Hidup bergelimang harta, tetapi tanpa kasih sayang seorang ibu, membuat Abiyan tumbuh menjadi sosok pemuda yang keras kepala dan pembangkang. Suatu hari dia melakukan kesalahan fatal dengan terlibat balapan liar yang mengakibatkan dirinya tertangkap polisi.
Akibat perbuatannya, Bastian sang ayah murka dan Abiyan harus menerima hukuman terberat: dia terbuang dari rumah yang selama ini menjadi istananya. Tanpa kemewahan, tanpa perlindungan, Abiyan terpaksa harus menghadapi dunia yang keras dan penuh tantangan seorang diri.
Mampukah Abiyan sang tuan muda yang terbuang, bertahan hidup dan belajar menjadi pribadi yang bertanggungjawab? Atau justru dia akan semakin terpuruk dalam kesengsaraan?
Ikuti kisahnya hanya di sini:
"Abiyan, Tuan Muda Terbuang" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Lamunan Naraya # Kelicikan Tyo
Naraya harus menelan kekecewaan, tatkala sosok yang diharapkan kedatangannya tak kunjung muncul. Ia mengembuskan napas kasar, mencoba menyembunyikan rasa sedih yang mulai menyelimuti hatinya. Senyum tipis yang tadi sempat mengembang perlahan luntur, tergantikan oleh tatapan matanya yang hampa.
Ia menatap sendu pasangan suami istri yang tampak begitu bahagia. Sang suami membimbing istrinya keluar dari klinik bersalin itu seraya menggendong bayi mereka penuh kasih sayang.
Naraya mengelus perutnya yang sedikit membuncit membayangkan dirinya sendiri. Namun, kemudian ia menggeleng cepat, mencoba mengenyahkan imajinasi indah yang terasa sulit untuk menjadi kenyataan.
"Sadar, Ra...sadar! Apa kamu berpikir masih berhak untuk bahagia?" Ia mengingatkan dirinya sendiri guna meredam harapan yang mulai tumbuh.
Pikirannya melayang pada masa lalu yang kelam. "Ayahmu saja menolak kehadiranmu. Ibu...?"
Naraya ingat betul saat itu usianya tujuh tahun, ketika sang ibu pergi meninggalkannya seorang diri.
"Ibu akan pergi dari sini," ucap Ranti-ibunya, seraya mengemas pakaiannya ke dalam koper besar.
Naraya kecil hanya diam membisu menatap ibunya dengan bingung. Tak ada keberanian untuknya bertanya, hanya rasa takut akan kehilangan yang mulai mencengkeram hatinya.
"Tapi, ibu tidak bisa membawamu. Suami ibu ingin agar ibu hanya fokus merawat putranya. Tidak mengijinkan ibu membagi kasih sayang dengan yang lain. Ibu harap kamu mengerti," lanjut Ranti tanpa peduli pada perasaan Naraya yang terluka.
"Bukankah kamu sudah terbiasa sendiri?" tanyanya, lalu melanjutkan,
"Ibu tahu kamu anak yang cerdas dan mandiri. Itulah sebabnya ibu tidak khawatir meninggalkanmu, sebab kamu bisa mengurus dirimu sendiri." Ranti menatap Naraya, tetapi tak menunjukkan rasa kasih sayang sedikitpun.
"Ibu sudah menyiapkan semuanya di sini." Ranti meraih tangan mungil Naraya dan memberikan kartu ATM.
"Hiduplah dengan baik, raih lah cita-citamu. Agar kelak kamu bisa berdiri dengan tegak saat bertemu dengan ayahmu. Maafkan, ibu," lanjutnya dengan nada datar.
Ranti meraih kopernya, lalu berjalan keluar rumah tanpa menoleh ke belakang. Meninggalkan Naraya kecil yang terisak seorang diri.
Ia berusaha mengejar dan meraih tangan ibunya. "Jangan pergi, Ibu...! Jangan pergi...!" teriaknya dengan suara tercekat.
Itulah terakhir kalinya Naraya memanggil Ibu pada wanita yang melahirkannya. Tak pernah bertemu lagi sejak saat itu. Ia mengurus dirinya sendiri sejak kecil. Untungnya, wanita itu tidak pernah absen mengirimkan uang padanya setiap bulan, meskipun tanpa pesan apa pun.
Lamunan Naraya buyar saat mendengar suara pintu terbuka. Ia buru-buru menyeka airmatanya.
Abiyan berdiri di depan pintu kamar Naraya, dengan sekantong plastik besar berisi belanjaan di tangan kanannya. Pemuda itu tersenyum lembut, meski wajahnya tampak lelah setelah seharian bekerja. Namun, senyumnya perlahan berubah menjadi raut khawatir saat melihat wajah Naraya yang sembab.
"Ada apa, Ra? Kamu habis nangis? Apa perutmu masih sakit?" cecar Abiyan panik, meletakkan belanjaannya di meja lalu menghampiri Naraya.
Dengan tersenyum canggung Naraya menggelengkan kepala. "Aku nggak apa-apa, Bi. Aku sudah baik-baik saja," elaknya, berusaha menyembunyikan kesedihannya.
"Terus, dokter bilang apa? Kapan kamu boleh pulang?" tanya Abiyan lagi.
"Sebenarnya sudah boleh pulang, tapi...?" Naraya terdiam, ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
"Oh, ya ampun...!" Abiyan menepuk jidatnya, lalu menyengir lebar. "Sebentar ya, aku ke kasir dulu." Abiyan langsung melesat pergi ke kasir, mengira Naraya khawatir tentang biaya administrasi.
Naraya hanya bisa menatap kepergian Abiyan dengan tatapan tak terbaca. Padahal, tadi niatnya ingin meminta tolong agar Abiyan mengambilkan uangnya di kontrakan, karena ia lupa membawa dompetnya.
"Ya sudahlah, nanti aku bisa ganti uangnya di rumah," gumamnya pelan.
Tak lama kemudian, Abiyan datang kembali dengan senyum lebar. "Yuk, kita pulang! Aku sudah bereskan administrasinya," ucapnya riang, seraya membantu Naraya berdiri.
"Makasih ya, Bi," ucap Naraya tulus, merasa terharu dengan perhatian Abiyan. "Nanti aku ganti uangnya di rumah."
"Eh, nggak usah, Ra. Aku ikhlas bantu kamu, anggap saja ini rejeki si dedek," jawab Abiyan dengan tulus, membimbing Naraya keluar dari klinik tersebut.
.
.
.
Sementara itu, di kamarnya, Tyo membuka berkas hasil kerja Abiyan yang berhasil dicurinya dengan seringai licik. Di bawah cahaya lampu kamarnya yang sedikit redup, dia membolak-balik halaman demi halaman, matanya berbinar melihat angka-angka dan analisis yang tersusun rapi.
"Sepertinya gue bisa gunakan laporan hasil kerja Abiyan ini untuk mengelabuhi Pak Joni. Gue akan mengakui bahwa ini adalah hasil kerja gue sendiri. Hahaha...otak loe emang brilian, Tyo," pujinya pada dirinya sendiri.
"Gue yakin, Pak Joni akan terkesan dan akhirnya memilih gue," gumamnya percaya diri.
.
Pagi harinya, dengan langkah mantap, Tyo menuju ruangan Pak Joni guna menyerahkan berkas laporan yang diminta. Dia memasang wajah bangga.
"Ini laporan yang Anda minta, Pak," kata Tyo sopan. "Saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikannya tepat waktu."
Pak Joni menerima berkas itu dengan ekspresi datar. Dia mulai memeriksa laporan dari Tyo dengan cermat. Semakin lama membaca, semakin dalam kerutan di dahinya. Dia merasa ada sesuatu yang janggal dengan laporan milik Tyo. Analisisnya, gaya penulisannya, bahkan formatnya, terasa sangat familiar.
Pak Joni menghentikan bacaannya, lalu menatap Tyo dengan tatapan menyelidik. "Apa benar ini hasil kerjamu sendiri?" tanyanya dengan tajam. "Kamu yakin tidak ada yang membantu kamu mengerjakan laporan ini?"
Tyo tersentak mendengar pertanyaan Pak Joni. Detak jantungnya berjalan lebih cepat, bahkan telapak tangannya mulai berkeringat. Namun, dia berusaha mempertahankan ekspresi wajahnya tetap tenang.
"Tentu saja ini hasil kerja saya sendiri, Pak," jawab Tyo sedikit gugup.
"Saya sudah bekerja keras untuk menyelesaikan laporan ini. Kenapa Bapak bertanya seperti itu?" tanyanya seolah keberatan.
"Kalau begitu, tolong kamu jelaskan dengan detail apa yang sudah kamu kerjakan," perintah Pak Joni dengan tegas.
"Jika laporan ini memang benar-benar hasil kerjamu, tentunya kamu bisa menjelaskannya tanpa kesulitan," lanjutnya seraya menyeringai tipis.
"Si*alan...!" Tyo mengumpat dalam hati. "Rupanya dia bukan orang yang mudah dikelabui."
"Apa yang harus gue lakukan sekarang? Kenapa harus serumit ini, sih?" Tyo mengerang frustasi.
"Bagaimana, Tyo? Apa kamu siap memberikan penjelasan?"
Apa yang akan dilakukan Tyo selanjutnya?
Terus pemuda itu anak tirinya. Nggak punya sopan santun banget ....