Lian punya segalanya untuk menghancurkan hati seorang gadis: wajah tampan yang mematikan, motor sport mahal, dan ego setinggi langit. Di SMA Garuda, dia adalah predator. Dia tidak butuh mengejar, karena para gadislah yang datang menyerahkan hati untuk ia patahkan. Baginya, cinta adalah permainan, dan dia selalu menang.
Lalu datanglah Mori.
Mori adalah anomali. Gadis manis dengan senyum sehangat musim semi yang ramah kepada siapa saja—kecuali kepada Lian. Sejak detik pertama mereka tidak sengaja bertabrakan di koridor, radar Mori menangkap sinyal bahaya yang sangat kuat. Bagi Mori, Lian bukan "idola sekolah", melainkan polusi visual yang harus dihindari demi kesehatan mental.
Lian yang terusik egonya mulai melancarkan serangan. Dari mulai intimidasi halus, perhatian palsu, hingga jebakan-jebakan emosional yang biasanya membuat lawan jenis bertekuk lutut. Namun, setiap langkah Lian justru membentur tembok dingin yang dibangun Mori.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Sore itu, udara di SMA Garuda masih terasa hangat. Mori sudah mengenakan rompi putih khas anggota PMR (Palang Merah Remaja). Hari ini adalah jadwal piketnya untuk berjaga di pinggir lapangan saat ekstrakurikuler olahraga berlangsung. Bersama Jessica yang juga ikut PMR demi melihat cogan, Mori duduk di dekat kotak P3K sambil mengamati anak-anak basket yang sedang bertanding sengit.
Di tengah lapangan, Lian sedang menggiring bola dengan kecepatan tinggi. Keringat membasahi kaos jersey birunya, membuat rambut hitamnya yang sedikit panjang menempel di dahi—visual Gabriel Guevara yang sangat atletis.
"Ayo Li! Sikit lagi!" teriak Jojo dari pinggir lapangan.
Lian melompat untuk melakukan lay-up, tapi saat mendarat, posisinya tidak sempurna. Kakinya tumpuan kirinya tampak tertekuk ke arah yang salah.
BRAK!
Lian jatuh tersungkur di lantai semen lapangan. Permainan langsung berhenti.
"Lian! Woy, lo nggak apa-apa?!" Jojo lari menghampiri.
Mori yang melihat itu refleks berdiri. Instingnya sebagai anggota PMR mengalahkan egonya. Tanpa menunggu perintah, dia mengambil tas medis dan berlari ke tengah lapangan diikuti Jessica.
"Minggir, kasih ruang buat dia napas!" perintah Mori tegas saat anak-anak basket mengerumuni Lian.
Lian meringis kesakitan, memegangi pergelangan kakinya. Begitu dia mendongak dan melihat Mori yang berlutut di sampingnya, ekspresi sakitnya mendadak berubah. Ada binar kecil di matanya yang gelap.
"Eh, ada Suster Mori. Sakitnya langsung ilang dikit nih," gumam Lian pelan, masih sempat-sempatnya mengeluarkan sisa-sisa red flag-nya.
Mori tidak membalas. Dia dengan profesional memeriksa pergelangan kaki Lian. "Jangan banyak gerak. Ini kayaknya terkilir. Jes, ambilin es batu di kotak!"
Mori mulai membuka sepatu basket Lian dengan hati-hati. Saat tangan mungil Mori menyentuh pergelangan kaki Lian, cowok itu tampak tersentak. Bukan karena sakit, tapi karena sentuhan Mori yang lembut dan teliti. Lian menatap wajah Mori yang sangat serius—bibir yang terkatup rapat dan dahi yang sedikit berkerut karena fokus.
"Pelan-pelan ya, Mor. Jantung gue juga butuh diobatin nih kayaknya," celetuk Lian lagi.
Mori menatap Lian tajam. "Kalau lo nggak bisa diem, gue tinggalin sekarang juga."
Lian langsung bungkam, tapi dia tidak bisa menyembunyikan senyum tipis di bibirnya.
Jojo yang berdiri di dekat mereka sambil memegang botol minum, mulai menyadari suasana canggung yang menggemaskan itu.
"Duh, Li. Kok gue iri ya? Besok-besok gue juga mau pura-pura jatuh deh biar diobatin sama Mori," goda Jojo sambil menyenggol bahu teman setimnya.
"Apaan sih lo, Jo! Pergi sana, bau keringat!" balas Lian, wajahnya tiba-tiba merona merah—sesuatu yang sangat jarang terjadi pada seorang Lian sang penguasa sekolah.
"Ciee, Lian salting! Liat tuh, mukanya merah sampe ke telinga! Biasanya kan lo yang bikin cewek salting, sekarang malah lo yang kena senjatanya Mori," Jojo makin menjadi-jadi, membuat anggota tim basket lainnya ikut tertawa.
Jessica ikut menimpali sambil memberikan es batu ke Mori. "Iya nih, baru kali ini gue liat Lian 'Si Predator' jadi kayak kucing jinak di depan Mori."
Mori hanya diam, tapi tangannya yang sedang menempelkan kompres es batu ke kaki Lian mulai gemetar. Dia bisa merasakan panas menjalar ke pipinya. Duh, kenapa mereka harus teriak-teriak sih?! batin Mori frustrasi.
Mori mulai membalut pergelangan kaki Lian dengan perban elastis. Karena posisinya yang menunduk, beberapa helai rambut Mori jatuh menutupi wajahnya. Tanpa sadar, Lian mengangkat tangannya dan menyelipkan helaian rambut itu ke belakang telinga Mori.
Mori membeku. Matanya bertemu dengan mata Lian yang intens. Jarak mereka sangat dekat.
"Makasih ya, Mor," ucap Lian lembut. Suaranya kali ini tidak terdengar seperti sedang menggoda, tapi tulus.
Mori buru-buru memalingkan wajah dan menyelesaikan ikatannya dengan sedikit lebih kencang dari seharusnya.
"Aduh! Sakit, Mor!" pekik Lian.
"Makanya jangan banyak gaya," ketus Mori, mencoba menutupi rasa gugupnya yang sudah mencapai puncak. Dia buru-buru merapikan tas medisnya. "Ini udah selesai. Jangan dipake lari dulu selama dua hari. Dan jangan lupa kompres lagi di rumah."
Mori langsung berdiri dan berbalik untuk pergi, tapi Jojo kembali berteriak.
"Mor! Jangan ditinggal gitu aja dong pasennya! Tuh liat, Lian mau berdiri aja susah. Kasihan kan pahlawan sekolah kita harus pincang-pincang."
"Iya, Mor. Bantuin kek sampe ke pinggir lapangan," tambah Jessica dengan kedipan mata nakal.
Mori menghela napas panjang. Dia berbalik lagi dan dengan ogah-ogahan menawarkan bahunya. "Sini, pegangan."
Lian dengan senang hati merangkulkan lengannya ke bahu Mori. Beban tubuh Lian yang berat membuat Mori harus menahan napas. Wangi parfum Lian yang bercampur keringat maskulin—khas visual Gabriel Guevara yang baru selesai olahraga—langsung memenuhi indra penciuman Mori.
Mereka berjalan pelan menuju bangku di pinggir lapangan. Setiap langkah mereka diiringi sorakan "Ciee" dari anak-anak basket.
"Mor, lo sebenernya khawatir kan sama gue?" bisik Lian tepat di telinga Mori saat mereka sudah duduk di bangku.
Mori memasang tampang paling cuek yang dia bisa. "Gue anggota PMR, Lian. Siapa pun yang jatuh di lapangan ini bakal gue obatin, sekalipun itu kucing kurap."
Lian tertawa rendah. "Kucing kurap yang ganteng kayak gue?"
Mori berdiri, menepuk-nepuk rompi putihnya seolah-olah baru saja terkena debu yang sangat banyak. "Terserah lo. Inget pesen gue, jangan lari dulu!"
Mori berjalan menjauh dengan langkah cepat menuju ruang PMR, diikuti Jessica yang terus-terusan menggodanya. Begitu sampai di dalam ruangan yang sepi, Mori langsung menyandarkan punggungnya ke pintu dan memegang dadanya yang berdegup kencang.
"Gila... dia kenapa sih makin lama makin nggak bisa ditebak," gumam Mori. Dia melihat telapak tangannya yang tadi sempat menyentuh kulit Lian. Hangatnya masih terasa.
Sementara di lapangan, Lian masih duduk sambil menatap pergelangan kakinya yang dibalut rapi oleh Mori. Dia tersenyum sendiri seperti orang bodoh, mengabaikan Jojo yang terus-terusan meledeknya sebagai "Bucin Level Akut".
Radar Mori hari ini gagal memberikan peringatan bahaya, karena untuk pertama kalinya, warna merah di diri Lian tidak terlihat seperti bendera peringatan, melainkan seperti warna hangat yang mulai merayap masuk ke dalam hatinya.