NovelToon NovelToon
Legenda Naga Terkutuk

Legenda Naga Terkutuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Akademi Sihir / Perperangan / Fantasi
Popularitas:694
Nilai: 5
Nama Author: Amateurss

Di sebuah dunia yang damai, tempat berbagai ras hidup berdampingan, seorang gadis ras campuran menjalani kehidupan normalnya yang tampak biasa.
Namun, perlahan sesuatu yang terasa asing menghampiri. Mimpi yang terasa nyata.
Aroma kematian yang menyusup. Dan sesuatu yang mengincarnya dari balik kegelapan.
Rahasia masa lalu, makhluk terkutuk, dan gerbang yang seharusnya tetap tertutup perlahan bergerak menuju satu titik temu.
Tak semua yang melindungi berniat baik. Tak semua mimpi ingin dilupakan.
Ketika kebenaran akhirnya menuntut harga, hanya satu pertanyaan yang tersisa:
apa sebenarnya yang ada dibalik dunia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amateurss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akhir sang komandan

Hutan Quercia, 15 Kilometer Selatan Pegunungan Anarkhon.

Matahari pagi menyusup di sela-sela rimbunnya pohon oak. Tupai-tupai sibuk mengumpulkan kacang, sementara burung-burung kecil berkicau menyambut pagi yang tenang.

Keheningan itu pecah saat sebuah goa di sudut hutan mendadak berpendar. Cahaya merah menyambar dari ukiran rune di lantai goa, dan sedetik kemudian, dua pria berpakaian serba hitam terlempar keluar.

BRUKK!

Keduanya mendarat keras di tanah, mengerang sambil menahan nyeri akibat proses teleportasi yang kasar.

"Ugh... Beruntung kau bisa menahannya sampai tepat waktu, Topan," ujar salah satunya sambil berusaha duduk dan menepuk-nepuk debu dari pakaian hitamnya.

"Aduh... Sialan kau, Bara. Bisa-bisanya rune-mu rusak? Katanya sudah kau siapkan dengan matang," gerutu yang lain sambil bangkit berdiri. Nada suaranya tidak menunjukkan kemarahan, hanya kejengkelan ringan seorang kawan.

Bara ikut berdiri dengan dahi berkerut heran. "Entahlah, kemarin malam sudah kupastikan sempurna. Bahkan sudah kutaburi ramuan pengusir binatang di sekitarnya agar tidak ada hewan yang mengganggu."

"Sudahlah, kita kembali ke markas sekarang," ujar Topan sambil mulai melesat maju, disusul oleh Bara di belakangnya.

"Bagaimanapun, itu tetap kesalahan disiplinmu. Sebagai komandan, aku beri kau hukuman!" seru Topan setengah bercanda sambil terus melompat dari pohon ke pohon. "Nanti di ibu kota, datanglah ke rumahku dan bawa dua botol anggur!"

Bara mendengus jengkel. "Hah... Komandan brengsek. Bukannya hampir setiap minggu aku sudah membawakanmu sebotol?"

"Berarti minggu besok bawa tiga!" celetuk Topan sambil terkekeh.

"...Siap, Komandan" jawab Bara setengah hati, pasrah pada nasib keuangannya. "Hati-hati, nanti kebiasaan minummu ditiru anakmu baru tahu rasa kau! Hahaha!"

Topan tertawa renyah mendengar itu. "Oh, tidak mungkin. Dia pernah kukunci dalam lemari karena ketahuan mencicipi sisa botolku. Dia sudah kapok!"

"Hei... Kau tidak terlalu keras padanya?" celetuk Bara datar di sela tawa mereka. "Kasihan, dia sudah piatu sejak lahir."

Laju Topan sedikit melambat sejenak, ia mendengus pelan. "Hah... Kulatih dia dengan disiplin agar kelak dia jadi orang hebat."

"Heh... Dia anak yang nekat juga, persis sepertimu," komentar Bara sambil tersenyum tipis.

"Begitulah. Tapi dia jauh lebih cerdas! Untung saja kecerdasan Emilia menurun padanya, kata Emilia, dia bakal jadi legenda besar nantinya!" jawab Topan, ada nada kerinduan yang tersirat di sana. "Dia sangat suka ramuan. Selalu saja ikut campur kalau neneknya sedang meracik obat untuk dijual di toko." Cerocos Topan dengan bangga.

"Kau sering sekali menceritakan Emilia ya...hahaha, kau tidak ingin menikah lagi?" tanya Bara ringan. "Barangkali biar ada yang mengurus anakmu dan menemani mu, jadi kau tidak perlu mengajakku minum mulu." Gerutu bara.

Topan mendengus kasar. "Enteng sekali bicaramu. Tidak semudah itu, sialan!" Ia melirik Bara dengan tajam yang dibuat-buat. "Hukumanmu ditambah satu botol lagi untuk besok!"

Bara menepuk jidatnya dengan keras. "Aduh... Siap, Komandan," ujarnya lemas, memilih untuk diam seribu bahasa sebelum dendanya bertambah menjadi satu gudang anggur. Mereka pun melanjutkan perjalanan dalam hening melesat diantara dahan pohon-pohon oak.

Tiba-tiba-

BRUK!

Topan ambruk ke tanah hutan. Bara yang berada tepat di belakangnya tersentak kaget.

"Lukas!" serunya refleks. Ia segera berlutut, melepas topeng hitam yang menutupi wajah rekannya. Di balik topeng itu, rambut cokelat Lukas tampak berantakan, dan wajah dengan mata hijau yang biasanya tajam itu kini memucat pasi.

Lukas terkekeh pelan, meski suaranya terdengar sangat rapuh. "Hei... orang bodoh macam apa yang memanggil nama asli saat masih dalam misi?" gumamnya dengan senyum lemas.

"Kau terluka!? Di mana?" Ujar Bara sembari jemarinya bergerak cepat memeriksa tubuh Lukas.

"Sial... tiba-tiba kepalaku berputar hebat. Tapi kurasa aku tidak terkena serangan apapun tadi," ujar Lukas lirih.

Bara tidak peduli, ia terus mencari hingga matanya menangkap rembesan darah samar di bagian bahu Lukas. Ia merobek kain hitam itu dengan kasar. Di sana, terdapat luka gores tipis memanjang, namun pinggirannya mulai menghitam dengan guratan merah yang menjalar seperti akar busuk.

Keduanya terdiam. Lukas teringat anak panah yang menyerempet bahunya di goa tadi.

"Ini racun ular Decaviper, Lukas!" suara Bara bergetar. Ia segera bersiap memanggul Lukas ke pundaknya.

"Sudah... tidak perlu..." Lukas menahan tangan rekannya. "Teruskan perjalananmu. Tidak ada waktu. Kecepatanmu akan melambat jika membawaku, para bandit itu pasti akan menyusul."

Lukas mengatur napasnya yang mulai pendek. "Sampaikan saja laporan pada Dewan Keamanan bahwa aku gugur dalam tugas. Laporkan bahwa kita berhasil mengeliminasi Chief Dustcheff, pemimpin bandit yang menyandera keluarga pangeran di teater dua tahun lalu... misi eksekusi senyap berhasil."

Lukas terdiam sejenak, lalu dengan senyum tipis yang pahit, ia melanjutkan, "Toh... setelah gejala muncul, racun Decaviper akan membunuh dalam sepuluh menit, kan?"

"Kau gila?! Bicara apa kau!" bentak Bara. Ia memaksakan diri mengangkat tubuh Lukas, meski Lukas berusaha menolaknya dengan sisa tenaga yang ada.

"Kubilang tidak perlu, Dornus!" Lukas mendesis lemas tanpa sadar menyebut nama asli bara. Namun dornus tak peduli. Ia tetap berusaha mengangkat tubuh sahabatnya itu.

"Bara! Ini perintah!" bentak Lukas dengan sisa energi terakhirnya.

Mendengar nama tugasnya dipanggil dengan nada otoritas yang lebih tinggi, Dornus tersentak. Gerakannya terkunci. Perlahan, dengan tangan yang bergetar, ia menurunkan Lukas kembali ke atas rumput hutan.

"Siap... Komandan..." ujar Dornus. Ia berusaha sekuat tenaga menjaga suaranya agar tetap datar, meski tenggorokannya terasa tersumbat.

Dornus berbalik, bersiap untuk melesat pergi sebelum emosinya pecah, ketika sebuah suara lirih yang hampir menyerupai bisikan memanggilnya kembali.

"Dornus..."

Dornus menoleh dengan cepat, secercah harapan muncul bahwa Lukas mungkin berubah pikiran. Namun, Lukas hanya terbaring lemah di tengah rerumputan hutan.

"Tolong jaga Luce, ya... tapi jangan terlalu lembut padanya. Dia akan menjadi legenda di masa depan... hahaha... uhuk!"

Lukas terbatuk, darah segar mulai mengalir perlahan dari sudut bibirnya. "Nanti, jika dia sudah cukup besar, saat dia sudah menjadi orang hebat... minta dia mencari seorang Elf bernama Sophia di perpustakaan. Dan..."

Lukas menjeda kalimatnya, matanya mulai berkaca-kaca. "Sampaikan maafku karena telah menjadi ayah yang kasar. Katakan padanya... aku sangat menyayanginya. Sudah, pergilah." Setetes air mata akhirnya jatuh, membasahi pipinya yang pucat.

Dornus tidak sanggup bersuara. Ia hanya mengangguk pelan, menatap wajah sahabatnya itu untuk terakhir kali. Detik berikutnya, ia berbalik dan melesat, melompati dahan-dahan pohon oak dengan kecepatan penuh.

Lukas menatap punggung Dornus hingga sosok itu benar-benar hilang ditelan rimbunnya hutan. Kini ia sendirian. Napasnya semakin pendek dan memburu, sementara pandangannya mulai kabur tertutup kabut kegelapan. Dengan tangan yang lemah, ia merogoh sesuatu dari balik baju hitamnya, sebuah liontin perak.

Ia membukanya. Di dalamnya terpampang foto seorang wanita berambut pirang dengan senyum hangat dan mata cokelat yang teduh. Lukas mendekap liontin itu erat-erat di dadanya, membiarkannya menjadi hal terakhir yang ia ingat bersamaan dengan kesadarannya yang luntur perlahan.

Sementara itu, beberapa kilometer dari sana, Dornus terus melesat menembus hutan, membelah angin pagi dengan pandangan mata yang kabur oleh air mata yang tertahan.

1
MnyneSan
haishh slime pincang loh 🤭
MnyneSan
sumpah serasa masuk ke cerita waktu baca, aku pasti ketawa ngik ngok kalo disana🤣
MnyneSan
segila itu ya padahal cuma kotoran🤭tapi mengingat kata terkutuk udah pantas sih😅bisa aja deh authornya
MnyneSan
duh kok tiba-tiba bauu, ya?
MnyneSan
semangat thor
Amateurss: siap kakak 🙏
total 1 replies
MnyneSan
Aku suka gaya penulisan rapi dan tidak pasaran ini
MnyneSan
kalo pencampuran sama goblin berarti ayahnya goblin kan? atau ayah nya juga campuran atau emang wujud goblinnya itu kayak manusia gitu(tp hijau)?
Amateurss: masih terus di bab 6 , hehehe 😁
total 1 replies
anggita
ikut dukung ng👍like sama iklan☝saja.
Amateurss: terimakasih kala🙏🙏
total 1 replies
Amateurss
kritik dan saran ges 🙏, pemula
Amateurss
kritik dan saran ges 🙏🙏..masih pemula
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!