Renan Morris pernah menghancurkan hidup Ayuna hingga gadis itu memilih mengakhiri hidupnya.
Ia sendiri tak luput dari kehancuran, sampai kematian menutup segalanya.
Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Renan terlahir kembali ke hari sebelum kesalahan fatal itu terjadi.
Ayuna masih hidup.
Dan sedang mengandung anaknya.
Demi menebus dosa masa lalu, Renan memilih menikahi Ayuna.
Tapi bagi Ayuna, akankah pernikahan itu menjadi rumah, atau justru luka yang sama terulang kembali?
Bisakah seorang pria menebus dosa yang membuat wanita yang mencintainya memilih mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Volis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Jarak
Leo tertawa kecil, tak sepenuhnya percaya. “Kamu yakin? Dari taruhan jadi cinta sejati? Kedengarannya seperti novel.”
“Justru karena aku kenal dia,” jawab Edric singkat.
“Makanya aku bilang begitu.”
Percakapan itu berlanjut, namun Ayuna tidak lagi benar-benar mendengarnya.
Kata-kata itu berhenti di satu titik.
Taruhan.
Dua tahun lalu.
Jadi itulah awalnya.
Dadanya terasa kosong, bukan sakit. Seperti seseorang yang baru saja membuka pintu ke ruangan lama yang tak pernah ia tahu keberadaannya.
Ia tidak marah.
Tidak juga ingin menangis.
Yang muncul justru perasaan aneh, campuran antara pahit dan jernih.
Jadi, dulu Renan mendekatinya karena itu?
Apakah karena itu juga sikapnya berubah?
Ayuna menutup mata sejenak.
Namun ingatan lain menyusul, tanpa diminta.
Cara Renan menunggunya di luar kelas saat hujan.
Cara ia mengingat jadwal presentasinya.
Cara ia diam-diam mengganti kopi dengan susu hangat saat Ayuna terlihat pucat.
Itu semua, bukan bagian dari taruhan, kan?
Ia membuka mata perlahan.
Pertanyaannya bukan lagi bagaimana awalnya.
Melainkan, apakah yang sekarang masih sisa dari masa lalu, atau sesuatu yang benar-benar tumbuh sendiri?
Langkah kaki terdengar mendekat.
Ayuna segera bergerak, berbelok ke arah berlawanan sebelum Edric dan Leo muncul di ujung lorong. Tidak ada ekspresi panik di wajahnya. Tidak ada air mata.
Hanya ketenangan yang sedikit lebih rapuh dari sebelumnya.
Saat Ayuna melangkah kembali ke lobi, langkahnya tetap tenang. Tidak tergesa. Tidak ragu. Namun jika diperhatikan lebih saksama, ada perubahan kecil dalam cara ia berdiri, seolah ia baru saja menyusun ulang sesuatu di dalam dirinya.
Dia sudah lama terbiasa memasang topeng diwajahnya saat berhadapan dengan Renan.
Renan langsung menoleh begitu melihatnya.
Tatapan itu refleks. Terlatih. Seperti kebiasaan yang sudah tertanam.
“Kamu lama sekali,” katanya lembut, bukan teguran. “Masih mual?”
Ayuna mengangguk pelan.
Namun kali ini, ia tidak langsung menjawab.
Ia memandang wajah Renan lebih lama dari biasanya. Garis rahangnya. Alis yang sedikit berkerut karena khawatir. Cara tubuh pria itu secara alami condong ke arahnya, seolah ingin memastikan jarak di antara mereka tidak terlalu jauh.
Dan tiba-tiba, satu hal menjadi jelas baginya.
Renan yang berdiri di hadapannya sekarang,
bukan lagi pria yang seperti dulu. Renan benar-benar berubah.
“Tidak terlalu,” jawab Ayuna akhirnya. “Sudah lebih baik.”
Renan mengulurkan tangan, seperti yang selalu ia lakukan.
Ayuna menerimanya. Namun, jemarinya menggenggam sedikit lebih kuat dari biasanya.
Renan menyadarinya.
Alisnya nyaris tak terlihat terangkat. “Ada yang lain?” tanyanya pelan, suaranya diturunkan, hanya untuk mereka berdua.
Ayuna menggeleng. “Tidak,” katanya lembut. Terlalu lembut, bahkan bagi dirinya sendiri. “Aku cuma capek.”
Renan tidak memaksa. Ia hanya mengangguk, lalu mengusap punggung tangan Ayuna dengan ibu jarinya dengan gerakan kecil yang menenangkan.
“Kalau begitu, kita pulang,” katanya tegas namun hangat. “Aku tidak ingin kamu terlalu lama di sini.”
Ayuna menatap lurus ke depan.
Ia tidak menarik tangannya.
Tidak juga bersandar lebih dekat.
Ia berjalan di samping Renan, selangkah demi selangkah, sambil menyadari satu hal dengan sangat jelas. Ia masih ingin berada di sisi pria ini.
Namun, sekarang ia tidak lagi hanya ingin hidup dalam kebohongan. Ia ingin kejujuran.
❀❀❀
Mobil melaju meninggalkan klub. Lampu kota berkelebat di balik jendela, memantul samar di kaca.
Ayuna duduk di samping Renan, bersandar rapi, kedua tangannya diletakkan di pangkuan. Tidak gelisah. Tidak rewel. Terlalu tenang.
Renan menyadarinya hampir seketika.
Biasanya, Ayuna akan bersandar sedikit lebih dekat. Atau setidaknya membiarkan tangannya digenggam. Malam ini, jemarinya tetap berada di pangkuannya, tanpa berpegangan tangan.
“Apa kamu yakin sudah tidak mual?” tanya Renan pelan.
Ayuna mengangguk. “Iya.”
Jawaban itu singkat. Tidak salah. Namun ada jeda kecil setelahnya, seperti kalimat yang ditutup terlalu cepat.
Renan meliriknya sekilas.
Wajah Ayuna tetap tenang. Senyumnya masih ada, tapi tipis, seperti sesuatu yang dipakai karena perlu, bukan karena ingin.
“Kamu capek?” tanyanya lagi.
“Um,” jawab Ayuna ringan.
Renan tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya meraih tangan Ayuna dan menggenggamnya sedikit lebih erat, mencoba mengembalikan ritme yang biasa mereka miliki.
Ayuna membiarkannya.
Namun ia tidak membalas.
Bukan menolak. Bukan menarik diri.
Hanya diam.
Dan justru itu yang membuat dada Renan terasa tidak nyaman.
Ia mengenal diam Ayuna.
Biasanya, diam itu lembut. Aman.
Namun kali ini, ada jarak tipis di dalamnya hampir tak terlihat, tapi nyata.
Saat mobil berhenti di depan rumah, Renan turun lebih dulu dan membukakan pintu. Ayuna melangkah keluar, gerakannya tetap anggun, tetap sama.
Namun, ia tidak menunggu Renan.
“Kalau kamu lapar, aku bisa—” Renan berhenti, menimbang kata-katanya.
Ayuna menoleh. “Aku tidak lapar. Aku baik-baik saja.”
Nada suaranya lembut. Tidak defensif.
Namun, untuk pertama kalinya Renan merasa Ayuna menjauhinya.
Ayuna berjalan masuk lebih dulu.
Renan berdiri sesaat di belakangnya, menatap punggung istrinya, lalu menghembuskan napas pelan.
Ia tidak tahu apa yang Ayuna dengar atau apa yang Ayuna pikirkan. Namun, instingnya mengatakan satu hal dengan jelas. Pasti ada sesuatu yang mengjanggal Ayuna sehingga dia seperti ini.
Dan hal itu pasti tentang dirinya.
❀❀❀
Renan terbangun lebih lambat dari biasanya.
Hal pertama yang ia rasakan adalah sunyi.
Ia duduk perlahan dan melirik sekeliling, namun tak menemukan yang dia cari.
Keningnya berkerut. Ia meraih ponsel di meja samping dan menatap layar.
08.03.
Terlambat.
Ayuna tidak membangunkannya.
Itu tidak wajar.
Sejak ia mulai bekerja, Ayuna selalu memastikan ia bangun tepat waktu. Bahkan di hari-hari ketika dirinya pulang larut atau hampir tidak tidur. Bukan dengan cara ribut, hanya sentuhan pelan di bahu, suara lembut memanggil namanya.
Hari ini, tidak ada apa-apa.
Renan berdiri, jantungnya berdebar tanpa alasan jelas.
Ia mandi dan berpakaian cepat, pikirannya berputar pada satu pertanyaan yang sama.
Apa yang terjadi semalam?
Saat menuruni tangga, langkahnya melambat.
Ayuna duduk di ruang keluarga.
Ia duduk menyandar di sofa, sebuah buku pranatal terbuka di tangannya. Wajahnya terlihat sangat lembut.
Renan menghampiri tanpa suara. Refleks, ia mencondongkan tubuh dan hendak memeluk dari belakang, seperti yang biasa ia lakukan.
Namun, Ayuna bergerak setengah langkah ke samping.
Gerakan kecil itu membuat Renan membeku sesaat.
Ayuna menoleh, tersenyum tipis. “Kamu sudah bangun.”
Nada suaranya normal.
Itulah masalahnya.
“Kenapa kamu tidak membangunkanku?” tanya Renan langsung, berusaha terdengar biasa.
Ayuna memegang buku itu erat, menaruh pembatas halaman dengan lambat.
“Kamu kan bosnya,” jawabnya. “Kupikir tidak apa-apa datang lebih lambat.”
Renan menatapnya. Ia tahu Ayuna tidak pernah berpikir seperti itu.
“Biasanya kamu—”
“Aku lihat kamu capek,” potong Ayuna lembut. “Jadi aku tidak ingin mengganggu.”
Renan tahu Ayuna hanya menjawab asal.
Ia berjongkok di depannya, menyamakan tinggi mata. “Ada yang terjadi?” tanyanya pelan.
Ayuna menggeleng. Senyumnya tetap ada. “Tidak.”
Namun, saat Renan mencoba menyentuh tangannya, Ayuna berdiri lebih dulu.
“Aku mau ke dapur,” katanya ringan. “Aku akan minta Mbak Yeni menyajikan sarapan untukmu.”
Ia berjalan pergi, meninggalkan Renan di tempatnya.
Tidak ada pertengkaran.
Tidak ada tuduhan.
Hanya satu hal yang pasti kini mengendap di dadanya, Ayuna sedang menarik jarak.
Dan Renan yakin, jarak itu tidak muncul tanpa sebab.
gak ketebak sih ini, siapa yang mati tadi? 😭🤌🏻
Btw semangat ya Thor. mampir juga yuk di karya aku PENYANGKALAN. Siapa tau suka dengan sisipan kata-kata sangsekerta