Kisah sebuah balas dendam dari seorang wanita bernama Kiara yang dikhianati oleh kekasihnya sendiri, membawanya bertemu dengan sosok NYAI RONGGENG yang dapat menjanjikan kecantikan, dan digemari banyak pria.
Kisah mistis ini berasal dari daerah Dusun 16, Desa Kolam, Kecamatan Percut Sei Tuan-Deli Serdang-Sumutera Utara (Sekitaran Medan).
Bagaimana kisah Kiara selanjutnya? ikuti kisahnya dalam novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa
Kiara menatap pria dihadapannya dengan wajah datar. Ia sudah tahu, jika pria ini terkena oleh sihir pesona yang dimilikinya.
Namun, sepertinya ia tak semudah itu untuk mengabulkan permintaan sang Kades.
"Maaf, Pak saya malam ini sangat capek sekali, kalau memang bapak sesuai janji, besok saja kita ketemunya. Saya gak akan kemana-mana. Lagipula proyek yang bapak janjikan itu cukup menggiurkan,"
Tarman terlihat lesu. Ia sepertinya tak dapat menunda keinginannya untuk dapat mencicipi sang gadis.
Ia sedang memutar otaknya, bagaimanapun harus tidur dengan Kiara, sebab kepala atas dan kepala bawahnya berdenyut, meminta segera disalurkan.
"Saya transfer dua puluh juta, dan kamu harus layani saya malam ini," Tarman sedikit memaksa. Tanpa ragu, ia mengirimkan uang yang berasal dari dana desa dan diperuntukkan untuk membangun fasilitas des, tetapi ia pergunakan untuk hal pribadi.
Ting
Transferan masuk ke dompet digital milik Kiara, dan benar saja, dua puluh juta sudah terkirim.
Ia berfikir, jika menggoda kepala desa saja bisa menghasilkan uang yang banyak, maka ia harus melebarkan sayapnya menggoda yang jabatannya lebih tinggi, semisal Walikota, Bupati, atau Gubernur, mungkin pejabat lainnya yang lebih tinggi kedudukannya.
"Terimakasih, Pak. Tapi malam ini ditunda dulu, ya. Saya masih datang bulan," bisik Kiara ditelinga sang Kades, sehingga membuat pria itu semakin panas dingin.
"Saya kasih pembayaran di muka terlebih dahulu, dan sisanya besok." Kiara menyesap bibir sang Kades, dan membuat pria itu merasakan sesuatu yang tak dapat ia ungkapkan.
Setelah memberikan kecupan pada sang Kades, Kiara tersenyum seringai. "Besok baru pelunasannya. Bapak silahkan pulang, semoga bisa tidur nyenyak," bisiknya lagi, dengan suara manja.
Tarman yang sedang dimabuk cinta, seolah tak berdaya. Hatinya sedang disusupi oleh iblis yang sedang bersarang selama empat puluh hari, dan akan memperdayanya, membuatnya merasa gila, apabila Kiara tak memenuhi janjinya.
Pria itu mengangguk patuh, lalu pulang dengan rindu yang membelenggu, dan tak dapat lepas dari jerat yang begitu kuat.
****
Tarman tiba dirumahnya. Ia seperti orang linglung, sebab keinginannya untuk mencicipi tubuh Kiara belum kesampaian.
Pria itu duduk disofa, lalu termenung sembari membayangkan wajah Kiara.
"Bang, kamu sudah pulang?" tanya Lastri yang baru saja selesai shalat.
Tarman memandangnya, dan entah apa yang ada dibenaknya, ia merasa benci dengan wanita dihadapannya, dan berniat bagaimana caranya bisa melenyapkan wanita itu, agar ia dapat bebas berduaan dan memadu kasih dengan Kiara.
"Sudahlah, Dim. Lebih baik kamu tidur, jangan ganggu bapak." ucapnya dengan nada datar. Ia tak suka jika diajak bicara, sebab saat ini sedang menikmati khayalannya dengan Kiara.
"Abang mau dibuatkan kopi?" tanya Lastri, mencoba menghibur sang suami. Ia tahu jika pria itu lagi banyak fikiran, sebab sedang memperjuangkan dana desa tahap ke dua yang akan dicairkan, tetapi kabar yang beredar, jika pencairannya dibayarkan, membuat pria itu sangat pusing kepala.
Tarman diam saja, dan hal itu membuat Lastri berinisiatif untuk membuatkan kopi pada sang suami.
Ia pergi ke dapur, lalu menyeduh kopi hitam kesukaan suaminya didapur. "Bang Tarman kenapa termenung begitu? Apakah dia lagi terkena masalah? Sebab kabar yang beredar, jika Tim Audit dari pusat akan turun ke setiap desa untuk melihat pembangunan yang nyata." Lastri mengaduk dua sendok gula ke dalam gelas, lalu mengoreksi rasanya, dan setelah dirasa pas, ia menghantarkannya ke ruang tengah.
Lastri meletakkan kopi diatas meja, dan ia berharap jika kopi itu dapat membuat Tarman lebih rilex.
"Bang, ini kopinya, minumlah."
Tarman menoleh ke arah Lastri. Ia sepertinya sedang tidak ingin diganggu. "Kamu ngerti gak yang abang bilang?" tanyanya dengan nada penekanan, dan tatapannya cukup tajam.
"Maksudnya apa?" tanya Lastri dengan wajah takut. Sebab ia tidak pernah melihat Tarman semarah ini, bahkan tatapannya seperti tak ada cinta disana.
"Sudah ku katakan, jangan ganggu, kenapa kamu masih ngeyel?! Sekarang lebih baik masuk ke kamar, sebelum aku siram pakai air kopi panas ini!" ancam Tarman yang sudah kehilangan akalnya.
Sontak saja hal itu membuat Lastri memucat. Ia tidak tahu apa yang menjadi masalah suaminya, mengapa membencinya.
Dengan rasa luka yang berdarah, ia beranjak dari tempatnya, dan memilih untuk pergi ke kamar. Menangis dalam diam.
Sedangkan Tarman, ia sedang menatap dinding rumahnya yang terbuat dari beton dan dalam diam ia sedang meresapi bayangan wajah Kiara, cantik penuh pesona, dan menggairahkan.
"Kiara, aku tak tahan lagi menunggu hari esok. Waktu seolah berjalan lambat, membuatku terasa tersiksa." ia mengacak rambutnya, dan merasa rindu yang tak berkesudahan membuatnya tak dapat tidur.
Desakan ingin segera meniduri sang gadis, membuatnya terus tak tenang.
Ia berjalan mondar-mandir, menatap pintu yang tertutup, dan seolah mengharapkan jika Kiara datang membalas rindunya yang terlalu dalam.
****
Hari masih gelap, Kiara pergi meninggalkan rumah. Ia ingin mengambil pesanan ayam cemani dan keperluan alat untuk ritual.
Dalam keremangan, ia mengendarai motornya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Ia menuju sebuah rumah milik seorang wanita tua yang biasa memelihara berbagai ayam kampung.
Kiara tiba dirumah itu setelah hampir pukul enam pagi. Sebuah rumah berdinding anyaman bilah kelapa sawit dan atap dari dari daun pohon rumbia/sagu menjadi tempat berterduh bagi sang empunya ternak.
Kiara memandangnya dengan tatapan yang miris. Bagaiamana bisa orang yang sudah sepuh tinggal dirumah itu sendirian, ditempat yang sunyi.
Pintu rumah terbuka. Terlihat seorang wanita berambut putih dengan tinggi hanya seratus dua puluh centi meter, berdiri menatapnya dengan sangat dalam.
Kiara menyambutnya dengan senyum manis, lalu menghampirinya.
"Maaf, Nek, mengganggu sepagi ini. Saya dapat dari temen, kalau nenek katanya punha ayam cemani, jadi mau beli."
Wanita itu menatap Kiara dengan seksama, lalu memalingkan wajahnya, dan berjalan memutar rumah ke bagian samping.
"Ayamnya ada dibelakang." ucapnya dengan nada datar, tak ada senyum amnis sebagai seorang penjual yang ramah pada pelanggan.
Kiara mengikuti langkah wanita tersebut. Kakinya menginjak halaman yang ditumbuh rerumputan jepang, dan ikut menuju ke arah belakang, hingga tiba dikandang ayam.
"Ini ayam-ayamnya. Mau pesan berapa?"
"Pesan empat ekor sekalian, Nek." sahut Kiara dengan melongok ke arah ayam yang dikandangkan.
Wanita itu mengambil empat ekor ayam berbulu hitam dan seluruh tubuhnya warna hitam. Tangannya begitu cekatan, lalu mengikat bagian kakinya.
"Berapa harganya, Nek?" tanyanya dengan sopan.
"Empat ratus ribu,"
"Kiara menyerahkan uang tersebut, dan berpamitan untuk pergi."
"Jangan biarkan sesuatu yang menjerumuskan membawa pada sebuah kehancuran," wanita itu berkata lirih, dan tidak tau ditujukan pada siapa, tetapi ia terus berjalan menuju dapurnya, dan meninggalkan Kiara yang diam termangu.
Rama butuh gol. darah O+ ,, aku nti ikutan nyumbang darah yaa Krn aku jg gol. darah nya O+ 🤣
tp spt nya Rama nti koit deh Krn sdh mau ikut sama iblis Nyai Ronggeng 🤣
apakah iblis Nyai Ronggeng mnta Tumbal yaaa ❓❓
maaf yaa kak ,, mmg TDK ada warga yg ngomong / ngadu ke orang tua nya Kiara yaa kalau anak nya JD Jalang Sampah Masyarakat 😤😤
Mungkin di mata Rama, Nyai Punden Ronggeng seperti Kiara kali yah.. 😁😁🤏
apakah kata-kata Kiara itu akan mjd kutukan untuk Beidah ❓❓
Bagus Rama gak mati di dalam galian kuburan yg di buat nya sndri 🤣🤣
Uang Gajian sebulan malah di berikan PD Kiara ,,, mmg nya nti mo d kasih makan apa tuh keluarga di rumah ,,, tp Alhamdulillah untung nya dh ketahuan duluan 💃
si Kiara di suruh nyari 100 orang laki-laki ,, sdgkan Kiara baru dpt 2 orang ( Tarman dan Rama ) ,,, tinggal 98 laki-laki lagi ,,, mmg kudu ke kota kau Kiara ,,,,,,, gaskeun 🤣🤣
Kiara untung bgt tuh , gak di garap tp ttp dapat uang 5jt dr Rama 💃💃