Alyssa hidup dalam pernikahan yang hancur bersama Junior, pria yang dulu sangat mencintainya, kini menolaknya dengan kebencian. Puncak luka terjadi ketika Junior secara terang-terangan menolak Niko, putra mereka, dan bersikeras bahwa anak itu bukan darah dagingnya. Di bawah satu atap, Alyssa dan Niko dipaksa berbagi ruang dengan Maureen, wanita yang dicintai Junior dan ibu dari Kairo, satu-satunya anak yang diakui Junior.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melon Milk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
Alyssa menoleh ke arah putranya di kursi penumpang yang sedang mendengarkan musik dengan headphone terpasang. Ia mendongak dan melihat langit yang mulai menggelap, seolah hujan sebentar lagi akan turun.
Alyssa menggunakan mobil HRV yang ia beli dari hasil tabungannya selama bertahun-tahun. Ia baru benar-benar mahir menyetir berkat Edgar.
Hari ini, Alyssa berencana berbelanja kebutuhan bulanan bersama Niko. Ia sudah meminta maaf pada putranya atas apa yang sempat ia tonton di TV, dan Niko pun sudah berbicara dengannya.
"Kayaknya mau hujan, Nak."
"Iya. Semoga hujan," jawab Niko.
"Nak, bulan depan kita akan cari sekolah buat kamu pindah ke sini. Kamu maunya sekolah swasta atau negeri?" tanya Alyssa saat mobil mereka berhenti di lampu merah.
"Kalau Mommy mampu, aku mau sekolah swasta," jawab Niko.
"Tentu saja, sayang. Mommy akan lakukan apa pun supaya kamu bisa lulus dengan baik," jawab Alyssa sambil tersenyum. "Janji ya, jangan bandel lagi. Jangan berkelahi dan jangan melawan guru," tambahnya sambil cemberut.
"Asal Mommy janji nggak nangis lagi gara-gara pria itu," tantang Niko.
"Mommy tahu… oke? Mommy nggak akan balik ke Daddy kamu. Pasti sekarang dia sudah menikah dengan Maureen, jadi kecil kemungkinan kami balikan."
"Dia bukan ayahku."
"Dia tetap ayahmu."
"Aku nggak peduli. Aku nggak menganggap dia ayah, sama seperti dia dulu nggak menganggap aku anaknya."
Alyssa tak lagi menjawab. Ia tak bisa menyalahkan Niko. Lagipula, ini juga kesalahan Junior yang membuat Niko menjadi seperti ini.
Sesampainya di area parkir pusat perbelanjaan, Alyssa memarkir mobil dengan rapi.
"Kita sudah sampai, Nak." Ia membuka sabuk pengamannya dan sabuk pengaman Niko, lalu menepuk bahu putranya. Tinggi badan Niko kini hampir menyamainya.
Dalam waktu singkat, anaknya tumbuh begitu cepat.
Alyssa mengenakan blus putih sederhana yang dimasukkan ke dalam celana jeans high-waist. Tubuhnya terlihat ramping dan seksi, seolah ia tak pernah melahirkan dua anak. Rambutnya diikat rapi dan sebuah tas tergantung di bahunya.
Mereka berjalan menuju pintu utama supermarket.
Di sisi lain, Cecil dititipkan pada Briana, yang dengan senang hati berjanji akan menjaganya sementara Alyssa dan Niko berbelanja.
"Om--"
"Sayang, Tante, ya," potong Briana yang langsung membuat Cecil tertawa.
"Oke, Tante! Ayo ke Mommy!"
Cecil menggenggam tangan Briana.
"Eh? Kita tunggu Mommy dulu. Kamu kan janji mau main sama aku?"
Briana duduk di lantai sambil memegang boneka unicorn, mengajak Cecil bermain.
"Oke! Kita main sambil nunggu Mommy dan Kakak!"
"Tunggu ya, aku ambilin camilan!"
Sementara itu, Alyssa sudah memilih banyak barang dan Niko mendorong troli yang hampir penuh.
"Mommy," kata Niko tiba-tiba. "Aku boleh ke toko teknologi nggak? Di sebelah supermarket ini. Aku mau beli keyboard buat PC baruku."
Alyssa menoleh dan tersenyum. "Keyboard lagi? Sudah berapa keyboard yang kamu punya?"
"Tiga, tapi semuanya sudah jelek," jawab Niko. "Nggak enak dipakai main."
Alyssa mengambil uang dari dompet dan menyerahkannya pada anaknya. "Jangan lama-lama."
"Siap, Mommy."
Niko pun meninggalkan Alyssa dan berjalan ke toko teknologi untuk memilih keyboard barunya.
***
Junior mengusap bibirnya dan menopang siku di meja kerja. Pikirannya kacau sejak tadi. Tatapannya kosong, tubuhnya ada di ruangan, tetapi pikirannya melayang jauh.
"Dia mungkin ada di sini, kan?" gumamnya. "Aku lihat dia. Mereka bersama. Itu pasti berarti sesuatu."
Setelah bertahun-tahun tak melihat Edgar, pria yang selalu ia cemburui, wajar jika pikirannya berkelana ke mana-mana.
Ia berpikir, mungkinkah Alyssa kembali bersama Edgar dan Niko? Kota ini tak terlalu besar, mustahil ia tak bertemu mereka jika mereka ada di sini.
"Perlu nggak aku tanya kabar mereka?" gumamnya. "Ah, kenapa aku peduli?"
Ia mengepalkan tangan dan memukul pelan kepalanya sendiri.
"Sepertinya Anda stres, Tuan" ujar sekretarisnya, Megan.
"Taruh saja semua di meja," perintah Junior sambil memejamkan mata.
Megan berdeham lalu berdiri di belakangnya dan meletakkan kedua telapak tangannya di bahu Junior.
"Tuan, Anda butuh pijat," katanya sambil mulai memijat.
"Hentikan," ujar Junior tenang, khawatir ada yang melihat.
Namun Megan tak berhenti.
"Surprise, sayang--APA-APAN INI?!"
Junior langsung menepis tangan Megan saat Maureen masuk tanpa diduga bersama Kairo yang mengenakan headphone.
Wajah Junior mengeras. Ia berdiri saat Maureen menyerbu Megan.
Sebuah tamparan keras menggema di ruangan.
"Maureen!" bentaknya saat Megan terjatuh.
"Ini alasan kamu ragu menikah denganku?!" Maureen menunjuk Megan. "Dia perempuanmu?!"
Junior memejamkan mata.
"Sudah cukup!" teriaknya. "Keluar kalian berdua!"
Megan keluar dengan tatapan tajam ke arah Maureen.
Junior mengunci pintu, lalu menatap Maureen.
"Bisakah kamu diam sekali saja?" suaranya lelah. "Aku capek."
Tangisan Maureen pecah.
"Aku melakukan segalanya untukmu!"
"Dan ini alasan kenapa aku belum bisa menikahimu," ucap Junior dingin. "Kamu tidak pernah mengerti aku."
Kata-katanya menghantam keras.
Maureen menangis semakin kencang.
Junior akhirnya menggenggam tangannya. "Aku minta maaf."
Maureen pun tenang.
"Papa selalu bertengkar," kata Kairo polos.
Junior mengusap kepala anaknya.
"Kairo yang akan jadi penerusmu, kan? Bukan Niko--" Maureen menggigit bibirnya.
Junior menoleh tajam. "Kenapa kamu sebut anak Alyssa?"
"Takut saja… kalau Alyssa mengejarmu."
"Tidak akan..." jawab Junior tegas. "Dan Niko bukan anak kandungku."
Kairo menimpali, "Mama bilang Kak Niko anak nakal."
Junior menggeleng kecewa.
"Daripada mengajarkan hal-hal seperti itu, lebih baik ajari anakmu hal yang benar."
Maureen memeluknya dari belakang. "Temani aku belanja, ya. Kita ke supermarket?"
"Kapan?"
"Sekarang."
"Ayo, Papa!" seru Kairo.
Junior menghela napas. "Baiklah."
"Yey!"
"Terima kasih, sayang! Nonton bioskop juga ya?" Maureen tersenyum lebar.
"Terserah," jawab Junior.
Ia hanya ingin keluar. Menghilangkan stres.