Michael Chandra Dinata adalah keajaiban yang lahir dari keterbatasan. Berasal dari Indonesia, dibesarkan oleh seorang ibu tunggal dalam kemiskinan, ia menembus batas yang dianggap mustahil—menjadi satu-satunya pembalap Asia Tenggara yang berhasil bertahan di kerasnya dunia MotoGP, di era ketika nama-nama besar seperti Valentino Rossi masih merajai lintasan. Balapan adalah hidupnya, satu-satunya cara untuk bertahan, satu-satunya tempat di mana ia merasa utuh.
Namun pada usia dua puluh tujuh tahun, di sebuah balapan yang seharusnya menjadi titik balik kariernya, Michael mengalami kecelakaan fatal. Aspal yang selama ini ia cintai merenggut nyawanya—dan segalanya berakhir di sana.
Atau begitulah yang ia kira.
Michael terbangun kembali di dunia lain, dalam tubuh seorang pemuda Inggris bernama Julian Ashford—anak tunggal dari keluarga konglomerat kelas dunia. Kaya raya, dicintai kedua orang tuanya, dan dikelilingi kemewahan yang tak pernah ia miliki sebelumnya. (bagus sinopsis lama:)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meylisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dan musim baru… baru saja dimulai
Malam di sirkuit Losail terasa panas, tapi bukan karena cuaca. Lampu sorot memantulkan aspal gelap hingga kilau seperti lautan tembaga. Pit Ducati sibuk, kabel berkedip, layar telemetri menampilkan angka-angka yang bergerak cepat, mekanik berseliweran, semua mata tertuju pada motor merah itu — Desmosedici milik Julian Ashford.
Julian berdiri di samping motor, tangan menempel perlahan pada setang. Napasnya stabil, tapi di dalam, adrenalin sudah berdetak, sama seperti saat Michael Chandra Dinata dulu menghadapi grid MotoGP. Bedanya sekarang, ia tahu… ia memiliki kendali atas dirinya sendiri.
Clara duduk di tribun VIP, jaket hangat menutupi tubuhnya. Ia tersenyum tipis, menahan gemetar sedikit karena tegang. Mereka berdua telah melewati banyak hal sejak Julian masuk ke tubuh Ashford. Kehidupan baru, kemewahan, tanggung jawab—semua berkontribusi membentuk Julian versi sekarang.
Marco muncul dari arah pit wall, tablet di tangan. “Set-up sudah sesuai permintaanmu. Hanya ingat, ini bukan tes lagi.” Julian menatap motor, lalu mencondongkan tubuh sedikit, menyentuh tangki seakan memberi hormat. “Aku tahu.”
Lampu merah menyala. Mesin meraung. Bau bensin dan karet terbakar menusuk hidung, membuat setiap pembalap menahan napas. Lima lampu… empat… tiga… dua… satu… padam.
Julian membuka gas perlahan tapi mantap. Rival Italia dari Mugello muncul di sebelahnya, menyenggol motor Julian dengan provokasi halus, mencoba membuatnya bereaksi. Julian tersenyum tipis, cukup untuk lawan tahu ia sadar, tapi tidak terganggu.
Lap pertama sudah kacau. Beberapa pembalap terlalu agresif, beberapa terlalu berhati-hati. Julian memilih ritme tengah. Tikungan pertama ia lalui dengan trail braking halus, menahan rem sedikit lebih lama agar beban depan motor stabil. Tikungan kedua, ia melakukan cutback apex—gerakan sedikit lebih dalam, motor keluar lebih cepat tanpa mengurangi stabilitas.
Di pit wall, Marco menatap telemetri. “Setiap gerakan… presisi. Dia tidak agresif, tapi konsisten.”
Sementara itu, rival Italia menatap dari tribun VIP. Bibirnya tersenyum tipis, mata tajam. “Dia terlihat santai, tapi setiap input, setiap garis… itu strategi. Bukan kebetulan.”
Julian mulai membaca lawan di lap kedua dan ketiga. Tikungan cepat ketiga, rival mencoba dive-bomb. Julian tidak panik. Ia menggeser motor sedikit, cutback halus, rival gagal menyalip. Penonton mulai bersorak, beberapa bahkan berdiri. Clara menahan senyum, menatap Julian dari jauh. Ia bangga, tapi juga sedikit cemas karena ia tahu risiko yang dihadapi Julian.
Lap keempat dan kelima, Julian mulai merasakan tubuhnya bekerja ekstra. Otot leher pegal, pergelangan tangan tegang. Napasnya mulai berat. Ia menyesuaikan posisi di tangki motor, memiringkan tubuh sedikit untuk mengurangi drag, tetap menjaga grip ban.
Di tribun, wartawan internasional mulai menyorot Julian. “Anak konglomerat yang bukan hanya balap untuk sensasi,” komentar salah satu reporter. “Ini balapan matang, bukan sekadar kejar headline.”
Julian mendengar itu, tapi ia menahan diri. Tidak ada euforia, tidak ada kesombongan. Ia tahu satu kesalahan kecil di tikungan bisa berakibat fatal. Ia mengingat kata-kata Clara: “Jangan habiskan hidup hanya di motor.” Napasnya menenangkan diri, fokus kembali ke lintasan.
Di lap keenam, rival Italia berusaha menekan Julian di straight panjang, memancingnya bereaksi agresif. Julian tetap tenang. Ia menahan diri, menunggu kesempatan yang tepat.
Tikungan terakhir lap ketujuh, Julian menemukan celah. Cutback sempurna, motor tetap stabil, rival gagal menyalip. Penonton bersorak keras, sorakan yang menggetarkan tribun VIP. Clara menutup mulutnya, menahan kegembiraan, tapi matanya bercahaya penuh bangga. Julian tersenyum tipis di balik helm, adrenalin mengalir tapi fokus tetap maksimal.
Lap pertengahan, Julian mulai naik beberapa posisi. Ia tidak melakukan manuver spektakuler, tetapi setiap gerakan halusnya membuat lawan kehilangan ritme. Salah satu veteran mencoba menyerang di tikungan cepat, tapi Julian menggeser sedikit motor, throttle gradual, motor keluar lurus, lawan gagal menyalip. Elegan, tapi mematikan.
Di pit wall, Marco menatap angka telemetri dan mencatat, “Dia membuat tim ini belajar, bukan sekadar menonton.”
Sore itu, lap terakhir datang. Julian berada di lima besar, posisi yang cukup membuktikan skill dan strategi. Rival Italia terlihat frustrasi. Ia membuka gas penuh, mencoba memancing Julian melakukan kesalahan. Tapi Julian tetap tenang, tidak terbawa emosi, menjaga ritme, dan menunggu celah yang aman.
Di tikungan terakhir, ia melakukan cutback sempurna lagi. Motor tetap stabil. Rival gagal menyalip. Napas Julian berat, tapi matanya fokus. Motor melewati garis finish.
Pit lane penuh keramaian, namun Julian turun perlahan. Punggung pegal, tangan gemetar tipis, tapi senyum tipis tetap muncul. Marco menepuk punggungnya, setengah berbisik, “Kau bukan hanya wildcard. Kau pembalap sejati.”
Malam itu, Julian duduk di balkon motorhome, secangkir kopi hangat di tangan. Clara berdiri di sampingnya. “Kau luar biasa malam ini,” katanya lembut. “Tapi jangan lupa… hidupmu juga penting.” Julian menatap kota Losail yang terang, motor di garasi, langit malam yang jernih, dan tersenyum. “Tenang… aku masih manusia.” Clara memeluknya sebentar, dan Julian merasakan keseimbangan yang jarang ia rasakan: antara balapan dan hidupnya sendiri.
Dari tribun jauh, rival Italia menatap. Bibirnya tersenyum tipis, mata tajam. Ia tahu satu hal: Julian Ashford bukan hanya anak kaya atau wildcard. Ia ancaman nyata.
.
Sirkuit Termas de Río Hondo pagi itu diguyur matahari yang sudah mulai panas.
Julian berdiri di tepi pit, menatap motor Desmosedici-nya yang merah mengkilap.
Suasana di paddock lebih tegang daripada hari pertama musim resmi.
Media internasional sudah menunggu, kamera mengintai, komentar berseliweran:
"Anak konglomerat yang mencoba balap profesional. Apakah dia mampu menghadapi tekanan?"
"Wildcard musim lalu kini jadi ancaman nyata. Bisa Julian Ashford bertahan di MotoGP sungguhan?"
Julian menutup visor sebentar. Napas dalam, fokus. Ia tahu ini bukan lagi uji skill atau tes motor. Ini pertarungan mental, strategi, dan konsistensi.
Clara duduk di tribun VIP, tersenyum tipis tapi matanya tetap cemas.
“Jangan terlalu keras sama diri sendiri,” katanya pelan.
Julian menoleh, tersenyum singkat. “Tenang… aku tahu batasku sekarang.”
Lampu grid menyala. Rival Italia yang sama dari Mugello menatap Julian di sebelah.
“Siap untuk belajar lebih banyak tentang cara aku balap?” Julian bergumam di dalam helm, nada santai tapi penuh tantangan.
Lampu merah padam. Start.
Rival Italia mencoba memancing agresi Julian sejak straight pertama. Ia sengaja menempel ketat, mencoba menekan, menyenggol motor Julian dengan halus.
Julian tetap tenang, membuka gas perlahan tapi progresif, menjaga ritme. Di tikungan pertama, ia menahan rem lebih lama dari lawan, motor keluar lebih cepat. Rival Italia terlihat frustrasi.
Lap kedua dan ketiga, tekanan makin terasa.
Pembalap veteran mencoba menyalip Julian, memaksakan line agresif. Julian merasakan motor sedikit understeer, tapi body positioning dan throttle control sempurna membuat motor tetap stabil. Ia menyalip balik dengan cutback halus, keluar tikungan lurus, posisi tetap aman.
Di pit wall, Marco berbisik pada engineer:
“Lihat dia? Tidak panik, tidak gegabah. Setiap gerakan… dihitung.”
Engineer mengangguk, mata menatap telemetri. “Skillnya… bukan kebetulan. Ini latihan seumur hidup yang membuahkan hasil nyata.”
Lap kelima. Rival Italia mulai menekan lebih keras.
Ia sengaja menutup jalur Julian di tikungan cepat, mencoba membuatnya melakukan kesalahan. Julian tersenyum tipis di balik helm. Ia tahu strategi lawan: membuatnya panik dan membuka throttle terlalu cepat, supaya motor kehilangan grip.
Julian memilih menahan diri. Di tikungan kedua, ia melakukan trail braking halus sambil menyesuaikan sudut lean, motor tetap stabil. Rival gagal menyalip, sementara penonton bersorak.
Momen ringan tapi penting muncul saat lap ketujuh.
Julian kembali ke tribun VIP, meski hanya di dalam pikirannya. Ia membayangkan Clara tersenyum, memberi semangat, dan ia tahu kenapa ia tetap fokus tapi santai. Ia menarik napas panjang, mengatur denyut jantung, menyesuaikan tekanan pada setang, dan masuk tikungan ketat dengan precision perfect.
Di luar lintasan, wartawan dan penonton mulai berspekulasi.
“Dia terlihat santai, tapi ketenangannya membuat rival bingung.”
“Anak kaya? Mungkin. Tapi skillnya jelas… bukan pura-pura.”
Lap kesepuluh. Julian berada di grup depan. Rival Italia semakin agresif. Ia membuka gas penuh di straight panjang, mencoba memancing Julian menyalip secara berisiko. Julian tetap tenang. Ia menunggu celah aman, membaca lawan, dan melakukan cutback apex di tikungan terakhir, motor tetap stabil. Posisi tetap aman, rival frustrasi.
Di pit wall, Marco tersenyum tipis. “Dia tidak terburu-buru, tapi efektif. Setiap manuver… tepat sasaran.”
Lap terakhir. Julian berada di podium virtual lima besar.
Tidak podium sebenarnya, tapi cukup membuktikan bahwa Julian Ashford adalah pembalap matang, cerdas, dan stabil, bukan anak kaya yang kebetulan punya motor cepat.
Setelah race, Julian duduk di balkon motorhome, Clara menyerahkan kopi hangat.
“Kau luar biasa malam ini. Tapi jangan lupa… hidupmu juga penting.”
Julian menatap kota Termas de Río Hondo, lampu kota berpendar di bawah. Ia tersenyum tipis.
“Tenang… aku masih manusia,” katanya pelan.
Di tribun jauh, rival Italia menatap, bibir tersenyum tipis tapi mata tajam.
Ia tahu satu hal: Julian Ashford bukan hanya anak kaya, bukan wildcard. Ia ancaman nyata, dan musim baru ini baru saja benar-benar dimulai.