NovelToon NovelToon
Selir Palsu Dari Abad - 21

Selir Palsu Dari Abad - 21

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah sejarah / Reinkarnasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: inda

Song An, karyawan kantoran abad ke-21 yang meninggal karena lembur tanpa henti, terbangun di tubuh seorang selir bayangan di istana Kekaisaran statusnya setara hiasan, namanya bahkan tak tercatat resmi. Tak punya ambisi kekuasaan, Song An hanya ingin hidup tenang, makan cukup, dan tidak terseret drama istana.

Namun logika modernnya justru membuatnya sering melanggar aturan tanpa sengaja: menolak berlutut lama karena pegal, bicara terlalu santai, bahkan bercanda dengan Kaisar Shen yang terkenal dingin dan sulit didekati. Bukannya dihukum, sang kaisar malah merasa terhibur oleh kejujuran dan sikap polos Song An.

Di tengah kehidupan istana yang biasanya penuh kepura-puraan, Song An menjadi satu-satunya orang yang tidak menginginkan apa pun dari kaisar. Tanpa sadar, sikap santainya perlahan mengubah hati Kaisar Shen dan arah takdir istana dengan cara yang lucu, manis, dan tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Perjalanan pulang dimulai tanpa upacara.

Tidak ada musik, tidak ada sambutan hangat. Rombongan Kekaisaran Shen meninggalkan wilayah Bei dengan kesunyian yang terasa terlalu rapi, seolah semua orang sepakat untuk tidak membuat suara.

Song An duduk di dalam kereta, memutar jepit rambut perak di antara jari-jarinya.

Selir Li memperhatikannya sejak tadi.

“Kau menatap benda itu seperti ingin bicara dengannya,” kata Selir Li akhirnya.

Song An tersenyum tipis. “Aku sedang mengingat.”

“Mengingat apa?” tanya Selir Zhang pelan.

“Bahwa simbol ini tidak seharusnya berada di luar istana,” jawab Song An.

Selir Zhang menelan ludah. “Artinya…?”

“Artinya,” lanjut Song An, “orang yang memberi ini tahu lebih banyak dari yang seharusnya.”

Kereta berguncang ringan saat melewati jalan berbatu.

Selir Li menggenggam ujung bajunya. “Aku tidak suka firasat ini.”

“Itu wajar,” jawab Song An. “Firasat buruk biasanya datang sebelum sesuatu terjadi.”

“Itu tidak menenangkan,” gumam Selir Zhang.

Song An menoleh. “Aku tahu. Tapi aku tidak akan berbohong pada kalian.”

Di kereta depan, Kaisar Shen juga tidak berbicara banyak.

Ia memandangi jalan di luar jendela, wajahnya tenang tapi pikirannya penuh.

“Pengawal,” katanya akhirnya.

“Ya, Yang Mulia.”

“Perketat barisan. Jangan terlalu dekat, jangan terlalu jauh.”

“Seperti di wilayah musuh?” tanya pengawal itu hati-hati.

“Karena kita memang belum keluar dari wilayah musuh,” jawab Kaisar Shen.

Menjelang sore, rombongan berhenti untuk beristirahat di sebuah pos jalan.

Tempatnya kecil. Terlalu kecil untuk rombongan kekaisaran.

Song An langsung merasa ada yang tidak pas.

“Biasanya pos seperti ini dilewati,” gumamnya.

Selir Zhang menoleh. “Kenapa kita berhenti?”

“Karena air,” jawab seorang pengawal.

Song An turun dari kereta, menatap sekitar.

Ia melihat sesuatu yang membuat langkahnya terhenti.

Tali.

Terlalu baru.

Disembunyikan di balik roda kereta belakang.

“Jangan minum airnya,” kata Song An tiba-tiba.

Beberapa pengawal menoleh cepat.

Kaisar Shen turun. “Apa?”

Song An menunjuk ke arah roda. “Sabotase kecil. Kalau kita lanjut tanpa berhenti, roda bisa rusak di tengah jalan sempit.”

“Dan saat itulah penyerangan terjadi,” lanjut Kaisar Shen tenang.

Selir Li memucat. “Jadi pemberhentian ini....”

“Disiapkan,” potong Song An.

Pengawal elit bergerak cepat, memeriksa area sekitar.

Tidak ada penyerang.

Tidak ada suara.

Hanya jejak samar yang mengarah ke hutan kecil.

“Mereka tidak berniat menyerang sekarang,” kata Selir Zhang pelan.

“Tidak,” jawab Song An. “Mereka ingin kita tahu mereka bisa.”

Kaisar Shen menatapnya. “Dan kau melihatnya lebih cepat dari siapa pun.”

Song An mengangkat bahu. “Aku terbiasa mencari hal-hal yang tidak ingin dilihat orang.”

Mereka melanjutkan perjalanan setelah perbaikan cepat.

Namun suasana di kereta berubah.

Lebih sunyi.

Lebih tegang.

Selir Li memecah keheningan. “Kalau kita sampai kembali ke istana… apakah semua ini akan berhenti?”

Song An menatap ke depan. “Tidak.”

Selir Zhang menghela napas. “Setidaknya kau jujur.”

“Musuh seperti ini tidak berhenti karena jarak,” lanjut Song An. “Mereka berhenti kalau kehilangan pegangan.”

“Apa pegangan mereka?” tanya Selir Li.

Song An mengeluarkan jepit rambut itu.

“Ini,” katanya. “Simbol ini adalah milik jaringan lama. Sudah lama tidak aktif.”

“Jaringan apa?” tanya Selir Zhang.

“Jaringan penghubung antara bangsawan, pedagang, dan mata-mata,” jawab Song An. “Dulu digunakan untuk mengontrol jalur logistik.”

Selir Li membelalakkan mata. “Itu… besar.”

“Makanya aku belum bicara,” jawab Song An. “Karena kalau salah, kita akan panik.”

Malam turun cepat.

Mereka bermalam di perbatasan wilayah Shen.

Secara teknis, sudah hampir aman.

Namun justru di situlah Song An tidak bisa tidur.

Ia duduk di dekat jendela, memandangi langit gelap.

Ketukan pelan terdengar.

“Masuk,” katanya.

Pintu terbuka.

Kaisar Shen berdiri di sana.

“Tidak bisa tidur?” tanyanya.

“Bisa,” jawab Song An. “Tapi memilih tidak.”

Kaisar Shen duduk berseberangan. Tidak ada formalitas.

“Jepit rambut itu,” katanya. “Simbol apa?”

Song An menyerahkannya.

Kaisar Shen memperhatikan ukiran kecil itu lama.

“Aku pernah melihatnya,” katanya akhirnya. “Di arsip lama.”

“Yang sengaja tidak pernah dibuka,” tambah Song An.

Kaisar Shen menghela napas. “Kau membuatku sadar betapa banyak hal yang kupilih untuk tidak kulihat.”

“Itu bukan kesalahanmu,” jawab Song An. “Sistem ini memang dibuat agar penguasa hanya melihat hasil, bukan jalan.”

“Kau bicara seperti orang luar,” kata Kaisar Shen.

“Aku memang orang luar,” jawab Song An ringan.

Mereka terdiam.

“Apa kau takut?” tanya Kaisar Shen tiba-tiba.

Song An berpikir sejenak. “Tidak seperti yang lain.”

“Jelaskan.”

“Aku takut kehilangan orang,” jawab Song An jujur. “Bukan kehilangan posisi.”

Kaisar Shen menatapnya lama. “Kau berbeda.”

“Aku tahu.”

Keesokan harinya, mereka akhirnya melewati gerbang istana Shen.

Selir Li hampir menangis lega.

“Kita pulang,” katanya.

Selir Zhang tersenyum kecil. “Aneh rasanya.”

Song An turun dari kereta dan menatap istana.

“Ini bukan pulang,” katanya pelan.

“Kok?” tanya Selir Li.

“Ini hanya kembali ke pusat masalah,” jawab Song An.

Di dalam istana, laporan langsung mengalir.

Beberapa pejabat terlihat terlalu cepat tahu mereka kembali.

Song An mencatat wajah-wajah itu.

“Kau kenal mereka?” bisik Selir Zhang.

“Belum,” jawab Song An. “Tapi mereka terlalu ingin terlihat ramah.”

Kaisar Shen mengadakan pertemuan singkat malam itu.

Hanya orang-orang terpercaya.

Dan tiga selir.

“Itu sudah keputusan besar,” bisik Selir Li gugup.

“Dan disengaja,” jawab Song An.

Di ruang rapat, Kaisar Shen berdiri.

“Kita punya masalah yang lebih besar dari yang terlihat,” katanya tanpa basa-basi.

Semua terdiam.

“Ada jaringan lama yang aktif kembali,” lanjutnya. “Dan mereka menyusup bukan dengan pedang, tapi dengan kebiasaan.”

“Dan kita akan memotongnya,” tambah Song An tenang.

Beberapa pejabat menoleh tajam ke arahnya.

Namun Kaisar Shen mengangguk.

“Selir Song akan membantu langsung.”

Keheningan.

Selir Li dan Selir Zhang saling pandang.

Kaget.

Takut.

Bangga.

Malam itu, di paviliun mereka, Selir Li akhirnya berbicara.

“Aku takut,” katanya pelan. “Tapi aku tidak ingin mundur.”

Selir Zhang mengangguk. “Aku juga.”

Song An menatap mereka. “Kalian tidak harus kuat seperti aku.”

“Kami tidak ingin kuat,” jawab Selir Zhang. “Kami ingin jujur.”

Song An tersenyum.

“Kalau begitu,” katanya, “kita lanjut bersama.”

Di kejauhan, lampu istana menyala satu per satu.

Musuh belum terlihat tapi mereka tahu jika permainan telah memasuki tahap baru.

Dan kali ini, mereka tidak hanya bertahan karena mereka yang akan memburu balik.

Bersambung

1
Cindy
lanjutt kak
Cindy
lanjut kak
Tiara Bella
bagus ceritanya berasa lg nnton dracin....
Cindy
lanjutt kak
Cindy
lanjut kak
Wulan Sari
lanjut
Wulan Sari
biyasa di dalam pasti ada intrik kekuasaan semoga kaisar Shen dan selir 2 bisa mengatasinya semangat 💪 salam
Wulan Sari
setelah baca cerita ini tentang Kekaisaran semakin menarik biyasa intrik kekuasaan semoga nanti selir yang mengungkap menjadi permaisuri dan akhir bisa bahagia Dan happy end semangat 💪 Thor salam sukses selalu ya cip 👍❤️🙂 trimakasih 🙏
Cindy
lanjut kak
@de_@c!h
kaisar Shen belum punya permaisuri Thor?...
Cindy
lanjut kak
Cindy
lanjut
Cindy
lanjut kak
miss blue 💙💙💙
selir nya banyak yg mau bebas, kaisar mulai tau, kenapa gak di kumpulin aja, di berikan pikihan yg mau bebas bisa bebas yg bertahan ya silahkan, tp yg pasti song an pasti bakalan di paksa. menetap walau mau bebas 🤣🤣
Eka Haslinda
sepertinya selir bayangan cocok menjadi calon permaisuri masa depan
Cindy
lanjut kak
Ma Em
Song an berhasil membuka topeng Selir Chen pasti kaisar Shen bertambah kagum sama Song an .
Ma Em
Semoga Song an , selir Li dan selir Zhang bisa mengungkap rahasia apa yg akan dilakukan oleh selir Chen dimalam pesta perayaan istana .
Cindy
lanjut
Cindy
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!