Lu Mingyu adalah seorang gadis muda yang bergabung di kelompok dunia bawah, tugasnya sebagai mata mata di kelompoknya, Mingyu sudah terbiasa mendapat luka tembak ataupun benda tajam di tubuhnya, bagi Mingyu itu adalah simbol dari sosoknya yang pemberani dan tidak takut pada apapun, selain itu Mingyu juga memiliki sifat yang babar dan juga suka ceplas ceplos saat berbicara, menurut Mingyu yang paling menakutkan bukanlah musuh yang ingin membunuhnya, melainkan jika tidak punya uang, karna Mingyu gadis yang sangat matrealistis.
Dan suatu hari Mingyu tidak pernah terpikirkan kalau dirinya akan masuk ke jebakan lawan, mobil Mingyu berhasil di sabotase, yang menyebabkan remnya blong dan menabrak pembatas jalan hingga meledak, dan api besar itu melalalap habis tubuh Mingyu yang terkunci di dalam mobil.
Dan saat membuka matanya Mingyu berfikir kalau dia sudah berpindah ke alam baka, karna melihat bangunan sekelilingnya di penuhi dengan warna kuning keemasan, di tambah saat dia melihat tam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zakiya el Fahira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Di tengah tengah aula istana ibu suri, para gadis saling berlomba lomba menampilkan bakatnya untuk merayakan ulang tahun Ibu Suri, ada yang menari, ada yang membuat puasi, dan ada juga yang bermain musik tradisional.
Tapi sebenarnya mereka melakukan itu bukan semata mata untuk merayakan ulang tahun Ibu Suri, melainkan untuk menarik perhatian Jendral Rong, mereka berharap Jendral Rong tertarik, siapa tahu nanti bisa menjadi istrinya walaupun sebagai selir pikir mereka.
Sedangkan pria yang menjadi pusat perhatian para gadis gadis di sana, terlihat acuh tak acuh bahkan tidak perduli, padahal mereka yang sedang menampilkan bakatnya tepat berada di depan matanya.
Dari singgasana Ibu Suri diam diam memperhatikan putra bungsunya , biasanya putranya itu tidak akan betah, kalau berlama lama berada di acara ulang tahunnya, dia akan berpamitan pergi dengan berbagai alasan. Tapi sekarang putranya terlihat anteng, sembari menikmati hidang yang di depannya.
''Pangeran''
''Hem''
''Coba pangeran lihat Kaisar''
Jendral Rong dengan patuh mengikuti perintah Mingyu melihat ke arah Kaisar.
''Kenapa dengan Kaisar?'' tanya Jendral Rong.
''Apa Pangeran tidak ingin seperti Kaisar?'' Mingyu malah balik bertanya.
Jendral Rong mengerutkan dahinya.
''Maksud kamu, menjadi Kaisar?''
''Bukan''
''Terus?'' tanya Jendral Rong, lalu meneguk arak dari cangkir porselin yang sangat cantik, yang di buat khusus untuk keluarga kerjaan.
''Punya istri dua''
Uhuk
Uhuk
Uhuk
''Pangeran, pelan pelan saja kalau minum'' ucap Mingyu sembari menepuk nepuk punggung Pangeran dengan pelan.
Sedangkan Jendral Rong dia melayangkan tatapan kesalnya ke arah Mingyu, apa wanita ini ingin dirinya punya selir pikirnya.
''Kenapa Pangeran menatap saya seperti itu?'' tanya Mingyu yang tidak menyadari expresi kesal di wajah Jendral Rong.
Jendral Rong diam saja, dan memilih kembali meneguk arak di depannya.
''Pangeran, coba lihat gadis gadis di depan ini, apa tidak ada satupun dari mereka yang buat pangeran tertarik?'' tanya Mingyu menatap wajah Jendral Rong.
Jendral Rong seketika memejamkan matanya sembari menarik nafasnya dalam.
''Mingyu, kalau kamu masih bicara lagi, aku tidak akan memberikan semua uangku padamu lagi'' ucap Jendral Rong dengan kesal.
''Ih, Pangeran kok gitu sih, saya kan cuma tanya', memangnya salah'' sahut Mingyu.
''Mingyu''
''Iya ya, saya tidak akan tanya lagi'' ujar Mingyu buru buru sembari menggerakan jarinya di depan bibirnya, memberi isyarat kalau dia tidak akan bicara lagi.
Jendral Rong mendengus, gara gara perkataan Mingyu, dia sudah tidak mood lagi berada di aula, dan memilih keluar.
"Eh, Pangeran mau kemana?" tanya Mingyu sembari menahan ujung baju Jendral Rong.
"Keluar, cari angin" sahutnya ketus dan berlalu pergi begitu saja.
Mingyu hanya menatap heran pada Jendral Rong yang perlahan menghilang di balik pintu aula.
"Pria sialan itu kenapa sih?, seperti wanita lagi PMS saja, memangnya aku salah ya, tanya dia mau menikah lagi apa tidak, padahal aku sudah baik hati menawarinya" gumam Mingyu.
Para gadis yang sejak tadi memperhatikan perubahan mimik wajah Jendral Rong, mereka berfikir kalau Mingyu sudah membuat Jendral Rong marah, karna melihat Jendral Rong yang pergi keluar meninggalkan Mingyu dengan wajah masam.
Sedangkan di taman istana Ibu Suri, Han Bing menatap heran ke arah Tuannya yang terus mengomel sendiri sembari berkacak pinggang.
''Wanita itu benar benar tidak tahu di untung, padahal para istri di luaran sana berharap suaminya tidak punya selir, eh dia malah menyuruhku mencari selir'' gerutu Jendral Rong.
Han Bing kini mulai paham apa yang sedang terjadi dengan Tuannya, sepertinya Nonanya menyuruh Tuannya untuk menikah lagi, sedangkan Tuannya tidak berniat ingin menambah istri lagi.
"Eh, tunggu dulu, bukannya dulu Pangeran pernah bilang, kalau pernikahan itu hanya formalitas bagi Pangeran, seharusnya tidak masalah kan kalau Pangeran memiliki selir, dari dulu keluarga kerajaan juga semuanya punya selir, terus kenapa Pangeran tidak ingin punya selir?" batin Han Bing.
Kembali ke aula perjamuan, seorang putri dari salah satu bangsawan negara Yan, tiba tiba meminta Mingyu untuk menampilkan bakatnya di hadapan Ibu Suri, gadis itu juga mengatakan kalau Mingyu selaku menantu keluarga kerjaan sudah seharusnya memberi contoh pada gadis gadis yang lain.
''Nona Lu bagaimana?, apa yang saya katakan benar'' ucap gadis itu sembari menatap rendah ke arah Mingyu.
Perdana mentri Lu langsung panik, dia tahu kalau putrinya tidak akan bisa melakukannya karna tidak memiliki bakat apapun.
Sedangkan Mingyu dia hanya tersenyum devil, dia sudah bisa menebak tujuan gadis itu, dan perlahan bangkit tapi Perdana mentri Lu langsung menahannya.
''Mingyu''
Mingyu tahu dengan kehawatiran sang Ayah, jadi dia mengelus punggung tangan Ayahnya untuk menenangkannya.
''Ayah tenang saja, Mingyu tahu apa yang harus di lakukan'' ucapnya lalu bangkit.
Mingyu berdiri lalu menatap ke arah gadis itu dengan berani.
''Nona, apa Nona memang sengaja ingin mempermalukan saya'' ucap Mingyu tegas, dan seketika suasana di aula perjamuan langsung hening, apa lagi saat mereka merasakan hawa dingin dari Mingyu, membuat susana di dalam aula perlahan mencekam.
''Maksud Nona Lu apa?, saya tidak ada niat untuk mempermalukan Nona Lu, jadi Nona Lu jangan bicara sembarangan'' sahut gadis itu menatap sengit ke arah Mingyu.
''Lantas, kenapa Nona meminta saya untuk menunjukkan bakat saya di hadapan Ibu Suri, sudah jelas jelas semua seluruh rakyat termasuk anda, tahu kalau saya lahir bodoh dan tidak memilki bakat apapun'' ucap Mingyu, membuat gadis itu langsung bungkam seketika.
''Nona, apa anda sengaja ingin merendahkan keluarga kerjaan, karna memiliki menantu bodoh'' ucap Mingyu dengan tersenyum devil.
Gadis itu seketika di buat panik dengan perkataan Mingyu, apa lagi saat Ibu Suri dan juga Kaisar langsung menatap marah padanya.
''Ti,, tidak, Ibu Suri, Kaisar, hamba tidak bermaksud seperti itu'' sanggah wanita itu panik.
''Nona, kalau anda tidak bermaksud seperti itu lalu apa?, padahal sudah jelas kalau saya istri Pangeran Rong Cheng adik kandung Kaisar, dan pernikahan saya atas perjodohan dari Kaisar terdahulu, lantas apa lagi kalau bukan ingin merendahkan mendiang Kaisar terdahulu'' sahut Mingyu.
Gadis itu seketika kalah telak, dia tidak bisa lagi melawan perkataan Mingyu, padahal tadi niatnya hanya ingin menjatuhkan Mingyu, agar di pandang rendah oleh masyarakat, tapi siapa sangka malah dirinya yang masuk ke jebakan yang dia buat sendiri.
''Tuan Ma, tolong didik putri anda, walaupun di sini status Nona Lu hanya menantu, dia tetap keluarga kerjaan yang harus kalian hormati'' tegas Kaisar.
Tuan Ma langsung menampar keras putrinya.
Plak
''Dasar putri sialan'' bentaknya murka.
Lalu Tuan Ma langsung bersujud di hadapan Kaisar dan juga Ibu suri, sembari mengucapkan maaf berkali kali.
''Kaisar, maafkan putri hamba, dia masih sangat muda, dan belum bisa berfikir jernih'' ucap Tuan Ma.
''Cih, mata mana yang melihat dia masih muda, paling juga mata orang buta yang lihat'' decak Mingyu meski lirih tapi masih bisa di dengar oleh Kaisar dan Ibu Suri.
Kaisar menggigit bibirnya menahan senyum, sepertinya adik iparnya ini tidak bodoh seperti rumor yang beredar di luar sana.
''Tuan Ma, untuk kali ini aku maafkan kesalahan putrimu, tapi jika kejadian seperti ini terulang lagi, kalian pasti tahu kan hukuman karna merendahkan keluarga kerjaan'' tukas Kaisar.
Tuan Ma kembali bersujud. ''Baik Kaisar, saya pastikan kejadian ini tidak akan terulang lagi'' ucapnya.
''Hem, bangunlah''
''Kaisar, Ibu Suri, kalau begitu saya pamit undur diri''
''Hem''
Setelah mendapat izin dari Kaisar, Tuan Ma langsung bangun lalu menarik kasar tangan putrinya dan membawanya pulang, karna sudah sangat malu akibat ulah putrinya.
Di balik pilar besar seorang pria tersenyum ke arah Mingyu.
''Ternyata dia cerdas juga'' gumamnya.