Dalam setiap imaji tentang masa depan, Summer tidak menemukan gambaran selain Denver dan mata cokelat gelapnya yang hangat. Hidupnya dijejali dengan fantasi manis bahwa kehidupan tentram, jauh dari carut-marut dan kutukan, hanya bisa ia dapatkan jika Denver bersamanya.
Namun, Summer lupa satu hal: Obsesi selalu berkelindan erat dengan kemuakan. Denver akhirnya menemukan cara untuk lepas dari tali kekang Summer, mengesampingkan harga yang harus perempuan itu tanggung agar Denver bisa bernapas dengan leluasa.
Sayangnya, kalkulasi Denver agak meleset kali ini. Summer memang terperosok ke penjara lembap dan dingin, namun di tempat itu pula ia menjelma menjadi iblis yang melafalkan syair pembalasan dendam setiap malam. Dan agar bisa berdiri di podium pemenang, tersenyum congkak layaknya mimpi buruk, Summer harus bisa memenangkan hati Archilles Meridian, sang wali kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wen Cassia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 | NERAKA TERKUTUK
“Kalau ingin minggat dari rumah seharusnya katakan sejak awal, aku bisa membentangkan spanduk selamat tinggal berwarna-warni dan menggelar syukuran tiga hari.” Suara bernada sinis familiar terdengar dari sambungan telepon. “Tidak tahu ini jam berapa? Kalau tidak pulang dalam setengah jam, jangan harap bisa masuk ke rumah—tunggu, kau di mana sekarang?!”
Seruan kesal, resah, pun setengah frustrasi dari seberang sana, membuat Summer memejamkan matanya. Orang itu pasti sudah menyadari musik latar belakang di tempatnya berada sekarang. Telunjuk ramping Summer bergerak memutar pada permukaan gelas, sinar lampu sorot menerpa wajahnya dalam tempo teratur.
“Katakan di mana kau sekarang—sial!”
Meskipun tidak bisa melihatnya, Summer tahu orang di seberang sana sedang mengambil kunci mobil dengan tergesa. Umpatan pelan meluncur berkali-kali dari bibirnya.
“Kian,” panggil Summer lemah. “Sepertinya aku benar-benar akan menjadi orang jahat sebentar lagi ….”
“Berhenti melantur! Diam di sana, jangan bergeser satu mili pun, jangan makan dan minum apa pun lagi sampai aku datang.”
Dari gemerisik pelan yang terdengar, Summer menduga Kian sedang memakai jaketnya.
Kepala Summer terkulai di atas meja, mengetuk gelas hingga menimbulkan bunyi pelan yang teratur—meskipun masih tetap tenggelam oleh dentuman musik yang menyelimuti ruangan. “Kau akan semakin membenciku kalau aku jadi jahat?”
“Demi Tuhan, berhentilah menceracau. Siapa yang ada di sampingmu?”
“Di sampingku?” Summer menoleh ke kanan. “Ada pria tampan yang sekarang sedang tersenyum manis padaku.”
Kian terdengar mengerang rendah. “Jangan bicara pada siapa pun. Kalau saat aku tiba nanti kau berani bergeser sedikit saja dari tempatmu sekarang, akan kulemparkan kau ke Tartarus!”
Tanpa membiarkan Summer menimpali, sambungan diputus sepihak oleh Kian. Mungkin pria itu sedang berlarian menuju mobil.
Summer menghela napas panjang bersamaan dengan ponselnya yang tergeletak begitu saja di meja. Kepalanya berdenyut-denyut oleh bertumpuk kekhawatiran, dijejali pertimbangan moralitas yang entah datang dari mana. Dan Summer membenci ketidakberdayaan macam ini, saat ia seperti berdiri di garis singgung warna hitam dan putih.
Seharusnya hari ini adalah hari besar, Archilles sudah membukakan pintu untuknya lebar-lebar, Summer tinggal menggapai uluran tangannya dan menghancurkan hidup Allura lewat jalan ini. Namun, Summer sekarang malah merasa seperti pendosa bahkan sebelum melangkah lebih jauh.
“Archilles Meridian keparat ….” Summer meneguk habis vodka yang tersisa di gelas. “Aku hampir tertipu tampilan wajah sucinya. Ternyata dia sama berengseknya dengan pria lain. Kalau pada akhirnya kau akan menyambutku begini, kenapa bertingkah sok jual mahal? Sudah kuduga Allura memang bodoh. Betapa pun tampan dan menakjubkannya dia, tidak seharusnya kau menyerahkan hidupmu pada pria macam itu!”
Summer mengentakkan gelas ke meja, menimbulkan bunyi keras, hingga pria di sampingnya sedikit terperanjat.
Hanya dua detik sebelum ia mengerjap cepat. “Apa aku baru saja mengasihani Allura? Aku betulan tidak waras rupanya.” Summer tertawa sumbang, mengusap wajahnya kasar, berharap dengan begitu kegilaannya akan sirna. Ia kemudian menoleh ke arah bartender. “Beri aku apa pun dengan kadar alkohol lebih tinggi dari ini.”
Setelah bartender memberikan sebotol wiski, yang Summer lakukan hanya terus menuangkannya ke dalam gelas dengan perasaan carut-marut. Ia meneguknya hampir tanpa jeda, pening mulai merayapi kepalanya, mengobrak-abrik kewarasannya.
Wiski tinggal separuh ketika samar-samar Summer mendengar derap terburu-buru ke arahnya, membuatnya menyeringai samar.
Pluk.
“Sudah kubilang untuk tidak makan dan minum apa pun lagi.” Kian merebut gelas Summer, mengentakkannya ke meja. “Cepat pakai itu.”
Tangan Summer bergerak untuk menyentuh jaket yang baru Kian sampirkan di kepalanya. Ia mengesah pelan sebelum menarik turun jaket dan memakainya. Aroma yang Kian sekali segera memenuhi indra penciumannya.
“Kau tinggal berbaring di lapak pasar, aku yakin tidak akan ada yang bisa membedakanmu dengan ikan jambrong kering.” Kian mengesah miris sembari mengamati Summer. Rambut kusut, mata sayu, wajah memerah karena alkohol, dan kesadaran yang separuh melayang. “Kalau urusanmu di sini sudah selesai, ayo cepat kita pulang.”
Summer menoleh pelan, matanya yang sedikit memerah beradu dengan iris Kian. “Kenapa kau tiba-tiba jadi peduli padaku?”
Kian meliriknya menghakimi, merapatkan lengannya ke tubuh seolah sedang bergidik. “Aku? Peduli padamu? Memangnya aku sudah gila? Hanya karena orang tampan menjemputmu di kelab malam, bukan berarti dia benar-benar peduli.”
“Menyemprotmu dengan muntahan kedengarannya menyenangkan.”
Kali ini Kian benar-benar bergidik, teringat tekstur lembek menjijikkan roti yang menempel likat di wajahnya. Trauma ini mungkin akan membayanginya seumur hidup. “Aku hanya melakukan antisipasi. Kalau sampai kau tidak terkendali seperti dulu, menyebabkan masalah besar, pada akhirnya aku juga yang akan kena imbasnya. Aku melakukannya untuk diriku sendiri.”
Dalam sekejap tatapan Summer berubah prihatin. “Astaga, menyedihkan sekali aktingmu. Bisa kubayangkan kau seperti kutu air yang meringkuk di sela jari kaki ketika berhadapan dengan ayah tunanganmu yang anggota dewan itu karena tidak bisa memaksa diri berpura-pura.” Summer mendengus dan memutar mata. “Kupingmu memerah kalau kau berbohong. Yang benar saja!”
Tangan Summer terulur untuk meraih wiskinya lagi, namun Kian segera memukul punggung tangannya hingga membuat Summer mengaduh, spontan menarik tangannya.
“Jangan coba-coba.” Kian mendesis, melemparkan pelototan. “Cepat berdiri kalau tidak mau kuseret dari sini.”
“Kian ….”
Kian sedikit terhenyak saat melihat selarik sorot terluka di mata Summer ketika perempuan itu sedikit menengadah. Luka basah, menahun, dan telah menjalar. Dalam suaranya yang parau, Kian mendengar Summer sedang mengadu, bahwa penderitaan tengah mencoba menghabisinya.
“Aku selalu berpikir jika kematian adalah solusi terbaik. Belenggu rantai panjang tak berkesudahan ini baru akan terlepas jika aku tidak lagi menginjak tanah. Namun, belakangan ini aku menemukan opsi lain: membagi rasa sakit. Kalau aku bisa membawa mereka ke dalam duniaku yang remuk dan penuh ketakutan ini, setidaknya bebanku akan berkurang sedikit saja.”
Gumpal rasa sakit meruyak dalam cara yang membuat sesak, sesuatu seperti tengah tersangkut di tenggorokan Summer. Ia ingin mengambil napas, namun dalam tarikan singkat itu ia mendapati nyeri pada setiap jengkal tubuhnya. “Tapi, kenapa apa pun yang aku lakukan tetap membuatku tampak menyedihkan? Aku tidak merasa senang dan tetap tidak bisa bernapas dengan lega. Lalu aku harus bagaimana?”
Summer membenamkan kepalanya dalam lipatan tangan di meja. Napasnya memberat seiring bahunya yang naik-turun tidak teratur.
Lengang bertaut lama, hanya dentuman musik yang berpadu dengan teriakan kesenangan orang-orang yang tengah menari di belakang sana. Kian terdiam, hanya menatap rambut hitam panjang Summer yang menjuntai, bertanya-tanya sejak kapan rambut adik tirinya sepanjang itu.
Bukankah tiga tahun lalu rambut Summer masih pendek bergelombang? Bukankah rambut itu hanya mampu menutup separuh wajahnya ketika ia duduk memeluk lutut di sudut dapur sambil menangis diam-diam? Kian selalu ingin menghampirinya, menepuk puncak kepalanya, sambil bilang, entahlah, mungkin: “Aku senang kau menjadi adikku.” atau “Kau tidak pernah sendirian, tahu!”, namun sikap menjaga jarak Summer yang terlalu kentara membuat Kian tidak bisa melakukannya. Ia hanya bisa mengamati Summer dari jauh, berharap perasaan gadis itu membaik dengan cepat.
“Tidak masalah jika kau menyedihkan, tidak apa jika kau masih belajar merangkak lagi.”
Dalam gelap yang ia labeli sebagai ruang aman sementara di balik lipatan tangan, Summer tertegun oleh kata-kata Kian. Sejumput hangat menyelinap nyaman di hatinya hingga ia perlahan menoleh ke arah laki-laki itu.
“Tidak ada yang memalukan dari berusaha bertahan. Ada orang yang merangkak seumur hidupnya, ada yang berjalan tertatih karena tubuhnya terbakar, ada yang berlari dengan kaki yang patah karena tidak diperkenankan berhenti … setiap orang punya cara masing-masing, dan kurasa semuanya indah. Keberanian yang membuatnya indah.” Seulas senyum lembut mengembang menawan di wajah Kian yang entah bagaimana caranya terlihat sangat teduh.
“Yah, kau selalu bisa memilih kematian, tapi ada cara yang lebih keren: bertaruh, berjudi dengan hidup,” lanjut Kian. “Barangkali fajar akan membawa hal yang lebih buruk dari hari ini, atau lebih baik, atau sama saja—kita tidak pernah tahu cara kerjanya. Kau hanya butuh pemicu, besar atau kecil, untuk tahan berhadapan dengan esok hari. Kejatuhan tetanggamu, varian mi instan terbaru, kemunculan Regulus di pagi hari, keruntuhan negara … apa pun. Menunggu terkadang bisa menjadi alasan paling sederhana seseorang bisa bertahan.”
Summer baru menyadari jika Kian memiliki jenis suara yang halus dan hangat—kalau sedang tidak menghina orang lain. Intonasi dan pengambilan jedanya terasa pas, hingga Summer merasa sedang direngkuh ketenangan.
“Dalam masalahmu—yah, kurasa karena kau sendiri sudah nenek sihir kejam, orang yang kau benci itu pasti benar-benar keparat.” Kian sedikit memutar tubuh ke arah Summer, lantas menopang kepalanya dengan tangan dan menyeringai. “Kalau kau hanya terpikirkan kehancuran para keparat itu sebagai alasan bertahan, maka seret mereka ke neraka terkutukmu. Ajari mereka penderitaan sebagaimana mereka pernah menggilasmu dengan bara api, lalu hibur mereka dengan mimpi buruk. Aku tidak sudi melihatmu mati dalam keputusasaan.”
Summer terpana, oleh hasutan kelam dalam suara Kian, oleh lenyapnya bayang-bayang konyol di wajahnya. Kian seolah menjelma menjadi iblis yang berdiri dalam pekatnya malam, membisikkan nyanyian kematian di telinganya. Summer tidak tahu kakak tirinya mempunyai sisi macam ini.
“Terpukau, ya?” Dalam manuver yang sangat mendadak, ketika Summer masih dalam kungkungan ketersimaan, ekspresi bodoh menjengkelkan Kian kembali. Pria itu menekuk-nekuk bibirnya menahan tawa. Dalam sekejap Summer berhasrat menyiramkan air mendidih ke mukanya. “Aku payah dalam berakting? Lihat siapa yang tertipu sekarang. Peran orang bijak tampan memang selalu cocok dengan citraku.”
Dengusan Summer tidak terelakkan. “Tentu. Aku sudah salah menilaimu.” Summer menegapkan punggung dan melemaskan lehernya dengan gerakan memutar singkat. “Ingatkan aku untuk membawakanmu vas bunga ke lokasi syuting kalau kau ditawari peran suatu hari nanti.”
“Ide bagus. Kau bisa mengisinya dengan mawar dan lili, meskipun sejujurnya aku lebih suka lavender.”
“Kamboja … akan kutaburkan setelah aku melempar vasnya ke wajahmu.” Summer menepuk-nepuk celananya yang terkena abu rokok dari pria yang duduk tak jauh darinya. “Lagi pula darah mimisan dan memar asli akan jauh lebih meyakinkan penonton.”
“Aku bisa memahami kedengkianmu terhadapku.” Kian bangkit berdiri, lalu tanpa diduga-duga, ia menurunkan tubuhnya hingga setengah berlutut dengan posisi membelakangi Summer. “Ayo naik.”
Summer mengerjap cepat karena terkejut. Maksudnya Kian memintanya naik ke punggungnya? Ini bahkan lebih aneh dari mimpi berenang di bawah kawah panas tadi malam.
“Kenapa masih diam saja? Cepat naik.” Kian berdecak, mulai tidak sabar.
“Dan memberimu peluang untuk melemparkanku dari jembatan gantung di dekat sini? Tidak, terima kasih.”
“Katanya kau mau bebas dari belenggu. Dengan naik ke punggungku, kau tidak perlu menginjak tanah lagi. Baru setelah itu, kau bisa melepaskan diri dari rantai sialan itu.”
Dentang yang hanya bisa didengar Summer baru saja bergema, membuatnya terperangah. Ia buru-buru membekap mulutnya dengan tangan, namun seruak tawanya tetap lolos. Summer terpingkal-pingkal di tempatnya duduk hingga membuat Kian menoleh jengkel dan pria asing di sebelahnya meliriknya heran. Kian yang baru saja menerjemahkan apa yang ia katakan dengan sangat harfiah, entah mengapa sangat menghiburnya.
Sebelum Kian sempat mengomel, Summer lebih dulu melompat ke punggung pria itu hingga membuatnya nyaris terjungkal karena tidak siap.
“Kau benar-benar!” Kian berteriak jengkel sembari mendelik. Namun kemudian, ia menegakkan badan, menempatkan kedua tangannya di kaki Summer untuk menahan berat tubuhnya. “Hei, kau mencekikku!”
Summer tidak peduli, masih mengalungkan kedua tangannya di leher Kian dengan erat. “Ayo kita pulang dengan berjalan kaki!”
...****...