Kehidupan Swari hancur dua kali: pertama saat suaminya tewas, dan kedua saat seorang pria misterius merenggut kehormatannya di balik kegelapan kain penutup mata.
Swari yakin kalau mantan kakak iparnya yang memperkosanya, tapi ia tidak mempunyai bukti.
Di ambang keputusasaan untuk mengakhiri hidup, tangan seorang lelaki asing menyelamatkannya. Kini, Swari harus memilih: tenggelam dalam duka, atau bangkit bersama sang penyelamat untuk mengungkap siapa sebenarnya iblis yang telah mencuri jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Udara di depan sekolah dasar internasional itu mendadak terasa mencekam.
Yudha, pria berwajah keras dengan luka parut tipis di alisnya, baru saja memarkirkan mobil SUV hitamnya ketika ia melihat pergerakan mencurigakan.
Dua orang pria berjaket kulit kusam dengan tudung menutupi wajah mereka bergerak cepat mendekati Alex dan Alexandria yang sedang menunggu di gerbang.
"Alexandria, ayo ikut Om. Mama sudah menunggu di mobil," ucap salah satu preman dengan suara yang dipaksakan ramah.
Alex yang memiliki insting pelindung seperti seekor serigala kecil, langsung merentangkan tangannya di depan adiknya.
"Mama tidak pernah menyuruh orang asing menjemput kami! Pergi!"
"Anak kecil jangan banyak bicara!" bentak preman lainnya.
Dalam gerakan secepat kilat, preman itu membekap mulut Alexandria dengan sapu tangan berbau menyengat.
Alexandria hanya sempat membelalakkan mata sebelum tubuh mungilnya terkulai lemas.
"ALEXANDRIA!!!" teriak Alex histeris.
Ia mencoba memukul kaki preman itu dengan tas sekolahnya yang berat.
BUGH!
Sebuah hantaman keras mendarat di rahang preman yang memegang Alexandria.
"Lepaskan anak itu jika kamu masih ingin melihat matahari besok," geram Yudha.
Preman yang memegang Alexandria terhuyung, namun ia segera menyerahkan tubuh bocah itu kepada temannya.
"Bawa dia ke mobil! Cepat!"
Yudha tidak membiarkan itu terjadi. Ia melesat maju, melakukan tendangan memutar yang mengenai ulu hati lawan pertama hingga pria itu tersungkur memuntahkan cairan pahit. Namun, lawan kedua mengeluarkan sebilah pisau lipat.
"Jangan mendekat atau kusembelih anak ini!" ancam si preman sambil mengalungkan lengan di leher Alexandria yang tak sadar.
Alex berdiri membeku, air mata mengalir deras di pipinya.
"Om, tolong adikku!"
Yudha berhenti bergerak. Ia menurunkan tangannya, namun matanya tetap mengunci gerakan lawan.
"Kamu bekerja untuk Dimas, kan? Katakan padanya, menyentuh aset keluarga Surya adalah tiket satu arah menuju neraka."
Memanfaatkan kelengahan preman itu yang sedikit gentar mendengar nama keluarga Surya, Yudha mengambil sebuah pulpen taktis dari saku kemejanya dan melemparkannya dengan akurasi mematikan.
JLEB!
Pulpen itu menancap di bahu si preman. Pria itu memekik kesakitan, pegangannya pada Alexandria mengendur.
Yudha langsung menerjang, menangkap tubuh Alexandria dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya melayangkan pukulan upper-cut telak yang mematahkan rahang si penculik.
Kedua preman itu terkapar di aspal, tak berdaya. Yudha segera menggendong Alexandria dan menarik tangan Alex yang masih gemetar.
"Ayo masuk ke mobil. Kita harus pergi dari sini sekarang," ucap Yudha tegas.
"Siapa Om? Kenapa Om tahu nama kami?" tanya Alex sambil terisak, namun ia tetap mengikuti langkah Yudha karena merasakan aura perlindungan dari pria itu.
"Aku orang suruhan Tuan Baskara. Aku di sini untuk memastikan kalian aman," jawab Yudha singkat sambil mengunci pintu mobil secara otomatis.
Sementara itu, mobil Rolls-Royce Baskara tiba di sebuah vila mewah yang terisolasi di puncak bukit.
Kabut tebal mulai turun, menyelimuti bangunan bergaya Eropa itu dalam kesunyian yang dingin.
Baskara membawa Swari ke dalam kamar utama yang menghadap langsung ke arah lembah.
Ia merebahkannya di ranjang luas berkelambu sutra.
Baskara duduk di tepi ranjang, menatap wajah Swari yang masih terlelap.
Tangannya yang besar bergerak ragu, lalu perlahan mengusap pipi Swari.
"Kenapa musuh-musuhmu mulai bermunculan satu per satu, Swari? Dimas dan siapa lagi?" gumam Baskara.
Tiba-tiba ponsel Baskara bergetar. Sebuah pesan dari Yudha masuk:
"Tuan, upaya penculikan oleh orang-orang Dimas berhasil digagalkan. Alexandria terbius dan sekarang saya sedang perjalanan kesana." Ucap Yudha
Tak berselang lama Yudha datang membopong Alexandria yang masih belum sadarkan diri
Baskara membopong tubuh Alexandria das membawanya ke kamar atas yang sudah ia siapkan.
Baskara melihat kulit alexandria yang memerah di bagian mulut bekas sapu tangan yang membekapnya
Langkah Baskara terhenti sejenak saat melihat bekas kemerahan di wajah mungil Alexandria.
Rahangnya mengeras dan aura membunuh yang lebih dingin dari kabut Puncak menyelimuti ruangan itu.
Ia meletakkan Alexandria di atas tempat tidur dengan kelembutan yang kontras dengan kemarahan di matanya.
"Jaga mereka di sini. Jangan biarkan lalat pun masuk tanpa seizinku," perintah Baskara kepada Yudha dengan suara rendah yang menggetarkan nyali.
Baskara kemudian melangkah kembali ke kamar bawah, tempat Swari masih terlelap karena pengaruh bius.
Ia duduk di kursi kayu jati di samping ranjang, menatap Swari dengan perasaan yang campur aduk antara obsesi, rasa bersalah, dan amarah kepada Dimas.
Satu jam kemudian, jemari Swari mulai bergerak. Kesadarannya perlahan merayap kembali, membawa serta rasa pening yang luar biasa.
Hal pertama yang ia rasakan adalah aroma kayu pinus dan udara dingin yang menusuk kulit.
"Alex... Alexandria..." gumam Swari lirih, matanya masih terpejam.
"Mereka aman di lantai atas," suara berat Baskara menyapa, membuat Swari langsung tersentak bangun.
Swari mencoba duduk, namun kepalanya berdenyut hebat.
Ia memandang sekeliling dengan wajah yang panik.
Ia melihat kamar mewah yang asing, tirai beludru, dan sosok Baskara yang duduk dalam kegelapan sudut ruangan.
"Apa yang kamu lakukan?! Kenapa aku di sini? Di mana anak-anakku?!" pekik Swari.
Ia mencoba turun dari ranjang, namun kakinya masih terasa seperti jelly.
"Duduklah, Swari. Kamu masih di bawah pengaruh bius," Baskara bangkit dan mendekat, namun Swari mundur hingga punggungnya menabrak kepala ranjang.
"Kamu menculikku lagi! Kamu tidak ada bedanya dengan iblis itu!" teriak Swari dengan air mata yang mulai mengalir.
"Berikan anak-anakku!"
"Dimas mencoba menculik mereka di sekolah tadi," potong Baskara dengan nada datar namun tajam.
Kata-kata itu seketika membungkam histeria Swari. Jantungnya seolah berhenti berdetak.
"A-apa?"
"Orang-orang Dimas membekap Alexandria dengan obat bius di depan gerbang sekolah. Jika bukan karena orang-orangku, anak-anakmu mungkin sudah hilang sekarang," lanjut Baskara.
Ia berjalan menuju meja kecil, mengambil segelas air hangat dan menyodorkannya pada Swari.
Swari menutup mulutnya dengan kedua tangan, tangisnya pecah namun kali ini tanpa suara.
Ketakutan yang paling ia hindari akhirnya terjadi. Dimas benar-benar mengincar nyawa dan masa depan anak-anaknya.
"Aku membawamu ke sini karena ini tempat paling aman di Jawa Barat. Tidak ada yang tahu keberadaan vila ini kecuali aku dan orang-orang kepercayaanku," ucap Baskara.
Swari menerima gelas itu dengan tangan gemetar.
"Aku ingin melihat mereka. Sekarang."
Baskara menganggukkan kepalanya dan membimbing Swari menaiki tangga menuju kamar atas.
Di sana, Alex duduk di tepi ranjang sambil memegangi tangan adiknya yang masih tertidur. Wajah Alex yang tegang seketika luluh saat melihat ibunya.
"Mama!" Alex berlari dan memeluk pinggang Swari dengan sangat erat.
"Tadi ada orang jahat, Ma. Mereka bawa Alexandria!"
Swari berlutut, memeluk putra sulungnya itu sambil menciumi pucuk kepalanya.
"Maafkan Mama, Sayang. Maafkan Mama tidak ada di sana."
Pandangan Swari beralih ke Alexandria yang tampak pucat dengan bekas merah di sekitar mulutnya.
Kemarahan yang luar biasa mendidih di dadanya. Ia menoleh ke arah Baskara yang berdiri di ambang pintu, menatap mereka dalam diam.
"Kenapa kamu peduli, Baskara? Kenapa kamu sampai harus mengawasi anak-anakku?" tanya Swari.
"Karena sebentar lagi mereka berdua akan menjadi anak-anakku. Aku ayah tiri mereka," jawab Baskara.
Alex yang masih disana dan mendengar perkataan dari Baskara.
"Papa..."
Alex yang biasanya jarang dekat dengan seseorang langsung memeluk tubuh Baskara dan memanggilnya Papa.
Tubuh Baskara langsung mematung saat mendengar Alex memanggil dengan sebutan Papa.
kalau aku asal. konflik nya tidak menguras emosi udah pasti suka... semangat thor