NovelToon NovelToon
Di Manja Suami Om-Om

Di Manja Suami Om-Om

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cinta setelah menikah / Cintamanis
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Erunisa

Nara tak pernah membayangkan hidupnya berubah jauh. Dari gadis yang diremehkan karena nilai akademik, kini ia menjadi istri pria mapan yang usianya terpaut jauh darinya.
Arkan, sosok dingin dan misterius, justru memanjakan Nara tanpa syarat. Namun menikah bukan akhir perjuangan, kelas sosial, tekanan keluarga, dan mimpi Nara yang belum selesai menjadi ujian terbesar.
Apakah Nara hanya akan menjadi istri yang dimanja, atau perempuan yang tetap berdiri dengan mimpinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Selesai dengan perkenalan, Arkan kembali membawa istrinya masuk ke dalam ruangannya.

Begitu pintu ruang kerja tertutup kembali, Arkan langsung menyilangkan tangan di dada.

"Sayang, kamu pulang kampus kok telat?” Nada suaranya bukan marah tapi jelas khawatir bercampur posesif. Arkan sudah mau bertanya dari tadi, tapi perutnya sudah lapar. Jadi memilih menundanya.

Nara refleks mengangkat bahu kecil.

“Bukan sengaja, sayang. Tadi ada kejadian di kelas.”

Arkan menatap Nara, memberi isyarat agar ia melanjutkan ceritanya.

Dengan ekspresi gemas bercampur kesal, Nara mulai bercerita panjang lebar.

“Ada anak sok banget, namanya Naumi. Dia bilang aku miskin, terus pura-pura gelangnya ketarik aku sampai rusak.” Nara memulai ceritanya dengan menggebu-gebu.

“Terus semua nyuruh aku ganti rugi.” lanjut Nara.

Arkan mengernyit. “Dia pikir kamu nggak mampu bayar?” tanya Arkan.

“Iya! Terus dia bilang harganya sepuluh juta!” Nara mendengus lucu.

“Kayak nggak normal aja gelang sekecil itu sepuluh juta. kayaknya gelang itu juga bukan berlian.” kata Nara dengan wajah yang sangat terlihat kesal.

Arkan yang sedari tadi serius malah tersenyum. Bahkan nyaris tertawa. Menurut Arkan, cara Nara mengomel polos seperti itu terlalu menggemaskan.

“Terus?” tanya Arkan lembut.

“Ya sudah aku transfer aja. Langsung sepuluh juta. Mukanya langsung kayak habis kesedak bakso.”

Arkan terkekeh kecil. “Jadi sudah diganti?”

“Sudah lah. Malu dia. Kirain aku nggak punya uang.”

Arkan mengelus kepala Nara penuh sayang. “Kamu hebat.”

“Hebat apanya, aku cuma kesel aja dianggap remeh, tapi kan jadi uang sepuluh juta melayang sia-sia, kalau aku ngga janjian sama kamu mau makan siang bareng, mending aku berdebat menyelamatkan uang sepuluh juta!”

“Justru itu,” Arkan tersenyum hangat.

“Kamu nggak pamer, tapi juga nggak mau diinjak.”

Nara manyun kecil. “Aku males ribut, lagian tadi pagi suamiku sudah mentransfer banyak uang.” jawab Nara.

Dan sikap itulah yang makin membuat Arkan jatuh cinta. Polos. Jujur. Tapi berani saat perlu.

Sedangkan di luar ruangan CEO. Bisik-bisik masih belum berhenti.

“Itu pasti lagi dimanja Pak Arkan.”

“Fix, tiap hari tidur dipeluk bos.”

“Pantes glow terus.”

“Masih muda tapi hidupnya langsung sultan.”

Beberapa wanita menghela napas iri.

“Enak banget hidupnya…”

Mereka tidak tahu, di balik pintu itu, Nara sedang bercerita dengan ekspresi lucu, dan Arkan menatap istrinya seperti harta paling berharga di dunia.

Bukan sekadar istri CEO. Tapi cinta hidupnya.

***

Malam harinya, rumah Arkan kembali tenang setelah makan malam bersama. Arkan duduk di sofa sambil mengecek beberapa email kerja, sementara Nara sudah kembali ke dunia kecilnya, buku sketsa dan pensil kesayangan.

Tangannya bergerak cepat. Garis demi garis terbentuk. Blazer rapi. Rok pensil elegan. Kemeja dengan potongan unik tapi sopan.

Bayangan karyawan di kantor Arkan tadi siang terus terlintas di kepala Nara.

“Kalau baju kerja dibuat lebih cantik tapi tetap nyaman…” gumam Nara pelan.

Imajinasi Nara mengalir tanpa henti.

“Sekarang aku punya uang… bisa beli kain bagus… bisa jahit sendiri…” Mata Nara berbinar.

“Terus promosinya gampang… pakai karyawan suami saja,” pikir Nara sambil terkekeh kecil.

Tanpa sadar, senyum lebar terukir di wajah Nara.

Dari sofa, Arkan memperhatikannya. Sejak menikah, Arkan suka melihat Nara tenggelam dalam dunianya sendiri, fokus, serius, tapi tetap menggemaskan.

“Kok senyum-senyum sendiri?” tanya Arkan sambil mendekat.

Nara tersentak kecil. “Eh… enggak apa-apa.”

“Bohong,” Arkan duduk di samping Nara. “Kalau senyum kayak gitu biasanya ada rencana nakal.”

Nara terkikik. “Bukan nakal… cuma lagi ada ide.”

“Ide apa?” tanya Arkan.

Nara menggeleng cepat. “Nanti dulu. Belum jadi.”

Arkan menatap buku sketsa yang penuh gambar pakaian formal.

“Ini keren,” ujar Arkan jujur. “Kamu bikin semua ini sendiri?” tanya Arkan.

Nara mengangguk malu. “Cuma iseng…”

“Iseng kamu level desainer.” Arkan tersenyum bangga.

“Kapan pun kamu mau seriusin, bilang. Aku dukung penuh.” kata Arkan.

Hati Nara langsung hangat. Ia kembali menunduk ke sketsanya, tapi kali ini senyumnya lebih lebar.

Untuk pertama kalinya dalam hidup Nara, Mimpinya terasa mungkin.

Nara tenang berada di dalam rumah, dan tidak tahu kalau di luar sana, nama Nara sedang panas.

Foto Nara masuk ke mobil mewah tersebar di hampir semua grup kampus. Caption-nya kejam.

“Mahasiswi beasiswa tapi naik mobil sultan?”

“Katanya miskin, kok transfer 10 juta gampang banget?”

“Fix simpanan om-om.”

“Pantes bisa sok kaya.”

Komentar demi komentar berdatangan tanpa ampun.

Ada yang pura-pura prihatin. Ada yang terang-terangan menghina. Ada juga yang iri tapi bersembunyi di balik gosip.

Status Nara sebagai penerima beasiswa justru memperparah.

“Beasiswa buat orang miskin malah dipakai foya-foya.”

“Harusnya dicabut.”

Fitnah berkembang liar.

Sementara itu, Nara sama sekali tidak tahu.

Ponsel Nara penuh notifikasi, ratusan, bahkan ribuan pesan, tapi Nara terlalu malas membuka grup.

Baginya, grup kampus hanya berisi gosip dan tugas dadakan. Sampai akhirnya, ponsel Nara berdering.

Nama Sandra muncul. Satu-satunya teman yang bisa dibilang agak dekat.

Nara mengangkatnya santai.

“Halo, San?”

“Nara…” suara Sandra terdengar panik.

“Kamu sudah lihat grup kampus belum?” tanya Sandra.

“Belum. Kenapa emang?”

“Kamu viral…” jawab Sandra.

Nara mengernyit. “Viral apaan?”

“Kamu difoto naik mobil mewah. Terus soal uang sepuluh juta itu juga keangkat. Sekarang semua bilang kamu simpanan om-om.”

Hening sejenak, Jantung Nara serasa jatuh.

“Apa…?”

“Mereka jahat banget, Ra. Banyak yang minta beasiswamu dicabut. Ada yang bilang kamu penipu.”

Tangan Nara mulai gemetar. “Serius?”

“Iya. Grup rame banget. Aku sampai keluar karena nggak kuat bacanya.” jawab Sandra.

Nara menelan ludah. setelah itu ia membuka salah satu grup. Ratusan pesan menghujani layar. Fitnah. Cibiran. Hinaan.

Mata Nara terasa panas. Bukan karena marah saja, tapi karena sakit.

“Aku cuma naik mobil suamiku…” bisik Nara lirih.

Sandra terdiam sejenak. “Suami?” tanya Sandra kaget.

“Iya, San… aku sudah menikah.” jawab Nara.

Di seberang sana terdengar napas Sandra tercekat.

“Ya Tuhan… pantesan…”

“Nara, kamu harus jelasin. Ini bisa bahaya kalau kampus percaya gosip.” lanjut Sandra.

Nara memejamkan mata. Mencoba memikirkan solusi dan akhirnya memilih menutup sambungan telepon dengan Sandra.

Setelah panggilan dengan Sandra terputus, Nara masih menatap layar ponselnya yang penuh notifikasi tanpa niat membukanya satu per satu.

Dadanya memang sempat sesak. Tapi perlahan, rasa itu berubah jadi tenang.

Bukan karena Nara tidak peduli, melainkan karena ia sadar satu hal penting. Ia tidak salah apa pun.

Nara meletakkan ponselnya di meja, lalu bersandar ke sofa.

“Ngapain juga aku capek-capek jelasin ke orang yang memang mau salah paham,” gumam Nara pelan.

Di kepalanya tiba-tiba muncul ide iseng, tapi elegan. Senyum kecil terukir di bibirnya.

“Biarin aja,” bisik Nara.

“Kalau sampai kampus manggil aku, sekalian saja aku bawa suamiku. Malah seru!" pikir Nara.

"Biar mereka lihat langsung siapa om-om yang mereka maksud." Nara tersenyum geli.

"Biar mereka tahu kalau aku bukan simpanan, tapi istri sah." kata Nara lagi.

Nara ingat betul foto itu. Tadi siang, ia cuma turun sebentar beli kopi sebelum sampai kantor suaminya.

Mobil yang membawanya hanya parkir sebentar. Dan entah siapa yang diam-diam memotret.

“Orang lagi beli kopi juga difitnah,” dengus Nara gemas.

Alih-alih sedih, Nara justru makin tenang. Ia meletakkan ponselnya dan kembali ke buku sketsanya.

“Fokus mimpi saja, Nara. Hidup kamu sekarang terlalu berharga buat dipakai mikirin gosip murahan.” Nara menenangkan dirinya sendiri.

Di luar sana, badai gosip makin besar. Tapi di dalam rumah, Nara justru tersenyum kecil, tenang, seolah berkata. Silakan ribut. Nanti juga kalian kaget sendiri.

Dan tanpa disadari para penggosip, Langkah mereka sebentar lagi akan berhadapan langsung dengan CEO dingin yang sangat protektif pada istrinya.

Skakmat sedang menunggu waktunya.

1
Risma Surullah
alurnya bagus
Mita Paramita
hempaskan pelakor 🤣🤣🤣
Drama Queen
lanjut
piah Hasan
1001 ya cara pwrempuan mau jadi pelakor..
Uthie
keep dulu ya 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!