NovelToon NovelToon
Owned By The Cold CEO

Owned By The Cold CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Jee Jee

"Satu malam untuk nyawa ibuku. Itu saja."

Bagi Kalea, cinta adalah sebuah kebohongan besar yang menghancurkan keluarganya. Ia tumbuh dengan kebencian pada pria setelah melihat ibunya ditinggalkan sang ayah demi kekuasaan. Namun, saat ibunya butuh operasi darurat dengan biaya yang mustahil ia jangkau, Kalea terpaksa menjual satu-satunya hal yang tersisa: kehormatannya.
Ia menyerahkan segalanya kepada Liam Jionel, sang penguasa bisnis berdarah dingin yang memandang manusia tak lebih dari sekadar angka dan aset.

Kalea mengira ia hanya menjual satu malam, namun ternyata ia telah menyerahkan seluruh sisa hidupnya ke tangan seorang iblis berwajah malaikat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15

Lobi rumah sakit yang biasanya tenang mendadak berubah menjadi medan tempur dingin. Adipati Adiwinata berdiri di sana, dikelilingi oleh empat pria berjas hitam yang membawa tas kerja kulit berisi dokumen-dokumen hukum. Wajahnya yang menua tetap memancarkan keangkuhan seorang penguasa lama yang tidak terbiasa dibantah.

Namun, saat pintu lift terbuka dan Liam Jionel melangkah keluar, aura di ruangan itu seketika merosot hingga ke titik beku. Liam berjalan dengan tenang, tangan kirinya dimasukkan ke saku celana, sementara mata elangnya mengunci sosok Adipati dengan hinaan yang nyata.

"Tuan Adipati," suara Liam rendah, menggema di langit-langit lobi yang tinggi. "Datang ke rumah sakit pribadiku tanpa undangan? Kau punya nyali yang besar, atau kau hanya sedang putus asa karena sahammu baru saja terjun bebas pagi ini?"

Adipati mengencangkan rahangnya. "Liam, jangan bermain-main denganku. Berita kebakaran mansion-mu semalam sudah sampai ke telingaku. Kau membiarkan putriku hampir mati terbakar di tangan mantan kekasihmu yang gila itu. Itu adalah bukti bahwa kau tidak kompeten menjaga keselamatan Kalea!"

Liam berhenti tepat tiga langkah di depan Adipati. Perbedaan tinggi badan dan dominasi usia membuat Adipati tampak seperti singa tua yang sedang mencoba menantang naga muda.

"Putrimu?" Liam tertawa sinis, sebuah suara yang kering dan tanpa emosi. "Kau baru ingat dia putrimu setelah dia mengenakan berlian Jionel di jarinya? Di mana kau saat dia harus menjual kehormatannya demi biaya operasi ibunya yang kau telantarkan? Di mana kau saat dia makan satu bungkus nasi kucing berempat dengan teman kantornya?"

Adipati tertegun sejenak, namun pengacaranya segera maju selangkah. "Tuan Liam, klien kami memiliki dokumen medis yang menyatakan bahwa Kalea berada di bawah tekanan mental yang berat sejak kematian ibunya. Kami menuntut hak perwalian penuh atas Kalea untuk membawanya keluar dari 'pengawasan' Anda yang berbahaya."

Liam merebut dokumen itu dengan gerakan kilat, lalu tanpa melihat isinya, ia merobeknya menjadi dua bagian di depan wajah Adipati.

"Dengarkan aku baik-baik, Adipati," bisik Liam, suaranya kini terdengar seperti desisan ular yang siap mematuk. "Kalea bukan lagi seorang Adiwinata. Dia sudah menjadi bagian dari Liam Jionel sejak malam dia menginjakkan kaki di kamarku. Kau ingin bicara soal hukum? Aku pemilik sistem hukum di kota ini jika aku mau. Kau ingin bicara soal keluarga? Kau sudah membunuh keluargamu sendiri dua puluh tahun lalu."

"Dia anakku! Darahku mengalir di tubuhnya!" teriak Adipati, mulai kehilangan kendali diri karena dipermalukan di depan umum.

"Darahmu?" Liam mendekatkan wajahnya, matanya berkilat dengan kegilaan yang tertahan. "Darahmu adalah noda yang ingin dia hapus setiap hari. Dan jika kau berani melangkah satu inci saja menuju kamarnya, aku akan memastikan besok pagi kau tidak punya perusahaan lagi untuk diwariskan pada dua putri sahmu yang manja itu."

Di lantai atas, Kalea berdiri di balik pintu kamarnya yang sedikit terbuka, mendengarkan setiap kata dari interkom keamanan yang tersambung ke lobi. Tubuhnya gemetar, namun bukan karena takut pada ayahnya. Ia gemetar karena menyadari betapa posesifnya Liam. Liam tidak melindunginya karena cinta—ia melindunginya karena ia tidak ingin "mainannya" diambil oleh siapa pun, bahkan oleh ayahnya sendiri.

Kalea menutup pintu, lalu berjalan gontai menuju jendela. Ia menatap pantulan dirinya. Gaun rumah sakit yang ia kenakan tampak seperti kain kafan putih.

"Aku hanya barang yang diperebutkan dua monster," gumam Kalea, air matanya jatuh membasahi pipi yang masih pucat.

Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Liam masuk dengan langkah yang masih membawa sisa-sisa amarah dari lobi. Ia melihat Kalea berdiri di dekat jendela, tampak begitu rapuh namun indah dalam kesedihannya.

Liam berjalan mendekat, memeluk Kalea dari belakang. Ia membenamkan wajahnya di rambut Kalea yang masih beraroma obat rumah sakit. "Dia sudah pergi. Dia tidak akan mengganggumu lagi."

Kalea tidak membalas pelukan itu. Ia tetap menatap ke depan. "Kenapa kau tidak membiarkan dia mengambilku, Liam? Bukankah itu akan lebih mudah bagimu? Kau tidak perlu lagi berurusan dengan skandal pembakaran atau ancaman keluarga Adiwinata."

Liam memutar tubuh Kalea dengan paksa, mencengkeram bahunya hingga Kalea mendongak. "Kau pikir aku akan melepaskan apa yang sudah kubeli dengan harga semahal ini? Kau pikir aku akan membiarkan pria pengecut itu menyentuh milikku?"

"Aku bukan milikmu, Liam! Aku manusia!" teriak Kalea, emosinya meledak.

Liam menyeringai, sebuah senyum yang sangat gelap. Ia menarik tangan kanan Kalea, mencium cincin berlian itu dengan penuh intensitas. "Selama benda ini ada di jarimu, dan selama aku masih bernapas, kau adalah propertiku, Kalea. Kau adalah Andini-ku, kau adalah lukaku, dan kau adalah obsesiku. Tidak ada jalan keluar."

Kalea menatap mata Liam, dan untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang lebih mengerikan daripada kebencian. Ia melihat kesepian yang sangat dalam di balik mata pria itu. Liam Jionel adalah pria yang memiliki segalanya, namun ia tidak memiliki jiwa, dan ia mencoba mencuri jiwa Kalea untuk mengisi kekosongan itu.

"Kau gila, Liam," bisik Kalea.

"Mungkin," jawab Liam, suaranya merendah. Ia menggendong Kalea kembali ke tempat tidur, menyelimutinya seolah-olah Kalea adalah porselen yang sangat mahal. "Tapi kegilaanku adalah satu-satunya hal yang akan menjagamu tetap hidup di dunia yang ingin menghancurkanmu ini."

Malam itu, di dalam kamar rumah sakit yang sunyi, Kalea menyadari satu hal: Adipati Adiwinata mungkin ingin mengurungnya dalam nama keluarga, tapi Liam Jionel ingin mengurungnya dalam jiwanya sendiri. Dan di antara dua penjara itu, Kalea tahu ia sudah kehilangan kunci untuk melarikan diri.

Sementara itu, di sebuah rumah tua di pinggiran Jakarta, seseorang yang telah lama dianggap mati sedang duduk di depan meja kayu yang usang. Ia menatap foto Kalea di koran pagi itu. Tangannya yang kasar mengusap wajah Kalea di kertas tersebut.

"Maafkan ayah, Kalea..." bisik pria itu dengan suara yang berat karena penyesalan. "Ayah akan datang untuk mengambilmu kembali dari tangan iblis itu."

Rahasia baru telah muncul. Ternyata, ayah yang selama ini Kalea benci dan anggap sebagai Adipati Adiwinata... menyimpan sebuah kebenaran yang jauh lebih besar dan lebih berbahaya.

  Kalea memejamkan mata, membiarkan dinginnya AC rumah sakit menusuk kulitnya yang masih trauma. Di sudut ruangan, Liam berdiri menatap kegelapan Jakarta dengan kepalan tangan yang mengeras. Ia merasakan firasat buruk yang asing, seolah ada bayangan masa lalu yang lebih gelap dari kematian Andini sedang merayap mendekat. Di tempat lain, pria misterius itu mengasah belatinya, siap menjemput Kalea kembali.

1
lia juliati
semoga hatinya selalu hangat oleh kalea
arilias
thor kpn cerita nya di lanjut?
arilias
masyaalloh cerita nya bagus bgt. awal awal bikin aku gregetan. dan sekarang cerita nya bikin aku penasaran sama bab selanjutnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!