NovelToon NovelToon
Dinikahi Duda Perjaka

Dinikahi Duda Perjaka

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / CEO / Cinta setelah menikah / Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Duda
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lidya Amalia

Hari yang seharusnya menjadi hari yang paling bahagia, tapi nyatanya tidak.
Hari yang seharusnya berganti status menjadi seorang istri dari lelaki bernama Danish, kini malah berganti menjadi istri dari lelaki bernama Reynan, tetangga barunya. Yang katanya Duda.
Dia adalah Qistina Zara, bagaimana kisahnya? kemana Danish? kenapa malah menjadi istri dari lelaki yang baru dikenalnya?
yuk, ikuti kisah Zara di sini😉

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali Sebagai Pahlawan

“Sebenarnya, kamu siapa?” tanya Zara. Saat ini mereka masih berada di perjalan menuju tempat yang Reynan maksud.

“Manusia,” jawab Reynan.

“Iya, saya tau kamu manusia. Tapi—”

“Nanti kamu akan tau sendiri, siapa saya.” Reynan memotong ucapan Zara.

Zara menghela napas, setelahnya pun ia tidak bertanya lagi.

Keduanya pun sama-sama terdiam, sampai akhirnya mobil Reynan berhenti di salah satu pabrik beras ternama.

“Ke sini?” tanya Zara.

“Iya,” jawab Reynan. “Selama ini keluargamu pemasok padi terbesar ke penggilingan ini ya?” tanya Reynan.

“Mungkin,” jawab Zara. Karena ia pun kurang tahu.

Terlihat disana sudah ramai, untuk menyambut kedatangan sang anak dari pemilik pabrik beras tersebut.

“Ayo turun,” kata Reynan.

“K-kamu—”

“Iya. Nanti kamu akan tau sendiri,” potong Reynan lagi.

“Suka sekali motong ucapan orang lain,” kata Zara.

Reynan hanya nyengir kuda.

“Ayo,” ajaknya lagi seraya melepas sabuk pengaman.

Keduanya pun keluar dari mobil, orang yang kerja di sana mulai pun berbaris.

Tidak sedikit yang terkejut, melihat keberadaan Zara di samping Reynan.

Mereka tau siapa Zara di sana, termasuk Pak Kades.

Namun mereka mengira, jika Zara di sana menjadi salah satu perwakilan keluarga.

Mengingat, orang tua Zara pemasok padi terbesar ke pabrik itu. Begitu juga dengan Pak Kades.

“Selamat datang Mas Reynan,” ucap Pak Kades dengan senyumnya manis, seraya mengulurkan tangannya.

Reynan pun menyambut uluran tangan itu dan senyuman juga.

“Kenapa datangnya mendadak Mas? Pak Reza pun tidak menghubungi saja terlebih dahulu,” kata Pak Kades.

Reynan tersenyum simpul. “Iya … Papa sudah menyerahkan semuanya ke saya, jadi pabrik ini sekarang berada di bawah naungan saya,” ucapnya.

“Oh … iya … iya … tapi, kenapa tidak ada pemberitahuan ke pabrik ya, Mas?” tanya Pak Kades lagi.

“Iya … karena, ya … menurut saya tidak perlu.”

Pak Kades merasa kurang suka dengan jawaban Reynan. Meski begitu, senyumnya tidak pernah luntur. “Oh … iya … iya … mari masuk, Mas.” Pak Kades mempersilahkan Reynan untuk masuk ke dalam pabrik.

“Oh, sebentar, Pak. Perkenalkan, ini istri saya,” kata Reynan. Ia memperkenalkan Zara.

Seketika wajah Pak Kades berubah, ia cukup terkejut. Namun … dengan segera, ia pun mengubah raut wajahnya.

“Oh … iya … Zara. Maaf saya tidak datang ke pernikahan kamu, karena ada di luar kota,” ucapnya.

“Iya, Pak. Gak apa-apa,” jawab Zara singkat.

“Jadi kamu menikahnya dengan Mas Reynan? Bukannya dengan seorang pria bernama Danish?” tanyanya lagi.

Reynan berdehem. Sedangkan dengan Zara, ia membelalakan matanya. Ia tidak menyangka, sekelas Kepala Desa bertanya seperti itu dan tidak sedikit pula, ada rasa malu. Mengingat di sana cukup banyak orang juga.

“Oh, maaf, Mas. Soalnya—”

“Cukup ya, Pak. Zara istri saya!” Reynan memotong dan menjawab dengan sedikit tekanan.

“Oh iya, maaf Mas.” Pak kades dibuat bungkam oleh Reynan.

Sedangkan Zara, lagi-lagi ia merasa terkagum dengan Reynan.

Entah sudah berapa kali, suaminya ini melindungi dirinya dari omongan orang-orang yang menyakiti hatinya.

“Ayo, silahkan masuk, Pak.” Pak Kades kembali mempersilahkan Reynan.

“Ayo,” ajak Reynan pada Zara. Tidak lupa ia merangkul pinggang Zara.

Sontak Zara menjauhkan tubuhnya. Namun Reynan malah membuat tubuhnya semakin dekat.

“Seperti ini dulu sebentar,” ucap Reynan lirih.

Melihat para pegawai hanya berdiri berjejer, Reynan pun memerintahkan untuk kembali melanjutkan aktivitasnya.

“Jadi ini kantornya?” tanya Reynan.

“Iya, ini kantor dan data barang masuk dan keluar ada di sini,” kata Pak Kades.

“Siapa yang mengerjakannya?” tanya Reynan.

“Anak saya,” jawab Pak Kades.

“Mana sekarang?” tanya Reynan lagi.

“Sedang keluar sebentar, Mas. Ada barang yang harus dibeli,” ucapnya.

Reynan pun menganggukan kepalanya.

“Mau keliling, Mas?” tanya Pak Kades lagi.

“Boleh,” jawab Reynan.

Kini ketiganya (Pak Kades, Reynan dan Zara) pun keliling di pabrik itu.

Mereka melangkahkan kakinya menuju bagunan di belakang, di mana tempat itu tempat penggilingan padi dan tempat menjemurnya.

Di sampingnya ada jalan cukup besar untuk mobil truk mengangkut padi.

Cukup berisik pula di sana, karena mesin penggilingan dan debu pun lumayan tebal.

Reynan langsung mengecek bagaimana proses mesin itu bekerja. Tidak lupa, ia pun melihat kondisi mesinnya.

Setelah semuanya di cek dan melihat masih dalam keadaan baik, mereka pun kembali ke depan.

“Toilet sebelah mana, ya?” tanya Zara.

“Kamu mau ke toilet?” tanya Reynan.

Zara pun menganggukan kepalanya.

“Toilet sebelah sana,” tunjuk Pak Kades.

“Saya antar, ya.” Reynan menawarkan diri.

“Gak usah. Bisa sendiri. Lanjut aja sama Pak Kades,” kata Zara.

“Oh, ya sudah. Kalo gitu, hati-hati ya.”

Zara pun menganggukan kepalanya.

Pak Kades dan Reynan kembali melanjutkan keliling, seraya bertanya, selama ini bagaimana dan berapa barang masuk serta keluar.

Dengan lugas, Pak Kades pun menjawabnya.

“Sebenarnya siapa lelaki yang nikahin gue ini,” gumam Zara seraya mencuci tangannya.

“Rasanya … banyak sekali kejutannya,” lanjutnya.

“Apa dia lelaki turun dari Kayangan?” sambungnya.

Seketika Zara pun terkikik geli. Baru saja seminggu menikah dan mengenal Reynan, tapi …

Ah, sepertinya tidak susah untuk mencintai pria itu. Pikirnya.

Seketika Zara tertawa kecil, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Haih … otak gue,” gumamnya lagi.

Setelah selesai, Zara pun keluar dari toilet. Bersamaan dengan itu, Amir datang.

“Zara … mau apa ke sini? Cari gue ya …?” tanyanya dengan nada menggoda.

“Sorry … Gak ada kerjaan, nyari lo,” jawab Zara ketus.

“Halah … so jual mahal lo. Gue tau, lo ditinggal si Danish kan? Dan lo dinikahi duda, pengangguran pula. Hahahaha … lo nyesel kan, gak milih gue?” ucapnya dengan pongah.

Zara tersenyum sinis. “Enggak juga. Justru gue akan nyesel kalo gue nikah sama lo,” kata Zara.

“Lo!” Amir melangkahkan kakinya, mendekat pada Zara. Tatapannya tajam, wajahnya terlihat bengis.

“Mau apa, lo?” Zara cukup takut melihat gerak-gerik Amir.

Di sana pun cukup sepi.

“Mau apa, lo?” tanya Zara lagi seraya berjalan mundur, karena Amir terus berjalan mendekat ke arahnya.

Kini tubuh Zara sudah mepet ke dinding, sedangkan Amir terus mengikis jarak.

“Jangan macam-macam, lo!”

Amir tersenyum menyeringai.

Sedangkan dengan Reynan, ia cukup gelisah. Karena Zara belum kembali.

“Saya cari istri saya dulu,” kata Reynan pada Pak Kades.

“Tidak pelu, Mas. Zara paling sedang di depan, karena disini cukup panas,” ucap Pak Kades.

“Saya mau cari Zara dulu,” ucap Reynan seraya beranjak dari duduknya.

Reynan pun keluar dari kantor, ia merasa khawatir karena Zara tidak kunjung kembali.

Mau menghubungi lewat telepon pun, ia lupa jika mereka belum bertukar nomor ponsel.

Pak Kades pun membiarkan Reynan pergi disertai gerutuan dari mulutnya.

Reynan segera melangkahkan kakinya menuju toilet, sekitar beberapa meter lagi, ia mendengar keributan.

Reynan mempercepat langkahnya. Lalu—

“Bajingan!”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!