Melihatmu tersenyum lebar dibawah sinar mentari pagi, membuatku semangat menjalani hari.
Dandelion, adakah kesempatan untukku ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inar Hamzah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKU BAIK BAIK SAJA
Ruang tamu itu di isi oleh beberapa orang, termasuk Deya. Awalnya dia enggan untuk ikut masuk. Namun karena tak mungkin dia pulang sendiri dan meninggalkan Diana. Perempuan yang di yakini umur sepantaran Diana membuka suara dalam keheningan ruang itu.
“Abang belum ada kabar tante ?” Tanyanya pada Ani yang sibuk dengan potongan kue.
“Belum ada lagi, mungkin dia mengabari orang lain.” Jawabnya dan melirik ke arah Deya sekilas.
“Yang lain siapa ?” Tanya perempuan yang diketahui namanya adalah Rizka. “Oh, perempuan yang sudah menolak abang dua kali itu ? Perempuan yang tidak bisa mengambil keputusan tegas itu ? Dan abang mau maunya di gantung.” Paparnya yang semakin menggema.
Diana memandang Rizka dengan tatapan mengancam, namun tak diindahkannya. “Kenapa Na, aku benar kan. Perempua---.” Ucapan Rizka menggantung karena mulutnya sudah di bekap dengan tangan Diana.
Sementara Ani hanya memperhatikan Deya dengan tatapan yang tak bisa di artikan, dan memandang ke Rizka yang semakin kesulitan bernafas. Ani menatap Rizka dengan raut wajah kesal.
Deya cukup tersentak akan ucapan salah satu sepupu Rico. Dia tidak tahu harus bersikap seperti apa di antara mereka bertiga.
“Ehh, saya pamit dulu ya semuanya.” Pamit Deya dan segera beranjak dari tempat duduknya.
“Tunggu mbak De, saya ikut. Mau balik ke kosan sekalian.” Buru-buru Diana mengambil tasnya dan mencubit Rizka yang sudah membuat suasana semakin canggung. “Bu pamit dulu ya. Ayah kemana tapi ini ?” Tanya yang tak melihat keberadaan sang ayah.
“Iya, hati-hati ya kalian. Biasa kan jam segini harus ngurusin kebun.”
Setinggalnya Deya dan Diana dari rumah itu, kini hanya ada Ani dan Rizka yang masih duduk di sofa ruang tamu.
“Haduuuh Ka, kamu ya kalau ngomong mboh ya direm sedikit toh.” Nasehat Ani.
“Lah, memang kenapa tante. Saya kan nggak salah.”
“Iyaa, memang nggak salah. Tapi kamu ngomong di depan orangnya. Yo itu Deya yang disukai abang mu.” Jelas Ani dan meninggalkan Rizka sendiri.
Untuk kali pertama, Rizka melihat Deya langsung. Seketika wajah gadis itu berubah masam “Cantik sih.” Lirihnya.
***
Hari ini Rico kembali menginjakkan kakinya di ruang tamu rumah itu. Ruang yang sama tempat Deya berada bermingu-minggu yang lalu. Di lihat satu persatu bagiannya, seperti ia ingin melepas rindu pada rumah yang bukan hanya sekedar bangunan baginya.
“Assalamualaikum. Abang pulang.”
Terdengar suara yang menjawab salamnya dengan lembut, “Waalaikumussalam.” Langkah kaki yang di alasi sandal itu terdengar semakin mendekat. “Abang” sambut Ani dan memeluk putra sulungnya.
“Gimana keadaanya nak. Sehat ?”
“Tidak sepenuhnya bu.” Jawab Rico dan memilih duduk di sofa dengan wajah yang pucat.
Ani memperhatikannya dan langsung menyadari perubahan anaknya. “Kamu sakit ?”
Ia menggeleng kemudian mengangguk. “Badan abang tidak karu-karuan rasanya.” Ia berdiri untuk menuju dapur hendak mengambil air.
Namun, saat akan melangkahkan kaki, pandangannya mendadak buram dan gelap. Rico terkapar dilantai tanpa aba-aba.
Melihat keadaan sang putra, membuat Ani panik dan berteriak memanggil Handoko yang sibuk dengan bibitnya dibelakang rumah.
“Ayaaah, abang ayaaah.” Teriaknya yang masih berusaha mengangkat sang putra.
“Ayaaaaah.” Teriakannya menggema ke seluruh ruangan, membuat Handoko berlari tunggang langgang.
“Abaang.” Panik handoko yang melihat Rico tak sadarkan diri dengan wajah yang semakin pucat.
“Kita kerumah sakit sekarang.” Ucap Handoko dan membopong Rico sekuat tenaga.
Sepanjang jalan menuju rumah sakit, Ani tak henti-hentinya memanggil sang putra. Di desaknya Handoko agar menambah kecepatan laju mobil yang sedang dikendarai. Wajahnya kini dibingkai air mata yang semakin deras mengalir.
***
Sesampainya di rumah sakit, Rico di berikan perawatan yang intensif, serangkain test lab dilakukan pada karena melihat kondisinya saat ini. Ia diharuskan untuk opname, mengingat kondisinya yang tak memungkin untuk kembali ke rumah.
Laki-laki yang sudah sadarkan diri sedari tiba di IGD itu dipindahkan ke ruang VVIP atas permintaan kedua orang tuanya. Jarum infus menempel ditubuh lemahnya bagai belalai Gajah yang menghubungkan serangkaian obat ke dalam tubuhnya.
Diana yang mendengar kabar bahwa abangnya sedang di rawat di rumah sakit, seketika langsung membawa diri nya dengan tergopoh-gopoh. Ia tahu betul resiko dari pekerjaan sang abang. Wajah paniknya menyusuri koridor ruangan VVIP itu dan tanpa perlu susah payah dia melihat sang ayah di depan ruangan sedang menelpon seseorang.
“Iya Sam, dia baik-baik saja. Aku mengabari mu saja jika kamu ingin datang membesuknya.”
Diana tak terlalu mendengar obrolan selanjutnya dari sang ayah, dia memilih untuk membuka pintu dan melihat keadaan Rico yang begitu pucat dan lemah.
“Abang.” Panggilnya dengan mata yang berkaca-kaca.
“Kemari dek.” Rico mengulurkan tangannya, seketika Diana berhambur dalam pelukan laki-laki yang terbaring di brangkar itu.
Ani mengelus punggung sang putri bermaksud untuk menenangkannya dari tangisan.
“Abang sakit apa ? Di tempat kerja abang nggak apa-apa kan ?” Tanyanya yang masih ada dalam pelukan sang kakak.
“Nggak apa-apa dek, abang hanya terlalu capek aja kok.” Jawab Rico jujur.
Test labnya menunjukkan bahwa dia baik-baik saja, namun imun tubuhnya menurun karena terlalu capek dalam bekerja dan sering begadang.
***
Malam itu Deya pulang dengan membawa lelah ditubuhnya, jam delapan malam dia baru tiba dirumah. Keadaan rumah begitu sepi, tidak seperti biasanya. Tidak ada makanan di meja makan, tidak ada suara televisi yang menyambut pulangnya. Tidak ada suara sang ayah yang menanyakan prihal keterlambatan pulangnya.
“Kok sepi, Nggak ada orang.” Sesaat setelah dia membuka pintu dengan kunci yang dibawanya. “Pada kemana ya ?” Tanya pada diri sendiri.
Ia membawa dirinya dengan berat ke kamarnya, berharap kedua orang tuanya ada di lantai atas. Dipanggilnya ayah dan ibu, tetapi tak ada sahutan. Dia memilih untuk membuka ponselnya yang sedari siang diabaikannya. Terdapat beberapa notif yang entah dari jam berapa tampil di layar depan ponselnya.
Pertama kali lihatnya ialah pesan dari Rico yang mengatakan bahwa ia telah kembali dari pekerjaannya.
Kemudian dia membaca bahwa kedua orang tuanya ke rumah sakit membesuk Rico.
Wajah panik tak bisa di sembunyikan, dengan segera dia menelpon laki-laki yang tengah berada di alam mimpinya itu.
“Assalamualaikum mbak De.” Salam seseorang setelah telpon tersambung.
“Waalaikumussalam Ana, Rico baik-baik saja ?”
“Baik-baik saja mbak, Cuma kecapek an kok. Mbak De mau ngomong, Ana bangungkan abang.” Saran Diana yang melangkahkan kakinya ke brangkar Rico dan membangunkan laki-laki itu.
Seulas senyum tulus tersemat di bibir Rico, tangannya mengubah menjadi panggilan video.
“Sakit apa ?” Tanya Deya setelah mereka saling melihat.
“Nggak apa-apa kok. Aku baik-baik saja. Kamu baru pulang, capek banget ya ?”
“Iya, baru aja sampai rumah, closing bulanan. Ayah sama ibu masih disitu kan ?”
“Sudah pulang dari beberapa waktu yang lalu.”
“Aku bersih-bersih dulu. Setelah itu aku ke tempat mu.” Deya hendak mematikan panggilan video mereka.
“Nggak usah De, kamu capek banget pasti. Kamu istirahat aja, besok-besok kan masih ada waktu.”
Deya hanya mengangguk dan mengakhiri panggilan mereka.
Setelah panggilan itu berakhir, Rico tersenyum begitu lebar.