"Benarkah keberuntungan selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan? Dan apakah nasib buruk adalah sinonim mutlak bagi kesengsaraan?
Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana, namun memiliki daya hancur yang cukup untuk membuat manusia memalingkan wajah dalam penyangkalan. Secara insting, kita telah terprogram untuk memuja hal-hal baik sebagai satu-satunya sumber kepuasan. Sebaliknya, saat nasib buruk mengetuk pintu, manusia cenderung mendustakannya—bahkan dengan keras mendoktrin diri bahwa itu adalah 'kesialan' yang tidak seharusnya ada.
Namun, apakah persepsi umum tersebut adalah sebuah kebenaran universal?
Mungkin bagi sebagian besar orang, jawabannya adalah iya. Namun bagi mereka yang memahami cara kerja semesta, pandangan itu sungguh disayangkan.
Sebab di balik setiap keberuntungan yang kita rayakan, selalu ada harga yang tersembunyi. Dan di balik setiap kesialan yang kita benci, mungkin tersimpan satu-satunya jalan menuju sesuatu yang tidak kita bayangkan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Neraka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menahan..
Di dalam palung jiwa yang kelam itu, Scarlette terjebak dalam badai yang mengerikan. Ia menyaksikan fragmen-fragmen kematian berjatuhan layaknya hujan hitam yang tajam dan beracun.
Di setiap serpihan ingatan yang melintas, wajah-wajah yang asing bagi dunianya... namun merupakan napas bagi Andersen, tumbang satu per satu.
Bukan sekadar bayangan sebuah ingatan, melainkan ganasnya serangan emosi yang sangat murni.
Sakit yang menghujam, kekecewaan yang meruntuhkan harga diri, dan sebuah kehampaan yang menggigit hingga ke sumsum tulang.
Frekuensi penderitaan Andersen menghantam kesadaran Scarlette.
Setiap rasa perih yang pernah menyayat saraf Andersen kini merambat, menjalar melewati dan menghubungkan antara batin mereka.
Gadis itu merasa seolah jantungnya sendiri sedang diremas oleh tangan-tangan besi yang dingin dan tak kasat mata. Sebuah serangan jantung yang mencuri seluruh kesempatan yang dimilikinya untuk bertahan.
"Cukup..." bisik Scarlette seraya menarik paksa kesadarannya keluar.
Scarlette terengah-engah. Dadanya naik-turun dengan tidak teratur, seolah paru-parunya baru saja dipaksa menghirup abu dari sisa-sisa kehancuran.
Ia menatap pria yang masih berada di atasnya. Andersen tetap diam, terperangkap dalam sisa-sisa trans yang mematikan. Namun, di sana, dari sudut matanya yang masih menatap kosong, butiran air mata mulai luruh.
Air mata itu jatuh satu demi satu... hangat, asin, dan sangat menyedihkan. Cairan itu merambat perlahan, membasahi pipi Andersen hingga merembes ke celah jemari Scarlette yang masih menempel di sana.
Pria itu tidak meraung, tidak juga tersedu, namun air mata itu berbicara lebih keras daripada teriakan mana pun. Itu adalah tangisan dari sebuah jiwa yang sudah terlalu lelah untuk sekadar mengeluh.
"Apa yang... kamu lakukan kepadaku?.."
Suara Andersen kembali, pecah dan parau, saat kendali Scarlette atas dirinya menguap. Kesadarannya kembali seperti ombak yang menghantam karang. Ia merasakan kelembapan di wajahnya dan kelemahan di otot-ototnya.
"Mengapa aku menangis?..." bisiknya pelan, kebingungan menyelimuti wajahnya yang pucat. lelaki itu menatap Scarlette, bukan lagi dengan tatapan yang sedang mengancam, melainkan dengan tatapan seorang anak yang tersesat di tengah badai.
Andersen sama sekali tidak menyadari badai apa yang baru saja diledakkan Scarlette di dalam kepalanya. Baginya, kenyataan seolah bergeser dari porosnya.
Tubuhnya seakan bukan lagi miliknya, raga itu bergerak secara sendirinya, ditarik oleh gravitasi gairah yang gelap dan tak terelakkan.
Jarak di antara mereka terkikis hingga hanya tersisa beberapa milimeter. Sebuah ruang yang panas di mana napas mereka bertautan, berada tepat di ambang sebuah kecupan yang tidak pernah lelaki itu rencanakan.
Nafsu yang bukan miliknya membakar raga Andersen, seolah tubuh itu ingin "memangsa" gadis di bawahnya, meski jauh di lubuk hatinya, jiwa Andersen sedang menjerit menolak tindakan hina ini.
Tepat sebelum bibirnya menyentuh milik Scarlette, sebuah geraman pecah dari tenggorokan Andersen. Suara parau yang terdengar lebih seperti rintihan binatang terluka daripada sebuah godaan.
Otot-otot lengannya menegang hingga urat-uratnya menonjol, gemetar hebat karena tekanan yang luar biasa.
Andersen sedang melawan dirinya sendiri, mengerahkan sisa-sisa kemauan terakhirnya untuk menahan berat tubuhnya agar tidak jatuh lebih dalam ke dalam godaan tersebut. Keringat dingin menetes dari dahi Andersen, jatuh ke atas pipi Scarlette, menjadi saksi bisu atas sebuah perjuangan moral di tengah kehancuran mental yang total.
"Jangan melawan..." bisik Scarlette, suaranya terdengar seperti desiran yang mematikan. Ia tidak tampak takut; sebaliknya, matanya menatap Andersen dengan tatapan dingin yang berjarak.
"Ini adalah bayaran atas apa yang baru saja kulakukan pada jiwamu. Tubuhmu akan dipaksa untuk meniduriku, meski aku tahu jiwamu tidak menginginkannya."
"Biarkan instingmu mengambil alih."
Dengan gerakan yang tenang namun penuh tenaga, Scarlette menarik kerah baju Andersen. Ia menggunakan kekuatannya untuk menyeret pria itu lebih dekat, memaksanya masuk ke dalam sebuah dekapan yang paling tidak diinginkan oleh Andersen.
Ruangan itu kini hanya dipenuhi oleh napas yang memburu dan aroma melati yang mencekik. Scarlette tidak mencari gairah; ia sedang mencari jawaban.
Gadis itu ingin melihat sejauh mana, lelaki yang telah kehilangan segalanya ini bisa mempertahankan jati dirinya.. di tengah badai insting yang dipicu secara paksa.
Ia ingin tahu, apakah cinta Andersen pada bayangan masa lalu lebih kuat daripada dorongan biologis yang sedang ia nyalakan sekarang.
"Cih... kau pikir... kau benar-benar bisa mengendalikan diriku?" desis Andersen. Suaranya terdengar seperti gesekan bilah pedang yang berkarat, berat dan penuh perjuangan.
Otot-otot di leher dan lengannya menonjol, bergetar hebat saat ia memaksa sarafnya untuk memutus perintah dari Scarlette. Dalam sebuah hentakan kehendak yang luar biasa, Andersen berhasil memaku tubuhnya sendiri di udara, menolak untuk jatuh lebih dalam ke dalam dekapan Scarlette yang menjerat.