Ketika gadis SMA memilih kerja sampingan sebagai seorang sugar baby.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alasan Mala
Begitu sampai di rumah, kedatangan nenek Rasmi sudah ditunggu oleh Mala. Yang tentu, harus tetap mempertahankan nama baiknya dihadapan ibunya.
"Ibu, akhirnya sampai juga! Aku kangen sekali" Mala menghampiri, mencium punggung tangan, lalu memeluk ibunya.
"Alah katanya kangen, tapi gak pernah pulang jengukin Ibu!" ucap nenek Rasmi.
"Maaf Bu. Ibu kan tahu, aku sibuk ngurusin perusahaan keluarga!" jawab Mala, selalu ini alasan yang sering wanita itu gunakan.
Yuna berdiri dibelakang neneknya. Tapi sedikitpun ia tidak melirik ke ibunya, yang sejak tadi terus menatapnya. Karena mau bagaimanapun, rasanya rindu dan rasa sayangnya untuk Yuna masih tetap ada, walaupun hanya setitik kecil.
"Ayo masuk Bu! Aku antar ke kamar. Ibu pasti capek habis perjalanan jauh!" Mala menuntun ibunya. Membawanya menuju ke kamar yang khusus memang untuk nenek Rasmi, setiap kali berkunjung.
Yuna tetap setia dibelakang. Ia membantu memindahkan, merapikan, dan menyusun pakaian neneknya dari tas ke lemari.
"Terima kasih ya cucu nenek yang paling baik!" puji nenek Rasmi, mengusap lembut puncak kepala Yuna.
Mala masih ada disana. Ia terus memperhatikan setiap interaksi yang terjalin antara putri dan Ibunya.
"Sebaiknya kita keluar! Biarkan nenek istirahat!" ucap Mala.
Yuna mengangguk. "Kalau gitu aku ke kamarku dulu ya Nek?"
Nenek Rasmi mengiyakan. Yuna dan Mala ke keluar kamar, tanpa ada satupun kata yang keluar dari bibir mereka.
"Dimana kamu tinggal selama ini?" tanya Mala, setelah mereka menjauh dari kamar nenek Rasmi.
Yuna berbalik. Menatap Ibunya penuh benci. "Bukan urusan Mama!"
Yuna ingin langsung pergi. Tapi Mala mencekal pergelangan tangannya.
"Apa lagi Ma? Aku sedang tidak ingin bertengkar dengan Mama! Aku balik kesini cuma demi nenek!" tidak ada kata lembut, tidak ada nada hangat, dan tidak ada rasa sayang dari setiap kata yang Yuna ucapkan.
Mala meradang. Wajahnya memerah. Ia tak suka mendengar kata-kata ketus nan dingin yang baru saja Yuna ucapkan. "Jangan kurang ajar kamu Yuna! Mama masih ibu kandung kamu! yang sopan kalau bicara!"
Yuna tersanyum smirk, rasa muak makin besar ia rasakan. "Ibu kandung? Mama jangan buat aku mengungkit apa yang terjadi diantara kita! Lebih baik jaga sikap! Aku gak mau kehilangan nenek gara-gara hal ini!"
Yuna menghempaskan tangan Ibunya. Ia melangkah, menuju ke kamarnya yang sudah ditinggalkan selama berbulan-bulan.
"Darimana kamu dapet mobil dan uang buat bayar uang sekolah? Jadi pelacur kamu!" geram Mala, yang ternyata mengikuti Yuna dari belakang.
"Udah aku bilang bukan urusan Mama!" jawab Yuna tanpa berbalik.
"Tapi kelakuan kamu bisa membuat Mama malu, Yuna!" suara Mala mulai meninggi. Karena sikap Yuna yang semakin dingin.
Yuna tersenyum sambil berbalik. "Gampang! Tinggal keluarkan aku dari kk! Bukannya aku udah gak dianggap anak lagi!"
Mala diam total tapi amarahnya makin meledak-ledak. Yuna langsung ke dalam kamar, tanpa lagi peduli dengan ibunya yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.
Yuna menghela nafas. Berbaring di ranjang dingin yang ternyata sangat berdebu.
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Yuna terbatuk-batuk. "Gila! Kurang ajar nih nenek lampir. Bisa-bisanya kamar aku gak dibersihkan sama sekali!"
Yuna baru sadar. Jika kamarnya penuh dengan debu. Bukan hanya itu saja, bahkan langit-langit kamarnya juga ada yang sudah dihiasi dengan sarang laba-laba. Padahal dulu, kamar Yuna sangat rapi, bersih, dan pastinya wangi. Tapi sekarang, kamar itu tidak ada bedanya dengan gudang.
Yuna turun ke bawah. Mencari asisten rumah tangga untuk membersihkan kamarnya. Tapi respon sang art membuat Yuna terkejut.
"Kata Ibu, Mbak Yuna gak perlu dilayani lagi kayak dulu!" tolak sang art.
Yuna menganga, wajahnya campuran antara syok dan marah. Belum sempat ia bicara. Asisten rumah tangga itu langsung pergi begitu saja. Tidak ada sopan santunnya sama sekali.
"Bener-bener nih nenek lampir! Mau ngajak perang dia!" geram Yuna.
Tanpa disangka-sangka, Edo malah kembali muncul. "Kalau kamu mau, aku bisa bujuk Tante Mala supaya kamu kembali dapetin fasilitas seperti dulu!"
Bukannya tenang, Yuna makin meradang. "Dasar muka tembok! gak tau diri! Pergi kamu dari rumah ini! Jangan sampai nenekku tahu hubungan gila kamu dengan wanita itu!" Yuna memberikan peringatan Edo dengan keras.
Tapi respon pria itu terlalu santai. "Kamu tenang aja! Tante Mala udah pastikan, nenek Rasmi bakal terima aku dirumah ini!"
Yuna makin kehabisan kata-kata. Ia lebih memilih pergi, daripada terus mengahadapi makhluk-makhluk gak tahu diri sejenis Edo dan Ibunya.
"Yuna, siapa dia?" suara nenek Rasmi membuat Yuna terkejut.
"N-nenek!" Yuna terkejut. Takut neneknya mendengar percakapannya Deng Edo. "Nenek sejak kapan ada disitu?"
"Baru aja! Siapa pria itu Yuna? Pacar kamu?"
Edo tersenyum. Ia hampir mengaku jika ia kekasih Yuna.
"Bukan Nek!" bantah Yuna cepat. Ia tidak mau membuat neneknya marah.
"Jadi siapa dia?" tatapan nenek Rasmi tajam penuh selidik.
Mala yang mendengar suara ribut-ribut dibelakang, langsung menghampiri mereka.
"Dia anak temen aku Bu!" ucap Mala cepat, berdiri disamping ibunya yang mengerutkan kening.
"Anak temen kamu? Ngapain ada disini? suruh dia pulang!" sahutan nenek Rasmi kurang bersahabat. Ia memang tidak suka ada pria asing tinggal dirumah mereka
"Kita duduk dulu yuk Bu?"
Mala menuntun ibunya dengan lembut. Mengajaknya untuk duduk di kursi makan, agar lebih santai dan enak saat berbicara.
"Jadi gini Bu, temen aku keluar negeri karena ada urusan bisnis. Jadi dia takut anaknya terbawa pergaulan yang gak bener... makanya dititipin ke aku untuk dijaga. Kebetulan dia sama Yuna satu sekolah,jadi setiap hari mereka bisa pergi dan pulang bareng!" jelas Mala lancar, sangat lancar.
Yuna melotot. "Anjir nih nenek lampir! Ogah banget pulang pergi sama dia!" batin Yuna.
"Oh gitu! Tapi sampai kapan dia disini?" tanya Nenek Rasmi lagi.
"Cuma sampai lulus aja kok Bu. Setelah itu dia bakal nyusul orangtuanya ke luar negri.
Sukses. Kebohongan yang Mala ucapkan sangat sukses. Kebohongan itu bukan hanya membuat Nenek Rasmi percaya, tapi sekalian bisa membuat Edo dan Yuna berangkat dan pulang sekolah bersama.
"Bagus! Kalau gitu Yuna bisa pergi dan pulang sekolah bareng Edo!" kata Nenek Rasmi.
"Nenek!" Yuna ingin protes, ia sama sekali tidak setuju.
"Gak apa-apa Yuna! kamu lebih aman sama Edo!" bujuk Nek Rasmi.
Yuna lemas. Ia tidak bisa membantah neneknya. "Iya nek!"
Yuna dengan lesu kembali ke kamar. Meninggalkan Edo yang tersenyum penuh kemenangan. Karena dengan hal ini, ia berniat untuk mengembalikan dan membangun kembali hubungannya dengan Yuna yang sempat berakhir.
Ting!
Bunyi notifikasi ponsel Yuna terdengar.
["Siap-siap baby! aku sedang dalam perjalanan pulang. Aku tiba-tiba menginginkan kamu!"] ucap pesan, yang dikirimkan oleh Bastian, beberapa menit yang lalu.
duh2 gimana ya kalo Bastian mau Nina ninu kan yuna lagi di rumah mama nya