NovelToon NovelToon
SANG PENDAKI RERUNTUHAN: MELAMPAUI MANUSIA KERTAS

SANG PENDAKI RERUNTUHAN: MELAMPAUI MANUSIA KERTAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Sistem / Fantasi
Popularitas:169
Nilai: 5
Nama Author: MUXDHIS

Demi kebebasan sejati, Abimanyu, Sang Profesor, membakar masa lalunya dan meninggalkan peradaban "Manusia Kertas" di Lembah Nama. Dengan mendaki Gunung Kehendak, ia bertransformasi dari pemikul beban menjadi pencipta nilai dalam sebuah pencarian filosofis untuk melampaui batas kemanusiaan dan menjadi arsitek atas nasibnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUXDHIS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 BADAI KERTAS

Langit di atas Tebing Kehendak tiba-tiba berubah warna menjadi abu-abu yang sakit, sebuah warna yang mengingatkan Abimanyu pada debu yang menumpuk di atas rak-rak perpustakaan yang tak pernah disentuh selama puluhan tahun. Angin yang menderu tidak lagi membawa aroma murni dari batu granit atau dinginnya es, melainkan bau yang sangat ia kenal: bau tinta tua yang mengering dan kertas yang melapuk di dalam rak-rak kayu mahoni. Ini adalah bau "kuburan pikiran" yang pernah ia tinggalkan di Lembah Nama.

Abimanyu berhenti, punggungnya menempel pada dinding cadas yang kasar. Jantungnya berdegup kencang, sebuah genderang perang yang ditabuh di dalam dadanya. Ia melihat ke arah cakrawala, dan matanya yang kini setajam elang menangkap sebuah fenomena yang mustahil: sebuah pusaran besar berwarna putih muncul dari balik kabut, bergerak mendekatinya dengan suara seperti ribuan jemari yang membalik halaman buku dengan terburu-buru.

"Bukan salju," gumam Abimanyu, napasnya memburu. "Ini bukan badai alam.".

Pusaran itu pecah menjadi ribuan kepingan yang beterbangan. Itu adalah lembaran-lembaran kertas. Ribuan halaman dari naskah-naskah kuno, jurnal-jurnal internasional bereputasi tinggi yang di dalamnya namanya tercetak kecil, hingga disertasi bersampul kulit tebal miliknya sendiri. Lembaran-lembaran itu terbang seperti burung bangkai yang terbuat dari selulosa, berputar-putar di sekelilingnya, menciptakan kebisingan yang memekakkan telinga.

Setiap lembaran yang melintas di depan wajahnya seolah berteriak dengan suaranya sendiri. "Lihatlah kami!" bisik sebuah fragmen dari Bab 3 disertasinya. "Kami adalah hidupmu! Kami adalah lima tahun jerih payahmu yang kau bakar begitu saja!".

"Kau adalah pengkhianat!" teriak lembaran lain yang berisi teori ontologi yang pernah ia puja. "Kau menghancurkan kuil suci ilmu pengetahuan demi kegilaan di atas batu ini!".

Abimanyu mencoba menepis lembaran-lembaran itu, namun kertas-kertas itu tajam seperti pisau bedah. Mereka menyayat pipinya, menyayat tangan kurusnya yang kini penuh dengan noda tanah dan darah kering. Kertas-kertas ini tidak lagi rapuh, mereka memiliki massa dan amarah dari sesuatu yang telah "dibalsem" dengan catatan kaki namun dipaksa bangun dari kematiannya.

Di tengah badai itu, lembaran-lembaran tersebut mulai menyatu, membentuk siluet-siluet yang tampak tipis dan dua dimensi. Mereka adalah manifestasi dari "Manusia Kertas" yang pernah ia cemooh di Lembah Nama. Sosok-sosok itu menyerupai rekan-rekannya—Dr. Hardi yang memegang map tebal, Profesor Linda yang sibuk dengan angka-angka statistiknya, dan Danu yang mengenakan mantel wol panjangnya yang mahal.

"Kau pikir kau bisa keluar, Abimanyu?" suara Danu bergema dari pusaran kertas itu, dingin dan merendahkan. "Kau hanyalah seorang narapidana yang mencoba melarikan diri dari dinding-dinding logika yang kau bangun sendiri. Kau adalah milik kami. Kau terbuat dari ijazah yang dibingkai dan slip gaji bulanan!".

Siluet kertas itu mendekat, mencoba membungkus tubuh Abimanyu dengan lembaran-lembaran teori yang kaku. Mereka mencoba mengikat kakinya dengan "Rencana Pembelajaran Semester" yang terstruktur, mencoba menutupi matanya dengan "Indikator Kinerja Utama" yang membosankan.

"Kembalilah ke kotak betonmu!" teriak suara-suara itu. "Di sana ada keamanan! Di sana ada rasa hormat palsu yang kau butuhkan untuk merasa penting!".

Abimanyu merasakan Roh Gravitasi—kurcaci yang duduk di pundaknya—semakin berat. Ia merasa seolah-olah berat dari ribuan buku tebal yang ia bakar semalam kembali menindih pundaknya. Ia mulai meragukan langkah ke-seratus satunya. Apakah ia benar-benar sedang mendaki, atau ia hanya sedang jatuh ke dalam delusi?.

Namun, di tengah tekanan yang mencekik itu, ia teringat akan apa yang ia katakan pada malam pembakaran: "Cahaya yang paling terang tidak berasal dari pantulan. Ia berasal dari pembakaran".

Ia tidak lagi memiliki korek api kayu murahan di tangannya. Namun, ia memiliki sesuatu yang lebih kuat: ia memiliki api di dalam dadanya yang tidak dimiliki oleh manusia-manusia kertas itu. Ia menyadari bahwa badai ini hanyalah "bayangan yang menganggap diri mereka cahaya".

"Kalian adalah mayat!" raung Abimanyu, suaranya membelah kebisingan badai. "Kalian adalah abu yang mencoba berpura-pura menjadi api! Kalian tidak memiliki kedalaman, kalian hanya memiliki panjang dan lebar kertas!".

Abimanyu mengepalkan tangannya. Ia tidak lagi melihat lembaran-lembaran itu sebagai ilmu pengetahuan atau warisan yang berharga, ia melihatnya sebagai "penjara" yang harus dihancurkan berulang kali. Dengan sebuah ledakan kehendak, ia membayangkan api semalam berkobar kembali di dalam jiwanya.

Tiba-tiba, suhu di sekelilingnya naik secara drastis. Lembaran-lembaran kertas yang menyentuh kulitnya mulai mengeriting, berubah cokelat, lalu hitam, sebelum akhirnya meledak menjadi abu pijar yang terbang ke langit malam. Bayangan-bayangan Danu dan Hardi memudar, hancur berkeping-keping saat "kulit kertas" mereka terkelupas oleh panasnya kehendak Abimanyu.

Badai itu mulai mereda. Lembaran-lembaran yang tadinya menyerang dengan beringas kini jatuh ke dasar jurang sebagai abu hitam yang tak berarti—kembali menjadi materi dasar yang melepaskan semua klaim intelektualnya.

Abimanyu berdiri diam, napasnya perlahan mulai teratur. Pipinya yang tersayat mulai terasa perih terkena angin dingin, namun ia tidak peduli. Ia telah memenangkan "perang melawan mayat". Ia menyadari bahwa masa lalu akan selalu mencoba kembali sebagai hantu, mencoba menarik sang pendaki jatuh ke dalam jurang penyesalan dengan menggunakan kata-kata "keamanan" dan "tanggung jawab".

"Aku telah membakar buku-bukunya agar namaku tidak lagi terjebak di dalamnya," bisiknya pada kesunyian yang kembali menyelimuti tebing.

Ia menatap tangannya. Noda tinta permanen di jari tengahnya tampak mulai memudar, digantikan oleh kapalan kasar dari batu granit. Ia bukan lagi "penjaga abu". Ia adalah arsitek dari nasibnya sendiri, yang baru saja meruntuhkan katedral kertasnya untuk terakhir kalinya di tengah badai.

Matahari perak di atas sana mulai muncul kembali dari balik awan abu-abu, menyinari jalan setapak yang kini bersih dari gangguan kertas. Abimanyu mengencangkan tali ranselnya dan bersiap untuk mengambil langkah berikutnya. Ia tahu bahwa puncak gunung semakin dekat, namun ia juga tahu bahwa ujian yang lebih besar—ujian yang tidak lagi berbentuk kertas, melainkan berbentuk ketiadaan—sedang menantinya di depan sana.

1
Aisyah Suyuti
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!