Seperti kapal yang terombang-ambing di tengah lautan gelap tanpa bintang, hidup Murni melintasi jurang kebingungan saat jalan kuliahnya tiba-tiba terputus seperti tali yang dipotong kasar. Dunia yang dulu dihiasi dengan impian lembaran kertas putih bersih kini berubah menjadi hamparan jalan terjal yang penuh batu tajam dan genangan lumpur. Tanpa ragu, dia memilih merangkul dunia pabrik yang keras – tangan yang dulu memegang pena dengan lembut kini memegang alat berat dan bahan baku kasar, setiap tetes keringatnya menorehkan cerita perjuangan yang tak pernah terucapkan. Hidupnya seperti lautan yang terus bergelombang, menghantam pantai harapan dengan ombak rasa yang tertelan dalam diam.
Di tengah hiruk-pikuk mesin pabrik yang tak pernah berhenti berputar, cinta datang seperti embun pagi yang menyentuh dedaunan kering.
Akankah cinta yang tulus benar-benar ada di jalan yang penuh duri ini, atau hanya ilusi yang akan sirna seperti kabut pagi saat matahari muncul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha cicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GAYA SOK KEREN
Setelah sekian lama takut dari jebakan klub malam hari itu.. tapi dia yakin Aksa tidak sejahat itu lagi. walaupun sejatinya memang pekerja klub malam.
Murni menarik napas dalam-dalam, jari-jarinya terkepal erat pada tali tas yang dia pegang. Kedua kakinya seolah terpasang di lantai depan pintu masuk Klub "Nirwana" – tempat yang dulu membuatnya merasa seperti terjebak dalam jerat yang tak bisa dilarikan. Cahaya neon berwarna ungu dan merah menyala terang, menyilaukan mata yang sudah lama tak melihat suasana seperti ini. Suara musik elektronik yang keras mulai terdengar dari dalam, menggema hingga ke tulang belakangnya.
"Sampai sini saja, Murn?" tanya Rosa, temannya yang mengantarnya sampai di situ. Wajahnya penuh kekhawatiran. "Kalau kamu belum siap, kita bisa pulang aja. Nanti cari kesempatan lain aja."
Murni menggeleng perlahan, matanya tetap terpaku pada pintu klub. "Tidak, Ros. Sudah terlalu lama aku kabur dan berpikir buruk tentang dia. Aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi waktu itu."
Tanpa menunggu jawaban lagi, dia melangkah masuk. Udara di dalam langsung menyambutnya – campuran parfum, rokok, dan sedikit keringat. Sorak sorai suara pembeli dan irama musik membuat hatinya berdebar kencang. Dia melihat banyak wajah asing yang sedang bersenang-senang di meja-meja kecil dan di atas panggung tari. Tapi matanya hanya mencari satu sosok saja.
"Lagi cari siapa, Nona?"
Suara yang akrab membuatnya terkejut dan menoleh ke belakang. Tepat di sana berdiri Aksa – rambut hitamnya sedikit kusut, mengenakan kemeja hitam yang sedikit terbuka di bagian leher, dan dasi yang longgar menggantung di lehernya. Wajahnya yang dulu selalu terlihat dingin dan menjauh, sekarang tampak lebih tenang bahkan ada sedikit kebingungan di mata coklatnya.
"Murni?" ucapnya pelan, seolah tidak percaya melihatnya di sana. "Apa kamu... apa kamu baik-baik saja?"
Hatinya terasa seperti akan melompat keluar. Setelah bertahun-tahun menghindari, akhirnya mereka berdampingan lagi. "Aku baik saja, Aksa," jawabnya dengan suara yang sedikit bergetar. "Aku ingin bicara denganmu. Tentang malam itu."
Aksa menghela napas panjang, wajahnya tampak sedih sejenak sebelum dia mengangguk. "Baiklah. Mari kita pergi ke tempat yang lebih tenang." Dia mengajak Murni keluar dari area keramaian, menuju sebuah ruangan kecil di belakang bar yang jauh lebih sunyi. Hanya ada satu meja dan dua kursi di sana, dengan lampu kecil yang memberikan cahaya lembut.
Setelah mereka duduk, keheningan yang berat mengelilingi mereka. Murni menatap ujung meja, tidak berani melihat mata Aksa. "Waktu itu... aku berpikir kamu sengaja menjebakku. Bahwa kamu hanya ingin menggunakan aku untuk sesuatu."
Aksa menggeleng perlahan, tangannya menyentuh gelas air di depannya. "Saya tidak pernah berpikir seperti itu, Murni. Saat itu saya baru saja mulai bekerja di klub itu, dan saya tidak punya pilihan selain mengikuti perintah bos. Tapi saya berusaha melindungimu dari kejadian yang lebih buruk. Kamu melihatnya sendiri kan? Saat saya mengirimmu keluar sebelum sesuatu yang tidak diinginkan terjadi."
Murni akhirnya mengangkat pandangannya, melihat mata Aksa yang penuh kesungguhan. "Kenapa kamu tidak pernah menjelaskan semuanya padaku?"
"Saya khawatir kamu tidak akan mempercayai saya. Saya tahu bagaimana pandangan orang tentang pekerja klub malam. Mereka selalu mengira kita jahat, tidak punya hati nurani. Saya tidak ingin membuatmu semakin jauh dariku dengan penjelasan yang mungkin kamu anggap sebagai alasan belaka."
Kata-katanya menusuk hati Murni. Dia menyadari bahwa selama ini dia hanya melihat satu sisi dari cerita itu. Dia tidak pernah mencoba untuk memahami keadaan Aksa. "Aku minta maaf, Aksa. Aku seharusnya tidak menilai kamu begitu saja."
"Aku tidak menyalahkanmu," ucap Aksa dengan lembut. "Saya sendiri yang memilih untuk tidak menjelaskan. Tapi sekarang... saya ingin kamu tahu bahwa saya sudah tidak bekerja di klub itu lagi. Saya berhasil mendapatkan pekerjaan baru sebagai bagian dari tim keamanan di sebuah pusat perbelanjaan. Saya ingin memulai hidup yang baru."
Murni melihat wajah Aksa yang sekarang tampak lebih cerah, penuh harapan untuk masa depan. Rasa lega dan sedikit kebingungan tercampur dalam hatinya. Setelah sekian lama menghindari dan takut, akhirnya dia menemukan kebenaran yang sebenarnya. Dan mungkin, mungkin ada kesempatan bagi mereka untuk memulai sesuatu yang baru bersama.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
"Kalau begitu... bolehkah aku melihat bagaimana hidupmu sekarang?" tanya Murni dengan suara lembut.
Aksa tersenyum, senyum yang pertama kali Murni lihat dengan begitu hangat. "Tentu saja. Ada satu tempat yang ingin kubawa kamu kunjungi."
Tanpa berlama-lama, Aksa mengajak Murni keluar dari klub dan naik ke dalam mobilnya – sebuah mobil kecil yang terlihat sederhana tapi rapi. Perjalanan tidak terlalu jauh, hanya beberapa menit kemudian mereka berhenti di depan sebuah kedai kecil yang terletak di sudut jalan raya. Papan nama kayu bertuliskan "Kopi Hitam Murni" – sebuah nama yang sedikit membuat Murni terkejut.
"Tempat ini punya nama yang mirip dengan kamu lho," ucap Aksa sambil membuka pintu untuk Murni.
Mereka masuk ke dalam dan disambut oleh aroma kopi yang kuat dan menyengat. Kedai berukuran kecil dengan dekorasi kayu yang hangat, hanya ada beberapa meja kayu yang terlihat cukup tua tapi nyaman. Pemilik kedai, seorang pria tua dengan kumis tebal, langsung tersenyum ketika melihat Aksa.
"Aksa, sudah lama tidak datang ya! Dan membawa tamu cantik juga kali ini," ucap pria tua itu dengan suara yang merdu.
"Pak Odin, ini Murni," kenalkan Aksa sambil mengajaknya duduk di meja dekat jendela. "Kita pesan dua gelas kopi pahit hitam saja ya Pak."
Murni merasa sedikit geli. Dia sebenarnya sangat tidak suka kopi pahit – selalu memilih yang manis dengan banyak susu setiap kali minum kopi. Tapi melihat wajah Aksa yang penuh semangat menjelaskan tentang tempat ini, dia memutuskan untuk tidak mengatakan apa-apa.
"Tempat ini punya cerita lho," ucap Aksa sambil menatap kedai dengan mata penuh rasa hormat. "Pak Odin adalah orang yang dulu membantu aku ketika aku sedang kesusahan. Saat aku ingin keluar dari dunia klub malam, dia mengajarkanku cara membuat kopi dan bahkan menyediakan tempat untuk aku bekerja sementara sebelum dapat pekerjaan keamanan itu."
Sesaat kemudian, dua gelas kopi hitam pekat ditaruh di atas meja. Murni mengambil gelasnya dengan hati-hati, menghirup aromanya dengan wajah yang berusaha tampak senang. Ketika dia mencicipi sedikit, rasa pahit yang menusuk langsung menyebar di lidahnya. Dia hampir muntahkan, tapi dengan cepat menutup mulutnya dan menelan dengan susah payah.
"Enak kan? Rasa kopinya sangat murni, tidak ada campuran apa-apa," ucap Aksa dengan senyum bangga saat mencicipi kopinya.
"Mm... ya benar, sangat enak," jawab Murni dengan suara yang sedikit tercekik, lalu cepat-cepat mengambil gelas air di sebelahnya untuk menetralkan rasa pahit di mulutnya.
Aksa sepertinya tidak menyadari hal itu. Dia terus bercerita tentang bagaimana dia sering datang ke sini setelah kerja, menghabiskan waktu dengan Pak Odin dan belajar banyak hal tentang kehidupan. Murni mendengarkan dengan saksama, terkadang mengangguk dan memberikan senyum meskipun lidahnya masih terasa pahit.
Setelah beberapa saat, Aksa akhirnya menyadari bahwa Murni tidak menyentuh lagi gelas kopinya. "Kamu tidak suka ya? Aku kira kamu suka kopi pahit karena namamu Murni," katanya dengan wajah sedikit kecewa.
Murni merasa bersalah dan segera menggeleng. "Bukan begitu Aksa... aku sebenarnya tidak terlalu suka kopi pahit, tapi aku tidak ingin menyakitkan perasaanmu. Kamu begitu bersemangat membawaku kesini dan menjelaskan tentang tempat ini."
Aksa terdiam sejenak, kemudian tertawa lembut. "Kamu terlalu baik padaku ya, Murni. Kau tidak perlu pura-pura menyukainya lho. Nanti aku pesenin yang manis aja untuk kamu ya Pak Odin!"
Murni merasa lega dan ikut tertawa. Ketika gelas kopi susu manis akhirnya datang, dia langsung mencicipinya dan memberikan senyum yang tulus. Di saat yang sama, dia menyadari bahwa hubungan mereka mulai terbangun kembali – bukan dengan gaya sok keren atau rasa takut, melainkan dengan kejujuran dan penghormatan satu sama lain.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Mereka menghabiskan waktu berbicara lebih lama lagi. Aksa cerita tentang pengalaman pertamanya bekerja di pusat perbelanjaan – bagaimana dia harus belajar mengenal semua sistem keamanan, berlatih teknik dasar pertahanan diri, dan bahkan membuat teman baru di sana yang tidak pernah melihatnya sebagai "pekerja klub malam" saja. Murni juga bercerita tentang kehidupannya akhir-akhir ini – bagaimana dia baru saja menyelesaikan di pabrik makanan ringannya, itu.
Waktu berlalu begitu cepat, matahari sudah mulai meremang di balik jendela kedai. Pak Odin sudah mulai membersihkan meja-meja lain yang sudah kosong. "Sudah mau pulang ya, anak-anak?" tanya dia dengan senyum ramah. "Saya akan hitung total tagihannya ya."
Aksa mengangguk dan berdiri. "Tunggu sebentar ya Pak, saya mau ke kamar kecil dulu ya," katanya kemudian melihat ke arah Murni. "Kamu tunggu aja ya di sini, nanti saya yang bayarin."
Murni mengangguk dan kembali duduk sambil menatap pemandangan luar jendela. Lima menit berlalu, kemudian sepuluh menit, tapi Aksa tidak muncul lagi. Dia mulai merasa sedikit khawatir dan berdiri untuk melihat ke arah kamar kecil. Ternyata pintunya sudah terbuka dan tidak ada seorang pun di dalamnya.
"Pak Odin, apa Aksa sudah keluar dari belakang ya?" tanya Murni dengan suara sedikit cemas.
Pak Odin menggeleng perlahan. "Tidak ya, Nona. Saya tidak melihat dia keluar dari belakang kok. Total tagihannya Rp55.000 saja ya."
Murni menghela napas dalam-dalam dan meraba saku tasnya. Barusan dia melihat Aksa masuk kamar kecil dengan tergesa-gesa, seolah ada sesuatu yang tidak beres. Tanpa berpikir panjang, dia mengeluarkan dompetnya dan membayar tagihan tersebut. Setelah itu, dia segera keluar dari kedai dan melihat sekeliling mencari jejak Aksa.
Tiba-tiba suara deru mesin mobil terdengar dari kejauhan. Murni melihat mobil Aksa sedang melaju perlahan keluar dari tempat parkir. Dia segera berlari mengejarnya dan mengetuk pintu samping penumpang. Aksa menghentikan mobil dan membuka kaca jendela dengan wajah yang penuh rasa malu.
"Maaf banget Murni! Aku benar-benar tidak sengaja," ucapnya dengan suara yang sedikit terengah-engah. "Tadi pas mau keluar dari kamar kecil, aku ingat kalau aku lupa bawa dompet di rumah. Aku mau bilang padamu tapi kamu lagi sibuk melihat keluar jendela, dan aku juga mau coba bayar pakai aplikasi di HP tapi tiba-tiba baterainya mati total!"
Murni berdiri di samping mobil dengan tangan menyilang di dada, tapi wajahnya tidak menunjukkan rasa marah – hanya sedikit bingung dan sedikit lucu melihat keadaan Aksa yang begitu panik. "Aduh Aksa, parah kamu juga kan? Daripada kamu kabur kayak gitu, kamu bisa saja bilang aja padaku kan? Aku juga punya uang kok."
Aksa menekuk kepalanya dengan rasa malu yang luar biasa. "Aku tahu, tapi rasanya sungguh memalukan banget. Cowok yang harusnya membayar untuk temannya malah lupa bawa dompet dan HPnya juga mati. Kayak apa aja deh aku ini," ucapnya sambil mengoceh sendiri. "Aku sudah merencanakan semuanya – mau membawamu kesini, cerita tentang tempat ini, dan pasti mau yang bayar. Tapi malah jadi kamu yang keluar uangnya."
Murni tidak bisa menahan tawa melihat wajah Aksa yang begitu kesal dengan dirinya sendiri. "Tenang aja Aksa, tidak apa-apa kok. Ini kan bukan hal yang disengaja. Selain itu, aku juga senang bisa kembali bicara denganmu setelah lama tidak bertemu. Biaya kopi itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan itu."
Aksa mengangkat kepalanya dan melihat wajah Murni yang sedang tersenyum padanya. Rasa lega melintas di wajahnya, tapi masih ada sedikit rasa malu yang tersisa. "Terima kasih banyak ya Murni. Aku janji besok pasti mengajak kamu makan lagi, dan kali ini aku pasti tidak akan lupa bawa dompet atau mengecas HPku terlebih dahulu!"
Murni tertawa lagi dan kemudian membuka pintu mobil untuk masuk. "Baiklah, aku tunggu aja janjimu ya. Tapi sekarang, bisakah kamu antar aku pulang dulu? Karena kan kamu yang membawaku kesini, jadi kamu juga harus antar aku pulang dong."
"Aku mau dong! Tentu saja mau," ucap Aksa dengan senyum yang mulai kembali muncul di wajahnya. Dia menghidupkan mesin mobil dan mulai mengemudi keluar dari tempat parkir. Perjalanan pulang terasa jauh lebih nyaman – mereka berbicara tentang hal-hal sepele, tertawa bersama, dan terkadang hanya menikmati keheningan yang nyaman.
Ketika sampai di depan kontrakan Murni, Aksa menghentikan mobil dan melihat ke arahnya dengan wajah yang serius. "Murni, sekali lagi aku minta maaf ya tentang tadi. Dan juga untuk semua yang terjadi dulu. Aku benar-benar berharap kita bisa mulai lagi dari awal."
Murni mengangguk perlahan dengan senyum hangat. "Aku juga berharap begitu, Aksa. Cukup kita tidak mengulang kesalahan masa lalu saja."
Sebelum turun dari mobil, Murni menoleh lagi ke arah Aksa. "Besok jangan sampai lupa ya janjimu untuk makan bareng. Dan ingat – bawa dompet dan pastikan HPmu tercas penuh!"
Aksa mengangguk dengan kuat dan tersenyum lebar. "Tidak akan pernah kubiarkan hal yang sama terjadi lagi, janji!"
Murni turun dari mobil dan berjalan menuju pintu kontrakannya, terkadang menoleh untuk melihat mobil Aksa yang masih berada di sana. Ketika pintu kontrakan terbuka dan dia masuk, senyum masih tetap terpampang di wajahnya. Meskipun awalnya bertemu dengan kejadian yang sedikit menggelitik, tapi dia merasa bahwa langkah kecil ini adalah awal yang baik untuk hubungan baru mereka.
...