di bawah umur di larang membaca.
Rina adalah definisi dari "anak muda zaman now"—ekspresif, jahil, dan sedikit re-og. Baginya, dunia sosial adalah tempat bermain untuk menggoda siapa saja, termasuk seorang pria misterius di aplikasi HelloTalk yang ia panggil dengan sebutan "Mas Arab". Rina mengira ia sedang memegang kendali, sampai akhirnya takdir membawanya bertemu langsung dengan sosok tersebut.
Ternyata, "Mas Arab" adalah Rohman, seorang Ustadz muda yang kaku, alim, namun memiliki tingkat kesabaran setebal kamus bahasa Arab. Pertemuan pertama mereka langsung meledak dengan kekonyolan Rina yang mencoba mengetes iman sang Ustadz.
Namun, Rina salah besar. Di balik sikap tenangnya, Rohman adalah tipe pria "sat-set" yang tidak suka membuang waktu. Saat Rina terus-menerus menguji batasan kesabarannya, Rohman justru membalas dengan sebuah langkah skakmat: Mempercepat akad nikah sore itu juga!
Kini, Rina terjebak dalam status sebagai istri sah. Niat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15
Rina kembali menoleh ke arah Rohman, kali ini dengan ekspresi yang mendadak serius, meskipun binar jenaka masih tertinggal di sudut matanya. Ia ingin melihat sejauh mana "Ustadz idaman" ini bisa bertahan dengan serangan verbalnya.
"Tapi serius lho, aku nggak akan ngasih hak kamu," ulang Rina dengan nada datar yang dibuat-buat meyakinkan. "Soalnya aku pikir kamu itu bukan laki-laki normal."
Kalimat itu meluncur begitu saja, membuat suasana di dalam kabin mobil yang tadinya hangat mendadak diselimuti keheningan yang mencekam. Rohman tidak menginjak rem kali ini. Ia justru memperlambat laju mobilnya dengan sangat tenang, lalu membelokkan kemudi ke sebuah area parkir yang cukup sepi di pinggir jalan.
Ia mematikan mesin. Sunyi.
Rohman melepaskan sabuk pengamannya, lalu memutar tubuhnya sepenuhnya menghadap Rina. Tatapannya tidak lagi jenaka. Ada intensitas yang berbeda di sana—tajam, dalam, dan entah kenapa membuat bulu kuduk Rina meremang.
"Bukan laki-laki normal?" Rohman mengulang kalimat itu dengan suara bariton yang rendah, hampir menyerupai bisikan yang mengancam namun lembut. "Boleh saya tahu dari mana kesimpulan itu muncul, Rina?"
Rina yang tadinya ingin pamer kekuatan, mendadak menciut. Ia menelan ludah payah. "Ya... ya habisnya kamu lempeng-lempeng aja. Dikata-katain diam, dimintain cium nggak mau. Cowok normal mana yang nolak kalau calon istrinya seagresif aku? Jangan-jangan kamu... kamu nggak punya nafsu ya sama aku?"
Rohman menarik napas panjang, lalu ia tersenyum tipis—sebuah senyuman yang terlihat sangat "berbahaya" bagi jantung Rina. Ia memajukan tubuhnya sedikit, memangkas jarak di antara mereka hingga Rina bisa mencium wangi parfum London-nya dengan sangat jelas.
"Rina, dengarkan saya baik-baik," ucap Rohman, suaranya terdengar sangat maskulin. "Saya menahan diri bukan karena saya tidak normal. Justru karena saya sangat normal, saya harus berjuang setengah mati untuk tidak menyentuh kamu sebelum waktunya. Kamu pikir mudah duduk sedekat ini dengan wanita yang selama ini saya rindukan di setiap doa saya?"
Rina terpaku. Oksigen di sekitarnya seolah menipis.
"Jangan pernah meragukan sisi laki-laki saya, Sayang," lanjut Rohman sambil menatap bibir Rina sekilas sebelum kembali mengunci matanya. "Kalau kamu terus-menerus memancing seperti ini, saya khawatir akad nikahnya tidak akan menunggu bulan depan, tapi sore ini juga saya seret kamu ke KUA."
Wajah Rina memerah sempurna, sampai ke telinganya. Ia kehilangan kata-kata. Ternyata, saat Rohman memutuskan untuk "melawan", Rina sama sekali bukan tandingannya.
"E-eh... iya deh, iya. Mas Arab normal. Normal banget malah," gumam Rina sambil memundurkan punggungnya sampai menempel erat ke pintu mobil. "Ayo jalan lagi! Katanya mau fitting baju! Jangan kelamaan berhenti di sini, nanti dikira orang kita lagi ngapa-ngapain!"
Rohman terkekeh, kepuasan terpancar dari wajahnya karena berhasil mengalahkan Rina di permainannya sendiri. Ia kembali memakai sabuk pengaman dan menyalakan mesin.
"Lain kali, kalau mau mengetes kejantanan saya, tunggu setelah ada saksi yang bilang 'Sah', ya? Sekarang, simpan dulu rasa penasaran kamu," goda Rohman sambil mengacak puncak kepala Rina sekali lagi.
Rina hanya bisa diam membisu, memeluk dompet Rohman erat-erat sambil merutuki mulutnya yang terlalu berani. Sialan, ternyata Mas Arab kalau sudah mode 'serius' bisa bikin kaki gue lemes, batinnya dalam hati.