💞💞Ini kisah remaja si triple dari "Ratu Bar-Bar Milik Pilot Tampan"💞💞
______________________________________________
"Akankah 'Pilot's Barbaric Triplets' terbang tinggi, atau jatuh berkeping-keping ketika identitas mereka terungkap?
Alvaro Alexio Nugroho (Varo): di mata dunia, ia adalah pewaris ketenangan sang pilot Nathan. Namun, di balik senyumnya, Varo menyimpan pikiran setajam pisau, selalu selangkah lebih maju dari dua saudara kembarnya. Ia sangat protektif pada Cia.
Alvano Alexio Nugroho (Vano): dengan pesonanya memikat, melindungi saudara-saudaranya dengan caranya sendiri. Ia juga sangat menyayangi Cia.
Alicia Alexio Nugroho (Cia): Ia mendominasi jiwa Bar-bar sang ibunya Ratu, ia tak kenal rasa takut, ceplas-ceplos dan juga bisa sangat manja di saat-saat tertentu pada keluarganya namun siap membela orang yang dicintai.
Terlahir sebagai pewaris dari dua keluarga kaya raya dan terkenal, triplets malah merendahkan kehidupan normal remaja pada umumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Namun, Dewi Fortuna seolah enggan tersenyum pada Alicia. Saat Cia melangkah keluar kelas, koridor panjang terasa seperti labirin tak berujung yang membawanya menuju area parkir. Tiba-tiba, sosok Aksa muncul di hadapannya, bak ilusi di tengah hari bolong.
Cia terkejut, bibirnya hampir membuka untuk memprotes, namun Aksa seolah membaca pikirannya. Tanpa memberinya kesempatan untuk mengeluarkan sepatah kata pun, Aksa meraih pergelangan tangannya, menariknya menuju tangga yang tersembunyi, yang mengarah ke rooftop sekolah.
"Aksa, lo mau bawa gue ke mana?" tanya Cia, nadanya bercampur antara terkejut dan khawatir. Jantungnya berdebar kencang, berusaha melepaskan diri dari genggaman tangannya yang kuat.
Aksa tidak menjawab. Ia terus menarik Cia menaiki tangga, langkahnya mantap dan tak terbendung. Akhirnya, mereka tiba di rooftop, tempat di mana langit luas membentang, angin sepoi-sepoi berbisik, dan dunia seakan berhenti berputar.
Bagi Aksa, rooftop adalah tempat yang tepat untuk menumpahkan segala isi hati, tanpa gangguan, dengan panorama indah yang memanjakan mata. Di sini, ia bisa menjadi dirinya sendiri, tanpa topeng dan tanpa kepura-puraan.
Aksa melepaskan genggaman tangannya dan berbalik menghadap Cia. Matanya memancarkan tatapan yang penuh dengan cinta dan harapan tulus, seolah ingin menembus setiap lapisan dirinya.
"Di sini nggak ada yang bisa ganggu kita," ujar Aksa, nadanya serius namun lembut. "Sekarang, gue mau lo jawab pertanyaan gue dengan jujur."
Cia menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ia tahu, ia tak bisa terus-menerus menghindar dari Aksa. Ia harus menghadapi perasaannya, dan memberikan jawaban, apapun konsekuensinya.
"Aksa, gue nggak tahu harus bilang apa," akui Cia, suaranya lirih. "Gue masih bingung sama perasaan gue sendiri."
Aksa tersenyum lembut, mencoba meredakan ketegangan. "Gue tahu, Cia. Tapi gue butuh jawaban lo sekarang. Gue mohon, kasih gue kesempatan untuk membuktikan bahwa cinta gue sama lo itu tulus tanpa syarat."
Cia terdiam sejenak, mempertimbangkan permintaan Aksa. Ia melihat ketulusan di mata cowok itu, dan merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya setiap kali ia berada di dekatnya. Mungkin, sudah saatnya ia memberikan kesempatan pada Aksa, dan pada dirinya sendiri.
Akhirnya, Cia mengangguk pelan, wajahnya memerah. "Oke, gue kasih lo kesempatan," jawab Cia, suaranya nyaris tak terdengar.
Mendengar jawaban Cia, Aksa langsung berteriak kegirangan. Ia melompat-lompat tinggi, mengungkapkan kebahagiaannya seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah impiannya.
"Yes! Makasih, Cia! Makasih!" seru Aksa, nadanya penuh semangat dan kelegaan.
Cia terkekeh pelan melihat tingkah laku Aksa yang terlihat kekanak-kanakan. Ia tak menyangka, seorang Aksa yang terkenal dingin dan tak tersentuh bisa bertingkah serandom ini.
"Emang sesenang itu ya?" tanya Cia, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. "Lo itu ketua geng motor sekaligus kapten basket, tahu?"
Aksa berhenti melompat dan mendekat ke arah Cia. Ia meraih kedua tangan Cia dan menggenggamnya erat, seolah tak ingin melepaskannya.
"Iya! Karena bagi gue lo jantung hati gue, dan sekarang lo jadi pacar gue," ujar Aksa, senyumnya lebar dan tak bisa disembunyikan.
Aksa mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku celananya. Ia membukanya, memperlihatkan sebuah kalung emas putih dengan liontin berbentuk hati yang berkilauan.
"Ini buat lo. Sebagai tanda bahwa lo sekarang milik gue, dan gue milik lo," ujar Aksa, nadanya tulus dan penuh kasih.
Cia terkejut. Ia tak menyangka Aksa sudah menyiapkan hadiah untuknya. Ia merasa terharu dan tersentuh dengan perhatian yang diberikan Aksa padanya. Meskipun ia terlahir menjadi pewaris dari dua nama keluarga yang berpengaruh, dan materi bukanlah sesuatu yang istimewa baginya, namun keseriusan Aksa terasa berbeda.
"Aksa, ini terlalu berlebihan," ujar Cia, suaranya pelan dan ragu.
"Nggak ada yang berlebihan buat lo. Lo pantas mendapatkan yang terbaik, karena lo adalah yang terbaik," balas Aksa, mengambil kalung itu dari dalam kotak dan memasangkannya di leher Cia.
Cia merasakan sentuhan lembut jari-jari Aksa di lehernya, membuat bulu kuduknya meremang. Ia menatap Aksa dengan tatapan campur aduk antara terharu, bahagia, dan sedikit takut.
"Makasih, Aksa," ujar Cia, nadanya tulus.
Aksa tersenyum lebar. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Cia, menatap mata gadis itu dengan tatapan yang penuh dengan cinta dan kerinduan.
Aksa menatap Cia dengan mata berbinar, rasa bahagia meluap-luap dalam dirinya. Tanpa menunggu persetujuan, tanpa meminta izin, ia mendekatkan wajahnya dan mengecup singkat bibir Cia.
Cia terkejut. Matanya membulat sempurna saat merasakan sentuhan lembut bibir Aksa di bibirnya. Itu adalah ciuman pertamanya, dan Aksa baru saja mencurinya atau mungkin, memberikannya.
"Aksa!" seru Cia, mendorong Aksa menjauh dengan wajah memerah karena kesal sekaligus malu. "Lo apa-apaan sih? Kenapa nyium gue?!"
Aksa terkekeh pelan, sama sekali tak merasa bersalah. Ia malah terlihat lega dan bahagia. Ternyata, Cia benar-benar belum pernah berciuman sebelumnya. Itu berarti, ia adalah cowok pertama yang mencium bibir Cia, sebuah kehormatan yang tak ternilai harganya.
"Kenapa? Nggak boleh?" goda Aksa, mendekatkan wajahnya lagi ke wajah Cia, menikmati ekspresi bingung dan malu di wajahnya.
"Ya nggak boleh lah! Itu kan ciuman pertama gue! Yang gue jaga dengan segenap jiwa dan raga hanya untuk suami gue kelak! Dan lo baru saja mencurinya dari gue!" sembur Cia kesal, memalingkan wajahnya, berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya.
Aksa tersenyum lebar. "Serius? Ini ciuman pertama lo? Wah, berarti gue beruntung banget dong," ujarnya dengan nada bangga.
"Dasar mesum!" cibir Cia, meskipun dalam hati ia merasa seperti ada ribuan kupu-kupu yang sedang berterbangan di dalam sana. Sensasi aneh dan menyenangkan ini benar-benar baru baginya.
"He he! Mesum sama pacar dan calon istri sendiri tidak apa-apa," balas Aksa, meraih tangan Cia dan menggenggamnya erat, seolah tak ingin melepaskannya lagi.
"Lo juga pertama buat gue, Cia. Gue belum pernah ciuman sama cewek lain sebelumnya," bisik Aksa, nadanya tulus dan penuh kejujuran.
Cia terkejut mendengar pengakuan Aksa. Ia menatap cowok itu dengan tatapan tak percaya, seolah ingin memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi.
"Serius? Lo belum pernah ciuman?" tanya Cia tak percaya, matanya menyelidik wajah Aksa.
Aksa mengangguk. "Serius. Lo cewek pertama yang gue cium. Jadi, kita impas kan?" ujarnya, mengedipkan matanya ke arah Cia, mencoba mencairkan suasana yang tegang.
Cia langsung salah tingkah dibuatnya. Ia tak bisa menyembunyikan rona merah di pipinya yang semakin merekah. "Kalau gini meleleh adek bang!" batin Cia senang, jantungnya berdebar tak karuan.
Namun, kebahagiaan mereka tak berlangsung lama. Tiba-tiba, ponsel Cia berdering, memecah suasana romantis di rooftop sekolah. Cia mengerutkan keningnya, melihat nama Varo tertera di layar ponselnya.
"Halo, kenapa, Var?" tanya Cia cepat, berusaha menutupi kegugupannya.
"Lo di mana sih? Kita udah nungguin lo di parkiran dari tadi," jawab Varo dengan nada tergesa-gesa, terdengar cemas.
"Emangnya ada apa?" tanya Cia penasaran, perasaannya mulai tidak enak.
"Lo tidak lupa misi kita nanti malam kan? Kita harus segera pulang dan kembali meeting sama Opa!"
Cia terdiam. Ia hampir melupakan misi rahasia mereka yang harus mereka jalankan malam ini. Ia menghela napas panjang, merasa bersalah karena telah melupakan tanggung jawabnya.
"Oke, gue segera ke sana," jawab Cia, mematikan teleponnya dengan berat hati.
Cia menatap Aksa dengan tatapan menyesal, seolah ingin meminta maaf karena harus mengakhiri momen indah ini. "Gue harus pergi sekarang. Ada urusan mendadak," pamitnya, nadanya penuh penyesalan.
Aksa mengangguk mengerti, berusaha untuk tidak terlihat terlalu ikut campur dalam urusan Cia. Ia takut Cia akan merasa risih padanya dan berubah pikiran. Yang terpenting, ia sudah mendapatkan Cia, itu sudah lebih dari cukup untuk saat ini, meskipun rasa penasaran dan sedikit cemburu akan sosok si kembar yang selalu berada di sisi Cia masih menghantuinya.
"Nggak apa-apa. Hati-hati ya," pesan Aksa tulus, mengusap lembut pipi Cia, seolah ingin menyalurkan seluruh perasaannya melalui sentuhan itu.
Cia tersenyum tipis, mencoba menenangkan Aksa. "Hm! Lo juga hati-hati," balas Cia lalu langsung berbalik meninggalkan Aksa, berlari menuruni tangga dengan perasaan campur aduk.
Bersambung ....
yg disini kalang kabut yg disana tenang tenang saja😄
waah mereka emang berjodoh ya😄
suka banget ma story ny kk
beda level sama km
🤭🤭
kak dtggu next bab ny yx ,,
cerita ny baguuuus ,,