Greta Oto Wright terlahir sebagai putri dengan mata yang berbeda warna (Heterochromia) sama seperti ayahnya, sebuah tanda yang diyakini membawa nasib buruk. Sejak dalam kandungan, seekor kupu-kupu kaca tembus pandang telah berterbangan di sekitar istana, seolah-olah menjaga dan mengawasinya.
Ketika tragedi menimpa kerajaan, Greta menjadi terisolasi, terperangkap oleh mitos, ketakutan, dan rahasia orang-orang terdekatnya. Dalam keheningan dan keterasingan, ia perlahan menyadari bahwa apa yang disebut kutukan itu mungkin adalah kekuatan yang tersembunyi dari dunia.
Note: Non Romance
Follow ig: gretaela82
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greta Ela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Grace, ternyata kau?
Thaddeus menyadari perubahan itu bukan dari satu peristiwa besar, melainkan dari hal-hal kecil yang terus berulang.
Greta tidak lagi keluar castle untuk melihat Thaddeus memanah atau keluar bersama ayahnya.
Sekarang, Greta selalu ada di kamar. Tempat yang aman menurut Arion untuk menyembunyikan Greta dari orang luar.
Awalnya Thaddeus merasa lega. Ia tidak perlu lagi mengkhawatirkan Greta tersesat, terjatuh, atau mendengar bisikan rakyat.
Ia tahu, jauh di dalam hatinya, keputusan ayahnya adalah bentuk perlindungan. Greta aman dan tidak ada yang bisa menyentuhnya.
Dibalik rasa lega itu, ada sesuatu yang lain, sesuatu yang membuat dadanya terasa tidak nyaman. Perasaan yang tidak ingin ia akui.
Sebenarnya Thaddeus masih ada rasa iri pada Greta. Adiknya itu selalu diperhatikan hampir setiap menit.
Thaddeus dulunya juga seperti itu, tapi setelah Greta lahir, Ia merasa seperti tersingkirkan. Tapi sebagai seorang kakak, Ia seharusnya harus merangkul adiknya. Bukan malah memojokkannya sama seperti rakyat diluar sana.
"Matanya tidak ada tanda pembawa sial." batin Thaddeus
...****************...
"Greta, coba tebak kakak bawa apa?" ujar Thaddeus menyembunyikan sesuatu dibelakang punggungnya.
Ingin merasa tidak memikirkan hal negatif, Thaddeus memilih untuk membuang pikiran iri dengkinya pada adiknya sendiri.
Sore itu, Thaddeus selesai belajar memanah, Ia melihat beberapa serangga yang hinggap dipermukaan daun.
Thaddeus berpikir pasti adiknya menyukai serangga jika Ia membawakannya untuknya.
"Kakak..." Ujar Greta sambil menyambut Thaddeus datang ke kamar.
"Coba tebak, Greta." ujar Thaddeus lagi
Greta memiringkan kepalanya kesamping dan berpikir sejenak lalu menggelengkan kepalanya menandakan Ia tidak tahu.
"Aku membawakan ini untukmu." ujar Thaddeus
Greta dengan senyum lebar mengambil toples kecil yang berisi dua capung jarum berwarna biru. Ia mendekatkan toples itu ke wajahnya dan capung itu langsung mengarah pada Greta.
"Kau suka?" Tanya Thaddeus memastikan
Greta mengangguk lalu memeluk kakaknya. Ia kemudian menunjukkan toples itu pada Chelyne.
"Makasih kakak." ujar Greta.
Greta dengan bangganya naik ke ranjang dan menunjukkan serangga itu pada ibunya.
"Ibu, kakak bawakan aku capung." ujar Greta.
Chelyne yang masih terbatuk-batuk hanya mengangguk dan mengelus kepala Greta.
"Ibu..." ujar Greta sedikit cemberut
"Iya sayang, ibu dengar." ujar Chelyne sambil meredakan batuknya.
"Kau suka capung, Greta?" tanya Chelyne
Greta mengangguk senang
"Iya, ibu aku suka." jawabnya.
Perlahan Greta turun dari ranjang lalu kembali pada Thaddeus yang sedang duduk disalah satu kursi.
"Kakak, kapan aku boleh keluar lagi?" tanya Greta sambil membawa toples yang berisi capung jarum itu.
Thaddeus terdiam sejenak.
"Belum tahu, Greta" jawabnya.
"Aku mau lihat kumbang lagi." gumam Greta, ada sedikit nada sedih.
Thaddeus menghela nafas pelan. Tak mungkin Ia mengatakan hal yang sebenarnya mengapa adiknya tidak boleh keluar dari castle
"Nanti kalau selesai memanah, kakak bawakan kumbang." ujar Thaddeus.
Greta mengangguk. Ia tidak merengek. Tidak menangis. Itu justru yang membuat Thaddeus merasa bersalah.
Anak seusianya seharusnya marah, ini Greta malah tidak.
...****************...
Malam-malam di Castle Castavia berubah menjadi sesuatu yang lain.
Thaddeus mulai sering terbangun. Bukan karena mimpi buruk, tapi karena suara batuk. Ia mendengar suara batuk ibunya dari kamarnya.
Batuk Chelyne tidak pernah benar-benar keras. Justru itu yang membuatnya mengganggu. Batuk yang tertahan. Seolah ratu itu menolak membangunkan siapa pun. Namun Thaddeus mendengarnya setiap malam.
Ia duduk di tepi ranjang, menunggu suara itu berhenti, menunggu napas ibunya kembali teratur. Kadang ia ingin bangun, ingin mengetuk pintu kamar orang tuanya, tapi sesuatu menahannya.
"Chelyne, batukmu semakin parah." ujar Arion
"Tidak. Seminggu lagi juga akan sembuh." bantah Chelyne.
Untungnya Chelyne tidak membangunkan Greta malam itu. Greta tidur memeluk toples capung yang diberikan kakaknya tadi, sementara toples yang berisi kumbang koksi itu diletakkannya diatas meja.
"Aku tidak ingin Greta terbangun." ujar Chelyne
Arion perlahan berdiri dari ranjang lalu mengambil segelas air untuk Chelyne.
"Minumlah, aku harap batukmu akan reda." ujar Arion.
...****************...
Hingga paginya, Grace kembali ke Castle Castavia bekerja seperti biasa.
Thaddeus selalu memperhatikan Grace yang membuat racikan obat ibunya. Yang Ia herankan kenapa tidak pernah datang pihak kesehatan untuk memeriksa ibunya secara langsung.
"Ayah," kata Thaddeus pagi itu, berpura-pura santai.
"Kenapa tidak pernah ada bidan yang datang untuk mengecek kesehatan ibu?"
Arion menoleh, lalu kembali pada dokumen di mejanya.
"Grace mengerti tubuh ibumu," jawabnya.
"Dia sudah lama mengurusnya."
Itu bukan jawaban yang memuaskan.
"Tapi sewaktu Greta belum lahir, ibu juga pernah batuk dan ayah selalu memanggil bidan yang membantu persalinan ibu dulu." ujar Thaddeus lagi
"Grace sudah lebih mengerti. Ayah tidak ingin siapapun lagi masuk ke castle ini."
Thaddeus mengerutkan keningnya. Jawaban ayahnya tidak masuk akal baginya.
Chelyne bukan perempuan sembarangan. Ia ratu. Ia harusnya mendapat perawatan terbaik. Bukan hanya ramuan dapur.
Thaddeus tidak melanjutkan. Ia menyimpan pertanyaannya.
Ia mulai memperhatikan Grace.
Bagaimana caranya Grace selalu tahu kapan Chelyne akan batuk.
Grace tidak pernah terlihat panik saat Chelyne batuk bahkan saat batuk darah waktu itu.
Setelah beberapa saat berbincang dengan ayahnya, Thaddeus memutuskan kembali memanah.
Tapi ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Didapur, ia melihat Grace meracik obat ibunya dengan bahan-bahan aneh.
"Apa itu?" batin Thaddeus
Thaddeus berdiri dibalik pintu supaya tidak kelihatan oleh Grace. Sambil mengaduk racikan obat, Thaddeus melihat ada sesuatu cairan yang ditambahkan ke obat itu.
Grace menuangkan obat itu ke gelas lalu perlahan mengantarkannya ke kamar.
"Yang Mulia harus minum semuanya," katanya.
"Kalau tidak, tubuh Anda tidak akan kuat."
Chelyn perlahan duduk diranjangnya. Menerima dengan tulus obat yang dibuatkan oleh Grace
"Aku sudah meminumnya," suara Chelyne terdengar lemah.
Grace tertawa kecil. "Sedikit lagi, Yang Mulia"
Chelyne menghabiskan satu gelas obat itu.
"Sudah, Grace. Terima kasih banyak." ujar Chelyne sambil memberikan gelas kosong.
Grace lalu menunduk dan permisi keluar dari kamar.
Di dapur, Thaddeus perlahan masuk dan memperhatikan racikan apa saja yang dibuat oleh Grace.
Mulai dari daun aneh berwarna biru, jahe, dan sebotol cairan yang dilihat oleh Thaddeus tadi.
Tepat saat Thaddeus ingin meraih botol itu, suara langkah kaki Grace terdengar. Thaddeus langsung dengan cepat bersembunyi dibawah meja.
"Oh, Ratu Chelyne yang terhormat. Tunggu saja pembalasan dendamku. Aku akan membuat keluargamu merasakan sakit yang ku rasakan sebelum putrimu Greta itu lahir." gumam Grace
Dan perkataan Grace itu didengar oleh Thaddeus. Ia menutup mulutnya dan jantungnya mulai berdetak cepat.
Perlahan, Grace mulai membereskan sisa-sisa bahan obat itu dan menyimpannya didalam toples lalu keluar dari dapur.
Setelah mendengar pintu tertutup, Thaddeus segera keluar dari bawah meja dan menenangkan diri.
"Jadi selama ini firasatku benar." gumamnya.