Kata orang, cinta itu buta. Buat Kara Anindita, cinta itu bukan cuma buta, tapi juga bikin miskin mendadak.
Demi menikah dengan Rio Pratama—cowok biasa yang dia pikir tulus mencintainya apa adanya—Kara rela melakukan "prank" terbesar dalam hidupnya. Dia menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal Anindita Group, raksasa properti nomor satu di negeri ini. Kara menukar kartu kredit unlimited-nya dengan uang belanja recehan, menukar penthouse mewahnya dengan kontrakan petak yang atapnya bocor, dan menukar gaun desainernya dengan daster diskonan di pasar kaget.
Kara pikir, hidup sederhana asal penuh cinta itu indah.
Tapi ternyata, "tulus" itu ada masa kedaluwarsanya.
Tiga tahun menikah, setelah karier Rio menanjak (yang Rio nggak tahu, itu berkat koneksi "orang dalam" Kara), sikap suaminya berubah 180 derajat. Rio mulai sombong, gila hormat, dan menganggap pengorbanan Kara sebagai kewajiban istri yang tidak berpenghasilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14: Panic Attack dan Rencana Menjilat Ludah
Rio sedang mengoleskan balsem ke pelipisnya saat pintu kontrakan terbuka pelan.
Bu Ratna masuk. Langkahnya diseret. Wajahnya pucat pasi seolah darahnya disedot habis oleh vampir. Matanya kosong, menatap nanar ke arah kipas angin yang berputar berisik di langit-langit.
"Bu? Kenapa? Ketemu 'kantor'-nya?" tanya Rio penasaran. "Ibu udah labrak bosnya? Udah bikin malu si Kara?"
Bu Ratna tidak menjawab. Dia berjalan tertatih ke arah sofa, lalu ambruk di sebelah Rio. Tangannya gemetar saat menyodorkan selembar uang seratus ribu rupiah yang sudah lecek karena diremas sepanjang jalan.
"Ini..." suara Bu Ratna parau.
"Duit siapa? Duit damai? Ibu disogok biar diem?" Rio mendengus. "Murah amat cuma cepek."
"Ini sedekah, Yo..." Bu Ratna menatap anaknya dengan horor. "Sedekah dari Kara. Dia lempar duit ini dari jendela mobil Bentley-nya. Dia bilang buat ongkos pulang karena kasian kita miskin."
Rio terdiam. "Bentley? Bu, jangan ngaco. Palingan itu mobil sewaan."
"BUKAN SEWAAN, RIO!"
Teriakan Bu Ratna membuat Rio terlompat kaget.
"Ibu liat sendiri! Rumahnya di Menteng! Gedenya kayak istana presiden! Pager rumahnya aja lebih mahal dari harga diri kita sekeluarga!" Bu Ratna mencengkeram bahu Rio kuat-kuat, kukunya menancap sakit.
"Satpam di sana panggil dia 'Nona Muda'. Mobilnya banyak. Pelayannya hormat sama dia. Dia itu... dia itu bukan simpenan, Yo. Dia yang punya!"
Jantung Rio berdegup kencang. Nona Muda.
Potongan puzzle di kepalanya mulai menyatu. Surat pembatalan kontrak dari Anindita Group. Gugatan cerai dari firma hukum elit. Sikap Kara yang berubah drastis.
Dengan tangan gemetar, Rio menyambar HP-nya. Jari jempolnya mengetik cepat di kolom pencarian Google: Keluarga Anindita Group.
Loading...
Hasil pencarian muncul dalam 0,5 detik.
Artikel paling atas: Profil Gunawan Anindita, Raja Properti Asia Tenggara dan Putri Tunggalnya.
Rio mengklik menu "Gambar".
Muncul foto seorang pria tua berwibawa dengan setelan jas mahal.
Rio membelalak. Dia ingat wajah itu.
"Ini..." Rio menelan ludah, tenggorokannya kering kerontang. "Ini Pak Gunawan... Dulu pas kita nikah di KUA, dia dateng, Bu. Dia bilang dia paman jauh Kara yang kerja jadi supir taksi. Dia cuma ngasih amplop isi 50 ribu terus pergi."
Rio men-scroll ke bawah. Ada foto lama. Foto Pak Gunawan menggandeng gadis kecil cantik. Wajah gadis itu... itu wajah Kara.
HP Rio terlepas dari genggamannya. Jatuh ke lantai. Brak.
"Mati aku, Bu..." desis Rio. Wajahnya lebih pucat dari Ibunya. "Kita abis maki-maki anak konglomerat. Kita abis nyuruh pewaris tunggal Anindita Group buat nyuci celana dalem bolong..."
Keheningan melanda ruangan sempit itu. Hanya suara detak jam dinding dan napas mereka yang memburu.
Lalu, tiba-tiba Bu Ratna memukul paha Rio keras-keras. Plak!
"GOBLOK!" maki Bu Ratna. "Kamu goblok banget sih jadi laki! Punya istri emas murni kok nggak tau?! Coba kalau kamu tau dari dulu, kita nggak perlu tinggal di kontrakan sumpek ini! Ibu bisa arisan sosialita! Kamu bisa naik Ferrari!"
"Ya mana aku tau, Bu! Dia ngakunya yatim piatu miskin!" Rio membela diri, frustrasi. "Dia pinter banget aktingnya!"
"Terus sekarang gimana?!" Bu Ratna mulai menangis, tapi bukan tangisan sedih. Tangisan serakah. "Harta itu, Yo... Harta itu melayang di depan mata. Lima miliar proyek kamu ilang? Itu mah receh buat mereka! Kara itu bisa beli perusahaan tempat kamu kerja!"
Bu Ratna mengguncang-guncang tubuh Rio. "Kita harus dapetin dia balik! Harus! Ibu nggak mau tau! Kamu harus rujuk!"
Rio terdiam, otaknya berputar cepat. Rujuk?
Setelah dia selingkuh? Setelah dia menghina Kara di lobi? Setelah Ibunya melabrak Kara di pengadilan?
"Nggak mungkin dia mau, Bu. Tadi di pengadilan dia dingin banget. Dia bilang aku udah mati."
"Halah! Itu kan mulutnya!" Bu Ratna menghapus air matanya kasar. Jiwa manipulatornya kembali menyala. "Hati perempuan itu lembek, Yo. Apalagi Kara. Inget nggak? Tiga tahun dia tahan hidup susah sama kamu. Dia makan nasi garem demi kamu. Itu tandanya apa? Tandanya dia CINTA MATI sama kamu!"
Mata Rio mulai berbinar sedikit. Ada harapan.
Benar juga. Logika narsisistik Rio mulai bekerja. Kara melakukan prank miskin ini pasti karena ingin mencari cinta sejati. Dan Kara memilih Rio. Berarti Rio spesial.
"Dia pasti cuma lagi ngambek besar, Yo. Wajar lah, namanya juga istri," kompor Bu Ratna. "Perempuan itu kalau dibujuk, dirayu, diingetin masa-masa indah, pasti luluh. Apalagi kamu cinta pertamanya."
Rio mengangguk pelan. Keyakinan dirinya yang tidak berdasar mulai tumbuh lagi.
"Ibu bener. Dia masih cinta sama aku. Buktinya dia nggak langsung ancurin aku kan? Dia cuma batalin proyek. Itu tandanya dia masih peduli, dia cuma mau kasih peringatan biar aku sadar."
Delusi mereka sungguh luar biasa.
"Jadi rencananya gimana, Bu?" tanya Rio semangat.
Bu Ratna tersenyum licik, memperlihatkan gigi emasnya.
"Kita pake cara lama. Drama. Kamu dateng ke rumahnya. Jangan bawa emosi. Bawa muka paling melas. Kamu pura-pura sakit. Atau... kamu pura-pura mau bunuh diri kalau dia nggak maafin kamu."
"Kara itu hatinya lembut. Dia nggak bakal tega liat suaminya menderita."
Rio menyisir rambutnya ke belakang. Senyum arogannya kembali, meski sedikit dipaksakan.
"Oke. Besok aku ke sana. Aku bakal acting Oscar. Aku bakal sujud di kakinya kalau perlu. Begitu dia maafin aku dan kita rujuk..."
Rio membayangkan hidup di rumah Menteng, naik Rolls-Royce, dan menjadi Bos Besar.
"...aku yang bakal pegang kendali hartanya," pungkas Rio.
Sungguh rencana yang bodoh. Mereka lupa satu hal: Kara yang sekarang bukan lagi Kara yang dulu. Mereka sedang berjalan masuk ke kandang singa dengan membawa daging busuk.
...****************...
...Bersambung......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share ❣️...
...****************...
kanjooot..
terus kemaren2 sblm kara pergi, ibunya tinggal dimana?
nanya lho thor, bkn menghujad.. 🤭🙏