NovelToon NovelToon
ASLAN VALERION

ASLAN VALERION

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Penyelamat / Sistem
Popularitas:99
Nilai: 5
Nama Author: HUUAALAAA

Dua puluh kavaleri elit musuh terus bergerak mendekati lokasi persembunyian Aslan tanpa menyadari maut yang menanti. Pangeran itu telah menyiapkan jebakan mematikan melalui perhitungan sistem yang menjamin kemenangan mutlak bagi dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HUUAALAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Aslan berjalan menembus kabut tipis di kaki pegunungan utara. Rasa sakit di otot lengannya akibat penggunaan fitur Overload berangsur pulih seiring dengan proses regenerasi yang diarahkan oleh sistem.

"Sistem, berikan laporan status area di depan," ucap Aslan pelan.

[Analisis Area: Memasuki wilayah luar kekuasaan pusat. Terdeteksi aktivitas manusia pada radius 2 kilometer. Kemungkinan besar adalah pos pemeriksaan militer atau kamp tentara bayaran.]

Aslan berhenti di balik sebuah batu besar. Ia memeriksa persediaan makanan dan amunisinya. "Apa ada rute yang tidak melewati jalan utama?"

[Rute alternatif tersedia melalui Lembah Bayang. Tingkat kesulitan: Tinggi. Risiko pertemuan dengan pemangsa alami: 60%.]

"Itu lebih baik daripada bertemu dengan pasukan Paman Kael," jawab Aslan sambil menyesuaikan posisi sabuk belatinya.

Tiba-tiba, suara derap kaki kuda terdengar dari arah jalur setapak di bawah bukit. Aslan segera merunduk dan mengaktifkan mode kamuflase pasif.

[Peringatan: Tiga orang penunggang kuda terdeteksi. Pakaian mereka tidak menunjukkan lencana resmi Kerajaan Valerion. Analisis: Tentara bayaran atau faksi pemberontak utara.]

"Siapa mereka, Sistem?" tanya Aslan sambil memperhatikan dari kejauhan.

[Identitas tidak ditemukan dalam basis data kerajaan. Namun, mereka membawa simbol serigala perak pada pelana kuda mereka. Saran: Lakukan pengamatan sebelum melakukan kontak.]

Aslan mengikuti mereka dari bayang-bayang pohon. Ia melihat para penunggang itu berhenti di sebuah persimpangan. Salah satu dari mereka turun dan memeriksa jejak di tanah.

"Jejak penunggang Harimau Putih berhenti di sini," kata pria dengan luka parut di wajahnya.

"Artinya mereka tidak berani masuk lebih jauh ke utara. Wilayah ini milik kita sekarang," sahut rekannya dengan tawa kasar.

Aslan mengerutkan kening. Jika tentara bayaran ini memusuhi pasukan kerajaan, mereka mungkin bisa menjadi aset, atau justru ancaman tambahan.

"Sistem, tingkatkan sensitivitas sensor suara. Aku ingin mendengar apa yang mereka rencanakan selanjutnya."

[Tugas diterima. Frekuensi audio ditingkatkan.]

"Kita harus segera melapor kepada Jenderal Elara. Jika benar pangeran mahkota itu melarikan diri ke sini, kepalanya akan sangat berharga bagi Kael," kata pria itu lagi.

Aslan menggenggam gagang belatinya lebih erat. Harapannya untuk menemukan sekutu di utara tampak harus melalui ujian yang berat.

"Sepertinya semua orang ingin menjual kepalaku," bisik Aslan dengan tatapan mata yang kembali berkilat biru.

[Saran Taktis: Lakukan penyergapan cepat untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai Jenderal Elara dan posisi kamp mereka. Peluang keberhasilan: 85%.]

Aslan mengangguk pelan. Ia mulai bergerak maju tanpa suara, mempersiapkan serangan yang akan menentukan nasibnya di wilayah perbatasan ini.

Aslan melompat dari dahan pohon saat kuda terakhir lewat di bawahnya. Tubuhnya mendarat tepat di punggung penunggang itu, menariknya jatuh sebelum pria itu sempat berteriak.

"Siapa kau?!" teriak pria dengan luka parut sambil menghunus pedangnya.

[Analisis Tempur: Dua target tersisa. Target A bersenjata pedang panjang. Target B bersenjata busur silang.]

Aslan tidak menjawab. Ia melemparkan belati kecil ke arah Target B, mengenai lengan yang sedang memegang busur hingga senjatanya terjatuh.

"Satu langkah lagi, dan teman kalian kehilangan nyawanya," ancam Aslan sambil menempelkan belati ke leher pria yang ia jatuhkan tadi.

Pria dengan luka parut itu menghentikan kudanya. Ia menatap Aslan dengan pandangan waspada dan penuh kemarahan.

"Kau adalah bocah yang dicari Kael, bukan? Pangeran Mahkota Valerion," kata pria itu dengan nada mengejek.

"Berapa banyak pasukan yang dimiliki Jenderal Elara di perbatasan ini?" tanya Aslan tanpa menghiraukan ejekan itu.

[Peringatan: Target A sedang meraba pisau cadangan di balik pinggangnya.]

Aslan menekan belatinya hingga sedikit darah keluar dari leher tawanannya. "Jangan coba-coba melakukan gerakan tambahan, atau aku akan menyelesaikannya lebih cepat."

Pria itu melepaskan pegangan pada pedangnya. "Elara memimpin lima ratus prajurit Serigala Perak. Kami tidak bekerja untuk Kael, kami bekerja untuk siapa saja yang membayar paling mahal."

"Dan saat ini Kael adalah pembayar terbaiknya?" tanya Aslan dengan nada dingin.

"Dia menjanjikan wilayah utara jika kami berhasil membawakan kepalamu. Tapi jika kau punya tawaran yang lebih baik, Serigala Perak bisa saja berubah pikiran," jawab pria itu sambil tersenyum licik.

Aslan terdiam sejenak. Ia tahu bahwa ia tidak memiliki uang atau emas untuk menyuap tentara bayaran ini. Satu-satunya hal yang ia miliki adalah pengetahuan tentang Batu Inti yang dicari Kael.

"Bawa aku menemui Jenderal Elara secara pribadi. Aku punya sesuatu yang jauh lebih berharga daripada emas yang dijanjikan Kael," perintah Aslan.

[Evaluasi Risiko: Menemui pimpinan tentara bayaran memiliki risiko kegagalan sebesar 40%. Apakah subjek ingin melanjutkan?]

"Lanjutkan, Sistem. Aku butuh pasukan untuk merebut kembali takhta, dan Serigala Perak adalah awal yang cukup masuk akal," gumam Aslan dalam hatinya.

Pria itu mengangguk pelan. "Baiklah, Pangeran. Mari kita lihat apakah kepalamu memiliki isi yang cukup berharga untuk menyelamatkan lehermu."

Perjalanan menuju kamp pusat Serigala Perak memakan waktu dua jam melewati jalan setapak yang curam. Aslan tetap waspada dengan tangan yang sesekali menyentuh hulu senjatanya.

"Kami sampai. Jangan melakukan gerakan bodoh jika kau ingin keluar dari sini dengan kepala masih menempel di bahu," ujar si pria luka parut.

[Analisis Lingkungan: Kamp militer semi-permanen. Jumlah personel terdeteksi: 142 di area terbuka. Persenjataan: Standar infanteri berat.]

Aslan dibawa ke sebuah tenda besar yang dijaga oleh dua prajurit wanita bersenjata tombak panjang. Di dalamnya, seorang wanita dengan zirah perak sedang mempelajari peta wilayah utara.

"Jenderal, kami membawa tamu istimewa," lapor pria luka parut itu sambil membungkuk.

Elara mendongak. Matanya yang tajam langsung mengunci pandangan Aslan. "Pangeran Aslan Valerion. Aku berharap kau datang dengan sepasukan tentara, bukan sebagai tawanan prajuritku."

Aslan melepaskan diri dari kawalan dan berdiri tegak. "Aku datang bukan sebagai tawanan, melainkan sebagai orang yang menawarkan masa depan untuk Serigala Perak."

Elara tertawa kecil. Ia berjalan mendekati Aslan dengan langkah yang tenang namun penuh wibawa. "Masa depan? Kael menjanjikan wilayah kekuasaan yang nyata. Apa yang bisa ditawarkan oleh seorang pangeran pelarian yang bahkan tidak punya koin perak di kantongnya?"

"Kael menjanjikan tanah yang tidak akan pernah ia berikan. Dia hanya memanfaatkan kalian untuk memburu sisa-sisa pewaris sah," jawab Aslan tenang.

[Sistem: Detak jantung Jenderal Elara stabil. Dia sedang menguji mentalitas Anda.]

"Aku tahu di mana Batu Inti yang asli disimpan. Kael hanya memiliki replika yang ia gunakan untuk membohongi dewan kerajaan," lanjut Aslan.

Langkah Elara terhenti. Ekspresinya berubah menjadi serius. "Batu Inti Valerion? Itu hanya legenda untuk menakuti musuh kerajaan."

"Ayahku menyembunyikannya sebelum ia dikhianati. Hanya darah pewaris langsung yang bisa membuka segelnya," kata Aslan sambil menunjukkan pola biru yang mulai menyala redup di punggung tangannya.

Elara menyipitkan mata, menatap pola tersebut dengan rasa ingin tahu yang besar. "Jika kau berbohong, aku sendiri yang akan menyerahkanmu kepada algojo Kael."

"Jika aku berbohong, aku tidak akan berani masuk ke sarang serigala tanpa perlindungan," balas Aslan.

Elara terdiam cukup lama sebelum akhirnya memberikan perintah kepada bawahannya. "Berikan dia makanan dan tempat istirahat yang layak. Dan awasi dia setiap detiknya."

[Tugas Berhasil: Pertemuan dengan faksi Serigala Perak telah diamankan. Tingkat kepercayaan Jenderal Elara: 35%.]

1
anggita
mampir like👍aja Thor.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!