NovelToon NovelToon
Serpihan Luka Masa Lalu

Serpihan Luka Masa Lalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: shadirazahran23

Bagi Arga, Yura adalah teka-teki yang menolak untuk dipecahkan. Ketika Ayu mencoba menyembuhkan lukanya, masa lalu Yura mulai terkuak. Sebuah rahasia terungkap dan pengabdian dikhianati. Arga terjebak dalam dilema: Tetap setia pada dia yang tak kunjung pulang, atau menyerah pada bahagia yang terasa berdosa? Di dunia ini, tidak ada yang benar-benar hilang tanpa meninggalkan bekas yang beracun.

"Hal tersulit dari kehilangan bukan tentang merelakan, tapi tentang ketakutan bahwa kau akan bahagia di atas penderitaan seseorang yang kau lupakan."

Followw akun IG @author_receh untuk info seputar novel lainnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4. Kepingan yang berbeda

Suasana sarapan di kediaman Hutomo pagi itu terasa hangat, namun ada kecanggungan yang menggantung di udara. Rasya duduk di kepala meja, sesekali melirik Andrea yang sedang menuangkan susu untuk putri bungsu mereka,Nadia , yang masih berseragam SMA.

Di sudut meja, Arga hanya mengaduk-aduk sereal tanpa minat.

"Ga, Alvin tadi telepon. Dia bilang proyek barunya di Singapura lancar. Dia nanya kapan kamu mau main ke kantornya," buka Rasya dengan nada lembut, tidak ada intimidasi, hanya kerinduan seorang ayah yang ingin anaknya kembali bersemangat.

Arga mendongak sedikit. "Mungkin bulan depan, Pah. Pekerjaan di sini lagi padat."

Andrea mengusap bahu Arga pelan saat melewati kursinya. "Jangan terlalu diforsir, Sayang. Mama lebih suka lihat kamu pulang dengan wajah cerah daripada bawa tumpukan berkas tapi matanya kosong."

Arga hanya tersenyum tipis. Ia tahu orang tuanya sangat mengkhawatirkannya sejak kejadian tiga tahun lalu. Mereka tidak pernah menuntut Arga untuk segera mencari pengganti, mereka hanya ingin Arga "pulang" ke dirinya yang dulu.

"Eh, denger-dengar Kak Arga lagi sewa fotografer baru ya? Cewek ya? Cantik nggak?" celetuk Nadia sambil nyengir jahil.

Arga tersedak serealnya. "Kamu tahu dari mana?"

"Tadi malam aku nggak sengaja lihat kamera Kak Arga di meja kerja. Ada gantungan kunci nama 'Ayu'. Sejak kapan Kak Arga yang super kaku ini punya barang unyu kayak gitu kalau bukan punya cewek?" Nadia tertawa, membuat Rasya dan Andrea saling lirik dengan binar harapan di mata mereka.

"Dia cuma rekan kerja, Nad. Jangan mulai," potong Arga, meski telinganya sedikit memerah.

*

Keesokan harinya, suasana hening di ruangan kantor Arga pecah seketika saat pintu kayu jati itu terbuka tanpa ketukan yang sopan. Ayu melangkah masuk dengan gaya khasnya,setelan kasual, tas kamera yang menggantung di bahu, dan rentetan kalimat yang keluar lebih cepat daripada langkah kakinya.

"Pagi, Pak Bos yang super kaku! Maaf ya saya telat lima menit, tadi ada drama kucing melahirkan di depan lobi," cerocos Ayu sambil meletakkan sebuah hard disk eksternal dan tumpukan cetakan foto di atas meja Arga yang rapi.

Arga hanya menghela napas, berusaha tetap fokus pada layar monitornya. "Ayu, saya sudah bilang berkali-kali, ketuk pintu sebelum masuk."

"Iya, iya, besok saya ketuk pakai palu biar kedengaran sampai lantai bawah," sahut Ayu cuek, lalu menyandarkan tubuhnya di depan meja Arga. "Coba cek dulu deh hasilnya. Saya sudah kurasi yang terbaik dari lokasi proyek kemarin. Jangan kaget ya kalau hasilnya terlalu estetik buat mata Bapak."

Arga memutar kursinya, berniat memberikan teguran atas kecerewetan wanita itu. Namun, saat jemarinya mulai menggeser satu demi satu lembar foto fisik di hadapannya, kata-katanya tertelan kembali ke tenggorokan.

Ia tertegun.

Lensa Ayu tidak hanya menangkap struktur bangunan yang dingin dan kaku. Di balik beton dan besi yang dipotretnya, ada permainan cahaya matahari senja yang membuat proyek pembangunan itu terlihat seperti sebuah karya seni yang bernapas. Ayu berhasil menangkap detail-detail kecil,sebuah senyum lelah pekerja bangunan, pantulan langit di genangan air hujan, hingga sudut-sudut geometris yang selama ini luput dari mata Arga.

"Bagaimana?" tanya Ayu, nadanya mendadak melunak, sedikit ada nada cemas yang tersembunyi di balik kepercayaan dirinya.

Arga masih terdiam. Matanya terpaku pada satu foto yang menangkap siluet gedung di bawah langit jingga. Selama tiga tahun terakhir, Arga melihat dunia hanya sebagai angka dan tumpukan berkas. Namun, melalui jepretan Ayu, ia seolah dipaksa melihat bahwa masih ada keindahan di tengah kesibukan yang menyesakkan.

"Ini..." Arga menggantung kalimatnya, jemarinya menyentuh tepian foto itu dengan ragu. "Kamu mengambil sudut ini dari mana? Saya bahkan tidak tahu gedung itu punya sisi seindah ini."

Ayu tersenyum, bukan senyum jahil seperti biasanya, melainkan senyum tulus yang membuat jantung Arga berdegup sedikit tidak beraturan.

"Dunia itu indah kalau kita tahu cara menatapnya, Pak Arga. Bukan cuma sekadar melihat, tapi dirasakan. Kadang, Bapak terlalu sibuk menghitung tinggi gedung sampai lupa melihat ke arah mana matahari terbenam."

Arga mendongak, menatap mata Ayu yang berbinar penuh semangat hidup. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, dinding es yang membekukan hatinya terasa retak sedikit demi sedikit.

Dalam hati, Arga benar-benar mengakui bahwa hasil kinerja gadis itu luar biasa. Ada nyawa di setiap foto yang ia lihat,sesuatu yang selama ini hilang dari proyek-proyeknya yang gersang. Namun, harga dirinya sebagai seorang Arga Hutomo seolah melarang bibirnya untuk mengucap kata kagum.

Arga berdehem pelan, mengalihkan pandangan dari foto itu dengan raut wajah datar yang dipaksakan. "Biasa saja," jawabnya singkat, hampir tanpa ekspresi.

Ayu terdiam. Ia tidak langsung memprotes, melainkan melangkah maju satu langkah ke arah meja Arga. Ia mencondongkan tubuh, menatap Arga tepat di mata dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Apa? Biasa saja?" tanya Ayu perlahan, suaranya kini tidak lagi melengking, melainkan rendah dan menuntut penjelasan.

Arga sedikit tersentak, namun ia tetap mencoba mempertahankan benteng pertahanannya. "Iya. Maksud saya, ini memang standar yang saya harapkan. Tidak ada yang spesial sampai saya harus sujud syukur, kan?"

Ayu mendengus, lalu menyilangkan tangan di dada. Ia tersenyum miring, sebuah senyum tantangan.

"Pak Arga, saya ini fotografer. Saya menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menangkap ekspresi manusia lewat lensa. Dan Bapak tahu apa yang saya lihat sekarang?" Ayu menjeda kalimatnya, membuat suasana ruangan itu mendadak terasa sempit. "Pupil mata Bapak membesar saat melihat foto sudut senja tadi. Bapak menahan napas selama tiga detik. Dan yang paling jelas... ibu jari Bapak terus mengelus pinggiran foto itu."

Arga segera menarik tangannya dari atas foto seolah baru saja menyentuh bara api. "Itu cuma karena ada debu di kertasnya."

"Oh, ya? Debu atau debu, Pak?" goda Ayu, kembali ke mode ceriwisnya. "Mengaku saja kenapa, sih? Bilang 'Ayu, kamu hebat' atau 'Ayu, terima kasih sudah buat proyek saya jadi terlihat manusiawi'. Tidak akan membuat saham perusahaan Bapak anjlok, kok."

Arga memutar kursinya membelakangi Ayu, pura-pura kembali sibuk dengan komputernya meski jantungnya berdegup tidak keruan. "Keluar, Ayu. Saya banyak pekerjaan."

"Gengsi Bapak itu lebih tinggi dari gedung yang Bapak bangun ya, ternyata," gumam Ayu sambil memungut tas kameranya. "Tapi tidak apa-apa. Saya sudah cukup puas melihat telinga Bapak yang memerah. Sampai ketemu di lapangan besok, Pak Bos Gengsian!"

Begitu pintu tertutup dengan suara debuman ringan, Arga perlahan memutar kembali kursinya. Ia mengambil salah satu foto jepretan Ayu, menatapnya lama, dan tanpa sadar sebuah senyum tipis yang tulus terukir di bibirnya.

"Sial," bisiknya lirih pada dirinya sendiri.

Bersambung...

Apakah setelah ini si tuan dingin akan mencair?.Kita tunggu bab selanjutnya ya.

1
Rahayu Ayu
Oooo....
Ternyata Ayu sudah kenal Yura
shadirazahran23: yessss
total 1 replies
moureza
betul sbnrnya apa yg disembunyiksn ayu?
Rahayu Ayu
Masih penasaran dengan rahasia yg Ayu sembunyikan, hingga sampai Ayu nekat meninggalkan Arga.
shadirazahran23: kita kasih yang tegang tegang dulu
total 2 replies
nayla tsaqif
Teka teki ttg yura gmn, thor,,??
shadirazahran23: nanti akan terungkap,sabar ya
total 1 replies
Wiwi Sukaesih
mirip lh kn ayahnya 🤭
Wiwi Sukaesih: y bntr Thor
tp d kehidupan nyata ktny klw anak mirip ayahnya pasti salah satu ad yg ngalhin..ntah mitos ap fakta ....
total 2 replies
Alyka Raveena
apa ayu korban perkosaan?
koq pikiran ku langsung kesana ya Thor?
apa dibalik baju ayu yg selalu longgar ada sesuatu yg dia sembunyikan???
shadirazahran23: OMG 😱😱😱🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Rusmini Mini
anak ayu dan arga...tp ayu gak kasih tau arga kalo dia hamil /Smug//Smug/
shadirazahran23: karena ada sesuatu,makanya Ayu gak ngasih tau
total 1 replies
Rusmini Mini
apa Ayu jg spt Yura meninggalkan Arga sendiri aduh aduh What really happened to Ayu.....is Ayu going to leave? /Whimper//Whimper/
Wiwi Sukaesih
msh rahasia rahasia ini ayu
smpe punya anak LG
....ank Arga ..
Wiwi Sukaesih: Siip lh dtnggu y 😍
total 2 replies
Rusmini Mini
aq bacanya kok pas puasa ya aq sKip 😞😞
Rusmini Mini
Arga bodoh move on napa Yura itu dah pergi knp kamu nanti capek dehh 🤦🤦
Wiwi Sukaesih
ahh ngegantung lg
shadirazahran23: Cucian kali di gantung
total 1 replies
Wiwi Sukaesih
penuh misteri
jd penasaran Thor...
Wiwi Sukaesih: ahh pling bsa ni KKA 😁
total 2 replies
Rahayu Ayu
Penasaran banget kak,
entah apa yg jadi rahasia Ayu, sampai Ayu mengaku salah
shadirazahran23: akupun penasaran.🤣
total 1 replies
Anonymous
Update nya yg banyak yaaa
falea sezi
lanjut
shadirazahran23: ditunggu ya kak
total 1 replies
falea sezi
Ded deg ya ga
Rusmini Mini
siapa org dekil itu
Wiwi Sukaesih
penuh teka teki ....
up LG Thor 😍
mg org yg td manggil Arga g d apa apain SM org misterius it
Rusmini Mini
itu ser serran cinta
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!