NovelToon NovelToon
Hantu Penunggu Kamar Jenazah

Hantu Penunggu Kamar Jenazah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Rumahhantu / Tumbal / Hantu / Mata Batin
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Hujan deras mengguyur atap seng pos keamanan belakang RSU Cakra Buana, menyamarkan suara seretan langkah kaki yang berat di lorong beton. Seorang petugas keamanan muda, dengan napas memburu dan seragam basah oleh keringat dingin, berusaha memutar kunci pintu besi berkarat dengan tangan gemetar.

Dia tidak berani menoleh ke belakang, ke arah kegelapan pekat di mana suara lonceng kaki pengantin terdengar gemerincing, semakin lama semakin mendekat, diiringi aroma melati yang begitu menyengat hingga membuat mual.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Perjanjian

Hujan deras mengguyur Kota Arcapura tanpa ampun, mengubah jalanan aspal menjadi sungai kecil yang memantulkan cahaya lampu jalan yang remang-remang. Wiper mobil sedan tua milik Dokter Arisandi bergerak panik, berusaha menyapu tirai air yang menghalangi pandangan, namun seolah tak berdaya melawan amukan langit malam itu.

Di dalam kabin mobil yang terasa lembap dan dingin, Elara Senja duduk mematung dengan napas yang masih memburu. Kedua tangannya mencengkeram sabuk pengaman begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih, seolah sabuk itu adalah satu-satunya hal yang menahannya agar tidak terlempar kembali ke mimpi buruk yang baru saja mereka tinggalkan.

"Dia tidak mengikuti kita, kan?" tanya Elara dengan suara bergetar, matanya terus waspada menatap kaca spion samping.

Dokter Arisandi melirik sekilas ke spion tengah, wajahnya pucat pasi di bawah sorotan lampu dashboard. Pria paruh baya yang biasanya tenang dan logis itu kini tampak berantakan, kemeja putihnya ternoda tanah merah dan keringat dingin membasahi pelipisnya.

"Kurasa tidak. Tapi kita tidak bisa lengah, Elara. Apa yang kita lihat di rumah Pak Darto tadi... itu di luar nalar medis mana pun," jawab Arisandi dengan nada berat, tangannya gemetar saat memutar setir memasuki jalan protokol Distrik Watu Gilang.

Bayangan mengerikan itu masih terpatri jelas di benak Elara. Sosok hitam yang merayap di dinding ruang tamu Pak Darto, aroma anyir darah yang tiba-tiba menyeruak, dan seringai Pak Darto yang seolah bukan berasal dari wajah manusia. Mantan kepala kamar jenazah itu bukan sekadar pensiunan gila; dia adalah penjaga sesuatu yang jauh lebih gelap.

"Benda itu... jimat yang kau ambil dari meja kerjanya," Elara menunjuk saku jas dokter yang tergeletak di jok belakang. "Apa kau yakin itu kuncinya?"

Arisandi mengangguk kaku, matanya tetap fokus pada jalanan yang licin. Ia tahu bahwa benda kecil terbungkus kain kafan kusam itu adalah bukti yang mereka butuhkan, atau mungkin, kutukan yang akan menyeret mereka lebih dalam.

"Itu bukan sekadar jimat. Itu pasak tanah. Di RSU Cakra Buana, ada legenda urban tentang pasak yang ditanam di empat penjuru bangunan lama untuk menenangkan 'penghuni' asli tanah ini. Jika Darto memiliki salah satunya di rumah, artinya dia telah mencabut segel itu," jelas Arisandi, suaranya terdengar seperti dosen yang sedang menjelaskan teori konspirasi gila.

Elara menelan ludah, tenggorokannya terasa kering meski udara di sekitarnya begitu basah. Jika segel itu dicabut, maka kekacauan yang terjadi di kamar jenazah belakangan ini bukanlah kebetulan. Arwah-arwah itu tidak sedang mengamuk; mereka sedang dilepaskan.

"Kita harus kemana sekarang? Kantor polisi?" tanya Elara, meski jauh di lubuk hatinya ia tahu jawaban itu mustahil.

"Polisi tidak akan percaya kita dikejar bayangan hitam atau diserang oleh perabotan yang melayang. Mereka akan menahan kita untuk tes kejiwaan, dan saat itulah Darto akan menghabisi kita," sanggah Arisandi cepat, membelokkan mobil ke arah yang berlawanan dengan pusat kota.

"Lalu? Kita tidak bisa terus berputar-putar di Arcapura. Bensinmu menipis," Elara menunjuk indikator bahan bakar yang mulai menyentuh garis merah.

Arisandi terdiam sejenak, hanya terdengar suara ban berdecit saat ia menghindari genangan air yang cukup dalam. Ia menatap Elara dengan tatapan yang menyiratkan keputusan nekat.

"Kita kembali ke sumbernya. RSU Cakra Buana. Basement Level 4."

Elara terbelalak. "Kau gila, Dok? Itu sama saja bunuh diri! Tempat itu adalah sarangnya!"

"Justru itu. Darto tidak akan mengira kita cukup bodoh untuk kembali ke sana malam ini. Dia pasti berpikir kita sedang lari ke luar kota atau bersembunyi. Satu-satunya cara menghentikan teror ini adalah menanam kembali pasak ini ke tempat asalnya," ujar Arisandi, nada bicaranya mulai mendapatkan kembali ketegasan seorang dokter bedah.

Mobil itu melaju menembus kabut, meninggalkan keramaian kota menuju area yang lebih sunyi di kaki bukit. RSU Cakra Buana berdiri megah di kejauhan, siluet bangunan kolonialnya tampak seperti raksasa tidur yang siap menelan siapa saja yang berani mengganggu tidurnya.

Gerbang utama rumah sakit tampak dijaga ketat oleh satpam, namun Arisandi tahu jalan tikus. Ia mematikan lampu utama mobil dan membelok ke jalan setapak berbatu yang biasa digunakan untuk truk pengangkut limbah medis di sisi barat gedung.

"Lewat sini. Pintu masuk lama yang terhubung langsung ke lorong bawah tanah. Sejak renovasi tahun 90-an, pintu ini jarang dipakai kecuali untuk keadaan darurat," bisik Arisandi, memarkir mobil di balik rimbunnya pohon beringin tua.

Mereka keluar dari mobil, disambut oleh hujan yang menusuk tulang. Elara merapatkan jaketnya, merasakan aura yang berbeda begitu kakinya memijak tanah rumah sakit. Udara di sini terasa lebih berat, berbau tanah basah bercampur aroma formalin yang samar.

"Siap?" tanya Arisandi, menggenggam pasak keramat itu di tangan kanannya dan sebuah senter di tangan kirinya.

"Tidak pernah siap. Tapi ayo kita akhiri ini," jawab Elara, memaksakan keberanian yang sebenarnya tidak ia miliki.

Mereka berjalan mengendap-endap menuju pintu besi berkarat di samping bangunan generator. Suara guntur menggelegar di langit, menyamarkan bunyi engsel pintu yang berderit nyaring saat Arisandi membukanya paksa.

Kegelapan pekat menyambut mereka. Bau apek dan lembap langsung menyerbu indra penciuman. Ini adalah jalan menuju Basement Level 4, area yang bahkan perawat senior pun enggan memasukinya sendirian di siang hari.

"Hati-hati melangkah. Lantainya licin karena rembesan air tanah," peringat Arisandi, menyalakan senter. Cahaya kuning itu membelah kegelapan, menampakkan lorong panjang dengan dinding beton yang dipenuhi lumut.

Langkah kaki mereka bergema pelan, dipantulkan oleh dinding-dinding sempit. Elara merasa seolah ada ribuan mata yang mengawasi dari balik kegelapan. Setiap tetes air yang jatuh dari pipa di langit-langit terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur sisa hidup mereka.

"Dok," panggil Elara lirih, menghentikan langkahnya.

"Ada apa?" Arisandi menoleh, wajahnya tegang.

"Kau dengar itu?" Elara menunjuk ke arah ujung lorong yang berbelok ke kanan, menuju ruang penyimpanan jenazah lama.

Sayup-sayup, di antara suara tetesan air, terdengar suara gesekan logam. Seperti suara brankar mayat yang didorong perlahan di atas lantai keramik yang pecah. *Kreeek... kreeek...*

"Mungkin hanya angin... atau tikus," Arisandi mencoba merasionalisasi, meski tangannya yang memegang senter kini bergetar hebat.

"Tikus tidak mendorong brankar, Dok," bantah Elara, mundur selangkah. "Kita tidak sendirian di sini."

Tiba-tiba, lampu lorong yang seharusnya mati total berkedip-kedip redup, memancarkan cahaya oranye suram yang sebentar hidup sebentar mati. Dalam kedipan cahaya itu, Elara melihat sesuatu di ujung lorong.

Sosok itu berdiri membelakangi mereka. Mengenakan jas lab putih yang lusuh dan penuh noda cokelat kering. Postur tubuhnya membungkuk, namun aura ancaman yang dipancarkannya begitu kuat hingga membuat udara di sekitar mereka terasa membeku.

"Pak Darto..." desis Arisandi, suaranya tercekat di tenggorokan.

Sosok itu perlahan memutar kepalanya. Bukan dengan gerakan manusia normal, melainkan dengan patahan-patahan kaku seperti boneka kayu yang rusak. Wajah Pak Darto terlihat di sana, namun matanya putih sepenuhnya tanpa pupil, dan mulutnya menyeringai lebar hingga ke telinga.

"Kalian membawa kembali milikku..." suara itu bergema, bukan dari mulut Darto, melainkan seolah berasal dari dinding-dinding lorong itu sendiri.

"Lari!" teriak Elara, menarik lengan Arisandi.

Namun sebelum mereka sempat berbalik, pintu besi di belakang mereka terbanting menutup dengan sendirinya. *BLAM!* Suara dentuman itu mengunci mereka di dalam perut bumi, bersama dengan sang penjaga yang telah kehilangan kemanusiaannya.

"Tidak ada jalan keluar, Nak," kekeh Darto, langkah kakinya mulai mendekat, diiringi suara tulang-belulang yang bergemeretak. "Tanah ini butuh tumbal baru untuk memperbarui perjanjian."

Elara menatap Arisandi, melihat ketakutan yang sama di mata dokter itu. Mereka terjebak. Di Basement Level 4, di mana teriakan paling keras pun tidak akan terdengar sampai ke permukaan.

1
deepey
ayo elara cepat kabur, sebelum arisandi datang.
deepey
elara cepat cari jalan keluar💪
mentari
seru banget ceritanya
chika
seru banget kak
chika
cerita nya bagus
deepey
seruu
deepey
pak Darto jangan jd plot twist y Thor
S. Sage: adalah pokok nya🤭
total 1 replies
deepey
saling support kk 😄
deepey
makin penasaran
deepey
semangat berkarya kaka 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!