NovelToon NovelToon
Aku Tidak Membencimu, Aku Hanya Selesai

Aku Tidak Membencimu, Aku Hanya Selesai

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Rebirth For Love / Obsesi / Time Travel / Romansa / Tamat
Popularitas:16.1k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Nadira Savitri mati di lorong kampus, sendirian. Dengan pesan yang tak pernah dibaca tunangannya. Saat membuka mata, waktu berputar kembali satu tahun sebelum kematiannya.

Raka Mahardika tetap sama, dingin, sibuk BEM, dan selalu percaya pada Aluna.

"Aku cuma minta kamu dengar aku sekali saja." Suara Nadira dulu bergetar.

"Kamu terlalu sensitif, Nadira." Jawab Raka tanpa menoleh.

Kesempatan kedua tidak membuat Nadira berjuang lebih keras. Justru sebaliknya, dia menyerah. Bukan dengan tangisan, tapi dengan diam. Dia berhenti menjelaskan, berhenti menunggu, berhenti berharap.

Perubahan Nadira perlahan membuat Raka gelisah. Aluna mulai kehilangan kendali.

Di saat yang sama, Dr. Arvin Pradipta, dosen yang selama ini hanya mengamati dari jauh, hadir bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai tempat pulang yang aman. Cinta yang tidak berisik, tidak menuntut, dan tidak melukai.

Ini bukan kisah balas dendam dengan darah.

Ini tentang pergi saat mereka akhirnya ingin bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 - Yang Tidak Bisa Ditarik Kembali

"Maaf, Nadira." Kalimat itu diucapkan Dr. Ratna tanpa emosi, seolah sedang membacakan prakiraan cuaca.

Nadira duduk di hadapannya, kedua tangan terlipat rapi di atas paha. Ruangan itu dingin, jendela tertutup, AC terlalu kuat.

"Kami memutuskan untuk mengganti kamu dari posisi peneliti inti." Lanjut Dr. Ratna.

Nadira mengangguk pelan. "Saya mengerti."

"Bukan karena kamu tidak kompeten." tambahnya cepat. "Tapi karena kamu... tidak fleksibel."

Nadira tersenyum tipis. "Saya memang tidak mencoba fleksibel, Bu."

Dr. Ratna menatapnya. "Kamu tahu dampaknya, kan?"

"Iya."

"Nama kamu akan tetap ada di laporan awal. Tapi akses data lanjutan ditutup."

Nadira mengangguk lagi.

Dr. Ratna menghela napas, kali ini terdengar lebih manusiawi. "Kalau kamu mau menarik pernyataanmu, masih ada waktu."

Nadira menatap mata dosennya. "Kalau saya tarik sekarang, apakah itu berarti saya setuju data dimanipulasi?"

Dr. Ratna diam.

"Itu jawabannya." Kata Nadira pelan.

Beberapa detik berlalu.

"Kamu keras kepala." Kata Dr. Ratna.

"Sudah lama, Bu."

"Dan kamu akan menyesal."

"Mungkin."

Dr. Ratna berdiri, mengakhiri percakapan. "Silakan keluar."

Nadira berdiri, membungkuk sopan, lalu melangkah keluar. Begitu pintu tertutup, langkahnya melambat. Baru di lorong kosong itu, dadanya terasa berat. Dia tidak menangis. Lebih tepatnya belum... Untuk saat ini.

Nadira duduk di tangga darurat gedung penelitian. Teleponnya bergetar.

Dosen Fajar.

"Kamu oke?" Suara Fajar terdengar hati-hati.

"Aku dikeluarkan dari proyek inti. Hah..." Tidak ada basa-basi.

"Marah?" Tanya Fajar.

"Tidak." Jawab Nadira jujur. "Cuma... sedih karena aku tahu ini harga yang harus dibayar."

"Kamu menyesal?"

Nadira terdiam.

"Tidak." Katanya akhirnya. "Aku cuma butuh waktu menerima."

Fajar tertawa kecil. "Selamat datang di klub orang waras."

Nadira ikut tersenyum tipis.

"Apa rencanamu sekarang?" Tanya Fajar.

"Cari proyek lain. Mulai dari nol."

"Kamu sendirian?"

"Tidak lagi." Jawab Nadira pelan. Dan dia tahu maksudnya bukan soal pasangan.

***

"Rak, kamu dipindah ke shift malam." Pak Surya berkata itu sambil menyerahkan jadwal baru.

Raka membacanya. Alisnya naik sedikit. "Setiap hari?"

"Enam hari seminggu."

Raka mengangguk. "Baik."

"Dan bonus triwulan dicoret."

Raka menghela napas pendek. "Saya paham."

Pak Surya menatapnya lama, seolah mencari penyesalan. "Kamu bisa saja punya posisi lebih baik sekarang." Katanya.

Raka menatap balik. "Saya tahu."

"Tapi kamu pilih jalan sulit."

Raka tersenyum kecil. "Saya baru belajar caranya."

Pak Surya mendengus. "Idealis tidak bikin kenyang."

"Mungkin." Jawab Raka. "Tapi kebohongan juga tidak bikin saya tidur."

Pak Surya terdiam. "Silakan kerja." Katanya akhirnya.

Raka keluar ruang manajer dengan langkah pelan. Di area bar, rekan kerjanya, Bimo, mendekat. "Kamu diturunin, ya?"

Raka mengangguk.

"Gila. Demi apa sih?"

Raka berpikir sejenak. "Demi bisa melihat diri sendiri di cermin."

Bimo terdiam. "Berat banget hidup kamu sekarang."

"Iya." Kata Raka. "Tapi setidaknya beratnya jujur."

Malam itu, Raka pulang larut. Tangannya pegal, bajunya bau kopi. Ibunya sudah tidur. Ayahnya duduk di ruang tamu.

"Kamu kurusan." Kata ayahnya.

"Shift malam."

"Kenapa?"

Raka duduk. "Karena aku tidak mau bohong."

Ayahnya mengangguk pelan. "Itu keputusan orang dewasa."

Raka tersenyum tipis. "Rasanya baru sekarang aku benar-benar sendirian."

Ayahnya menepuk bahunya. "Tidak. Kamu cuma tidak lagi ditopang kebohongan."

***

Aluna berdiri di depan pintu kantor organisasi sosial itu dengan tangan gemetar. Dia tidak menyangka namanya akan disebut lagi.

"Silakan masuk." Kata seorang perempuan berambut pendek di dalam.

Aluna duduk.

"Kami menerima laporan." Kata perempuan itu datar. "Tentang penyalahgunaan dana kegiatan dua tahun lalu."

Jantung Aluna berdegup. "Itu tidak benar." Katanya cepat.

"Kami punya bukti transfer."

Aluna membuka mulut, menutupnya lagi. "Itu atas nama Raka." Katanya. "Bukan saya."

Perempuan itu menatapnya tanpa ekspresi. "Tapi kamu yang mengusulkan skema."

Aluna terdiam.

"Kamu tahu apa yang paling menarik?" Lanjut perempuan itu. "Bukan uangnya. Tapi pola."

Aluna menelan ludah.

"Kamu selalu berdiri di balik orang lain." Kata perempuan itu pelan. "Dan saat orang itu jatuh, kamu pergi."

Aluna merasakan sesuatu retak di dadanya.

"Kami akan memanggil saksi." Kata perempuan itu. "Termasuk kamu."

Aluna berdiri dengan kaki lemas. Di luar gedung, dia menekan nomor Raka. Tidak diangkat. Dia menekan nomor Nadira lalu berhenti sebelum menekan panggil. Tangannya turun. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar sendirian.

***

"Kamu tidak terlihat menang." Kata Arvin sambil menyerahkan secangkir teh.

Nadira duduk di bangku taman kampus. "Aku memang tidak menang." Jawabnya.

"Tapi kamu tidak kalah juga."

Nadira menatapnya. "Kamu selalu memilih kata yang aman."

Arvin tersenyum. "Karena hidup jarang memberi pilihan ekstrem."

Nadira menghela napas. "Aku kehilangan proyek besar."

"Tapi kamu menyelamatkan dirimu."

"Apakah itu cukup?"

Arvin menatapnya lama. "Untuk hari ini? Iya."

Nadira tersenyum kecil. "Aku tidak butuh diselamatkan." Katanya tiba-tiba.

"Aku tahu."

"Dan aku tidak siap mencintai siapa pun."

"Aku juga tahu."

Hening sejenak.

"Tapi." Lanjut Nadira, "aku tidak menutup kemungkinan masa depan."

Arvin mengangguk. "Itu jawaban paling jujur yang bisa kamu berikan." Dan ia menghormatinya.

***

Beberapa hari kemudian, Aluna berdiri di depan kos Nadira. Nadira membuka pintu, terkejut sebentar tapi kemudian dia bisa mengendalikan dirinya.

"Ada apa?" Tanyanya.

"Aku butuh bicara."

Nadira memandangnya lama. "Sepuluh menit."

Mereka duduk di ruang kecil.

"Aku dalam masalah." Kata Aluna.

"Aku tahu."

"Kamu tidak mau bertanya?"

"Tidak."

Aluna tertawa pahit. "Kamu berubah."

"Aku pulih." Jawab Nadira.

"Aku tidak minta tolong." Kata Aluna cepat. "Aku cuma mau bilang, semua ini tidak seperti yang aku rencanakan."

Nadira menatapnya datar. "Hidup jarang peduli rencana."

Aluna mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Aku kehilangan kendali."

"Itu yang dulu kamu lakukan padaku." Kata Nadira tanpa emosi.

Aluna terdiam. "Apa kamu bahagia sekarang?" Tanya Aluna pelan.

Nadira berpikir sejenak. "Belum. Tapi aku jujur."

Aluna tersenyum pahit. "Aku iri."

Malam itu, Nadira menatap daftar proyek baru, tanpa nama besar, tanpa jaminan.

Raka berjalan pulang setelah shift malam, kantong tipis tapi punggung tegak.

Aluna duduk sendirian, dikelilingi berkas lama yang mulai mengejarnya.

Tidak ada yang menang besar. Tapi tidak semua kalah.

Karena mulai sekarang, konsekuensi tidak lagi teoritis. Dia hidup... menagih. Dan mereka tidak bisa kembali.

1
Gristia Pramesti
bagus
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
Ana Akhwat
Ceritanya membingungkan dari awal sampai akhir yang bahas tentang mengalah, bertahan, tertekan, trauma dll, tidak ada akhir bahagia serasa hidup drama terus
Ridwan01
Terima kasih kak author, ceritanya menarik dan banyak pembelajaran juga dari cerita para tokoh di novel ini 👍🙏☺️
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
ini udah end emang?
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: ibu juga ah
total 2 replies
Nada She Embun
makasih Thor... terbaikk.. 😭
Erchapram: Terima kasih, mampir baca yg on going lainnya Kak. 🙏
total 1 replies
Nada She Embun
nadira sudah mulai hidup... 😍... bagi org yg mungkin sedang kalut... tak perlu banyak bicara.. cukup diam dan selalu di sisi nya... itu lebih menenangkan dari sebuah saran... 💜
Nada She Embun
penuh makna novel author nihh. 👍
Kostum Unik
Aku bosan bacanya kk othor.. Maaf ya. Awalnya sangat menarik tapi ini kok kyk baca sajak. Karakter2 nya terlalu kaku.. Tp balik lg ke selera pembaca yaa. /Smile/
Ridwan01
hidup kamu memang milik kamu Nadira, tapi kalau kamu keras kepala, hidup kedua kamu akan sia sia.
Perlu aku cium dulu supaya sadar kayanya.
maaf kak author, aku geregetan sama Nadira 🤭🙏🙏
Winer Win: sama loo..aku juga greget..egois banget..keras kepala..sok kuat sok bisa sendiri..🤭🤭
total 2 replies
Dwi Setyaningrum
Nadira diberi kesempatan utk hdp lg tp malah rasanya hidupnya beban berat dan dlm otaknya ga mau mati lg tp langkahnya justru sukses menyiksa diri sndr berujung kematian kalau ego nya ttp dipertahankan..critanya ini saking beratnya smpe komenku juga berat thor🤭🤭
Erchapram: Trauma mati 🤣🤣
total 1 replies
Nada She Embun
trauma nadira😔...
Nada She Embun
terkadang jujur akan d anggap munafik.. 😔
Nada She Embun
cara penulisan novel yg berbeda.. alur cerita yg sulit d tebak... kamu bisa merasakan isi hati tokoh.. dialog yg sedikit tapi bermakna.. terbaik Thor.. 😍
Nada She Embun
novel author yg satu ini.. 👍... benar2 berani mengambil alur yg berbeda dari kebanyakan novel... novel yg sulit d tebak alur nya...

lebih memain kan isi hati... memberikan sudut pandang berbeda d tiap perasaan pemeran nya...

kamu hanya menemukan sedikit dialog tapi dengan detail perasaan yg lengkap.... hingga.... kamu bahkan bisa merasakan bagaimana isi hati tokoh meski hnya diam... good job Thor.... 🤗
Erchapram: Terima kasih.
total 1 replies
Winda Widiastuti
maaf Thor ni cerita soal apa ya ko muter2 Mulu
Erchapram: Soal di kampus
total 1 replies
Ita rahmawati
ini cerita apa sih jujur aku tuh gk mudeng yg begini² tuh 😂
jd gimana nih Nadira yg pernah mati dn pertunangannya sm Raka,,juga si Aluna yg ngeselin🤣
Dew666
🌹🌹💎
Faziana
Jujur sebagai seorang introvert menghadapi intrik2 semacam kisah Othor dalam kehidupan real benar2 menguras energi, itu yg pernah saya rasakan🤭
Hanya berserah pada sang penciptalah yg membuat saya tetap waras 💪
Semangat Thor mohon dilanjut🙏👍
Erchapram: Terima kasih jika cerita ini menginspirasi untuk tetap kuat. 🙏💪👍
total 1 replies
Dew666
🌹🌹🌹🌹🌹
Soraya
salut dgn bahasanya lanjut thor
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!