NovelToon NovelToon
Aku Istrimu Bukan Dia

Aku Istrimu Bukan Dia

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Nikahmuda / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Romansa
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jing_Jing22

Arunika hanyalah seorang mahasiswi biasa yang dunianya seketika runtuh saat kedua orang tuanya menjodohkannya dengan seorang dosen di kampusnya. Abimana Permana—pria dengan tatapan sedingin es dan sikap datar yang selama ini begitu ia segani.
​Sebuah perjodohan paksa mengharuskan Arunika terikat dalam belenggu pernikahan dengan pria itu. Alih-alih menemukan kebahagiaan, ia justru terjebak dalam teka-teki hati sang suami yang sulit ditembus. Akankah kehidupan Arunika membaik setelah menyandang status sebagai istri, ataukah pernikahan ini justru menjadi luka baru yang tak berkesudahan?
​Ikuti kisah perjuangan hati dan martabat dalam... "Aku Istrimu, Bukan Dia."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

"Berikan kuncinya, Claudia!" desis Abimana dengan suara yang sangat rendah namun sarat dengan ancaman nyata. "Cepat, sebelum semuanya hancur!"

​"Tidak, Abi! Biar saja semua orang tahu!" tantang Claudia nekat.

​Tanpa membuang waktu, Abimana menyambar tas Claudia yang berada di atas meja, mencari-cari kunci di sana karena menduga Claudia menyembunyikannya. Namun, ia melihat kunci itu masih tergantung di lubang pintu. Dengan gerakan kasar, Abimana mendorong bahu Claudia agar menyingkir.

​KLIK.

​Pintu terbuka. Abimana langsung berhadapan dengan Arunika yang berdiri tegak dengan ponsel di tangan, jarinya sudah berada tepat di atas kontak "Papa".

​Arunika menatap Abimana dengan pandangan yang begitu dingin, lalu beralih menatap Claudia yang tampak berantakan di sudut ruangan. Arunika tidak terlihat histeris; ia justru melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut dengan tenang, seolah ia adalah pemilik sah tempat itu.

​"Tiga detik yang sangat menegangkan, bukan?" ucap Arunika pelan, suaranya sangat datar namun mampu membuat bulu kuduk Abimana merinding.

​Arunika kemudian berjalan mendekati Claudia. Ia merapikan kerah baju Claudia yang sedikit kusut dengan gerakan perlahan yang sangat mengintimidasi.

​"Mbak Claudia, terima kasih sudah membantu suamiku mempersiapkan berkas kuliahnya." ucap Arunika dengan nada sarkastik yang kental. "Tapi sayangnya, jam bimbingan pribadimu sudah habis. Mahasiswa di kelas sudah menunggu dosen mereka."

​Arunika menoleh ke arah Abimana yang masih mematung. "Mas Abi, ayo. Aku tidak ingin ayahku mendengar kabar bahwa menantunya absen mengajar karena urusan yang... tidak profesional."

​Abimana hanya bisa menelan ludah. Ia merasa seperti seorang terdakwa di hadapan hakim. Ia segera menyambar tas kerjanya dan berjalan keluar tanpa berani menatap Claudia lagi.

​Saat melewati pintu, Arunika berhenti sejenak dan menoleh ke arah Claudia yang masih terpaku. "Satu hal lagi, Mbak. Lain kali kalau ingin mengunci pintu, pastikan lawannya bukan seseorang yang memegang kunci utama hidupnya. Silakan keluar."

​Setelah itu, Arunika meninggalkan Claudia.

​"Sialan kamu Arunika, awas saja aku akan membuatmu mengerti di mana posisimu untuk Abi." bisik Claudia dengan kilatan mata penuh kebencian terhadap Arunika.

​Kini Arunika dan Abimana berjalan beriringan. Langkah kaki Abimana terdengar menghentak keras di atas lantai koridor, seirama dengan detak jantungnya yang masih berpacu karena amarah dan rasa malu. Begitu mereka tiba di lorong yang lebih sepi menuju ruang kuliah, ia mendadak menghentikan langkahnya, namun tidak berbalik sepenuhnya.

​"Jangan pikir aku akan mencintaimu, Arunika!" suara Abimana memecah keheningan, terdengar tajam dan penuh penekanan. "Kamu boleh kali ini menang dengan mengancamku, tapi jangan harap ada kesempatan lain kali."

​Setelah melemparkan kalimat dingin itu, Abimana langsung melengos. Ia melangkah lebar-lebar mendahului Arunika, seolah ingin segera melarikan diri dari aura keberadaan istrinya yang mulai terasa menyesakkan.

​Arunika berdiri mematung sejenak. Ia menatap punggung suaminya yang terlihat kaku di kejauhan. Sebuah tawa kecil yang miris hampir saja lolos dari bibirnya. Ia merapikan sedikit helai rambutnya, lalu menarik napas panjang untuk menetralkan hatinya yang baru saja disayat oleh kalimat "tidak akan mencintaimu".

​Kita lihat saja, Mas. Kebencian dan cinta itu hanya dibatasi sekat tipis yang bernama perhatian. Dan saat ini, aku sudah memiliki perhatianmu sepenuhnya, meski dalam bentuk kemarahan, batin Arunika.

​Arunika kemudian melangkah masuk ke dalam kelas beberapa menit setelah Abimana. Suasana kelas sudah sangat sunyi. Abimana sedang berdiri di depan laptopnya, memasang wajah profesional yang paling dingin, seolah kejadian di ruang dosen tadi tidak pernah terjadi.

​"Silakan duduk, Saudari Arunika. Anda terlambat dua menit." ucap Abimana tanpa melihat ke arahnya, suaranya kembali ke mode dosen pengampu yang tidak mengenal pengecualian.

​Arunika tidak membantah. Ia berjalan menuju kursinya di barisan depan dengan tenang. Namun, saat ia melewati meja dosen, ia sengaja menjatuhkan sebuah sapu tangan kecil berwarna putih di depan kaki Abimana. Sapu tangan itu milik Claudia yang tertinggal di ruang dosen dan sempat dipungut oleh Arunika.

​Abimana melirik ke bawah, dan matanya membelalak melihat benda itu. Itu adalah pengingat nyata akan "dosa" yang hampir ia lakukan.

​"Maaf, Pak. Benda itu terjatuh." ucap Arunika sopan namun dengan sorot mata yang mengunci mata Abimana.

​Abimana terpaksa memungutnya dengan tangan gemetar, sementara mahasiswa lain mulai berbisik-bisik, mengira itu hanya adegan romantis yang tak sengaja. Padahal bagi Abimana, sapu tangan itu terasa seperti bara api yang membakar telapak tangannya.

​Kuliah dimulai, namun fokus Abimana benar-benar hancur. Setiap kali ia menjelaskan pasal hukum, matanya tanpa sengaja bertemu dengan mata Arunika yang terus menatapnya dengan tenang—seolah sedang membedah setiap kebohongan yang ia sembunyikan di balik wibawanya.

​Suasana kelas yang tegang mendadak senyap total saat nada dering ponsel Abimana memecah penjelasan hukum yang sedang ia sampaikan. Abimana mengerutkan kening, melihat nama yang tertera di layar. Awalnya ia ingin mengabaikannya, namun firasat buruk membuatnya mengangkat panggilan itu di depan kelas yang penuh mahasiswa.

​"Abi... dalam waktu tiga detik jika kamu tidak datang, saat itu juga kamu akan mendapatkan kabar kematianku!"

​Suara histeris Claudia terdengar cukup keras dari pelantang ponsel, membuat beberapa mahasiswa di barisan depan—termasuk Arunika—bisa mendengar ancaman mengerikan itu dengan jelas.

​Wajah Abimana seketika berubah pucat pasi. Tangannya yang memegang ponsel bergetar hebat. Ia tahu Claudia dalam kondisi mental yang tidak stabil, dan ancaman itu terasa sangat nyata.

​"Claudia! Jangan gila! Kamu di mana?!" teriak Abimana, melupakan profesionalismenya sebagai dosen di depan kelas.

​Tidak ada jawaban, hanya suara isakan tangis dan suara angin kencang di seberang sana, sebelum sambungan telepon terputus.

​Abimana panik luar biasa. Ia menyambar tas dan kunci mobilnya, hendak lari keluar kelas. Namun, langkahnya terhenti sejenak saat matanya bertemu dengan tatapan Arunika. Istrinya itu masih duduk tenang, namun matanya memancarkan kekecewaan yang mendalam sekaligus peringatan.

​"Mas..." panggil Arunika pelan, namun cukup tajam untuk menghentikan gerakan Abimana. "Jika kamu melangkah keluar dari pintu ini untuknya, kamu tidak hanya meninggalkan kelasmu, tapi kamu juga sedang menghancurkan sisa-sisa harga diri pernikahan kita di depan semua orang."

​Abimana menatap Arunika dengan tatapan penuh keputusasaan. "Nika, dia mau bunuh diri! Aku tidak bisa membiarkannya mati karena aku!"

​Tanpa menunggu balasan lagi, Abimana berlari keluar ruangan, meninggalkan kelas yang kini riuh dengan kasak-kusuk mahasiswa. Harga dirinya sebagai dosen hancur dalam sekejap, dan status pernikahannya kini menjadi bahan tontonan yang memalukan.

​Arunika tetap diam di kursinya. Tangannya mengepal kuat di bawah meja hingga kukunya memutih. Di dalam hatinya, rasa sakit itu mulai berubah menjadi kedinginan yang membeku.

​Selamat, Mas. Kamu baru saja memilih masa lalumu daripada masa depanmu. Dan kali ini, aku tidak akan menyelamatkanmu dari kemarahan Papa, batin Arunika.

​Arunika perlahan berdiri, merapikan buku-bukunya dengan gerakan yang sangat stabil. Ia menoleh ke arah teman-temannya yang menatapnya dengan iba.

​"Maaf semuanya, sepertinya Pak Abimana ada urusan darurat keluarga. Kuliah hari ini selesai." ucap Arunika dengan suara yang tetap berwibawa, meskipun hatinya baru saja hancur berkeping-keping.

​Arunika berdiri sendirian di tengah ruang kelas yang mulai kosong. Suara riuh mahasiswa yang bergosip tentang larinya Abimana terdengar seperti dengungan lebah yang menyakitkan di telinganya. Ia menatap kursi dosen yang kosong dengan pandangan hampa.

​"Ternyata kamu tetap memilihnya, Mas." gumam Arunika sangat pelan, nyaris tak terdengar.

​Air mata yang sejak tadi ia bendung di pelupuk mata hampir saja jatuh, namun ia segera mendongakkan kepala, menelannya kembali dengan paksa. Ia tidak boleh terlihat lemah di sini, di tempat yang akan menjadi saksi kehancuran martabat suaminya.

​Tanpa kamu tahu, aku pun sama terlukanya dengan perjodohan ini, batin Arunika perih. Aku mengorbankan masa mudaku, impianku, dan kebebasanku demi kebahagiaan keluarga. Tapi kamu? Kamu bahkan tidak bisa menghargai pengorbanan itu hanya untuk sebuah drama yang dangkal.

​Arunika tertawa getir di dalam hati. Pada kenyataannya, masa lalu tetap pemenangnya.

​Ia meraih ponselnya yang tergeletak di meja. Jarinya gemetar saat membuka galeri foto, melihat foto pernikahan mereka yang baru berumur satu hari. Foto di mana Abimana mencium keningnya dengan "penghayatan" yang ternyata hanyalah bungkus kosong.

​"Cukup, Mas. Jika kamu lebih memilih menjadi pahlawan bagi wanita masa lalumu, maka jangan salahkan aku jika aku membalas apa yang kamu lakukan dengan cara yang sama." ucapnya dengan nada dingin yang baru.

​Jika Abimana tidak bisa menjaga pernikahan mereka, maka Arunika akan memastikan bahwa mulai detik ini, setiap konsekuensi yang diterima Abimana adalah murni hasil pilihannya sendiri.

1
🇮🇩 NaYaNiKa 🇵🇸
Ini dia kisah yang paling greget. Semoga gak jadi bego kek kisah Sheila & Vano ya.
Semangaaaaaat.... 💪💪💪
🇮🇩 F A i 🇵🇸
Utk apa...? Utk dihancurkan LG...? 🤧🤧🤧
🇮🇩 F A i 🇵🇸
Maaaasss...???? Oh No Maaaasss... Please Just Go straight To Hell, Maaaaasss....!!! 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Si anak setan bnr2.... 🤧🤧🤧
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Kurang apa di Arun coba. LG sakit hati banget pun masih ngurusi Pak Dosen yg Gobloknya ngalahin boneka angin. Hadeeeuuuuh...
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Baru sadar...? TalaaaaT...!!! 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Diiiiiiiih... Dasar anak setan. ,😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Heleh2... Dramamu Bim2. 😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Biarin ajaaaaa... Menyesal jg gak guna.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Berharap pada manusia itu menyakitkan.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Perempuan hina kalo dah putus asa bnr2 gak ngotak. 🤧🤧🤧
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Bener..!!! Jgn mau diinjak2!!!
🇮🇩 F E E 🇵🇸
CaKeeeeeP... 💪💪💪
🇮🇩 F E E 🇵🇸
GaK SaLaH TuH...? Lo KaLi, Arun mah Gak. 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Cantik kaaaaaan... 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Ciiiiiih... Kesian beneeeeer. Ngarep laki2 pengecut.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Tuuuuuh... Dgr Tuh Bim2.. Anak orang tuh. Bukan anak setan mo dimasukin ke neraka. Eeeeeaaaaa... 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Bukan Permata lagi Pak. Tapi Berlian Hitam yg menyilaukan. 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Hancurkan dia berkeping2... Gaaaaasssss kan Arun.💪💪💪
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Perempuan kalo bathinnya SDH tersakiti, bisa LBH tajam dari SiLeT. 😏😏😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!