Luna, seorang mahasiswi jurusan teknologi informasi semester akhir selalu begadang mengerjakan tugas-tugasnya yang menumpuk. Suatu malam ia tertidur di meja belajar bersama tumpukan kertas-kertas nya lalu tiba-tiba ia merasa seperti jatuh dari kursi. Tapi saat ia membuka matanya rupanya ia berada di dalam tubuh seseorang yang mirip dengannya. Ia yakin itu bukan dirinya yang sebelumnya. Tempat itu juga sangat asing baginya. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah seorang pria tampan berparas lembut berbicara padanya. "Annette, kau sudah lebih baik ? Bangunlah, aku membuatkan mu sarapan,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Vivian dan Emilie
Luna terbangun dari tidur siangnya saat merasa perutnya lapar. Tadi setelah Leon mengatakan berapa umurnya dan menceritakan bagaimana mereka bertemu Luna langsung tidur sebab merasa mengantuk meskipun hari masih terbilang pagi. Ia bahkan meminta Leon menemani nya dan akhirnya mereka tidur bersama.
"Leon.." panggil Luna yang kini meyakinkan dirinya sebagai Annette.
"Annette.. Maaf aku tertidur disini," kata Leon segera bangun. Posisinya tadi memeluk Annette, dan Leon berpikir mungkin Annette marah padanya.
"Ah tidak perlu minta maaf. Aku suka dipeluk kok. Tapi sekarang aku lapar," kata Annette dengan senyuman yang selama ini tidak pernah dilihat oleh Leon.
"Ah kau lapar ? Baiklah akan ku buatkan makanan," kata Leon tidak fokus. Tatapannya terus tertuju pada Annette yang benar-benar berbeda dari Annette yang dikenalnya.
Leon bangkit dari ranjang lalu pergi keluar kamar. Annette masih berdiam diri memandangi kamarnya yang tidak nyaman. Tidak ada kasur empuk, tidak ada pendingin ruangan dan aroma kayu kering sejak tadi menusuk penciuman nya.
Ia mengambil nafas panjang. Sejenak mengingat tentang mimpi yang baru saja ia alami. Seorang wanita yang mirip dirinya. Atau memang itu dirinya.
Seperti sebuah film, ia diperlihatkan apa yang terjadi pada Annette. Ia mulai menarik benang merah dari apa yang dilihatnya.
"Jadi Vivian dan Emilie adalah ular," katanya pelan. Terbesit rasa ingin balas dendam pada dua wanita licik itu, tapi ia ragu ia bisa melakukannya. Di dunia modern, dia adalah wanita ceria dan baik hati bukan ahli bela diri dan penuh dendam.
Fokusnya terhenti saat telinganya mendengar derap langkah kuda diiringi lonceng yang biasanya terpasang pada keretanya.
Cepat-cepat ia melihat jendela. Melihat siapa yang datang. Apa kira-kira ia mengenalnya.
Wajah Annette mendadak berubah serius. Dia seperti kenal dua wanita beda usia yang baru turun dari kereta kuda itu.
"Vivian.. Emilie..." kata Annette yang merasa tidak salah orang.
'Balaskan dendamku...balaskan sakit hatiku...'
Annette menggelengkan kepalanya saat sebuah suara halus seperti terdengar lagi dikepala nya. Apa jangan-jangan itu adalah arwah Annette yang asli ?
Annette mendekatkan dirinya pada pintu kamar saat mendengar jika Leon membuka pintu rumah.
"Oh menantuku, kau sedang membuat makanan untuk Annette ya ? Apa dia merepotkan mu hari ini ?" tanya Vivian.
"Kak Leon, kau sangat baik hati," puji Emilie. Tangannya begitu gatal hingga berani mengelus dagu Leon.
Annette yang melihat itu dari celah kayu menjadi sangat cemburu. Ia merasa Leon miliknya sepenuhnya. Jadi tidak ada yang boleh menyentuhnya. Tapi kemudian ia tersenyum puas saat melihat Leon menyingkirkan tangan Emilie.
"Apa Annette sedang tidur ?" tanya Nyonya Vivian.
"Tidak, dia sudah bangun," jawab Leon.
Dengan akalnya yang cepat bekerja, ia kembali keatas tempat tidurnya yang keras kemudian membaringkan dirinya lalu menutup matanya. Ia ingin melihat bagaimana reaksi Nyonya Vivian melihat dirinya jika tidak berdaya.
"Oh kasihan sekali, dia pasti kesakitan" tiba-tiba Nyonya Vivian berkata seperti.
"Aku sudah mengajaknya untuk pergi ke Rumah Sakit. Tapi dia tidak mau," kata Leon meletakkan makanan yang dibawanya diatas meja kecil. Lalu membangunkan Annette.
"Tidak perlu ke Rumah Sakit. Kau pasti tidak punya banyak uang," kata Nyonya Vivian.
"Jika hanya untuk berobat, aku juga punya" ucap Leon dengan nada tidak suka. Bolehkah Annette berharap jika Leon mulai mencintai nya ?
"Annette, bangunlah. Kau bilang tadi lapar. Makanlah dulu," kata Leon membangunkan Annette yang pura-pura tidur lagi. Tangannya juga mengelus pipi Annette seperti tadi pagi.
'Si Leon kenapa romantis sekali,' Luna yang berada di dalam tubuh Annette begitu senang diperhatikan oleh pria setampan Leon.
Sebab di kehidupan modern nya, ia tidak memiliki kekasih. Ia menyukai seorang pria namun memilih mencintai dalam diam karena pria itu seorang pewaris keluarga kaya. Mana mungkin ia berani melanjutkan langkahnya.
"Ah Leon, aku membawakan makanan untukmu dan Annette. Kau bisa memakan nya nanti biar orang ku menatanya dulu," kata Nyonya Vivian.
"Iya, terima kasih ibu" kata Leon.
Usia Leon dan Nyonya Vivian hanya terpaut lima belas tahun. Nyonya Vivian berusia empat puluh tahun dan Leon dua puluh lima tahun. Terkadang Leon merasa canggung bicara dengannya apalagi ketika memanggilnya ibu.
"Annette, kau sudah bangun ? Bagaimana keadaan mu hari ini apa lebih baik ?" tanya Nyonya Vivian. Wajahnya mengharapkan hal yang berbeda dari pertanyaannya.
"Aku sudah lebih baik, ibu tiri. Apa kau senang mendengarnya ?" tanya Annette dengan tersenyum manis.
Lagi-lagi senyuman Annette seperti menyihir Leon. Ia menatap istrinya itu dengan dalam. Dadanya pun terasa berdebar-debar.
Berbeda dengan Nyonya Vivian dan Emilie yang melihat itu. Mereka begitu terkejut mendengar suara Annette. Bukankah selama satu minggu ini Annette tidak bisa bicara ? Lalu kenapa tiba-tiba sekarang dia bisa bicara lagi.
Apalagi Annette juga nampak sehat. Tidak pucat seperti yang mereka lihat saat kemarin mengunjunginya.
Maksud hati datang hari ini ingin memastikan jika Annette akan tiada malah keduanya dikejutkan dengan Annette yang terlihat lebih baik.
"Tentu saja aku senang mendengarnya. Dan ayahmu juga pasti senang juga," kata Nyonya Vivian mencoba menyembunyikan ketidaksukaannya. Ia dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya. Memasang senyum kepura-puraan nya.
"Aduh Leon aku merasa tenggorokan ku kering. Apa kau bisa mengambilkan minum untukku ?" tanya Annette sembari menyentuh lehernya.
"Oh iya aku lupa membawa minum. Sebentar biar aku ambilkan," kata Leon kemudian meninggalkan mereka.
Setelah Leon pergi, Annette bangun dari ranjang. Seolah memperlihatkan pada Nyonya Vivian dan Emilie jika dia sudah lebih baik.
"Maaf jika membuat mu kecewa. Nyatanya aku masih hidup sampai hari ini," kata Annette dibuat sesedih mungkin.
Nyonya Vivian dan Emilie membelalakkan matanya mendengar apa yang Annette katakan. Kenapa bisa racun yang ia berikan pada Annette tidak bekerja dengan seharusnya.
Jika Annette masih hidup, bukankah ia menjadi ancaman bagi keduanya. Bagaimana jika Annette mengatakan pada Tuan Wiley apa yang sudah mereka lakukan untuk menyingkirkan Annette.
Annette menatap sinis sembari melipat kedua tangannya. Ia sedikit puas dengan apa yang dilihatnya.
Pandangan Annette tidak sengaja tertuju pada leher Emilie yang mengenakan kalung permata yang indah. Lalu tangannya dengan cepat menarik kalung itu dari leher Emilie hingga beberapa permatanya terlepas.
Emilie berteriak kesakitan. Lehernya terasa sakit karena tarikan dari kalung itu menggores lehernya.
"Apa yang kau lakukan ?" sentak Nyonya Vivian. Tangannya berusaha menghentikan Annette tapi ia kalah cepat. Kalung permata itu sudah sampai digenggam Annette.
"Kalau aku tidak salah ingat, ini adalah kalung milik ibuku. Lancang sekali kau memakainya adikku tersayang ?" kata Annette pelan namun suaranya terdengar menakutkan. Tatapannya tajam sedikit membuat Emilie ketakutan.
"Ada apa ?" tanya Leon yang datang membawa air minum. Ia melihat Emilie memegangi lehernya yang terluka.
"Kau terluka ?" tanya Leon cemas.
"Kak Leon, kakak mengambil paksa kalung yang ku pakai. Lihat, leherku pasti terluka. Ini rasanya sangat sakit. Apa aku akan memiliki bekas luka ini seumur hidup ? Ini sangat memalukan," kata Emilie segera memeluk Leon tanpa malu.
..
😍😍💪❤❤
paati meninggalnya diracun ama vivian..
❤😍😍💪💪💪❤❤❤
❤❤❤💪💪💪
🤣😄😄❤💪💪
😍❤❤❤💪💪💪💪
🤣😄❤❤💪
❤❤😍😍💪