NovelToon NovelToon
A Story'Of Us

A Story'Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Drama / Cintapertama
Popularitas:7
Nilai: 5
Nama Author: ilwa nuryansyah

menceritakan seorang siswi bernama Aria putri siswi dingin dan Sasha arka siswi berandalan, menceritakan keseharian mereka di sekolah dan teman baru di tahun terakhir sekolah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 12

Suara bel istirahat berdentang nyaring, membawa kelegaan bagi seluruh penghuni kelas 3-1.

Bersamaan dengan itu, soal matematika terakhir berhasil diselesaikan oleh Sasha di bawah bimbingan ketat Aria.

Meski wajahnya tampak kusut, Sasha tidak bisa memungkiri bahwa beberapa soal tadi mulai masuk ke logikanya.

Saat mereka berjalan menyusuri koridor menuju kantin, Aria merogoh saku jas almamaternya dan mengeluarkan sebuah buku saku kecil bersampul biru.

Ia menyodorkannya kepada Sasha dengan gerakan yang lugas.

Sasha menatap benda itu dengan dahi berkerut. "Ini apa lagi? Surat cinta?"

Aria memutar bola matanya. "Jangan mimpi. Itu buku saku berisi kosakata bahasa Inggris yang paling sering muncul di ujian. Aku sudah menandai kata-kata kuncinya. Jadi, saat kau sedang duduk atau makan, luangkan waktu untuk membacanya. Setidaknya kau harus hafal sepuluh kata per hari."

Sasha mendengus geli, meski tangannya tetap menerima buku itu. "Omong kosong. Bagaimana bisa aku makan sambil belajar? Kau pikir otakku ini mesin fotokopi? Makan itu waktu untuk istirahat, bukan untuk dijejali kata-kata asing ini."

"Otakmu itu mampu, kau saja yang malas menggunakannya," sahut Aria datar.

Sasha tidak membantah lagi; ia justru memasukkan buku saku itu ke saku celananya dengan gerakan cuek. Sesampainya di kantin yang mulai ramai, Sasha menoleh ke arah Aria. "Pesankan apa? Biar sekalian aku yang bayar."

Aria menggeleng pelan, mengangkat tas bekal kecil berwarna pastel yang ia bawa. "Tidak usah. Aku membawa bekal sendiri dari rumah. Lebih hemat dan sehat."

Aria kemudian melangkah menuju bangku di pojok kantin, tempat yang agak jauh dari kebisingan.

Sasha hanya mengangkat bahu, lalu berjalan ke stan makanan favoritnya. Ia memesan **Nasi Goreng Gila dengan ekstra sosis dan telur ceplok setengah matang**, lengkap dengan es teh manis yang segar.

Beberapa menit kemudian, Sasha menyusul Aria dan duduk di depannya. Aroma nasi goreng yang kuat menyeruak, namun Aria tetap tenang membuka kotak bekalnya yang berisi nasi, tumis sayur, dan sepotong tempe.

"Baca bukunya, Sasha. Jangan hanya dijadikan pajangan di saku," ujar Aria sambil menyuap nasinya dengan perlahan.

"Nanti saja. Kau tidak lihat aku sedang memegang sendok?" jawab Sasha dengan mulut penuh nasi goreng. "Lagipula, melihat huruf-huruf itu saat makan bisa membuatku tersedak."

Di tengah perdebatan kecil mereka, seorang siswi berjalan mendekat dengan wajah berseri-seri.

Itu adalah Indah, siswi kelas 3-2 yang tadi pagi ditolong oleh Sasha dari gangguan preman sekolah lain.

"Kak Sasha! Kak Aria!" sapa Indah dengan sopan.

Sasha mendongak dan memberikan anggukan kecil. "Oh, kau. Ada apa?"

"Boleh aku bergabung makan di sini? Meja lain sepertinya sudah penuh," tanya Indah sambil memegang nampan makanannya.

Aria tersenyum tipis—senyum formal yang tetap terlihat ramah. "Tentu saja, silakan duduk, Indah."

Indah segera mengambil posisi di samping Aria, berhadapan dengan Sasha.

Suasana di meja itu mendadak menjadi unik; sang Ketua OSIS yang perfeksionis, si berandalan sekolah yang ditakuti, dan siswi kelas lain yang tampak mengagumi keduanya, kini duduk bersama dalam satu meja kantin yang penuh dengan drama tersembunyi.

---

Di tengah riuh rendah suasana kantin, Sasha akhirnya menyerah pada rasa penasarannya. Dengan satu tangan masih memegang sendok nasi goreng, tangan lainnya merogoh saku dan mengeluarkan buku saku biru pemberian Aria.

Ia membukanya, mencoba mengeja beberapa kata yang ditandai dengan stabilo kuning.

"Argh! *In-ev-i-ta-ble*? Apa-apaan pengejaan seperti ini? Lidahku mau patah membacanya!" keluh Sasha dengan wajah merah padam karena kesal. Ia membanting buku itu ke meja hingga air teh manisnya sedikit bergoyang.

Aria yang sedang mengunyah tempe dengan tenang meliriknya sekilas. "Kau terlalu tegang, Sasha. Kau tidak perlu menghafalnya dalam satu detik. Kau hanya perlu waktu dan konsistensi untuk membiasakan telingamu."

Indah yang duduk di samping Aria memperhatikan buku tersebut. "Wah, itu kosakata bahasa Inggris tingkat lanjut ya, Kak?"

Sasha menoleh ke arah Indah, lalu menyodorkan buku itu. "Bagaimana denganmu, hah? Kau anak kelas 3-2, apakah bahasa Inggrismu juga selancar robot di depanku ini?" tanya Sasha sambil menunjuk Aria dengan dagunya.

Indah tersenyum canggung, lalu ia merogoh tasnya dan mengeluarkan selembar kertas hasil tes yang baru saja dibagikan sebelum jam istirahat. "Tadi kami baru saja ada kuis mendadak, Kak. Dan aku mendapatkan... segini," ucapnya pelan sambil menunjuk angka yang tertulis di pojok kanan atas kertas.

Sasha menyipitkan mata, lalu matanya membelalak sempurna. Angka **100** tertulis besar dengan tinta merah di sana, tanpa ada satu pun coretan salah di lembar jawabannya.

"Seratus?!" seru Sasha hampir berteriak, membuat beberapa murid di meja sebelah menoleh. "Bagaimana bisa kau melakukan ini? Hebat sekali. Aku bahkan ragu apakah aku bisa mengeja judul tesnya dengan benar."

Indah tertawa kecil, wajahnya tampak merona karena malu dipuji oleh orang seperti Sasha. "Ah, tidak juga Kak, aku hanya belajar sedikit semalam."

Aria menyela sambil merapikan kotak bekalnya. "Jangan rendah hati begitu, Indah. Sasha, perlu kau tahu, Indah ini juara satu lomba debat dan pidato bahasa Inggris tingkat provinsi selama dua tahun belakangan. Jadi, nilai seratus bagi dia itu sudah seperti rutinitas."

Sasha tertegun, baru menyadari bahwa gadis yang ia tolong pagi tadi ternyata bukan siswi sembarangan.

Ia menatap Indah dengan pandangan tidak percaya. "Juara provinsi? Sial, aku benar-benar dikelilingi oleh orang-orang jenius."

"Tidak juga, Kak Sasha. Aku masih harus banyak belajar dari Kak Aria juga," ucap Indah dengan rendah hati.

Sasha menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap langit-langit kantin dengan putus asa. "Jika kau yang juara provinsi saja bilang masih harus banyak belajar dan merasa biasa saja, lalu bagaimana denganku? Aku ini apa? Butiran debu di kamus bahasa Inggris?"

Mendengar gerutuan Sasha yang terdengar sangat jujur namun konyol itu, Indah tidak bisa menahan tawa.

Aria pun menarik sudut bibirnya, membentuk senyum tipis yang jarang ia perlihatkan, sambil terus melanjutkan makannya dengan tenang.

Di meja itu, untuk pertama kalinya, ketegangan antara sang Ketua OSIS dan si berandalan sedikit mencair karena kehadiran seorang junior yang cerdas.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!