Judul: White Dream With You
Sinopsis:
Sarendra selalu merasa dirinya tidak cukup menonjol. Dengan postur yang sedikit bungkuk dan rambut belah tengahnya yang rapi, ia lebih suka tenggelam dalam deretan angka di jurusan Akuntansi SMK Pamasta daripada harus berurusan dengan keramaian. Namun, sebuah insiden tali rafia yang putus di bawah terik matahari Surabaya mempertemukannya dengan Vema—gadis TKJ yang aromanya seperti sabun bayi dan keberaniannya setinggi langit.
Apa yang dimulai dari bantuan kecil di bawah pohon kersen, tumbuh menjadi rasa yang perlahan namun pasti. Butuh waktu tujuh bulan bagi Rendra untuk mengumpulkan keberanian, dan bagi Vema untuk membuka pintu hatinya. Mereka adalah dua kutub yang berbeda, namun saling menguatkan di tengah rintangan yang datang silih berganti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cokocha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13: Rekonsiliasi di Ambang Batas
Yang dipenuhi duri tak kasat mata. Netta tidak masuk sekolah karena trauma dan demam tinggi setelah kejadian semalam. Bagas dan Nadin tampak gelisah, mata mereka terus mengawasi sudut-sudut plafon, khawatir jika residu penjahit itu muncul kembali. Namun, Sarendra adalah yang paling tenang secara fisik, meski di dalam kepalanya, badai sedang mengamuk.
Di kantong seragamnya, Rendra menggenggam erat sehelai benang merah pekat yang ia temukan di mejanya tempoh hari. Benang itu terasa hangat, hampir seperti detak jantung yang lemah. Baginya, benang ini bukan lagi sekadar tanda bahaya, melainkan "tali" yang menghubungkan dirinya dengan Vema.
"Aku harus bicara sama dia, Din," ucap Rendra saat mereka bertiga berkumpul di depan Lab TKJ.
"Dra, kamu lihat sendiri kan kemarin dia lari?" Nadin memperingatkan. "Vema itu kalau sudah takut, dia bakal mengunci diri rapat-rapat. Apalagi setelah ibunya memberi peringatan keras."
"Tapi dia datang ke rumah Netta semalam," sahut Rendra tegas. Postur bungkuknya tidak lagi menunjukkan kelemahan, melainkan fokus seorang auditor yang sedang mengejar selisih angka yang hilang. "Dia bantu kita dari jauh. Itu artinya dia nggak pernah benar-benar pergi. Dia cuma pura-pura tidak peduli karena dia pikir itu cara terbaik untuk melindungi kita."
Bagas menepuk bahu Rendra. "Good luck, Dra. Kalau butuh bantuan buat nge-blokir jalan atau apa, bilang aja."
Strategi Sarendra dimulai. Dia tidak langsung mengejar Vema di koridor yang ramai. Dia tahu itu hanya akan membuat Vema semakin terpojok. Sebaliknya, Rendra menggunakan pengamatannya. Dia memperhatikan jadwal piket Vema, jalur yang ia ambil menuju kantin, hingga jam-jam di mana Vema biasanya menyelinap ke gudang belakang sekolah untuk mengerjakan jahitan tambahannya.
Kesempatan itu datang saat jam pelajaran Seni Budaya yang sedang kosong. Rendra melihat Vema berjalan sendirian menuju area taman belakang yang terbengkalai, tempat di mana pohon-pohon besar menaungi sebuah bangku kayu tua yang lapuk.
Vema duduk di sana, memeluk tas hitamnya, matanya menatap kosong ke arah akar pohon yang menonjol. Suasana di sana sangat sunyi, hanya ada suara jangkrik siang dan semilir angin yang membawa aroma tanah basah.
Rendra berjalan mendekat, langkah kakinya sengaja dibuat berisik agar Vema tidak terkejut. Vema langsung menoleh, wajahnya menegang saat melihat sosok berkacamata itu muncul dari balik semak.
"Dra... aku sudah bilang—"
"Aku tahu apa yang kamu bilang, Vem," potong Rendra dengan nada tenang. Ia tidak berhenti berjalan sampai ia berada tepat di depan bangku kayu itu. Ia tidak duduk, ia hanya berdiri di sana, menatap Vema dengan tatapan yang sangat jujur. "Kamu bilang kita beda dunia. Kamu bilang aku harus lupakan soal kamu. Kamu bilang kamu ingin aku aman."
Vema memalingkan wajah, jemarinya mencengkeram kain tasnya hingga memutih. "Lalu kenapa kamu masih di sini? Kamu hampir mati di rumah Netta semalam, Dra! Kamu nggak lihat apa yang dilakukan residu itu? Itu baru sisa-sisa, belum lagi kalau Ibu beneran marah."
Rendra mengeluarkan benang merah dari kantongnya dan mengulurkannya di telapak tangan. "Vem, lihat ini."
Vema tertegun melihat benang itu. "Dari mana kamu dapat ini?"
"Ini muncul di buku jurnal akuntansiku. Di kamarku yang terkunci," jawab Rendra. "Artinya apa? Artinya menjauh pun nggak berguna. Kamu mungkin bisa menutup pintu untukku, tapi 'dunia' itu sudah menemukan jalannya sendiri masuk ke kamarku. Jadi, buat apa aku lari kalau bahayanya sudah ada di bawah bantal tempat aku tidur?"
Vema terdiam, air mata mulai menggenang di matanya. Rasa bersalah terpancar jelas dari raut wajahnya. "Maafkan aku, Dra... ini semua salahku karena membiarkan kalian mendekat."
"Bukan salahmu," sela Rendra, kali ini ia duduk di ujung bangku, memberi jarak yang sopan namun cukup dekat untuk bisa mendengar napas Vema. "Vem, dengar. Dalam akuntansi, ada yang disebut dengan going concern—sebuah asumsi bahwa suatu entitas akan terus berjalan meski ada masalah, asalkan ditangani dengan benar. Aku nggak mau hubungan kita, atau persahabatan kita berlima, dianggap 'likuidasi' atau bangkrut cuma karena kita takut."
"Tapi Ibu... Ibu orang yang sangat keras, Dra. Beliau tahu segala sesuatu tentang benang-benang ini. Beliau bilang kamu orang luar yang nggak boleh tahu."
"Kalau begitu, jadikan aku 'orang dalam'," ucap Rendra mantap.
Vema menatap Rendra dengan kaget. "Apa?"
"Ajari aku, Vem. Jangan biarkan aku meraba-raba dalam gelap. Beritahu aku apa yang harus aku lakukan supaya kita bisa menghadapi ini sama-sama. Aku, Netta, Bagas, dan Nadin... kita sudah jadi 'Lingkaran Lima'. Kamu nggak bisa lagi mutus benang itu sendirian," lanjut Rendra. Ia memberanikan diri menyentuh ujung tas hitam Vema, sebuah tindakan yang sangat berani mengingat betapa sakralnya benda itu bagi Vema.
Vema merasakan getaran kejujuran dari Sarendra. Ia melihat pemuda di depannya—pemuda yang punggungnya bungkuk karena terlalu sering belajar, yang kacamatanya sering melorot, namun memiliki nyali yang lebih besar dari atlet basket mana pun di sekolah ini.
"Dra... kamu nggak tahu seberapa gelapnya rahasia keluargaku," bisik Vema, suaranya parau. "Ibuku bukan cuma penjahit. Beliau adalah 'penyeimbang' bagi orang-orang rakus di kota ini. Tas-tas ini... mereka adalah wadah untuk ambisi yang harus dibayar dengan sesuatu yang lain. Dan sekolah ini... SMK Pamasta adalah tempat pelanggan terbesarnya berada."
"Siapa dia, Vem?"
Vema menggeleng pelan. "Aku belum berani bilang namanya. Tapi yang jelas, dia bukan orang sembarangan. Dia yang memesan tas dengan 'benang nyawa'. Kejadian Netta semalam adalah peringatan dari pelanggan itu, bukan dari Ibuku. Ibuku hanya menyediakan alatnya, tapi pelanggan itulah yang menggerakkan bayangannya."
Rendra terkesiap. Jadi ada kekuatan lain yang lebih aktif daripada Ibu Vema. Intensitas percakapan mereka semakin dalam. Rendra bisa merasakan Vema mulai melepaskan sedikit demi sedikit tembok pertahanannya.
"Kalau gitu, kasih aku satu alasan buat tetap di sini, Vem," tantang Rendra lembut. "Kasih aku alasan kenapa aku harus terus bawa benang merah ini di kantongku."
Vema menatap mata Rendra cukup lama. Kesunyian di taman itu terasa sangat sakral. Perlahan, Vema meraih tangan Rendra, mengambil benang merah itu, lalu melilitkannya di pergelangan tangan Rendra dengan sebuah simpul yang rumit namun indah.
"Ini bukan perlindungan, Dra," ucap Vema pelan. "Ini adalah 'tanda'. Selama benang ini di tanganmu, kamu akan bisa melihat bayangan-bayangan itu sebelum mereka menyerang. Tapi konsekuensinya... kamu nggak akan pernah bisa kembali jadi orang luar lagi. Hidupmu akan selalu bersinggungan dengan duniaku."
Rendra menatap pergelangan tangannya. Benang merah itu seolah menyatu dengan kulitnya, memberikan rasa hangat yang menenangkan sekaligus waspada. "Aku terima konsekuensinya."
Vema akhirnya tersenyum—senyum tulus pertama yang benar-benar hangat sejak tragedi Riko. "Kamu beneran gila, Sarendra. Anak Akuntansi paling gila yang pernah aku kenal."
"Dan kamu anak TKJ paling misterius yang pernah aku bonceng," canda Rendra, mencoba mencairkan suasana.
Mereka duduk berdua di bawah pohon kamboja itu untuk waktu yang lama, membahas hal-hal kecil untuk menutupi rasa takut yang masih tersisa. Vema mulai menceritakan hobinya yang sebenarnya—ia suka menggambar desain pakaian yang normal, bukan tas-tas hitam yang menyeramkan. Rendra menceritakan tentang mimpinya ingin menjadi auditor yang bisa memberantas korupsi.
Dua dunia yang sangat kontras itu kini mulai menjahit kembali serpihan hubungan yang sempat terputus.
"Dra," panggil Vema saat bel masuk berbunyi.
"Ya?"
"Terima kasih... karena nggak lari. Meskipun aku sudah mengusirmu berkali-kali."
Rendra berdiri, membetulkan letak kacamatanya, dan untuk pertama kalinya ia mencoba berdiri setegak mungkin di depan Vema. "Dalam akuntansi, saldo itu harus nol di akhir hari, Vem. Dan saldo rasa terima kasihku ke kamu karena sudah menyelamatkan Netta semalam... itu masih besar banget. Aku nggak akan pergi sampai semuanya seimbang."
Vema tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat merdu di telinga Rendra. Mereka berjalan kembali menuju koridor sekolah secara terpisah agar tidak memancing kecurigaan, namun ada sebuah kesepahaman baru di antara mereka.
Namun, di balik jendela lantai tiga Gedung Utama, seseorang dengan pakaian rapi dan jam tangan mahal sedang memperhatikan mereka berdua. Sosok itu memegang sebuah tas hitam yang identik dengan buatan Ibu Vema, namun ukurannya lebih besar dan jahitannya jauh lebih rumit. Sosok itu tersenyum tipis—sebuah senyum yang tidak mencapai matanya.
"Lingkaran Lima ya?" gumam sosok itu, suaranya dingin dan berwibawa. "Mari kita lihat seberapa kuat benang mereka saat aku menarik simpulnya."
ada apa dgn vema
lanjuuut...