Ding! [Terdeteksi host dalam bahaya. Mengaktifkan skill utama memori Materialization. Memanggil Item]
Dibuang dan difitnah hanya karena alur sebuah game VR? Itu bukan gaya Aruna. Terbangun di tubuh Auristela Vanya von Vance, seorang putri terbuang dengan Mana besar yang tersegel, Aruna memutuskan untuk mengacaukan skenario dunia ini.
Bermodalkan Project: Fate Breaker—sebuah sistem aneh yang hobi error di saat kritis—ia justru asyik menciptakan kekacauan versinya sendiri. Namun, satu masalah muncul: Asher de Volland, sang Ksatria Agung sedingin es, kini terpaksa menjadi pelindungnya.
Akankah petualangan ini mengungkap rahasia besar yang sengaja dikubur, atau justru membuat benua Xyloseria semakin kacau?
Ding! [Terdeteksi kedekatan dengan Asher de Volland: 1%. Kesan ML: "Putri ini... sangat aneh."]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lil Miyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Luka yang Menyayat Hati
Terik matahari mulai terasa menyengat di padang rumput Perbatasan Utara, namun Aruna merasa seperti tertutup lapisan es yang tak terlihat. Ia terduduk diam di atas kuda, punggungnya bersandar pada dada bidang Asher, namun jiwanya terasa tertinggal jauh di belakang. Pikiran Aruna terjebak dalam labirin memori kelam milik Auristela Vanya von Vance yang tiba-tiba meledak tanpa peringatan di kepalanya—memori tentang lorong istana yang dingin, tatapan benci dari para pelayan, dan punggung Kaisar yang menjauh tanpa pernah menoleh sedikit pun.
'Sakit sekali...' batin Aruna. Rasa sesak itu bukan miliknya, tapi tubuh ini mengingat setiap tetes air mata yang jatuh di kesunyian kamar yang berdebu.
Asher merunduk sedikit, melirik gadis di dekapannya dengan dahi berkerut tajam. Sebagai Ksatria Agung yang telah melewati ribuan medan perang berdarah, ia bisa mengenali tanda-tanda trauma. Ia merasakan tubuh Aruna gemetar hebat, meski cuaca sedang panas-panasnya.
"Putri, kita istirahat dulu di sini. Anda butuh air untuk menenangkan diri," ujar Asher. Suaranya yang biasanya sekaku logam zirah kini terdengar sedikit lebih rendah, hampir seperti sebuah bisikan yang berusaha melindungi.
Asher membantu Aruna turun di dekat sebuah gundukan tanah yang dikelilingi bunga liar. Aruna hanya berdiri terpaku, menatap hamparan rumput tinggi dengan tatapan kosong. Ia bahkan tidak menyadari saat Asher melangkah menuju pelana untuk mengambil kantong air, hingga sebuah suara rendah memutus keheningan.
GRRRRR...
Belasan Orc muncul dari balik vegetasi tinggi dengan mata merah yang lapar. "Sial, mereka sudah menunggu di sini!" desis Asher. Tanpa ragu, ia menghunus Solis-Aeterna. Bilah pedang emas itu berdenting nyaring, membelah udara. "Putri! Tetap di belakangku! Jangan bergeser sejengkal pun!"
Asher menerjang maju, menebas Orc terdepan dengan satu gerakan presisi. Namun, gerombolan itu terlalu cerdik; tiga Orc raksasa berhasil memutar, mengincar Aruna yang masih berdiri linglung.
"PUTRI! AWAS!" teriak Asher panik.
Di saat kapak berkarat salah satu Orc hampir mencapai leher Aruna, sebuah suara mekanis yang dingin berdenting di kepala Aruna, memaksanya tersentak dari lamunan kelamnya.
Ding!
[Terdeteksi host dalam bahaya.
Mengaktifkan skill utama Memory Materialization.
Memanggil Item.]
KLIK.
Tangan kanan Aruna mencengkeram sebuah gagang logam berat yang muncul tiba-tiba dari udara hampa. Tanpa sempat berpikir, ia mengayunkannya dengan sekuat tenaga ke arah kepala monster di depannya.
TENGGGGGGGGG!!!
Bunyi benturan logam yang sangat nyaring bergema ke seluruh padang rumput. Orc raksasa itu terpental ke belakang dengan dahi yang langsung benjol seketika. Asher mendadak mematung di tempat. Ia melongo tak percaya menatap "senjata" unik di tangan mungil Aruna yang kini masih mengeluarkan sedikit asap: sebuah wajan hitam raksasa yang tampak sangat tidak masuk akal.
Karena fokusnya pecah total oleh pemandangan konyol itu, Asher terlambat menyadari serangan dari samping. Kapak Orc berhasil menggores lengan atasnya hingga darah segar merembes keluar, membasahi kain bajunya.
"Ukh!" Asher mendesis perih. Ia segera menghabisi sisa monster dengan kemarahan yang meluap, lalu menghampiri Aruna dengan tergesa-gesa.
Aruna menatap luka di lengan Asher dengan rasa bersalah yang amat sangat. "Sir Asher, lenganmu... darahnya..."
Asher membuang muka, wajahnya memerah. Ia merasa harga dirinya sebagai ksatria agung jauh lebih tersayat daripada luka fisiknya. "Jangan... jangan bahas lukanya," gumamnya pasrah. "Dan tolong... simpan benda hitam itu."
Perjalanan berlanjut dalam suasana canggung yang kental hingga mereka sampai di depan Reruntuhan Oeryth, sebuah situs batu kuno yang tampak angker. Asher menghentikan kudanya, matanya menyipit waspada. "Putri, tunggu di sini. Area ini terasa tidak beres. Aku akan masuk sendirian."
Aruna turun dari pelana dengan gerakan gesit. "Mana bisa begitu? Kalau ada event penting di dalam dan aku tidak ikut, rugi dong! Lagipula, kamu sedang terluka. Jangan sok kuat, humph."
Asher menghela napas, tak mampu berdebat dengan logika aneh Aruna. Ia menambatkan kuda pada sebuah pilar tua. Aruna menepuk kepala Si Oyen yang sedang asyik mencakar tas pelana. "Oyen, jaga kudanya ya. Aku mau periksa dungeon sebentar." Si kucing hanya mengeong pendek, tidak peduli.
Namun, begitu mereka melangkah masuk ke dalam reruntuhan, bayangan hitam melesat dari balik pilar. Satu kelompok besar Viper's Fang telah menunggu.
"Siapapun yang mengirim kalian, kalian akan menyesal!" desis Asher, memasang posisi melindungi di depan Aruna. Solis-Aeterna berdenting menahan hujan anak panah. Namun, luka dari Orc tadi mulai terasa menyiksa; gerakan Asher mulai melambat, dan darah kembali merembes membasahi jubahnya.
Aruna melihat darah itu dengan panik. 'Gila, grafiknya kenapa jadi terlalu real begini? Baunya juga amis sekali!' pikirnya. Mereka terkepung. Aruna tahu ia harus melakukan sesuatu yang drastis.
Ding!
[Terdeteksi host dalam bahaya.
Memanggil Item.]
Sebuah tabung logam kecil muncul di genggaman Aruna. "Sir Asher, merem! Sekarang!"
BOOM!!!
Ledakan cahaya putih yang luar biasa menyilaukan meledak di tengah reruntuhan. Para anggota Viper's Fang berteriak kesakitan, menutupi mata mereka yang seolah terbakar. Asher sendiri sempat linglung akibat guncangan suara yang begitu dekat. Memanfaatkan momen itu, Aruna langsung menyambar tangan Asher yang kasar dan hangat.
"Ayo lari lewat sana! Itu pintu keluarnya!"
Aruna menarik paksa tangan Asher menembus pintu samping. Mereka berlari sekencang mungkin menuruni lereng berbatu yang langsung membawa mereka masuk ke dalam rimbunnya Hutan Primordial Aethelgard, meninggalkan kuda dan Si Oyen yang tertinggal di gerbang depan.
Beberapa jam kemudian, setelah mereka ditemukan oleh patroli Elf dan dibawa ke pemukiman rumah pohon yang harum dengan aroma getah pinus dan sihir, suasana menjadi sangat sunyi. Asher duduk di lantai kayu, wajahnya tampak lelah namun ia bersikeras ingin memeriksa luka Aruna terlebih dahulu.
"Lututmu lecet saat kita berlari tadi. Diamlah, Putri," ujar Asher pelan.
Asher berlutut di depan Aruna. Dengan tangan kasarnya yang penuh kapalan namun bergerak sangat hati-hati, ia mulai membersihkan luka di lutut Aruna dengan air suci para Elf. Ia membalutnya dengan gerakan yang sangat kaku, seolah ia sedang menangani barang pecah belah yang paling mahal di dunia.
Sentuhan itu membuat Aruna terdiam. Ia bisa melihat wajah Asher dari jarak yang sangat dekat. Rambut emas ksatria itu jatuh menutupi sebagian dahinya, dan Aruna menyadari bahwa wajah ksatria es ini mulai memerah karena malu. Mata birunya yang biasa sedingin kutub kini tampak goyah dan penuh konflik.
Aruna tersenyum tipis, merasa hatinya sedikit menghangat. "Terima kasih banyak, Sir Asher."
Tepat pada momen itu, layar hologram merah muda muncul di hadapan mata Aruna:
Ding!
[Terdeteksi kedekatan dengan Asher de Volland: 25%.
(Catatan): Target mengalami konflik batin hebat! Antara menjaga wibawa ksatria agung dan menahan detak jantung yang terlalu berisik.]
Asher tidak menjawab, ia hanya bergumam tidak jelas sambil terus merapikan perban itu. Di tengah suasana manis itu, Aruna tiba-tiba teringat sesuatu dan wajahnya berubah pucat.
"Sir Asher... Oyen dan kudanya tertinggal di gerbang reruntuhan!"