Jetro Julian Wisesa, pengusaha sukses, masih single.
"Aku yang akan menikahimu."
Febi Karindra, bekerja di kantor polisi, sudah dijidohkan dengan rekan kerjanya hanya bisa mematung. Semua tamu yang awalnya kasihan karena pengantin prianya tidak datang, sekarang menatap iri. Karena pengganti pengantinnya lebih segala galanya dari pada pengantin aslimya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Jetro
"Papa kenal dengan keluarga Airlangga Wisesa?" tanya Fiola takjub. Mereka sudah pamit pergi setelah papanya mengatakan dirinya belum terlalu sehat.
Padahal Fiola ingin menyanggahnya karena berharap melihat Jetro yang juga datang di pertemuan tidak terduga ini.
"Kenal. Kakak iparnya Emir, teman papa. Dia tentara. Dulu kami pernah kerjasama waktu di Papua." Anggareksa jadi mengenang waktu dulu. Waktu adiknya menikah, dia diundang. Hingga bisa kenalan dengan keluarga Airlangga. Dia pun sering diundang ke acara acara mereka, termasuk acara pernikahan.
Sepasang mata Fiola berbinar. Mereka sudah tiba di parkiran.
"Papa kenal Jetro, dong," ucapnya yang membuatnya mendapat lirikan dari Febi.
"Jetro?" Anggareksa menatap bingung.
"Anak tunggalnya Ibu Adriana dan Pak Kalandra."
"Kamu kenal mereka? Papa baru mau nanya."
Fiola mengangguk.
"Aku kadang jadi pramugari di pesawat pribadi, Pa. Beberapa kali di pesawat mereka," cerita Fiola ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
Febi menyimak, sekarang dia baru tau awal mula kakaknya mengenal Jetro.
Anggareksa menatap lama wajah Fiola. Ucapan ucapan yang diucapkan putrinya seperti mengidentifikasikan sesuatu.
"Kamu menyukai Jetro?" todong Anggareksa maklum.
DEG
Febi tersengat.
Rupanya itu maksud kakaknya.
"Iya, pa. Papa mau, kan, punya menantu Jetro?" Fiola melirik sinis pada Febi.
Anggareksa tersenyum.
"Selama bertemu, hubungan kalian seperti apa?"
Fiola terdiam sebentar.
"Profesional, sih, Pa. Mungkin karena ngga tau aku anaknya papa."
Anggareksa tersenyum.
"Jetro dan keluarganya tidak menilai seseorang dari keluarganya. Kalo Jetro sudah suka, keluarganya juga akan setuju."
Fiola jadi menciut. Dia melirik Febi yang tampak menyimak ucapan papanya.
Nggak mungkin Jetro suka dengan Febi.
*
*
*
"Cantik cantik, ya, putrinya, Anggareksa," puji Emir dengan maksud lain.
Adriana tersenyum mengerti
"Jadi Jetro sudah bertemu dengan Fiola yang pramugari, ya," ucap Emir lagi.
"Sudah beberapa kali. Anak itu pekerja keras," senyum Adriana.
"Reaksi Jetro bagaimana?" Emir jadi kepo.
"Biasa aja," keluh Adriana.
Emir tertawa.
"Mungkin bisa dikenalkan dengan adiknya yang polwan," usul Emir memberi solusi.
"Oh iya.... Nanti akan aku katakan pada Jetro. Tau sendiri Jetro bagaimana."
"Ya, ya...." Tawa Emir mengalun pelan.
*
*
*
Pagi ini Cakra mendapat laporan ada kasus pemboman dan penyerangan di rumah sakit swasta milik keluarga Airlangga Wisesa.
Dia membawa timnya termasuk Febi.
Padahal aku tadi malam ke sini, tapi semuanya baik baik saja, batin Febi ketika sudah tiba di lokasi.
"Hati hati. Masih banyak orang orang bersenjata di sekitar sini. Tembak saja kalo dia membahayakan kalian dan pasien," perintah Cakra.
"Siap!"
Mereka kemudian menyebar membantu pengawal pengawal keluarga Airlangga Wisesa.
Langkah Febi terhenti ketika melihat Jetro dan temannya yang pernah datang melapor ke kantor polisi.
Jetro juga menyadari kehadirannya, begitu juga temannya.
'Bukannya mereka itu yang melapor? Yang mana yang namanya Jetro?" bisik Cica kepo.
Febi ngga menjawab, tatapanya malah terkunci pada Jetro dan temannya yang mendekat.
Cica pun terdiam ketika kedua laki laki itu mendekat
"Kalian tau pelakunya?" tanya Febi langsung berusaha tetap profesional di tengah degup jantungnya yang kian cepat.
Malik mengangguk.
"Bos yang anak buahnya yamg kita tangkap kemarin. Bisa siapkan pasukan penjinak bom?" tanya Malik akhirnya setelah menunggu Jetro malah jadi patung.
"Baik. Akan kami siapkan." Setelah mengangguk pada kedua lako laki itu, Febi menggandeng Cica agar segera pergi. Keasaan sangat darurat, dia harus bisa membantu Cakra mengkoordinasikan semuanya dengan cepat
"Harusnya kamu bilang mawarnya bagus," canda Cica.
"Fokus Cica. Ini bahaya, loh." Febi menggenggam erat pistolnya. Dia tau keadaan sudah memburuk.
Dari headset di telinga, Febi tau Cakra sudah menghubungi pasukan khusus untuk membantu kerabat Jetro yang juga diserang di luar kota.
Tidak ada waktu buat becanda karena para penyerang juga bersenjata.
*
*
*
Jetro tersenyum sambil memperhatikan Febi setelah semua ketegangan ini selesai.
"Kamu sudah bisa mengobrol dengan dia. Semua susah aman terkendali," senggol Malik.
Saat ini di depan mereka, Febi sedang mengobrol dengan Cica. Membantunya membuat laporan yang barusan terjadi.
Jetro tersenyum.
"Aku akan membuat temannya pergi." Quin mengedipkan sebelah matanya.
Quin menelpon pengawalnya yang ngga lama kemudian teman Cica pergi dengan pengawal yang dihubungi Quin.
"Sekarang saatnya, Jet." Theo mendorong pelan punggung sepupunya sambil tersenyum miring.
Jetro tidak menyia nyiakan kesempatan yang diberikan kerabatnya. Kini langkahnya mulai mendekati Febi yang masih belum menyadari kehadiran Jetro karena masih sibuk dengan ipadnya.
"Masih sibuk?" tanya Jetro setelah berada di sampingnya.
Jantung Febi hampir copot saat tau Jetro sudah berada di sampingnya.
Jetro tersenyum melihat gadis itu terpaku menatapnya. Dia melambaikan tangannya di depan wajah Febi hingga gadis itu agak tergagap. Pipinya merona.
"Suka dengan bunganya?" tanya Jetro.
Febi masih belum bisa berkata apa apa. Lidahnya kelu. Jantungnya masih berdebar keras.
Tadi malam baru saja dibicarakan, sekarang laki laki itu sudah berada di dekatnya.
Kalo kakaknya melihat interaksi mereka, pasti kakaknya bisa pingsan.
"Suka." Febi jadi merasa bersalah karena beberapa tangkai bunga mawar itu yang kelopaknya terlepas. Tadi malam saat mereka sudah pulang dari rumah sakit, Febi meletakkannya ke dalam vas bunga dan memberikannya sedikit air agar bunga bunga yang tersisa masih bisa bertahan lama.
"Syukurlah." Jetro menatap laporan yang ditulis Febi.
"Ajakan mancing itu serius," ucap Jetro lagi.
Febi menatap wajah tampan laki laki yang sedang menunduk ini.
Jetro mendongak, balas menatapnya.
"Aku serius."
*
*
*
"Fio, besok Jetro dan sepupu sepupunya mau terbang ke Surabaya." Gisella menghampiri temannya saat menunggu pesawat mereka datang.
"Besok, ya? Aku ngga bisa. Ada jadwal," keluh Fiola.
"Yaa.... Kirain libur. Aku kebetulan juga kerja." Gisella tampak menyesal karena tidak bisa membantu Fiola. Jika libur, dia bisa menggantikan jadwal Fiola.
"Ya, sudahlah. Semoga besok besok lagi ada, ya." Gisella memberikannya harapan.
Fiola menganggukkan kepala.
"Sekarang aku lagi ngandalin bantuan papa, Sel," ucapnya sambil merapikan scarf di lehernya.
Gisella menatap temannya dengan penuh tanda tanya.
"Papa rupanya kenal dengan keluarga besar Jetro." Sepasang mata Fiola berbinar binar, menggambarkan kegembiraan hatinya.
"Really?" Gisella merasa surprise mendengarnya.
Fiola menganggukkan kepalanya.
"Aku minta papa menolongku agar bisa lebih dekat lagi dengan Jetro. Papa setuju. Sambutan mama juga baik banget," cerita Fiola antusias.
"Wow...., kalo Bu Adriana sudah baik banget begitu, jalanmu mendapatkan Jetro akan semakin mudah, Fio."
"Semoga, ya." Harap Fiola. Dia harus bergerak lebih cepat dari Febi.
lagian kan mereka dah tau gimana sifat aslinya Fiola,
jalan bareng aja jetro enggan ini malah berharap jadi istri keduanya 😂