Katya dan Donny dipertemukan bukan oleh cinta, melainkan oleh keputusan orang dewasa, norma, dan takdir yang berjalan terlalu cepat. Mereka datang dari dua dunia berbeda—usia, cara pandang, dan luka—namun dipaksa berbagi ruang paling intim: pernikahan.
Novel ini bukan sekadar kisah beda usia.
Ia adalah cerita tentang pertumbuhan, batas, rasa bersalah, dan kemungkinan cinta yang datang paling tidak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Getar Di Balik Pintu
Malam itu, aroma tanah basah sisa hujan sore tadi masih tercium di teras rumah Arman. Donny masih duduk di sana, di kursi rotan yang sama selama dua dekade terakhir. Namun, ada yang berbeda malam ini. Bukan kopinya, bukan pula Arman yang sedang asyik bercerita tentang rencana pensiunnya. Yang berbeda adalah cara Donny mendengarkan langkah kaki dari dalam rumah.
Ia bisa membedakan langkah Resti yang berat dan teratur, dengan langkah Katyamarsha yang ringan dan sedikit terburu-buru.
"Om Donny, ini martabak telurnya. Tadi Katya pesan lewat ojek online, buat camilan Ayah sama Om," Katya muncul dengan daster rumahan motif bunga yang sederhana, rambutnya dicepol asal-asalan, menyisakan beberapa helai yang jatuh di tengkuknya.
Donny berdehem, mencoba menetralkan degup jantungnya yang tiba-tiba melompat tanpa izin. "Terima kasih, Katya. Kamu repot-repot saja."
"Nggak repot kok, Om. Kan pakai uang Ayah," Katya tertawa renyah, sebuah tawa yang bagi Donny terdengar seperti lonceng kecil yang memecah keheningan malam.
Arman menepuk bahu Donny. "Anak ini memang paling tahu kalau kita sedang lapar, Don. Padahal tadi baru saja makan malam."
"Ayah kan memang hobi makan," Katya menjulurkan lidahnya pada sang ayah, sebuah gestur manja yang membuat Arman tertawa, namun membuat Donny terdiam.
Donny memperhatikan tangan Katya saat meletakkan piring. Jemari itu lentik, bersih, dan tampak sangat rapuh dibandingkan tangan Donny yang kasar dan penuh urat akibat kerja keras di lapangan. Ia segera mengalihkan pandangan ke arah martabak di depannya, seolah-olah benda itu adalah hal paling menarik di dunia.
"Don, kamu kenapa? Kok bengong?" tanya Arman heran.
"Ah, tidak. Hanya terpikir pekerjaan di kantor tadi," dusta Donny. Pekerjaan adalah tameng terbaiknya. Sejak istrinya meninggal lima tahun lalu, Donny telah membangun benteng tinggi di sekeliling hatinya. Ia adalah pria yang logis. Ia tahu bahwa ia adalah sahabat terbaik Arman, pria yang menggendong Katya saat bayi, pria yang memberinya nama. Secara moral, ia merasa harus menjadi pelindung, bukan pemangsa.
Katya duduk di kursi kayu kecil di dekat mereka, ikut bergabung dalam percakapan. "Om, besok aku wisuda lho. Om Donny datang, kan?"
Donny tertegun. Wisuda. Itu artinya Katya sudah benar-benar dewasa. Masa depannya membentang luas. Ia mungkin akan segera bekerja, bertemu pria sebaya, jatuh cinta, dan menikah. Membayangkan itu, ada rasa perih yang asing di sudut hati Donny.
"Kalau tidak ada rapat penting, Om usahakan datang," jawab Donny datar, berusaha menekan nada antusiasnya.
"Ih, Om Donny mah selalu gitu. Sibuk terus. Ini kan sekali seumur hidup aku, Om," suara Katya sedikit merajuk.
"Donny pasti datang, Ya. Ayah jamin. Kalau dia tidak datang, Ayah tidak akan mau lagi temani dia memancing di akhir pekan," ancam Arman sambil bercanda.
Katya tersenyum puas. "Janji ya, Om?" Ia mengacungkan jari kelingkingnya ke arah Donny.
Donny menatap kelingking mungil itu. Ada keinginan besar dalam dirinya untuk membalas tautan jari itu, namun ia hanya mengangguk pelan. "Iya, janji."
Malam semakin larut saat Donny berpamitan pulang. Dalam perjalanan menuju rumahnya yang besar namun sepi, pikiran Donny tak bisa lepas dari Katya. Namanya yang ia berikan dua puluh satu tahun lalu ternyata menjadi doa yang dikabulkan Tuhan. Katyamarsha; murni, tulus, bersih hati, lembut, dan hangat.
Donny memandangi kemudi mobilnya. Ia teringat kembali hari itu di kontrakan sempit. Arman begitu bahagia, dan ia—Donny—merasa seolah-olah ikut memiliki kebahagiaan itu.
"Kau gila, Donny," gumamnya pada diri sendiri saat lampu merah menyala. "Dia anak sahabatmu. Dia menganggapmu paman. Kau memberinya nama!"
Namun, perasaan tidak pernah peduli pada etika. Perasaan tidak punya silsilah keluarga. Perasaan hanya tahu satu hal: bahwa kehadirannya di rumah Arman kini bukan lagi sekadar untuk menemui sahabat lama, melainkan untuk mencuri pandang pada gadis yang ia beri nama.
Di sisi lain, di kamar tidurnya, Katya sedang memilih kebaya untuk wisuda esok hari. Ia menatap cermin, mematut diri. Entah mengapa, ia bertanya-tanya dalam hati, apakah Om Donny akan menyukai warna biru ini? Ia menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran aneh itu.
Baginya, Donny adalah sosok yang sangat ia hormati. Namun, ada sesuatu pada diri Donny yang membuatnya merasa sangat aman. Lebih aman daripada saat ia bersama teman-teman prianya di kampus yang seringkali bersikap kekanak-kanakan. Donny adalah gunung yang kokoh, sementara mereka hanyalah bukit pasir yang tertiup angin.
Katya menyentuh lehernya. Ia teringat saat tadi sore ia membawakan martabak, mata Om Donny sempat tertuju padanya dengan tatapan yang sulit ia artikan. Bukan tatapan seorang paman, tapi sesuatu yang lebih intens. Sesuatu yang membuatnya merasa... diperhatikan sebagai seorang wanita.
"Nggak mungkin," bisik Katya pada bayangannya di cermin. "Dia kan sahabat Ayah."
Katya mematikan lampu kamar, mencoba tidur. Namun, bayangan wajah Donny yang tegas namun memiliki sorot mata kesepian itu terus membayangi tidurnya.
Dua puluh satu tahun lalu, mereka dipersatukan oleh sebuah nama di sebuah gang sempit. Kini, di bawah atap yang lebih megah dan waktu yang sudah berubah, takdir seolah sedang menarik napas panjang, bersiap untuk meneriakkan sesuatu yang akan mengubah hidup mereka selamanya.
Donny memacu mobilnya membelah jalanan Jakarta yang mulai lengang. Radio mobil menyiarkan lagu jazz instrumental yang tenang, namun pikirannya jauh lebih bising dari klakson kendaraan mana pun. Bayangan Katya yang menyodorkan piring martabak tadi seolah terpaku di retinanya. Ia membenci dirinya sendiri karena menyadari hal-hal kecil; bagaimana aroma sabun mandi bayi yang masih samar tercium dari tubuh Katya, atau bagaimana binar di mata gadis itu saat ia tertawa.
"Dia Katyamarsha, Don," bisiknya pada kemudi mobil. "Nama itu kamu yang pilih agar dia tumbuh menjadi wanita yang murni. Bukan untuk kamu nodai dengan perasaan konyol ini."
Logika Donny terus menghujam hatinya dengan kenyataan pahit. Ia teringat kembali ke masa lalu, saat Arman—sahabatnya—berjuang mati-matian menghidupi Resti dan Katya kecil di kontrakan sempit. Donny-lah yang seringkali menyisihkan gajinya untuk membeli susu bagi Katya. Baginya, Katya adalah tanggung jawab moral, sebuah amanah. Mencintai Katya bukan hanya melanggar batas usia, tapi juga seperti mengkhianati persaudaraan suci yang telah ia bangun dengan Arman selama puluhan tahun.
Namun, cinta jarang sekali datang dengan izin komite etika. Setiap kali Donny mencoba menjauh, takdir seolah menyeretnya kembali ke ruang tamu itu, ke hadapan senyum Katya yang tak berdosa.
Sementara itu, di rumahnya, Katya masih terjaga. Ia duduk di tepi tempat tidur, memandangi foto masa kecilnya yang digendong oleh seorang pria muda yang gagah—Donny. Di foto itu, Donny tampak begitu bangga, seolah ia baru saja mendapatkan harta paling berharga di dunia.
Katya meraba dadanya yang berdegup sedikit lebih kencang. Ada sebuah memori yang tiba-tiba melintas. Saat ia berusia tujuh tahun dan jatuh dari sepeda, bukan ayahnya yang pertama kali mengangkatnya, melainkan Om Donny. Pria itu membersihkan lukanya dengan sapu tangan, meniupnya dengan lembut, dan mengatakan bahwa Katya adalah gadis yang kuat.
"Kenapa sekarang rasanya berbeda?" gumam Katya pelan.
Ada rasa canggung yang mulai tumbuh setiap kali kulit mereka tak sengaja bersentuhan saat bersalaman. Ada rasa haus akan perhatian Donny yang kini terasa lebih personal. Katya menyadari bahwa ia mulai membandingkan setiap pria yang mendekatinya di kampus dengan Donny. Dan tak ada satu pun yang menang. Mereka semua terasa dangkal, sementara Donny memiliki kedalaman yang misterius.
Katya tahu, jika ia mengikuti perasaan ini, ia mungkin akan menghancurkan hubungan baik ayahnya. Ia mungkin akan dicap sebagai gadis yang tidak tahu diri. Namun, malam itu, di bawah temaram lampu kamar, ia menyadari satu hal: ia tidak sabar menunggu hari esok, hanya untuk melihat apakah Donny benar-benar menepati janjinya untuk datang ke wisudanya.
Tanpa mereka sadari, benih yang tertanam dua puluh satu tahun lalu telah tumbuh menjadi pohon besar yang akarnya mulai merusak fondasi rumah yang selama ini mereka anggap aman.