Seminggu menjelang hari bahagianya, dunia Jamila runtuh seketika. Di sebuah gubuk tua di tepi sawah, ia menyaksikan pengkhianatan paling menyakitkan: Arjuna tunangannya, justru bermesraan dengan Salina, sepupu Laila sendiri. Sebagai gadis yatim piatu yang terbiasa hidup prihatin bersama kakaknya, Jamal, serta sang kakek-nenek, Engkong Abdul Malik dan Nyai Umi Yati, Mila memilih tidak tenggelam dalam tangis.
Jamila mengalihkan rasa sakitnya dengan bekerja lebih keras. Dengan kulit hitam manisnya yang eksotis dan kepribadian yang pantang menyerah, ia mencari nafkah melalui cara yang tak lazim: live streaming di TikTok. Bukan sekadar menyapa penonton, Jamila melakukan aksi nekat memanjat berbagai pohon mulai dari jambu hingga durian sambil bercengkerama dengan para followers nya
Awalnya hanya kagum pada keberanian Laila, Daren, pemuda tampan dari Eropa perlahan jatuh cinta pada ketulusan Jamila, dan berniat melamarnya, apakah Jamila menerima atau tidak ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indira MR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22. Konfrontasi dengan Daddy Farel
Daren menarik napas dalam. Ia baru saja mengucapkan syahadat; masa langsung terpancing emosi dan melakukan smackdown di depan rumah Allah?
"Harun, benar katamu. Islam bukan hanya soal KTP," jawab Daren berusaha setenang mungkin, meski jempol kakinya sudah gatal ingin menendang ban mobil mewah Harun.
"Ini tentang perjalanan. Dan aku baru memulainya."
Harun Dubai menatap sinis.
"Perjalanan menuju Jamila, kan? Jangan munafik lah. Kau pikir aku tidak tahu kau mendekati Jamila hanya karena dia cantik dan lugu? Kau itu predator, Daren. Bedanya, sekarang kau predator yang pakai peci."
Darah Daren mendidih. Tapi ia ingat pesan Ustadz Ali,untuk mengendalikan emosi nya. Karena tidak ada keran di dekat situ, Daren memilih menelan ludahnya bulat-bulat.
"Itu urusanku.yang jelas, aku tidak akan menyerah," balas Daren tegas.
Harun tertawa sinis
"Oke, silakan bermimpi. Tapi ingat, Jamila itu berlian. Dan berlian hanya pantas untuk kolektor sejati alias orang yang saldonya tidak punya batas limit seperti aku."
Harun berbalik, masuk ke mobilnya, dan melaju dengan kecepatan tinggi, menyisakan kepulan asap knalpot.
Malam itu, kemewahan apartemen Daren terasa menyesakkan. Di sofa kulit Italia yang mahal, Jerry sahabat karib Daren yang kelakuannya sebelas-dua belas dengan koala kurang tidur sedang asyik mengunyah keripik, menyebarkan remah-remah di atas sofa dan karpet.
"Gila, Ren. Jadi lo beneran mualaf? Are you seriously doing this just for Jamila?" tanya Jerry dengan mulut penuh.
"Bukan cuma demi Jamila, Jer. I feel... at peace tiap denger adzan. You wouldn't understand," jawab Daren sambil bergulat dengan kain sarung yang terus melorot dari pinggangnya.
Jerry tertawa mengejek, menunjuk sarung Daren.
"Kalo lo pake sarung modelan gitu ke masjid, you're not getting the girl, man. You’ll just get the best Costume Fail award. Sini gue ajarin!"
Jerry mencoba membantu, namun bukannya rapi, Daren malah berakhir terbungkus ketat seperti lemper. Di tengah kekacauan itu, bel pintu berbunyi nyaring. Begitu pintu terbuka, muka Daren pucat pasi.
Di hadapannya berdiri Daddy Farel, ayah kandungnya, didampingi oleh Megan ibu tirinya yang selalu tampak glamor namun dingin. Rupanya, Sakura telah membocorkan alamat apartmentnya dan tentang Daren masuk Islam.
Tanpa basa-basi, Daddy Farel melangkah masuk dengan aura kemarahan yang meluap.
"Daren! Apa-apaan ini? Kamu masuk Islam?!" suaranya menggelegar, membuat Jerry langsung menciut di balik sofa.
"Iya, Dad. Ini keputusan Daren," jawab Daren tegas, meski sarungnya masih sedikit miring.
"Listen to me carefully " Daddy Farel menunjuk wajah anaknya.
"Kalau kamu tidak kembali ke keyakinan lama, I will strike your name off my will! Jangan harap dapat sepeser pun. Semua harta Daddy akan jatuh ke tangan Mario!"
Mendengar nama anak tiri ayahnya disebut, Daren hanya tersenyum getir.
"Take it all, Dad. Daren akan tetap pada keyakinan ini walaupun harus kehilangan segalanya."
"Siapa wanita yang sudah mencuci otakmu?" bentak Daddy Farel lagi??
"I will never give you my blessing. (saya tidak akan pernah memberi restu) Sampai kapan pun, Daddy tidak akan merestui hubunganmu!"
Daren menatap tajam ayahnya,, rasa sakit yang selama ini dipendam akhirnya meledak.
"I don't need your blessing, Dad. Sama seperti Daddy yang tidak butuh restu siapa pun saat menikahi Megan sahabat Mommy Eliska sendiri!"
Suasana seketika membeku. Daren melanjutkan dengan suara bergetar,
"You betrayed Mommy. Pengkhianatan kalian yang buat Mommy sakit dan meninggal. So, don't talk to me about morality or family."
Daddy Farel terdiam, wajahnya merah padam antara marah dan malu, sementara Megan hanya memalingkan muka.
Megan mendekat, mencoba memasang wajah prihatin yang selama ini selalu Daren benci. Ia menyentuh lengan Daren dengan lembut, namun Daren segera menepisnya.
"Daren, listen to me. Please, come back to Germany," bujuk Megan dengan suara yang dibuat lembut.
"Mommy menyayangi kamu sama seperti Mommy menyayangi Mario. Pulanglah, Sayang. Menikahlah dengan Sakura, dia sahabat kecilmu dan kalian seiman. Everything will be easier that way."
Daren menatap ibu tirinya itu dengan tatapan dingin.
"Stop calling yourself Mommy. You are not my mommy. Keputusan gue udah bulat. Gue pilih Islam, dan ini bukan cuma soal Mila. It’s about my own soul."
Melihat keras kepalanya sang putra, Daddy Farel meledak.
"Fine! Jika itu keputusanmu, I will erase your name from this family. Mulai detik ini, kamu bukan lagi CEO Seventeen Group. Kamu bukan lagi anakku!"
"Understood," jawab Daren tanpa ragu.
"Daren siap melepas jabatan CEO dan keluar dari rumah ini."
Setelah Daddy Farel dan Megan pergi dengan amarah yang meluap, suasana apartemen menjadi sunyi. Daren menoleh ke arah Jerry yang sejak tadi terdiam.
"Jer, lo denger sendiri kan? I’m nobody now. Gue bukan CEO lagi, gue nggak punya harta," ucap Daren lesu.
"Lo mending pergi, cari bos baru yang bisa bayar lo."
Jerry bangkit dari sofa, lalu menepuk bahu Daren dengan keras.
"Gila lo, Ren! Do you think I’m that shallow (dangkal) ? Gue ini sahabat lo, bukan cuma karyawan Seventeen. Gue bakal ikut ke mana pun lo pergi."
"Tapi Jer, gue nggak bisa gaji lo lagi. I have nothing left."
Jerry terkekeh, mencoba mencairkan suasana.
"Tenang aja, I still have some savings. ( simpanan) ,Gue nggak bakal mati kelaparan besok. Lagian, lo kan punya otak encer. How about we start our own business here in Indonesia? Kita bangun dari nol, tanpa bayang-bayang Daddy lo."
" you're my best friend" Daren memeluk Jerry.
Daren tertegun melihat loyalitas sahabatnya yang biasanya terlihat konyol itu. Ternyata, di saat ia kehilangan segalanya, ia justru menemukan siapa yang benar-benar tulus berada di sampingnya.
Setiap subuh, saat langit masih berwarna biru gelap, Daren sudah melangkah menuju Masjid Al-Ikhlas untuk menunaikan sholat dan belajar mengaji. Di sana, ia bukan lagi seorang CEO yang dulu ditakuti, melainkan hanya seorang hamba yang sedang mendekat pada Tuhannya.
Daren duduk bersila di hadapan Ustadz Maulana. Di antara mereka, tergeletak sebuah buku kecil bercover hijau: Iqra.
"Pelan-pelan saja, Daren. Step by step," ujar Ustadz Maulana dengan senyum teduh.
"A... Ba... Ta..." suara Daren terdengar kaku, lidahnya yang terbiasa berbicara bahasa Inggris bisnis terasa asing mengeja huruf-huruf hijaiyah.
Namun, ada ketekunan
Yang luar biasa di matanya. Setelah berjam-jam belajar Iqra, ia mulai menghafal ayat-ayat pendek seperti Al-Fatihah dan Al-Ikhlas.
Tanpa Daren sadari, di balik pilar masjid atau dari kejauhan ada sepasang mata yang selalu memperhatikannya. Jamila.
Mila melihat perubahan itu. Ia melihat Daren kini rela duduk menunduk belajar mengeja huruf demi huruf. Mila tidak berani mendekat, ia menjaga jarak demi menjaga hati dan kehormatan mereka.
"Ya Allah, teguhkan lah hati Daren. Jika keputusannya memilih-Mu adalah jalan yang benar, maka mudahkan lah segala urusannya" Do'a Jamila tulus untuk Daren.
Bersambung