Menjadi Takara tidaklah mudah. Bagaimana rasanya sahabatmu satu-satunya sekaligus orang yang kamu cintai dalam diam dimiliki oleh jutaan orang di dunia? Dia bersinar terang, terlalu terang hingga Takara tak sanggup melihatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Megatron
Persiapan menuju Seoul terasa jauh lebih mendebarkan daripada saat Takara berangkat ke Amsterdam dulu. Kali ini, bukan hanya masa depan kariernya yang ia bawa di dalam koper, tapi juga sebuah harapan kecil yang ia simpan rapat-rapat di sudut hatinya.
Selama tiga hari terakhir, Takara bekerja ekstra keras. Bahan presentasi teknis, sampel material kayu untuk jembatan, hingga data sirkulasi udara sudah rampung dan tersimpan rapi dalam drive maupun salinan fisik. Ia ingin tampil tanpa celah. Ia ingin agensi itu tahu bahwa mereka tidak salah memilih arsitek.
Sore sebelum keberangkatan, Takara memutuskan untuk melakukan sesuatu yang jarang ia lakukan: memanjakan diri. Ia pergi ke sebuah salon ternama di pusat kota Brisbane.
"Tolong potong sedikit ujungnya, dan buat warnanya terlihat lebih segar," ucap Takara pada sang penata rambut.
Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Rambutnya kini jatuh dengan indah, membingkai wajahnya yang terlihat lebih dewasa dan penuh tekad. Ia menyentuh anting perak kecil di telinganya, hadiah lama dari Jake. Ia ingin terlihat sempurna, bukan hanya untuk para petinggi agensi, tapi juga sebagai bentuk penghargaan bagi dirinya sendiri yang sudah berhasil mencapai titik ini.
"Cantik sekali, Ra," puji Yumi saat Takara sampai di rumah. "Jake pasti pangling kalau lihat kamu sekarang."
"Ma, kan belum tentu ketemu," sahut Takara sambil tersenyum malu, meski hatinya diam-diam membantah. "Ini kan perjalanan dinas, jadwalnya pasti padat banget."
Malamnya, tugas terberat Takara dimulai: mengepak koper. Ternyata, bagian tersulit bukan memasukkan bajunya sendiri, melainkan mengakomodasi "titipan kasih sayang" dari dua orang ibu.
"Takara, ini sambal ikan tuna kesukaan Jake, sudah Tante bungkus kedap udara," ucap Dami yang datang ke rumah membawa dua kotak besar. "Lalu ini ada kering kentang dan bumbu gochujang instan buatan Tante. Tolong ya, Sayang, titip ini untuk dia."
Yumi pun tak mau kalah, ia membawakan beberapa stoples kue kering buatan rumah. "Dan ini buat teman-teman Jake juga, biar mereka semangat latihannya."
Takara tertawa pasrah melihat kopernya yang kini didominasi oleh bungkusan makanan daripada peralatan arsitekturnya. "Tante, Mama... ini koper aku atau koper katering?"
Dami memegang tangan Takara lembut.
"Hanya kamu satu-satunya orang yang bisa kami percaya untuk menyampaikan ini langsung ke tangannya, Ra. Terima kasih ya."
Di kamarnya yang sudah rapi, Takara duduk di tepi tempat tidur, menatap paspor dan tiket pesawatnya. Ia merogoh ponselnya, melihat pesan terakhir dari Jake yang hanya berisi emotikon semangat dan foto makanan kantin yang terlihat membosankan.
Takara tahu, agensi di Seoul adalah tempat yang sangat ketat. Protokol keamanannya berlapis-lapis. Meskipun ia akan bekerja di sana, kemungkinan untuk berpapasan dengan Jake di koridor sangatlah kecil. Jake adalah aset besar, dijaga ketat, dan selalu dikelilingi staf.
"Nggak apa-apa kalau nggak ketemu," bisik Takara pada dirinya sendiri, mencoba mengelola ekspektasi agar tidak kecewa nantinya. "Bisa membangun gedung untuk tempat dia bernaung saja sudah lebih dari cukup."
Ia mematikan lampu kamar, mencoba memejamkan mata. Namun, di balik kelopak matanya, ia sudah membayangkan aroma udara Seoul di musim ini, dan detak jantungnya yang seolah sudah terbang mendahuluinya melintasi samudra.
———
Pagi di Brisbane terasa begitu sejuk, namun hangat oleh pelukan dua ibu yang mengantarnya hingga ke depan pintu. Sinar matahari yang baru saja muncul di ufuk timur memantul pada permukaan koper perak Takara, seolah memberikan restu untuk perjalanan panjang yang akan ia tempuh.
"Hati-hati ya, Sayang. Jangan lupa kabari kalau sudah sampai di Incheon," ucap Yumi sembari merapikan kerah blazer Takara untuk terakhir kalinya. Matanya berkaca-kaca, namun ada senyum bangga yang tak bisa disembunyikan.
Dami berdiri di samping Yumi, memegang tangan Takara dengan erat. "Takara, terima kasih sudah mau membawa semua titipan itu. Tante tahu jadwalmu akan sangat padat, jadi jangan dipaksakan kalau memang sulit bertemu Jake. Cukup kamu sampai di sana dengan selamat saja Tante sudah tenang."
Takara mengangguk mantap. Ia memeluk Dami dengan penuh rasa hormat. "Aku akan usahakan yang terbaik, Tante. Setidaknya, semua bumbu rendang ini akan sampai ke tangan stafnya kalau memang aku nggak bisa ketemu dia langsung."
"Tolong jaga dia ya, Ra. Walaupun kalian sama-sama jauh di sana," bisik Dami pelan di telinga Takara, sebuah pesan tersirat yang membuat jantung Takara berdesir.
Begitu taksi yang menjemputnya mulai bergerak menjauh dari halaman rumah, Takara menatap bayangan ibunya dan Dami yang melambai hingga hilang di tikungan jalan. Ia menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, menghirup napas panjang untuk menenangkan gemuruh di dadanya.
Ia membuka ponselnya sebentar, melihat aplikasi pelacak penerbangan. Penerbangan Brisbane ke Seoul memakan waktu sekitar sepuluh jam. Sepuluh jam menuju kota yang selama ini hanya ia lihat lewat layar ponsel atau dalam mimpi-mimpinya yang paling berani.
📲 Takara: Gue berangkat sekarang. Sampai ketemu di langit yang sama, Jake.
Pesan itu ia kirim tepat sebelum ia mengaktifkan flight mode. Takara tidak tahu kejutan apa yang menantinya di Incheon, atau bagaimana protokol agensi akan membatasi geraknya nanti. Namun, ada satu hal yang ia yakini: setiap putaran roda pesawat nanti adalah langkah yang membawanya pulang ke sisi seseorang yang selama ini ia cintai dalam diam.
———
Udara dingin Seoul langsung menerpa wajah Takara begitu ia melangkah keluar dari pintu geser Bandara Incheon. Ada sensasi déjà vu yang aneh; meski ia sudah bertahun-tahun meninggalkan tanah ini, aroma kota dan kebisingan bahasa di sekitarnya terasa sangat akrab, seolah sel-sel dalam tubuhnya memang didesain untuk mengenali tempat ini sebagai titik awal.
Namun, perasaan emosional itu mendadak terinterupsi oleh kenyataan yang lebih besar.
Langkah Takara terhenti tepat di depan lobi kedatangan. Di seberang jalan, sebuah megatron raksasa yang menempel pada sisi gedung tinggi sedang memutar iklan skincare mewah. Di sana, di atas layar digital seluas lapangan basket, wajah Jake terpampang dengan resolusi yang sangat tajam.
Jake terlihat begitu memukau, dengan tatapan tajam yang elegan dan kulit yang tampak sempurna terkena cahaya studio.
Takara terdiam, memperhatikan kerumunan di pinggir jalan. Gadis-gadis muda, turis, hingga orang tua berhenti sejenak hanya untuk memotret layar itu. Beberapa bahkan berpose di depannya seolah-olah layar itu adalah benda keramat. Mereka memuja setiap inci wajah Jake, membicarakan ketampanannya, dan membagikan foto itu ke seluruh dunia dalam hitungan detik.
Takara tersenyum pahit, sebuah seringai ironis tersungging di bibirnya.
"Lucu banget," batinnya sembari mengeratkan pegangan pada koper yang berisi bumbu rendang titipan Dami.
Baginya, wajah di layar itu bukan sekadar visual idola. Ia mengenal bagaimana mata itu terlihat saat mengantuk, ia tahu bagaimana kerutan di dahi Jake saat laki-laki itu bingung mengerjakan PR matematika dulu, dan ia tahu bagaimana suara tawa Jake yang pecah saat mereka berebut donat Auntie May.
Dunia begitu mendambakan bayangan Jake di atas megatron, sementara Takara, orang yang membawa potongan "rumah" untuk Jake, harus berdiri di sini sebagai orang asing yang tak boleh menunjukkan hubungan apa pun. Iklannya saja dikagumi hingga orang-orang rela berhenti di tengah jalan, apalagi jika mereka tahu Jake yang asli sedang merindukan masakan rumah yang ada di dalam koper Takara saat ini.
"Miss Takara?"
Seorang pria dengan setelan hitam dan papan nama bertuliskan logo agensi mendekat ke arahnya, memecah lamunannya.
"Ya, saya Takara," jawabnya dalam bahasa Korea yang masih cukup lancar, meski ada sedikit aksen Brisbane yang tersisa.
"Selamat datang kembali di Korea. Mari, mobil sudah menunggu untuk membawa Anda ke kantor pusat sebelum menuju hotel," ucap staf tersebut dengan sopan.
Sambil berjalan mengekor di belakang staf agensi itu, Takara menyempatkan diri menoleh ke arah megatron itu sekali lagi. Jake di layar itu seolah menatap ke arah kerumunan, namun Takara merasa seolah tatapan itu sedang mencari dirinya di antara ribuan orang di bandara ini.
"Gue udah sampai, Jake. Ternyata bener, dunia lo emang segede ini sekarang," gumamnya dalam hati sebelum masuk ke dalam mobil hitam yang sudah menunggu.
Pemandangan di bandara tadi bener-bener jadi pengingat buat Takara tentang seberapa besar jarak status mereka sekarang.