Song An, karyawan kantoran abad ke-21 yang meninggal karena lembur tanpa henti, terbangun di tubuh seorang selir bayangan di istana Kekaisaran statusnya setara hiasan, namanya bahkan tak tercatat resmi. Tak punya ambisi kekuasaan, Song An hanya ingin hidup tenang, makan cukup, dan tidak terseret drama istana.
Namun logika modernnya justru membuatnya sering melanggar aturan tanpa sengaja: menolak berlutut lama karena pegal, bicara terlalu santai, bahkan bercanda dengan Kaisar Shen yang terkenal dingin dan sulit didekati. Bukannya dihukum, sang kaisar malah merasa terhibur oleh kejujuran dan sikap polos Song An.
Di tengah kehidupan istana yang biasanya penuh kepura-puraan, Song An menjadi satu-satunya orang yang tidak menginginkan apa pun dari kaisar. Tanpa sadar, sikap santainya perlahan mengubah hati Kaisar Shen dan arah takdir istana dengan cara yang lucu, manis, dan tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Istana yang Terasa Kosong
Penangkapan Luo Han membuat istana berubah.
Bukan karena keributan.
Justru karena… sunyi.
Koridor yang dulu dipenuhi bisik-bisik dan tatapan saling curiga kini terasa lebih ringan. Para pelayan berjalan tanpa wajah tegang. Pengawal berdiri lebih tegak, seolah beban tak terlihat telah diangkat dari bahu mereka.
Song An menyadarinya pertama kali saat berjalan pagi bersama Selir Li dan Selir Zhang.
“Sepi ya,” gumam Selir Zhang.
“Sepi yang enak,” jawab Song An. “Tidak ada yang pura-pura tersenyum sambil menusuk dari belakang.”
Selir Li tertawa kecil. “Kau selalu bicara seperti sedang mengomentari drama pasar.”
“Karena hidup istana memang drama mahal,” sahut Song An.
Mereka bertiga berjalan santai di taman belakang. Tidak ada pengawal bayangan yang mengawasi dari terlalu dekat lagi. Tidak ada mata-mata yang pura-pura menyiram bunga.
Untuk pertama kalinya sejak masuk istana…
mereka merasa seperti manusia biasa yang sedang jalan pagi.
Pembersihan Diam-Diam
Di aula dalam, Kaisar Shen menerima laporan.
“Sebagian jaringan sudah ditangkap semalam,” kata kepala pengawal elit. “Beberapa pejabat kecil mencoba kabur, tapi tertahan di gerbang barat.”
“Jangan buat keributan terbuka,” kata Kaisar tenang. “Tangani diam-diam. Rakyat tidak perlu tahu betapa dekatnya bahaya kemarin.”
“Baik, Yang Mulia.”
Kaisar menatap daftar nama yang disita dari Luo Han.
Pengkhianatan memang menyakitkan.
Tapi yang lebih menyakitkan adalah melihat betapa banyak orang bersedia menjual negeri sendiri demi janji kosong.
Ia menutup daftar itu pelan.
“Setelah ini,” gumamnya, “istana ini harus dibangun ulang… bukan dengan tembok, tapi dengan kepercayaan.”
Kabar yang Ditunggu
Sore hari, tiga selir utama dipanggil ke paviliun kecil tempat mereka sering berkumpul dengan Kaisar.
Begitu masuk, mereka langsung melihat dua pria berdiri di dalam.
Selir Li membeku.
Selir Zhang menutup mulutnya.
“Ka–kalian…?”
Dua pria itu membungkuk dalam.
Pria di sebelah kiri tersenyum lembut. “Maaf membuatmu menunggu lama.”
Selir Li langsung menitikkan air mata. “Kau benar-benar kembali…”
Pria di sebelah kanan mengusap tengkuk canggung. “Aku hampir menyerah menyusup ke jaringan mereka. Untung pesan kalian sampai.”
Song An mundur pelan, memberi ruang.
Kaisar Shen berdiri di dekat jendela, memperhatikan tanpa mengganggu.
“Berkat informasi dari kalian berdua,” katanya, “kami bisa menutup jalur luar negeri mereka.”
Dua pria itu berlutut. “Kami hanya melakukan yang seharusnya.”
Selir Zhang menggeleng cepat. “Tidak usah formal begitu…”
Song An menyenggolnya pelan. “Biarkan. Mereka lagi mode ksatria.”
Selir Li tertawa sambil menghapus air mata.
Untuk pertama kalinya, tangis di ruangan itu bukan karena takut.
Keputusan yang Mendekat
Setelah pertemuan mengharukan itu, suasana menjadi lebih tenang.
Teh disajikan. Mereka duduk bersama seperti teman lama, bukan penghuni istana penuh aturan.
“Apa rencanamu setelah ini?” tanya Song An pada Selir Li.
Selir Li saling pandang dengan pria di sampingnya, lalu tersenyum malu.
“Aku ingin membuka rumah obat kecil di kota. Dia yang mengelola kebun herbal.”
Selir Zhang menyusul, “Aku ingin kedai makanan. Dia bilang akan bantu memasak.”
Song An mengangguk puas. “Bagus. Aku nanti jadi pelanggan tetap yang makan gratis.”
“Tidak semudah itu,” kata Selir Zhang cepat.
“Kalian pelit sekali pada pahlawan negeri,” sahut Song An santai.
Mereka semua tertawa.
Kaisar Shen hanya diam memperhatikan, tapi tatapannya lembut.
Ia tahu
hari perpisahan itu semakin dekat.
Percakapan Empat Orang
Malamnya, hanya Song An yang masih tinggal di paviliun ketika Kaisar datang.
“Yang lain?” tanyanya.
“Sedang bersama masa depan mereka,” jawab Song An.
Kaisar duduk di seberangnya. Tidak ada meja formal, hanya lampu minyak kecil di antara mereka.
“Dan kau?” tanyanya pelan.
Song An berpikir lama sebelum menjawab.
“Aku dulu cuma ingin hidup tenang. Makan cukup. Tidak disuruh berlutut lama-lama.”
Kaisar tersenyum tipis. “Standarmu rendah sekali.”
“Aku realistis.”
Hening sejenak.
“Tapi sekarang?” tanya Kaisar.
Song An menatap lampu kecil itu.
“Sekarang aku tidak yakin.”
Ia mengangkat bahu.
“Mungkin karena untuk pertama kalinya… ada tempat yang terasa seperti pilihanku sendiri.”
Tatapan Kaisar melembut.
“Kalau kau pergi nanti,” katanya pelan, “istana ini akan jauh lebih sunyi.”
Song An menyeringai kecil.
“Yang Mulia baru sadar aku berisik?”
“Sejak hari pertama.”
Mereka tertawa pelan.
Tidak ada gelar. Tidak ada jarak.
Hanya dua orang yang sudah melewati badai bersama.
Surat Keputusan
Keesokan paginya, keputusan resmi dikeluarkan.
Dua selir diberi izin pulang secara terhormat, dengan identitas dipulihkan dan harta bekal.
Istana tidak lagi menjadi sangkar.
Tapi tempat singgah sebelum hidup yang sebenarnya.
Selir Li dan Selir Zhang datang ke paviliun Song An membawa bungkusan kecil.
“Kami akan berangkat besok pagi,” kata Selir Li.
Selir Zhang memeluk Song An erat. “Terima kasih sudah masuk ke hidup kami dan membuat semuanya kacau… tapi jadi lebih baik.”
Song An memeluk balik. “Kalau nanti kalian bahagia, kirim kabar. Kalau tidak bahagia, jangan kirim. Nanti aku kepikiran.”
Mereka tertawa sambil menangis sedikit.
Langit yang Berbeda
Malam terakhir mereka bertiga di istana dihabiskan di atap paviliun, seperti dulu saat pertama kali kabur ke pasar.
Mereka makan camilan, kaki menggantung bebas.
“Dulu kita takut masa depan,” gumam Selir Li.
“Sekarang kita takut berpisah,” tambah Selir Zhang.
Song An menatap langit.
“Pisah itu bukan akhir,” katanya pelan. “Cuma ganti lokasi cerita.”
Angin malam berhembus lembut.
Tidak ada lagi bayangan musuh.
Tidak ada lagi rahasia besar yang menekan dada.
Hanya tiga perempuan yang pernah terjebak takdir…
dan sekarang memilih jalan sendiri.
Di bawah mereka, istana berdiri tenang.
Dan di suatu jendela jauh, Kaisar Shen berdiri memandang ke arah paviliun itu.
Tidak memanggil.
Tidak menahan.
Hanya mengawasi dengan senyum tipis—
karena untuk pertama kalinya,
ia memimpin negeri yang tidak lagi dikelilingi bayangan.
Dan untuk pertama kalinya juga,
ia tahu hatinya tidak lagi sendirian.
Bersambung…
kalau begini kapan babby launching nya.....