NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Kristal

Pendekar Pedang Kristal

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi Timur / Balas Dendam / Kelahiran kembali menjadi kuat / Epik Petualangan / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:12.9k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Chen Kai menyaksikan kehancuran Klan Kristal dengan kedua matanya sendiri.Namun pelakunya bukan musuh… melainkan kakaknya sendiri.

Seolah kematian sekali belum cukup, ia dipaksa tenggelam dalam ilusi—menyaksikan pembantaian itu seribu kali, tanpa bisa berteriak, tanpa bisa mati.

Sejak hari itu, hidup Chen Kai hanya memiliki satu tujuan yaitu balas dendam.Ia menapaki jalan berdarah, mengejar bayangan sang kakak,mengasah kebencian sebagai kekuatan untuk bertahan hidup.

Namun, semakin dekat ia pada kebenaran,semakin retak keyakinannya.Karena di balik pembantaian Klan Kristal,tersimpan rahasia yang tak pernah ia bayangkan—sebuah kebenaran yang mungkin akan menghancurkan dendam itu sendiri.

Saat semuanya terungkap…

siapakah sebenarnya yang pantas disebut monster?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Retaknya Sang Pilar Kristal

​Klan Kristal bukan sekadar nama besar; mereka adalah satu dari lima pilar utama yang menyangga kemegahan Kekaisaran Langit. Tanpa kekuatan mereka, fondasi kekaisaran ini mungkin sudah lama runtuh. Dikenal sebagai gudangnya para jenius berbakat dengan paras yang menawan, klan ini mencapai puncak kejayaannya di bawah kepemimpinan Chen Xiao.

​Dua permata paling bersinar di klan saat itu adalah putra kandung Chen Xiao: Chen Xo dan adiknya, Chen Kai. Keduanya adalah gambaran sempurna dari harmoni. Ke mana pun mereka pergi, senyum hangat dan pujian dari anggota klan selalu mengiringi langkah mereka.

​"Hati-hati, Chen Kai! Jangan lari terlalu kencang!" seru Chen Xo sambil tertawa, tangannya sigap mencoba menggapai jubah adiknya yang gesit.

​"Hahaha! Tangkap aku kalau bisa, Kak! Katanya Kakak jenius nomor satu?" Chen Kai menoleh sambil menjulurkan lidah, tawanya yang renyah memenuhi taman kediaman.

​Di paviliun kayu yang asri, Chen Xiao dan istrinya, Qing Luan, memperhatikan pemandangan itu dengan binar mata penuh cinta.

​"Tidak terasa mereka sudah tumbuh sebesar itu, ya?" bisik Qing Luan lembut, menyandarkan kepalanya ke bahu sang suami.

​Chen Xiao, yang biasanya dikenal tegas dan berwibawa sebagai pemimpin klan, hanya bisa menghela napas pasrah namun bibirnya mengulas senyum tipis. "Waktu memang tidak pernah menunggu, Istriku. Tapi melihat mereka akur... rasanya beban klan ini jadi lebih ringan."

​Tiba-tiba, hap! Chen Kai melompat ke punggung ayahnya tanpa peringatan. "Ayah! Ayo main! Jangan diam saja seperti patung. Kata Ibu, Ayah ini tipe tsundere, ya? Dingin di luar tapi mau ikut main juga, kan?"

​"Kena kau!" Chen Xo menyusul, ikut memanjat bahu ayahnya dengan riang.

​"Hei, hei! Jaga wibawa Ayahmu ini!" protes Chen Xiao pura-pura marah, meski akhirnya ia tertawa bersama kedua putranya.

​Namun, kebahagiaan itu seperti embun di ujung daun—indah, tapi cepat menguap. Seiring memanasnya konfrontasi politik antara klan dan kekaisaran, atmosfer di kediaman mulai mendingin. Chen Xo berubah. Ia menjadi pendiam, lebih sering menghabiskan waktu sendirian untuk berlatih, hingga akhirnya ia sering menghilang tanpa kabar.

​Sepuluh tahun usia Chen Kai saat itu. Di sebuah hutan terpencil di pinggiran kota, ia sedang berlatih di bawah pengawasan gurunya. Namun, ada yang aneh. Matahari sudah mulai tenggelam, tapi gurunya tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.

​"Guru, kapan kita selesai? Hari sudah mulai gelap," tanya Chen Kai sambil menyeka keringat di dahinya.

​Sang guru menatap cakrawala dengan tatapan yang sulit diartikan—ada kecemasan yang tersembunyi di sana. "Latihanmu belum cukup, Kai. Sekarang, pusatkan Qi-mu pada pedang. Jangan berhenti sampai kau benar-benar menguasainya."

​Chen Kai hanya bisa patuh. Ia baru diizinkan pulang saat rembulan sudah tinggi di langit. Dengan langkah ringan dan hati yang rindu, ia berlari kecil menuju gerbang klan. "Semoga hari ini Kak Chen Xo sudah pulang. Aku ingin pamer teknik baru ini padanya."

​Namun, langkahnya terhenti di depan gerbang besar yang sedikit terbuka. Bau karat yang menyengat menusuk hidungnya. Bau darah.

​"Apa ini...?"

​Chen Kai mempercepat langkahnya. Saat ia melewati gerbang, dunianya seakan runtuh. Halaman yang biasanya rapi kini berserakan dengan mayat anggota klan. Darah membanjiri sela-sela bebatuan, memantulkan cahaya bulan yang pucat.

​"Ada apa ini?! Siapa yang melakukan ini?!" Jantungnya berdegup kencang, memukul dadanya dari dalam. Dengan napas tersengal, ia berlari menuju paviliun utama.

​"AAAARRGG!"

"K-KENAPA?! KENAPA TUAN MUDA? JANGAN—ARGGGHH!"

​Suara teriakan itu merobek kesunyian malam. Chen Kai menerjang masuk ke dalam aula besar, dan pemandangan di depannya jauh lebih mengerikan dari neraka mana pun yang pernah ia bayangkan.

​Di tengah genangan darah, berdiri seorang pemuda dengan pedang yang meneteskan cairan merah pekat. Itu Chen Xo. Kakaknya sedang mencabut nyawa orang-orang yang dulu memujanya.

​"K-Kakak...?" Lutut Chen Kai melemas. Ia jatuh terduduk, tubuhnya gemetar hebat. "Apa yang kau lakukan? Kenapa... kenapa kau membunuh mereka semua?"

​Chen Xo menoleh perlahan. Wajahnya yang tampan kini terciprat darah, matanya dingin seolah-olah ia baru saja melakukan tugas sepele. "Kenapa? Sederhana saja, Kai. Aku hanya ingin menguji sampai di mana batas kekuatanku."

​Amarah murni meledak di hati Chen Kai, mengalahkan rasa takutnya. Ia bangkit dengan teriakan histeris. "KAU GILA! KENAPA KAU MELAKUKAN INI PADA KELUARGA KITA?!"

​Chen Kai menerjang, melayangkan pukulan dengan sisa tenaga yang ia miliki.

​BRUK!

​Tanpa kesulitan berarti, Chen Xo mendaratkan tendangan keras ke ulu hati adiknya. Chen Kai terpental, menghantam pilar hingga terbatuk darah. Belum sempat ia bernapas, kaki Chen Xo sudah menginjak dadanya dengan kasar.

​"Dengar ini, Dasar Lemah," desis Chen Xo, menatap adiknya dengan penghinaan yang mendalam. "Jika kau ingin balas dendam, jadilah kuat. Tanamkan kebencian ini di tulangmu, dan datanglah padaku saat kau merasa sudah layak untuk membunuhku."

​Chen Xo mengangkat tangannya. Sebuah lingkaran sihir berwarna kristal gelap muncul dan menghujam langsung ke kening Chen Kai.

​"AAAARRGGHH! SAKIIITT!"

​Itu adalah teknik ilusi paling kejam. Di dalam pikirannya, Chen Kai dipaksa menyaksikan kematian setiap anggota klan secara berulang-ulang. Namun yang paling menghancurkan jiwanya adalah melihat Chen Xo menghunuskan pedang ke jantung ayah dan ibu mereka tanpa setetes pun air mata.

​Satu kali... sepuluh kali... seratus kali... hingga seribu kali.

​Kejadian mengerikan itu diputar tanpa henti dalam hitungan detik di otaknya, meninggalkan luka trauma yang permanen. Rasa cinta yang dulu ada kini habis terbakar, berganti menjadi hitamnya dendam yang mendarah daging.

​"AKAN KUCARI KAU... AKAN KUBUNUH KAU DENGAN TANGANKU SENDIRI, CHEN XO!"

1
Nanik S
apakah mereka sampai ke Kuil Langit
YANI AHMAD
baru tau ada kultivator pake ketapel 😅😅
YANI AHMAD
good job Thor 😍😍
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Hancurken 🔥🦀
Etan Ballideeg Bloodo
Sasuke
Nanik S
Kia... membangkitkan Mayat..
Nanik S
Kai... mereka mau memakan kita
Nanik S
Mengganggu Lin Kia
Nanik S
Kisah yang mengharukan
Nanik S
KXia sudah mulai Normal hatinya
Nanik S
Kai... betapa pusingnya mengajari Xia
Nanik S
Lin Xia... jiwanya sudah orang lain
Nanik S
Pengganggu harus disingkirkan
Nanik S
Cuuuuuus
Nanik S
Apakah Lin Xia akan sadar kembali
Nanik S
Boneka mayat
Nanik S
Semoga Lin Xia sedikit demi sedikit bisa mengingat
Nanik S
Kai... kenapa memaksakan diri membuat Lin Xia bangkit
Nanik S
Kia... kenapa jadi hantu
Nanik S
Apakah Dia akan menjadi Iblis
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!