"menikah, atau kamu kami coret dari daftar pewaris?"
"tapi dia gila mah,"
.........
Narendra meradang saat jalinan kasihnya selama bertahun-tahun harus kandas dan berakhir dengan menikah dengan perempuan pilihan orang tuanya.
Reyna, putri konglomerat yang beberapa tahun belakangan di isukan mengidap gangguan jiwa karena gagal menikah adalah perempuan yang menjadi istri Narendra.
tak ada kata indah dalam pernikahan keduanya, Naren yang belum bisa melepas masa lalunya dan Rayna yang ingin membahagiakan keluarga nya di tengah kondisi jiwanya, saling beradu antara menghancurkan atau mempertahankan pernikahan.
apakah Naren akhirnya luluh?
apakah Rayna akhirnya menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyky Pamella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MPG_14
“Oh… jadi kalau mau bobok halus mik cucu dulu?” ucapku sambil cekikikan
“Gak lucu.”
Nada suara Naren terdengar datar, bahkan cenderung kesal. Tanpa aba-aba, ia menyingkap selimutku dengan kasar, lalu meraih bantal dan selimutnya kembali
“Widiw… santai pak,” sahutku cepat sambil bergeser ke pojok ranjang, menyingkir agar tidak tersenggol tubuh besarnya.
“Udah. Buruan tidur. Awas aja kalau sampai lupa perjanjian kita. Besok setelah subuh kita harus langsung balik ke apartemen.” ultinya. seolah esok usai subuh akan terjadi perang
“Iya… iya… kalem aja kali, Mas. Gak ketemu Ajeng sehari juga gak bakal mati,” balasku enteng, rasa kesal ku semakin menumpuk saja
Naren hanya mendelik tajam mendengar jawabanku. Tatapan itu—dingin dan penuh peringatan. aku memilih pura-pura tak melihat raut wajah menjengkelkan itu. untung saja masih tertolong dengan ketampanannya. Aku membalikkan badan, memunggunginya, berusaha memejamkan mata di tempat asing yang sekarang ku sebut rumah.
Namun, sia-sia. semakin mataku terpejam, rasa iri ku pada Ajeng semakin menggerogoti. Egoku sebagai seorang istri meronta, menuntut pengakuan yang seharusnya menjadi hakku.
Sejak memutuskan memerankan lakon sebagai wanita “gila” aku nyaris tak pernah menggunakan kecerdikan pikiranku, apalagi kekuasaan dan privilese yang kumiliki, untuk mendapatkan apa pun. Aku terlalu lama memilih diam, terlalu sering menahan diri.
Menjadi putri keluarga Rusdiantoro adalah sebuah privilese yang diidamkan banyak orang. Tapi tidak denganku. Aku selalu menolak setiap kali Mamah atau Mas Raka menawarkan bantuan. Bahkan untuk hal sepele seperti memanaskan mobil, para pengawal akan saling berebut melakukannya karena saking jarangnya aku meminta bantuan pada mereka.
Namun kali ini berbeda. Ini pengecualian.
Aku akan mengerahkan seluruh kecerdasan, kekuasaan, dan privilese yang kupunya untuk mempertahankan rumah tanggaku.
Karena ini bukan sekadar perkara aku mulai mencintainya—meski perasaan itu memang tumbuh tanpa izin. Ada hal yang jauh lebih besar. Ada dua keluarga besar yang menaruh harapan pada pernikahan ini. Ada nama baik dan martabat yang harus dijaga. Lebih dari itu, ada dua sosok ibu yang akan sangat terluka jika kami berpisah.
Narendra sedang mabuk cinta. Dalam keadaan seperti itu, ia tak akan berpikir sejauh ini.
"Apa pun alasan di balik pernikahan kita, sekarang kita adalah suami istri. Ikatan suci ini disaksikan bumi dan langit. Mungkin bagimu pernikahan ini hanya batu loncatan, tapi bagiku ini ibadah. Dan sah bagiku melakukan segala cara untuk mempertahankan rumah tangga ini."
Aku menghela napas panjang, lalu melirik ke arah Naren yang kini merebahkan diri di sofa.
“Gimana aku bisa tidur kalau kamu gedebukan kayak gitu?” keluhku.
“Kecilin lagi dong AC-nya. Panas banget,” katanya sambil menarik kerah kausnya, lalu meniup-neup bagian dalam dadanya seolah benar-benar kepanasan.
“Gerah gimana sih? Dingin gini aja udah kebangetan, Mas.”
Ia tidak menjawab. Langsung bangkit dan meraih remote AC di atas nakas. Tak lama kemudian, udara di kamar semakin menusuk.
Aku menarik selimut hingga menutupi wajah, menggigil.
*Bug! Bug!*
Suara benturan membuatku tersentak. Aku refleks menyalakan lampu utama.
“Huff… kamu kenapa sih, Mas? Kalau mau pargoy besok pagi aja,” omelku kesal, namun kalimat itu terhenti saat mataku menangkap pemandangan di depanku.
“Mas… kamu kenapa?”
Aku melompat dari kasur. Dahi Narendra dipenuhi peluh, butiran keringat sebesar biji jagung mengalir deras. Rambutnya basah, matanya memerah, napasnya tak beraturan.
“Jangan mendekat. Mundur. Kembali ke kasur.”
Ia bangkit dari sofa, justru menjauh dariku.
“Kamu kenapa? Kenapa sampai keringetan kayak gitu?”
“Aku gak apa-apa.”
“Gak apa-apa gimana? Lihat rambut kamu aja—basah semua. Kamu sakit?”
Aku melangkah mendekat, refleks hendak menyentuh keningnya.
“Mundur! Aku bilang mundur!”
Aku berhenti. Dadaku naik turun.
“Ya udah. Kalau kamu gak mau sama aku, biar aku telepon Mamah aja.”
“Jangan!” pekiknya spontan.
“Kalau gitu nurut. Aku cuma mau cek suhu badan kamu.”
Aku kembali mendekat, kali ini ia tak menghindar. Tanganku menempel di keningnya.
“Astaga, Mas… panas banget.”
Belum sampai tiga detik, ia langsung blingsatan.
“Aku mau mandi,” katanya terburu-buru, lalu berlari ke arah kamar mandi.
“Mas! Kamu demam kok malah mandi!” Aku menyusul panik.
Karena tergesa, ia lupa mengunci pintu. Aku mendorongnya terbuka dan terdiam di tempat.
Narendra berdiri di bawah pancuran air, masih dengan pakaian lengkap. Air mengalir membasahi tubuhnya, rambutnya, wajahnya yang menahan sakit. Beberapa detik aku hanya terpaku, sampai tubuhnya melemah dan ia jatuh terduduk, bertumpu pada lutut, kedua tangannya terjepit di antara paha.
Aku langsung berlari mendekat.
“Mas!”
Aku berlutut di hadapannya, berusaha membantunya berdiri. Tanganku menyentuh telapak tangannya yang dingin dan gemetar. Wajahnya meringis, seolah menahan nyeri luar biasa.
“Mas, kamu kenapa? Apanya yang sakit?”
Aku menarik tangannya, dan saat itulah aku menyadari sesuatu yang membuatku refleks terhenyak mundur.
“Astagfirullah…”
“Menjauh dariku, Rayn,” suaranya berubah sayu, hampir putus asa.
“Mas… sebenarnya kamu kenapa?”
“Aku… aku juga gak tahu. Kayaknya Mamah nyampurin sesuatu di susu yang aku minum tadi.” ucapnya frustasi
“Shit… argh…” Ia kembali meringis, menahan diri.
Aku semakin panik. Otakku berpacu, mencoba mengingat, menganalisis, mencerna apa yang kini tengah terjadi
"Rayna go. kamu semakin menyiksaku dengan baju ketat mu itu, " teriak Narendra dengan suara serak
seketika aku menuduk, benar saja baju tidur oversize ku yang basah kini justru menciut membentuk lekuk tubuh
Kalau benar itu obat perangsang… berarti hanya ada satu cara…Dadaku berdebar keras.
'Rayna, bukankah ini yang kamu inginkan? Mempertahankan rumah tanggamu? Maka ini kesempatan untuk mendapatkan hakmu.'
Logika dan hatiku bertarung sengit. Tapi aku tahu—aku wanita. Dan wanita akan berjalan mengikuti hatinya.
Aku melangkah keluar dengan ragu, hingga akhirnya aku memutuskan untuk kembali. aku mendekat lagi ke arah Narendra yang sudah semakin merancau tak karuan.
'Jika dengan cara ini aku bisa menjadi istrimu seutuhnya, maka biarlah. Aku ikhlas memberikan apa yang kujaga selama 24 tahun.' lirih ku dalam hati. jika keputusan ku ini salah, maka biarlah. setidaknya aku sudah pernah berjuang untuk mempertahankan pernikahan ini hingga di ambang batas kemampuan ku
Aku memeluk tubuh Narendra yang bersandar lemah di dinding kamar mandi. Awalnya ia memberontak, menahan, menolak. Namun saat aku merapatkan tubuhku, meredam getarnya, ia perlahan melemah.
Napas kami beradu. Detak jantungnya terasa jelas di dadaku. air dari shower masih terus turun membasuh tubuh kami berdua.
“Rayn…” suaranya lirih, nyaris tak terdengar.
Aku menguatkan pelukan. Tubuh kami basah, hangat, dan untuk pertama kalinya—tak ada jarak di antara kami.
plisss dong kk author tambah 1 lagi