Badanya cungkring, tingginya seratus tujuh puluh centi, rambutnya cepak tapi selalu ia tutupi dengan topi pet warna abu abu kesayangannya, gayanya santai dan kalem, tidak suka keributan dan selalu akrab dengan siapa saja bahkan orang yang baru ia kenal sekalipun.
Peno waluyo namanya, pemuda usia dua puluh tahun yang tinggal didesa rengginang kecamatan tumpi kabupaten wajik bersama kedua orang tuanya dan satu adik perempuan, bapaknya bernama Waluyo dan ibu bernama Murni sedangkan adiknya uang berusia sepuluh tahun bernama Peni.
Dia punya tiga sahabat bernama Maman, Dimin dan Eko, mereka satu umuran dan rumah mereka masih satu RT, dari kecil memang sudah terbiasa bersama sampai kini mereka beranjak dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imam Setianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14
Akhirnya hanya dengan waktu satu setengah jam Peno berhasil menglahkan Dadang dua set sekaligus
Peno memang sengaja bermain cepat dipermainan ini untuk menguji sejago apa Dadang dalam bermain catur, seperti berjudi jika ternyata Dadang jago dan Peno kalah maka Peno tidak akan kecewa sebab yang maju kebabak selanjutnya wakil dari kecamatan tempat ia tinggal.
Peno keluar dari gedung menghampiri ketiga temannya yang setia dari pagi menunggu dan menyemangatinya, bahkan sampai rela jalan kaki bersama dari desa mereka kekota kabupaten.
"No, ini jatah makan siangmu!" Ucap pak Supri memberikan satu nasi kotak buat Peno.
"Mendingan buat yang lain saja pak, kalau aku makan ini nanti teman temanku makan apa!?" Jawab Peno menolak jatah makan siang itu dan akan keluar menemui teman temannya.
"Waduh aku lupa kalau ada teman temanmu juga, sebentar aku mengembalikan ini dulu nanti kita makan sama sama diwarung makan depan!" Ucap pak Supri langsung balik kearah meja panitia dan meminta Peno menunggu.
"Ayo No kita makan!" Ajak pak Supri yang malah mendahului langkah Peno keluar gedung.
"Ealah, minta ditunggu ini sudah ditunggu malah yang nunggu ditinggal!" Peno tepuk jidat dan geleng kepala lalu jalan menyusul pak Supri yang sudah keluar gedung.
"kita cari makan siang dulu, semi finalnya dimulai nanti jam dua siang!" ucap pak Supri setelah tiba ditempat teman teman Peno menunggu.
"penonya mana pak? bukannya menjawab ajakan pak Supri Dimin malah bertanya keberadaan Peno.
pak Supri menengok kebelakang dan nampak Peno masih berjalan kearahnya, " kok kamu ketinggalan No?"
"bukan ketinggalan, pak Supri saja yang jalannya kaya benteng catur ga tengak tengok lurus terus!" ucap Peno sedikit kesal sebab sudah menunggu malah ditunggal.
"kamu yang kaya pion, jalanya satu langkah satu langkah!" balas pak Supri.
Dimin, Maman dan Eko hanya menyimak tengak tengok siapa yang bicara dia yang ditengok, "ini jadi makan apa tidak ya, bisa bisa aku kenyang sebelum makan lihat orang debat! Cletuk Dimin yang memang sudah lapar.
"mas Peno mau kemana mas?" tiba tiba Dadang muncul diantara mereka.
"cari benteng buat dimakan!" jawab Peno sambil menengok kearah Dadang.
"sadis, benteng kok dimakan, tuh benteng peninggalan belanda gede!" ucap Dadang menanggapi perkataan Peno.
"kamu siapa, kok kenal Peno?" tanya Eko.pada Dadang, sebab mereka juga baru ketemu.
"Dadang dut, wakil dari kecamatan kita!" Peno yang menjawab pertanyaan Eko.
"asli namanya ada dut nya!?" Dimin malah penasaran.
"ha ha ha ha....., tanya saja sama orangnya min!" kata Peno sambil tertawa terbahak.
"ngarang, namaku Dadang sumantri tidak pake dut!" ucap Dadang protes dan memperkenalkan diri dengan benar.
"woooo, sembarangan kamu No, nama anak orang diganti ganti!" protes Maman.
"ini jadi makan apa mau terus ngobrol!?" pak Supri mulai protes.
"iya pak jadi, ayo Dang sekalian ikut makan!" kata Peno mengajak Dadang ikut makan juga.
"aku disini saja, sudah makan tadi jatah dari panitia!" jawab Dadang, memang dia sudah makan tadi.
Akhirnya berlima meninggalkan Dadang untuk makan siang diwarung makan sebrang japan depan area GOR, Dadang pun menunggu mereka sendirian sambil merokok duduk lesehan dilantai emperan gedung.
Setengah jam Peno, pak Supri, Maman, Eko dan Dimin pergi untuk makan Dadang masih setia menunggu ditempat semula.
"lah, kamu masih disini Dang dut!?" kata Peno lalu ikut duduk diemperan dan diikuti yang lainnya, hanya pak Supri yang terus jalan masuk kedalam gedung.
"ga pake dut mas, ya masih lah, kan nungguin kalian!" jawab Dadang dengan sedikit protes.
"memangnya kamu ga pulang dut, apa lolos juga kesemi final?" tanya Dimin malah keasikan manggil Dadang dengan panggilan dut.
"ealah malah keterusan pake dut, aku sudah kalah sama mas Peno ini, mainnya cepet kaya lagi kebelet!" jawab Dadang.
"wis ga usah Protes, itu julukan yang kami sematkan buat kamu, Dadang dut, ha ha ha ha......!" kata Maman yang ikut setuju memanggil Dadang dengan ditambahi Dut.
"ya wis retesah kalian saja, aku pengin lihat mas Peno main lagi, sukur sukur bisa juara!" ucap Dadang pasrah .
"terserah dut, bukan retesah!" ucap Dimin protes.
"memangnya boleh nonton didalam?" tanya Eko.
"ya boleh, tapi ditribun dan tidak boleh berisik!" jawab Dadang.
"ya wis, nanti kita ikut masuk nonton, kalau jenuh kita keluar lagi!" ucap Maman.
Sekarang sudah jam dua, panitia memberi pengumuman untuk para semi finalis agar segera masuk kegedung, sebab pertandingan akan segera dimulai lagi, Peno diikuti ketiga temanya dan ditambah Dadang masuk, Peno langsung menuju meja panitia untuk mengonfirmasi bahwa ia sudah ada ditempat.
Lawan Peno sekarang dari kecamatan brambang, seorang bapak bapak dengan rambut klimis dan pakaian rapih seperti pak guru mau rapat, Peno memperkenalkan diri dengan lawannya itu dan ternyata namanya pak Wardi.
"pak Wardi pekerjaannya guru ya?" tanya Peno mencoba menebak profesi pak Wardi.
"bukan, aku kerjanya cuma satpam, kamu kerja apa No!?" setelah menjawab pertanyaan Peno pak Wardi pun menanyakan pekerjaan Peno.
"saya kerjanya tukang angon bawal pak, he he he!" jawab Peno dengan santainya.
"ha ha ha...., ga sekalian guru les renang bawal No!?" tawa pak Wardi saat mendengar jawaban Peno.
Bel berbunyi menandakan permainan dimulai, dua meja dengan empat peserta saling berhadapan, saling diam penuh konsentrasi, memikirkan strategi dan langkah antisipasi, membaca langkah bidak lawan, dan sambil menebak nebak lawan akan melangkah kemana.
Adu strategi antara Peno dan pak Wardi begitu sengit, bahkan keduanya sampai berpikir agak lama untuk menentukan langkah bidak agar tidak salah, salah pangkah satu kali bisa membat lawan leluasa menyerang.
Satu jam berlalu Peno dan pak Wardi baru menyelesaikan set pertama dengam kemenangan pak Wardi, itu pun karena Peno lupa dengan rencananya.
Set kedua pun tak kalah seru, Peno yang sudah tersudut berhasil menyerang balik pertahanan pak Wardi, sehingga membuat pak Wardi panik dan akhirnya jadi salah langkah dalam mengantisipasi serangan Peno, Peno berhasil mengalahkan pak Wardi dengan menyudutkan raja pak Wadi di pojok papan catur, skor imbang satu satu dengan waktu satu jam lebih lima menit.
"break dulu No, aku mau ketoilet!" ucap pak Wardi lalu bangkit melangkah kearah toilet.
Peno pun ikut berdiri, " iya pak, saya juga mau cari kopi!"
Limabelas menit break set ketiga segera dimulai, Peno memegang bidak warna putih jalan duluan untuk menyerang pertahanan pak Wardi.
Saat permainan sudah beberapa langkah jalan tiba tiba Peno merasa dadanya dingin seperti tertempel es batu, Peno pun meraba dadanya dan ia baru ingat kalau memakai kalung berbandul liontin batu akik bergambar mirip kuda pemberian mbah Patma.
Dengan santainya ia keluarkan kalung itu dari dalam kaosnya jadi kini bisa dilihat oleh siapa saja, Peno merasa ada sesuatu yang masuk kedalam dadanya dan menjalar naik kekepala, bersamaan dengan itu berbagai macam strategi permainan catur muncul seketika dipikiran Peno dan nampak jelas tergambar nyata.