Arumi Dessfira, selalu merasa aneh dengan tatapan dan juga tingkah laku Bumantara kepada dirinya. Dia sudah dengan berbagai upaya untuk menghindar, dari gangguan dan godaan Bumantara yang terlalu mempesona itu.
Namun, seperti nya Arumi gagal. Dia mulai merasakan getaran didalam hati nya saat bersama dengan Bumantara, jantung yang berdetak berlebihan, pipinya bahkan selalu merona karena salah tingkah.
Bumantara Bwoel, tertarik kepada perempuan yang baru pertama kali ia lihat, ia menyukai semua yang ada didalam diri Arumi. Dan... Masalah umur hanyalah angka untuk Bumantara, ia akan tetap mengejar Arumi sampai ke ujung dunia sekalipun.
Bagaimana cara Arumi menyikapi rasa yang mulai tumbuh kepada muridnya?
Harus kah ia pergi menjauh dari kejaran pesona Bumantara?
Atau justru ia menyambut rasa itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky00libra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DB—14
Bumantara terperangah, sambil menyentuh lengan bisep nya yang baru saja terkena pukulan telapak tangan kecil itu.
"Itu pasti sakit, sayang," ucap Bumantara dengan lembut, mengambil tangan Arumi tadi yang memang memerah, tamparan dari tangan itu tidaklah main-main, tapi Bumantara tidak merasakan sakit sama sekali.
"Itu ... karena kamu kurang ajar, Bumantara," ujar Arumi, mendengus.
Bumantara tersenyum, merasa sedikit terhibur dengan reaksi Arumi, "Ternyata kamu kuat juga ya, sayang," katanya, memijat lengan bisepnya. "Tapi aku tidak akan melawan, karena aku tahu kamu hanya ingin menunjukkan perasaanmu." Bumantara mengerlingkan mata nya, karena berhasil menggoda Arumi.
Arumi mendengus lagi, lalu membelakangi laki-laki itu, ia masih kesal karena Bumantara dengan kurang ajarnya meremas dada juga menggigit leher nya. "Menunjukkan perasaan apaan," gumam Arumi mencibir, memejam, dan membiarkan tangan Bumantara memeluk nya, ia lelah dengan kelakuan Bumantara.
Apalagi sekarang hampir dini hari, dan besok ia kembali mengajar. "Jauhan sedikit Bumantara! Sesak ini," seru Arumi sambil menyikut dada Bumantara.
"Kamu harus mengganti kipas itu Arumi. Angin nya enggak jalan," ujar Bumantara asal.
"Bukan salah kipasnya, itu salah kamu yang tidur disini, seharusnya kamu pergi dari kontrakan ku," omel Arumi. "Kamu itu laki-laki yang harus aku hindari, sama seperti Rangga itu, kalian berdua sama. Enggak sopan sama ibu guru yang mengajar, dan memberikan ilmu."
Bumantara mencebik saat nama pria lain disebut kan, "Aku yang akan menghajar kapak itu, jika berani menganggu kamu, Arumi," ujarnya. "Oh ... dan satu lagi, kamu jangan biarkan dia mengambil tangan mu hanya dengan alasan ingin saliman. Aku enggak suka Arumi."
Mengingat kejadian pagi itu, pas di area parkiran sekolah sungguh membuat Bumantara marah, ia ingin memberikan pelajaran untuk pria kapak itu.
Bagaimana tidak, saat itu Bumantara yang menunggu Arumi di depan gerbang harus tertunda karena sedikit ada panggilan dari teman-teman nya, dan dengan terpaksa dia harus pergi ke kantin gelap. Lalu setelah urusan dengan teman nya selesai, Bumantara kembali melanjutkan rencana awal, menemui Arumi, dan pas sekali saat itu dia melihat Arumi di parkiran motor.
Namun sayangnya harus ada manusia kapak yang berdiri di depan wanitanya, melihat itu, amarah di dada Bumantara muncul, lalu dia langsung berjalan kearah mereka dan langsung melayangkan satu pukulan tepat di wajahnya, sehingga membuat Rangga oleng, terjatuh. Dan ... Berakhir dengan kakak perempuan nya datang ke sekolah, lalu Bumantara tetap melanjutkan bolos sekolah.
Hingga masuk jam pelajaran sekolah, Bumantara pun mencari Arumi ke kantor para guru, dan ia justru mendengar kan kata-kata yang membuat telinga nya panas.
"Mbak Arumi, Pak Heru itu naksir sama, Mbak, lo!" seru suara wanita yang tak Bumantara kenali, berhasil mengusik hati nya, dan mematik rasa amarah nya.
"Bu Arumi, Pak Heru mau numpang pulang tuh, antarkan aja sekalian."
Mendengar suara canda tawa dari dalam ruangan itu, membuat Bumantara dengan cepat memutar otak licik nya. Bumantara mengirim pesan kepada Kenzo.
"Kenzo, kempis kan ban motor Arumi, buatlah bisa dinaiki oleh satu orang saja. Jika perlu kempis kan kedua ban motor itu."
Setelah mendapat jawaban dari teman nya, Bumantara memutar tujuan nya langsung ke arah parkiran motor. "Dalam angan Anda, Pak Heru," gumam Bumantara, dengan tangan yang terkepal, sambil berlalu pergi dari sana.
Di parkiran kendaraan, Bumantara mendudukkan dirinya di atas jok motor Arumi sambil memainkan ponselnya, sekarang ia sedang menunggu Arumi bersama bapak-bapak yang modus ingin menumpang kepada Arumi.
Selang beberapa menit, Bumantara bisa melihat kedua manusia itu yang berjalan berduaan meski ada jarak, namun ia tetap menatap dengan tajam, tangan nya terkepal sambil menahan amarah nya. Dan ... Saat Bumantara bilang jika, "Ban motor anda kempes, Arumi." Di saat itulah ia ingin tertawa ketika melihat ekspresi Arumi, namun ia tetap kesal saat Pak Heru selalu mengekori kemana pun langkah kaki Arumi.
Mengingat kejadian itu kembali membuat Bumantara geram, ia tidak akan membiarkan laki-laki mana pun mendekati Arumi, karena perempuan itu hanya miliknya.
"Enggak sia-sia aku memasang benda itu di sana." Bumantara menatap benda kamera cctv kecil di ujung kusen jendela. "Dan juga koko cina itu sangat membantu," gumam Bumantara, menyeringai, sambil menatap Arumi yang ternyata sudah tertidur di dalam dekapan nya.
Karena cctv dan koko cina — Brio, membuat ia tau tentang kedatangan mantan Arumi, sehingga ia pun mengikuti motor Arumi dan berakhir dengan ia menginap disini.
Bumantara mengecup pipi Arumi dan juga bibirnya, memandang wajah cantik Arumi tidak akan membuat ia bosan, justru ia semakin menginginkan Arumi. "Tidur yang nyenyak sayang."
🌹🌹🌹
Ke esok kan hari nya, Arumi yang terlebih dahulu terbangun, menjadi terkejut, tubuh nya mematung saat di depan wajah nya terpampang dada yang berotot, kulit sedikit gelap. Ia sudah menebak siapa pemilik dada itu, karena malam tadi tidak bisa ia lupakan, dimana laki-laki yang bernama Bumantara menginap di kontrakan kecilnya.
"Anak sekolah, kok bisa ya memiliki dada sekeras dan sebesar ini? Ini asli enggak sih?" tanya Arumi lirih, kepada dirinya sendiri sambil menekan-nekan dada itu dengan pelan, sudah seberapa sering ia berkata hal seperti itu? Dan perasaan nya, sangatlah sering, setiap ia melihat tubuh Bumantara.
Arumi terlalu fokus dengan dada bidang namun keras, yang sudah berbentuk, bahkan ia tidak melihat wajah Bumantara, jika sosok yang sedang ia raba-raba itu sudah terbangun sejak tadi.
"Ihhh ... Ini apa sih?" Arumi mencoba meraba bagian perut nya yang terasa terkena benda keras, hingga tangan nya berhenti di satu titik, dan itu membuat Bumantara meringis.
"Sstt ... Apa yang kamu lakukan Arumi? Kamu memegang nya, sayang," ujar Bumantara parau, sambil menghentikan gerakan tangan Arumi, dan tatapan mereka saling bertautan, dengan ekspresi wajah Arumi yang juga seperti sedang menahan malu.
"Aku enggak sengaja, Bumantara," lirih Arumi meringis, pipi nya bahkan memanas.
"Itu karena kamu juga mesum." Arumi tidak ingin disalah kan karena dengan berani menyentuh milik seorang laki-laki, dan itu tetap salah Bumantara karena pagi-pagi seperti ini, berpikiran mesum.
"Hei ... Sayang! Ini bukan mesum, tapi ini memang reaksi di pagi hari," elak Bumantara, tersenyum, menyentuh pipi Arumi yang merona. "Tapi, enggak apa-apa sih, karena akhir nya kamu bisa menyentuh nya," kata Bumantara sambil menunjukkan tangan Arumi yang masih betah di sana, tanpa ada tangan nya sebagai perekat seperti awal tadi.
"Udah ah sana ... minggir!" seru Arumi sambil mendorong Bumantara, dia terlalu malu dengan tingkah nya sendiri, akhirnya dengan tergesa-gesa bangkit dari kasur, dan meninggalkan Bumantara yang masih berbaring.
"Sayang, kalo mandi ajak aku! Karena hanya aku yang bisa menggosok punggung putih itu," seru Bumantara, menatap kepergian Arumi yang sudah berlalu dari kamar.
"Sialan! Bumantara mesum." sahut Arumi kesal.
Bumantara tergelak saat mendengar makian Arumi yang menurut nya mengemaskan.
——
Bersambung....