri di pihak Nyonya Utama mereka saat ini, kedua jenderal itu langsung membuang harga diri mereka sebagai prajurit Utara. Mereka memutar posisi mereka dan bersujud hingga wajah mereka rata dengan lantai di hadapan Wu Xuan.
"Salam, Yang Mulia Archduke Xuan! Hamba tidak menyadari kehadiran Dewa di ruangan ini!" teriak mereka berdua serempak, loyalitas yang dibeli dengan suap kini telah berubah menjadi fanatisme buta akibat intimidasi kekuatan.
Di dalam hati, Wu Xuan tertawa sinis. 'Ah, betapa manisnya bau pengkhianatan bawahan yang melihat majikan baru yang lebih kaya dan lebih kuat. Uang dan kekuatan memang solusi dari 99% masalah di alam semesta.'
"Bangunlah, Jenderal," ucap Wu Xuan dengan nada datar, melangkah mendekati meja kerja.
Ia berjalan memutari meja giok tersebut, dan dengan sangat natural—sekaligus terang-terangan menunjukkan deklarasi kepemilikan—Wu Xuan merangkulkan lengan kanannya ke punggung Xu Mei. Tangan besarnya beristirahat dengan protektif di pinggang Nyonya Utara itu, menarik tubuh wanita tersebut sedikit bersandar padanya di hadapan kedua bawahannya.
Melihat adegan kontak fisik yang luar biasa skandal itu, kedua jenderal menelan ludah dengan susah payah. Nyonya Utama mereka... bersandar pada Archduke Selatan? Mereka tidak bodoh. Mereka segera menyadari dinamika politik dan perasaan yang baru saja terjadi. Namun, di bawah tekanan Primordial Suci Puncak, mereka tiba-tiba merasa menderita kebutaan mendadak. Mereka sama sekali tidak melihat apa pun, dan mereka tidak akan pernah membicarakannya. Jika mengabdi pada Nyonya Utama berarti mereka dilindungi oleh Archduke ini, maka persetan dengan Bei Ming!
"Kau tenang saja, Sayang," ucap Wu Xuan pada Xu Mei dengan suara yang sengaja dikeraskan agar kedua jenderal mendengarnya, memanggilnya 'Sayang' untuk pertama kalinya secara terbuka. "Aku akan mengatur masalah pemberontakan anak kecil ini."
Wu Xuan menatap kedua jenderal yang masih gemetar.
"Tahan pasukan Bei Ming dan arahkan ke pelataran utama. Jangan cegah mereka," perintah Wu Xuan mutlak. "Dan Nyonya Utama kalian akan menyelesaikan urusan ini sebentar lagi. Dan tiga hari lagi..."
Wu Xuan menunduk, menatap mata biru Xu Mei dengan senyuman yang penuh arti. "...kau harus menemaniku pergi ke Ibukota Great Yan Wilayah Pusat, Adik Xu Mei. Ada kompetisi kecil yang harus kita hancurkan."
Xu Mei, yang wajahnya merona hebat namun merasa terlindungi layaknya permaisuri sejati, menoleh ke arah kedua jenderalnya.
"Kalian dengar titah Yang Mulia?" ucap Xu Mei, suaranya kembali menemukan ketegasan yang absolut. "Kalian berdua, keluarlah! Laksanakan perintah Archduke. Tahan pasukan di gerbang dalam."
"Siap, Nyonya Duchess!" jawab kedua jenderal itu serentak, menunduk dalam-dalam dan mundur keluar ruangan secepat kilat.
Begitu pintu tertutup, meninggalkan mereka berdua, Wu Xuan mempererat pelukannya di pinggang Xu Mei, memancarkan senyum tiran yang siap menyulut api perang saudara di tanah utara ini.
Bersambung...