NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Susu Putra Sang Pewaris

Menjadi Ibu Susu Putra Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / CEO / Ibu susu / Janda / Duda
Popularitas:26.1k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Setelah memergoki perselingkuhan suaminya, Kamila Andini mengalami tragedi hebat, ia terjatuh hingga kehilangan calon bayinya sekaligus harus menjalani pengangkatan rahim. Penderitaannya kian lengkap saat sang suami, Danu, menceraikannya karena dianggap tak lagi "sempurna".
Berharap mendapat perlindungan di rumah peninggalan ayahnya, Kamila justru dijadikan alat oleh ibu tirinya untuk melunasi utang kepada seorang konglomerat tua. Namun, kejutan menantinya. Bukannya dinikahi, Kamila justru dipekerjakan sebagai ibu susu bagi cucu sang konglomerat yang kehilangan ibunya saat persalinan.
Evan Anggara, ayah dari bayi tersebut, awalnya menentang keras kehadiran Kamila. Namun, melihat kedekatan tulus Kamila dengan putranya, tembok keangkuhan Evan perlahan runtuh. Di tengah luka masa lalu yang belum sembuh, akankah pengabdian Kamila menumbuhkan benih cinta baru di antara dirinya dan Evan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Maafkan aku, Kamila

Di ruang kerja Evan yang luas, suasana terasa mencekam. Kevin, asisten kepercayaan Evan, berdiri dengan kaku di samping meja kerja tuannya. Sebuah laptop terbuka menampilkan rekaman CCTV dari Blue Velvet Kafe.

Evan memperhatikan setiap detik pergerakan dalam video itu dengan mata tajam. Ia melihat Kamila masuk dengan wajah penuh harapan, berbicara dengan kasir, dan menunjukkan ponselnya. Lalu, pria asing itu muncul. Dari sudut kamera yang berbeda, terlihat jelas bagaimana pria itu sengaja menunggu di sudut gelap sebelum menyergap Kamila dengan rangkulan paksa.

Wajah Kamila di rekaman itu tidak bisa berbohong, ia terlihat jijik, ketakutan, dan berusaha meronta.

"Lihat itu, Tuan," Kevin menunjuk ke layar. "Nona Kamila jelas tidak mengenal pria itu. Dia mencoba melepaskan diri berkali-kali. Ini bukan pertemuan kekasih, ini adalah penyergapan yang direncanakan."

Evan terdiam. Rahangnya mengeras hingga terdengar bunyi gemeletuk gigi. Rasa bersalah mulai merayap di hatinya, menggantikan amarah yang tadi membara. Namun, ada hal lain yang mengusik pikirannya.

"Bagaimana informasi dari Jaka soal Siska? Bukankah aku memintanya untuk selalu mengawasinya?" tanya Evan dengan suara rendah namun mengancam.

Kevin terlihat tegang dan juga cemas. Ia menelan ludah sebelum menjawab, "Maafkan saya, Tuan. Sudah dua hari saya tidak mendapatkan kabar soal Jaka. Dia seolah lenyap begitu saja setelah memberikan informasi terakhir bahwa Siska bertemu dengan dua orang wanita mencurigakan di pinggiran kota."

BRAKK!

Evan menggebrak meja kerjanya hingga vas bunga di sudut meja bergetar. "Apa? Dasar brengsek! Kenapa kalian bisa kecolongan?! Jika Jaka sampai tertangkap, itu artinya Siska jauh lebih berbahaya dari yang kita kira!"

Darah Evan mendidih. Ia bukan hanya marah karena dikhianati oleh fitnah Siska, tapi ia merasa sangat murka saat menyadari ia telah mengusir wanita yang tulus merawat putranya. Bayangan wajah pucat Kamila dan tangisannya saat diusir tadi terus berputar di kepalanya.

"Batalkan semua rapat hari ini! Aku harus menemukan Kamila!" seru Evan sambil menyambar kunci mobilnya.

Evan memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pikirannya kalut. Ia mencoba mencari ke tempat tinggal lama Kamila lewat informasi yang ia dapat dari Kevin sebelumnya, tetapi rumah itu kosong. Ia mencari ke beberapa sudut kota, namun nihil. Hingga akhirnya, sebuah insting kuat menuntunnya ke satu tempat.

Makam orangtuanya... atau mungkin makam putranya yang telah tiada.

Evan tahu Kamila sering merasa tenang jika berada di dekat mereka yang sudah pergi. Begitu sampai di area pemakaman yang sepi, hujan rintik-rintik mulai turun dan mulai deras. Dari kejauhan, Evan melihat sosok wanita berbaju lusuh terbaring di atas salah satu gundukan tanah.

"Kamila!" jantung Evan berdegup kencang.

Ia berlari menerjang hujan. Setibanya di sana, hatinya hancur melihat pemandangan di depannya. Kamila tergeletak lemas di atas makam ibunya wajahnya yang cantik kini seputih kertas. Bibirnya membiru karena kedinginan. Sepertinya ia sudah menangis hingga tenaganya habis dan jatuh pingsan di bawah guyuran hujan.

Evan segera berlutut dan mengangkat tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Tubuh Kamila terasa sangat dingin dan ringan.

"Kamila... bangun, Kamila!" Evan menepuk pipinya dengan tangan gemetar. "Maafkan aku... Aku begitu bodoh karena tidak mempercayaimu! Aku telah buta karena rasa cemburu dan amarah yang salah."

Evan memeluk tubuh itu erat, seolah takut jika ia melepaskannya, Kamila akan pergi selamanya. Ia bisa merasakan sisa-sisa air mata di pipi Kamila yang kini bercampur dengan air hujan.

"Bertahanlah, tolong... Zevan membutuhkanmu. Aku... aku juga membutuhkanmu."

Tanpa membuang waktu, Evan menggendong Kamila menuju mobil. Ia segera menghubungi Kevin lewat hands-free saat mulai menjalankan mobilnya dengan satu tangan.

"Kevin! Segera kau hubungi Dokter Harun sekarang juga! Aku menemukan Kamila dalam keadaan kritis. Dan satu lagi... perintahkan semua anak buahmu untuk menyeret pria di kafe itu padaku hidup-hidup. Aku akan membuatnya bicara siapa yang membayarnya!"

Di dalam pelukan Evan di kursi samping, Kamila masih tak sadarkan diri, sementara di Mansion, suara tangisan Baby Zevan semakin parau karena merindukan dekapan ibu susunya. Pertarungan sebenarnya melawan rencana busuk Siska baru saja dimulai.

.

.

Suasana di Mansion Chendana yang tadinya penuh ketegangan karena tangis Baby Zevan, mendadak berubah menjadi kepanikan saat pintu utama terbuka lebar. Evan melangkah masuk dengan napas terengah, menggendong Kamila yang tubuhnya dingin dan basah kuyup.

"Evan! Apa yang terjadi dengan Kamila?" seru Tuan Chen, wajahnya pucat melihat kondisi wanita yang sudah ia anggap seperti putri sendiri itu.

"Siapkan kamar tamu, Pah! Panggil Dokter Harun sekarang!" perintah Evan tanpa menghentikan langkahnya menuju lantai atas.

Setelah menidurkan Kamila di ranjang dan menyelimutinya dengan tebal, Dokter Harun segera tiba. Sementara dokter melakukan pemeriksaan, di luar kamar, Evan menceritakan semua yang ia lihat di rekaman CCTV kepada ayahnya.

"Sudah Papah duga! Kamila itu wanita baik-baik. Siska sudah keterlaluan," Tuan Chen memukul sandaran kursi dengan geram. "Usut ini sampai tuntas, Evan! Jangan beri ampun pada siapapun yang berani mengusik ketenangan rumah ini, apalagi memfitnah Kamila!"

"Aku tahu, Pah. Aku tidak akan melepaskannya," jawab Evan dengan nada dingin yang mematikan.

Tak lama kemudian, Dokter Harun keluar dengan senyum tipis. "Dia hanya kelelahan dan terkena hipotermia ringan karena hujan-hujanan. Dia sudah sadar sekarang."

Mendengar itu, Tuan Chen hampir menangis lega. "Syukurlah! Aku akan segera mengambil Baby Zevan. Anak itu hampir kehabisan suara karena menangis. Mungkin hanya dekapan Kamila yang bisa menenangkannya."

Setelah Tuan Chen bergegas pergi, suasana di kamar menjadi sunyi. Dokter Harun, yang merupakan teman lama keluarga sekaligus saksi hidup perjalanan duka Evan, kemudian ia menatap Evan dengan tatapan penuh arti.

"Kau begitu mencemaskan wanita ini, Evan. Sepertinya kau sudah mulai bisa melupakan masa lalu mu dan membuka hati?" bisik Dokter Harun sambil merapikan tas medisnya.

Evan menoleh tajam, matanya berkilat tidak suka. "Diam kau dokter sialan! Jangan berbicara yang tidak-tidak. Dia hanya ibu susu putraku!"

Dokter Harun justru tertawa geli. Ia melihat rona merah di telinga Evan yang tidak bisa disembunyikan. "Ibu susu? Tapi cara kau menatapnya tadi seperti kau takut kehilangan dunia. Baiklah, aku pergi dulu sebelum kau mengusirku."

Setelah kepergian Dokter Harun, Evan perlahan mendekati ranjang. Kamila terlihat sangat rapuh dengan wajah pucat dan mata yang sayu. Ia sedang memijat pelipisnya, berusaha mengusir rasa pusing yang berputar di kepalanya.

Evan duduk di tepi ranjang. Jarak mereka kini hanya beberapa jengkal. "Bagaimana keadaanmu, Kamila?" tanya Evan, suaranya kini jauh lebih lembut, hampir seperti bisikan.

Kamila tersentak. Kesadarannya belum pulih sepenuhnya, namun aroma parfum Evan yang khas membuatnya tersadar akan posisi mereka. Ia langsung berusaha menggeser tubuhnya menjauh, membuat sprei ranjang sedikit berantakan.

"Tuan... kenapa saya ada di sini?" suara Kamila serak. Matanya memancarkan ketakutan yang tersisa. "Tuan meminta saya pergi tadi... saya mohon, jangan paksa saya pergi saat saya belum bisa membuktikan kebenaran itu..."

Melihat Kamila yang ketakutan dan mencoba menjauh, hati Evan terasa seperti diremas. Ia mengulurkan tangan, bermaksud membantu Kamila yang tampak limbung, namun Kamila justru memejamkan mata dan sedikit mengkerut.

"Tenanglah, Kamila. Aku sudah tahu semuanya," ucap Evan pelan, tangannya urung menyentuh bahu Kamila dan memilih untuk tetap berada di atas ranjang. "Aku sudah melihat CCTV itu. Aku tahu pria itu hanya menjebakmu. Maafkan aku... maafkan aku karena telah meragukan mu."

Kamila terdiam, air matanya jatuh tanpa permisi. "Tuan percaya pada saya?"

"Ya, aku percaya," jawab Evan tegas.

Tepat saat itu, pintu kamar terbuka. Tuan Chen masuk dengan Baby Zevan yang masih sesenggukan dalam gendongannya. Begitu Zevan melihat Kamila, tangisnya yang tadinya reda kembali pecah, namun kali ini adalah tangisan rindu. Zevan menggapai-gapai ke arah Kamila dengan tangan mungilnya.

"Kemarilah, Sayang..." Kamila merentangkan tangannya, mengabaikan rasa pusingnya demi mendekap bayi itu. Begitu Zevan berada di pelukannya, tangisan bayi itu langsung berubah menjadi gumaman tenang, seolah ia baru saja menemukan pelabuhan teramannya.

Evan menyaksikan pemandangan itu dengan perasaan campur aduk. Ia merasa sangat bersalah sekaligus bersyukur. Namun di balik itu, ia tahu ia punya tugas besar, yakni menemukan Jaka dan menyeret Siska ke dalam kehancurannya sendiri.

Bersambung...

1
Teh Euis Tea
sukurlah jaka sadar dan mudsh2an cepat sehat biar bisa jd saksi ratu demit masuk bui
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: siip kk 👍
total 1 replies
Nar Sih
ahir nya jaka sadar dan bisa jdi saksi kejhtn siska
Lisa
Ciee..Evan udh mulai pdkt nih..😊
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: iya dong 🤣🤣🤣
total 1 replies
Cindy
lanjut kak
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: /Good//Good//Good/🤗🤗🤗
total 1 replies
Nar Sih
hahaha😂😂iklan lewat dulu gais😂
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: betul 🤣🤣🤣
total 1 replies
Juriah Juriah
sebagai pembaca novel menurut ku jln crita nya udh cukup bagus tulisannya juga rapi ga banyak typo nya trus tanda baca nya juga tepat penempatan nya sampai di episode ini masih enak di baca nya...buat kakak author tetap semangat untuk berkarya 💪🙏
Juriah Juriah: sama-sama kak🙏
total 2 replies
suryani duriah
gagal lagi😁😁
neny
apa itu panggilan di bawah alam kubur,,atau mungkin kah orang yg sdh dianggap siska mati akan mengganggu siska sampe ia mengakui perbuatan nya sendiri,,jd penasaran nich,,semangat terus kak othor💪😘
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: terimakasih kak 🙏😊
total 1 replies
neny
oramg suruhan siska pasti itu,,lanjut kak,,
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: /Good//Good//Good/
total 1 replies
neny
cinta rvan,,itu cintaa,,cinta mu pada jingga ada di ruang hati mu yg lain,,beda jg dengan cinta kamila,,ayo akui perasaan mu drpd tersiksa,,🤭lanjut kak🥰
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: siip kk, aku sudah up 3 Bab 🤗
total 1 replies
Teh Euis Tea
cieee evan udah nyosor lg aj🤭🤭🤭🤭🤭
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: jadi bebek dia kak 🤣🤣🤣
total 1 replies
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
pasti si Siska.😡
Nar Sih
hahaha😂😂evan ,,kmu ada ,,sja pkai cerita tentang teman mu pdhl itu cerita diri mu sendiri yg mungkin udh jtuh cinta dgn kamila ,
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: betul kak, malu tuh dia 🤣🤣
total 1 replies
Teh Euis Tea
kocak di evan, pake bilang temannya bilang aj aku yg mulai jatuh cinta dm istriku 🤣🤭
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: nah betul begitu 🤣🤣
total 1 replies
Cindy
lanjut kak
Iqlima Al Jazira
next thor..
kopi untuk mu👍
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: terimakasih kak 🙏😊
total 1 replies
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼
/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Ani
lepas kendali juga gak apa apa kali Van lah yo wong halal kok..😄😄😄
Cindy
lanjut kak
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: /Good//Good//Good/
total 1 replies
Nar Sih
buat pangn yg sdh sah boleh kok kamila untuk berhubungan seperti layak nya suami ,dan kmu jujur sja klau sdh ngk punya rahim lgi
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: betul kak 👍🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!